Thursday, April 2, 2020

Cerpen : Makhluk Utusan

Diantara teman-temanku yang sedang bermain basket, Dua kali aku melihat sosok itu. Awalnya aku hiraukan, mungkin saja hanya bayangan. Sedikit berbentuk kepala kerbau sih, ada rambut-rambutnya.


“Dean, kamu lagi apa? Bengong aja. Abis ini anter ke bengkel yuk, ban motor gue kempes!” Temanku tiba-tiba ada di depanku. Aku mengangguk. Apa barusan aku melamun lagi ya? – pertandingan basket antar kelas sudah selesai, grup kelas kami kalah lagi. Terlihat wajah memerah karena kelelahan dan kekecewaan. Matahari siang ini begitu terik. Lapangan upacara yang serbaguna itu tempat paling cocok untuk mengadakan pertandingan. Hari hari ketiga sejak Pekan Olahraga dan Seni. Sebuah bola menggelinding ke arahku. Lurus menuju kaki. Putarannya halus, bulat merah dan ada rambut-rambutnya dan menyeringai.

“Dean, lu ngapain masih disini. Cepetan!” Temanku masih ada di depanku. Tiba-tiba melepas baju olahraganya begitu saja. Tidak peduli satu sekolah melihat kelakuannya. Ia melempar kaosnya padaku dan mengambil bola basket itu.

“Porno lu!” Aku ikut-ikutan gaya bicaranya yang gue-elu. Duh, hari ini kenapa aku jadi perenung gini ya. “Ih apaan nih, seragam lu bau bawang merah gini!” Aku baru sadar jika baju olahraganya menggantung di Pundak. Aku lempar balik padanya.

“Lagian, siapa suruh merhatiin gue begitu amat. Terpesona ya?” Ia tertawa kegirangan membuat aku bingung membalas perkataannya. ia main lempar saja bolanya padaku. Untung aku gesit. Sial, karena hari ini kakiku sedang di gips aku tidak bisa main basket, malah jadi pemulung bola.

“Anter gue dulu ke wc!” suara angga terdengar lemah sejalan ia menjauh ke arah wc. Saat aku menekan bola ini, dan kutekan-tekan. Dari arah yang kulihat tadi, ‘sesuatu; yang kukira bayangan itu bergerak. Meski tidak selincah orang. Bayangan itu seperti berpindah-pindah dari satu tiang kelas, ke kelas lain. Seperti mencari sesuatu. Dan saat bayangan itu melirik ke arahku, aku memalingkan wajahku seolah tidak pernah melihat ‘itu’.
--


Satu Bulan Sebelumnya.

Sebuah hari yang sangat tidak menyenangkan. Harusnya ini adalah hari paling teristimewa di tahun ini, tapi sesuatu terjadi di rumah. Keluarga besarku sedang berkumpul. Paman, bibi, keponakan dan wajah-wajah yang berubah karena kami jarang bertemu, kini kembali ke rumah kakek. Rumah besar yang ada di ujung jalan. Bukan aku menyombong, tapi Silsila keluargaku adalah keluarga berada. Setiap kepala keluarga memegang satu perusahaan cabang di masing-masing kota. Dan karena ayahku adalah adalah anak pertama dari kelima saudaranya, yang laki-laki semua. Maka sedikit kesempatan untuk mendapatkan perusahaan utama.

Meski usiaku masih muda, aku terbiasa duduk bersila mendengarkan orang tua bersenda gurau di halaman rumah. Kadang aku ikut bermusyawarah di pemerintahan desa. Dan kadang aku ikut ayah meeting bersama paman-paman di perusahaan keluarga. Aku dididik keras untuk menjadi penerus perusahaan. Banyak anak paman yang laki-laki juga, tapi rata-rata mereka sekolah di luar kota, hingga tidak sempat merecoki permasalahan bisnis dan perusahaan keluarga.

“Dean, cakep banget kamu. Kalah ganteng aku!” keponakanku yang paling tengil pura-pura memuji padahal ia ingin dianggap ‘kerenan kamu kali, sam..’. dia pandai merubah keadaan.

Semua anak paman laki-laki semua. Dan usianya tidak jauh berbeda. Mungkin itu yang membuatku tidak begitu nyaman. Pernah ibuku menyuruhku menginap di rumah paman, tapi aku tidak betah tidur berdua dengan mereka. Ada aja alasan yang membuatku berpikir, ‘lebih baik berteman dengan orang lain, daripada bergaul dengan saudara’. Entahlah, aku mengaliri darah keluarga, yang saling curiga, berebut kuasa dan takut jika salah satu dari kami ada yang lebih dominan menguasai.

Sementara, keponakan sebayaku sedang asik berjudi di ruang belakang, aku ikut nimbrung dengan ayah dan paman-paman.

“Dean, Dean. Ajaran bapakmu yang mana yang nurun padamu. Sana sekali-kali main sama anak-anak paman. Mereka sudah kangen sama kamu. Jauh-jauh dari luar kota kemari.” Salah satu paman menepuk pundakku. Tapi aku tetap pada posisiku. Duduk melingkar dalam rapat keluarga.

“Sudah, jangan dihiraukan pamanmu itu. Dia bercanda saja. Lebih baik kamu ambilkan saja dulu botol minuman, paman haus nih!” paman yang satunya yang bercambang, mengedipkan sebelah matanya padaku. Tempo lalu aku pernah memergoki dia sedang mabuk di halaman luar salah satu club malam. Ia menawari minuman padaku. Bilang katanya ia tidak akan bilang-bilang pada ayah. Tertawa-tawa sudah seperti orang gila, di tepi jalan bersama seorang wanita. Jelas itu bukan bibi.

“Sebentar saja, turuti pamanmu itu.” Ayah berbicara padaku dengan mulut penuh rokok. Pemantik api menyala terang. Ia siap untuk mengasapi ruangan ini. Mungkin baiknya malam Ini aku tidak terlalu ikut campur diskusi mereka. Aku juga sudah bosan mendengar debat mereka tentang warisan. Aku melihat keponakanku yang sedang tertawa-tawa melempar kartu dan uang. Ada pula yang duduk sambil membaca novel, agak jauh dari mereka. Tapi orangnya sangat tertutup, hampir aku lupa punya dia sebagai ponakan. Terus ada pula yang sedang sibuk menelpon, tidak penting pula siapa yang di telepon. Tapi sejak ia datang kemari, tangannya tidak lepas dari handphone.

“Dean, kemari kita senang-senang!” tiga penjudi itu emang paling ramah tapi aku malas menghamburkan lagi uang bulananku. Aku tinggalkan mereka dan pergi ke luar, mencari mobil paman warna merah. Dan duduk di dalam berlama-lama. Ini mobil paling bener yang ada disini. Super mood! Aku mau mendengarkan lagu-lagu keras atau menyetel kaset-kaset BF yang tersusun rapi di dashboardnya. Aku berjoget-joget! ‘aku lebih gila daripada kalian!’

Lampu dalam mobil dipadamkan. Aku rebahan santai. Tidak betah di rumah, atau tempat manapun di dunia. Batang rokok yang sengaja paman selipkan di celanaku, kuambil. Bodo amat mobilnya bau asap. Aku sedikit buka kaca jendela mobil supaya asap tidak hilir mudik di dalam. Menatap langit langsung dari dalam mobil membuatku nyaman. Musik aku pelankan untuk melengkapi kesantaianku yang hakiki ini. Betapa pun menjengkelkannya paman padaku, tapi dia yang sering meminjami mobilnya untuk aku duduki. Aku pernah diceritakan paman sebuah petualangan seru dan diluar apa yang aku rasakan, alami atau pikirkan. Bagiku paman adalah orang bebas yang menyesatkan! Aku tidak tahu bagaimana dia mendidik Ronald, anak paman. Terlihat Ronald sangat pendiam dan kutu buku. Aku bisa saja merebut paman darinya. Tapi belum aku lakukan itu. Ronald bukan sainganku. Jelas ia tidak akan ikut campur dalam warisan keluarga.

Tanganku ku ayunkan di jendela, menyibak angina malam yang tenang dan rimbun pohon besar penunggu rumah tua ini. Kakek pernah melarangku untuk naik ke atas pohon ini, katanya banyak serangga beracun. Aku turuti saja. Tapi menurutku dan paman, ini adalah tempat teraman, ternyaman dan terlindungi dari semua kebisingan. Sunyi, senyap dan itu menenangkan.

Tiba-tiba begitu udara masuk ke dalam, aroma bawang merah ikut tercium sehingga membuatku tersadar. ‘bau darimana ini. Njir’.

“Sorry, itu bau tubuhku.”

“Anjir.” Si Ronald tiba-tiba ada di jok belakang. “Sejaka kapan kamu ada di situ? Sana pergi bergaul sama yang lain.” Aku melihat ia menutup bukunya. Buku bersampul merah seperti darah. Lampu aku nyalain. Terlihat buku itu berjudul ‘Dracula-Bram Stoker’. Jangan main-main ya.

“Sorry, tadi aku ikuti kamu sejak awal.” Ia cengengesan. Si pendiam ini tampak mencoba bersahabat denganku, tapi aku acuhkan. “Kamu tidak takut disini sendirian?” pertanyaan aneh. Ya enggak lah. Tapi aku tidak mau terbawa suasana untuk berdialog panjang lebar dengannya disini, di dalam mobil, berdua, di tempat sepi.

“Kamu mirip sekali dengan ayah.” Katanya, ya jelaslah aku satu gen dengan paman, ayah, juga dengannya. Plis, aku tidak boleh terbawa suasana untuk berdialog panjang lebar dengannya disini, di dalam mobil, berdua, di tempat sepi.

“Aku punya cerita seru loh!” Dia memintaku duduk di depan di sampingku. Ia jelas mirip paman, suka bercerita padaku. Tapi Plis, aku tidak boleh terbawa suasana untuk berdialog panjang lebar dengannya disini, di dalam mobil, berdua, di tempat sepi.

“Kamu tidak suka aku datang berkunjung ya?” terdengar suaranya serak, seolah menahan cairan ingus yang tiba-tiba terhimpit di tenggorokannya. Perasa sekali anak ini. Mungkin salahku juga mengacuhkannya, kenapa jika dengan paman meski menyebalkan aku bisa bergaul tapi jika dengannya aku seolah ingin mencari jarak? Insting gue jalan bro!

“bukan, bukan. Sorry juga. Aku hanya ingin sendirian. Bisa kan?” Sial. Akhirnya aku buka mulut juga. Semoga aku tidak panjang lebar kali ini. Daripada aku mengusirnya secara halus, lebih baik aku mencari udara di luar. Mungkin saja berbincang di luar mobil lebih aman. Dan aku bisa mengakrabkan diri dengan moment yang aku benci ini.

Aku menyalakan kembali rokok yang sempat aku tunda. Membentuk lingkaran-lingkaran asap ke udara yang membuat aku takjub. Dan aku bisa seperti ini karena paman, ayahnya Ronald. Aku menawarinya sebatang, tapi anak ini menggeleng, katanya ia tidak merokok. Oh, hebat juga ya anak ini.

“Kenapa kamu kesini?” Aku mulai mencoba berinteraksi, kasihan juga kalau dia bengong atau membaca buku di tempat gelap ini. Lihat kacamatanya yang besar, aku ingin mencobanya. Sebenarnya aku tidak terlalu akrab, karena paman baru kali ini mengajaknya kesini. Dan paman tidak pernah membicarakannya. Pokoknya ia sering bilang, jika Ronald dapat beasiswa ini, itu dan sebagainya.

“Ayahku menyuruhku menemanimu.” Ia menatapku, cengengesan lagi. Ia seolah duplikat paman ketika muda. Selalu ingin tahu urusan orang, penuh hal yang menakjubkan dan hanya padaku saja ia menunjukkan. “Kita sedang diawasi.” Katanya.

“Merunduk!” Ronald menekan kepalaku. Berani-beraninya ia memegang kepalaku. Apa-apa-an sih. Aku membenarkan rambutku dan menepis tangan yang nempel di pundakku. Aku bangkit, tapi lagi-lagi ia memegang pundakku. “Aku bilang, merunduk. Sembunyi!”

“Apa? Sembunyi dari apa?” Aku mulai kesal padanya. Lakunya kayak di drama-drama korea. Ia menutup mulutku dengan telapak tangannya. Apaan sih. Aku mulai risih. Dua jarinya memberi kode, ia menunjuk matanya dan mengarahkan telunjuknya ke arah ruang belakang dimana keponakanku yang lain sedang ada disana.

Sebuah bayangan hitam, berbentuk manusia tapi berkepala kerbau. Entahlah aku tidak jelas melihat penampakannya. Ada ekor dan tanduknya gitu, tapi berdiri kayak orang. Bukan hitam, tapi memang tubuhnya dipenuhi rambut-rambut hitam gitu. Kamu tahu pohon yang ditutupi kerak lumut kan? atau pernah melihat serial TV berjudul SWAMP si manusia lumut bakau? Nah kayak gitu sedikit penampakannya. Berjalan pelan, mengendap seolah mencari sesuatu. ‘apa itu?’

“Makhluk itu suruhan, ‘makhluk itu’ hanya mengandalkan indera penciumannya untuk mendeteksi mangsa atau target.” Ronald mengunyah bawang merah dan dilepehkan di telapak tangan. Ia membalurkan wajah dan lehernya dengan kunyahan itu. “Sekarang giliranmu.” – “Apa maksudmu?” ia tanpa banyak bicara lagi, mengunyah satu siung bawang merah dan meraba wajahku. Sialan. Ia mengelus-elus dadaku, tangan dan kaki kiriku, ia mulai naik ke paha. Dan .. “Hentikan!” biar aku saja!

Aku mengambil satu siung bawang merah, mencoba mengunyah tapi mulutku menolak, hingga aku tak tahan lagi dan muntah. “Ini ga enak!” Ia memaksaku menggigitnya. Tapi aku menyerah. Di udara luar ini, bau macam apapun akan terdeteksi karena angin malam yang berhembus kencang. Sampai bau tubuhku tercium oleh ‘makhluk itu.’

“Awas lari!” Aku berteriak, memperingatkan keponakanku yang ada di dalam rumah.

“Gila kamu, kamu mengundang makhluk itu kemari! Keponakan kita aman selama berada di rumah. Justru kita sedang ada dalam kawasannya.” Ronald, memukulku dengan buku tebalnya. “Nyesel aku ke luar rumah.”

“Tapi!” aku tergagap. Aku salah sangka. Dan makhluk itu seolah merasakan getaran suaraku dan tentu saja kaki kananku yang belum sempat terbaluri. 'Ini tumbal?' aku memikirkan kata yang baru saja keluar begitu saja dari pikiranku. Kata yang hanya pernah kudengar di drama-drama Indonesia. "Betulkah? Siapa yang mengutus makhluk itu?" Aku meracau, menuduh satu persatu orang yang pernah aku kenal.

“Tak ada waktu lagi, cepat naik!” Ronald menarik kerah bajuku dan duduk di belakang kemudi. “Mana Kuncinya?”

Aku gemeteran. Responku tiba-tiba lambat. Terbayang makhluk itu melotot, menyeringai dan membabi buta menyeruduk ke arah mobil paman. “Aku lupa, tadi ada di sakuku!” aku masih melihat wajah menyeramkan itu. Wajah merah seperti kulit bagian dalam.

“Dean, sadar! Jangan panik! Luruskan kakimu! Cepat!” Ronald meraba-raba celanaku. Untuk apa? “Jangan banyak bicara, aku mau mengambil kunci mobil.” Ia memasukan tangannya pada saku celanaku. Merogoh kunci. Aku nggak tahu di saku kiri atau kanan. Aku lupa. Aku ..

“Diam, jangan cengeng!” ia berhasil mengambil kunci, setelah celanaku dipelorotin dan dikibas-kibas hingga kunci itu jatuh berdenting. “Akhirnya.” Katanya. Ia memasukan kunci, memutar, menekan, ulangi lagi. Ia menginjak rem, menginjak gas. Ia tampak gelisah.

“Aku nggak bisa nyetir!” katanya tiba-tiba!

"Sial!"
--

Saat matahari sudah naik, dan menusuk kedua mataku. Aku tengah berada di kamar rumah sakit. Kata ayah aku tidak sadarkan diri selama tiga hari. Kaki kananku terpaksa di gips karena tersangkut pagar rumah sebelah, saat berhasil keluar menyelamatkan diri dari kecelakaan mobil tunggal. Dan nasib Ronald? Aku mau meminta maaf pada paman. Ia dalam keadaan kritis dan karena keadaanya yang hampir tidak tertolong, ia dibawa ke rumah sakit luar negeri,– Paman tidak bisa kutemui. Ia ikut mengantarkan Ronald. – dalam chatnya yang diperlihatkan ayah, disana tertulis jika paman sangat menyayangi kami berdua, lebih dari apapun di dunia ini.

--
Sebulan Pasca Penyembuhan

"Dean, lo ngapain disana? Masuk!" Angga menarikku ke dalam dan menutup pintu WC.

"Buka gipsnya, kayaknya dah kering. Coba deh!" Angga jongkok membantuku membuka gips di kakiku. "Tuhkan, bener. Sudah sembuh!" Ia melihatku dari bawah, sungguh pemandangan yang menjijikan.

"Jangan disini. Malu gue. Nanti disangka apa-apa." Aku menendang pintu tapi terkunci.

Aku melihat ia mengeluarkan sesuatu di celana dalamnya. Tangannya meremas sesuatu, mengunyahnya dan melepahnya di tangan. Ia hendak membaluri tubuhku dengan lepehan bawang merah.

"Apa apaan ini!" Aku mendorong keras Angga, ke salah satu dinding WC. Hingga tubuhnya terpental. Ia malah cengengesan.

"Tubuhmu telah ditandai, Dean dan aku akan menyempurnakannya." Ia tersenyum. "Makhluk itu menunggu lamaaaa .. sekaliii" ..

---
"Dia laparrrrr!"

Monday, March 23, 2020

Cerpen : Putri Duyung (Eksperimental 21+)

Air mengalir dalam tubuh terurus seorang perempuan berumur. Bercampur dengan aroma mawar dan kelopak merahnya yang mencul ke permukaan bak pemandian. Ada lima buah lilin aroma yang menyala di sekeliling perempuan itu. Rambutnya tergelung, belum berani ia uraikan satu persatu. Aku berhati-hati melepas pakaiannya dan menaruhnya di tempat yang biasa digantung. Aku mematung melihat pesona perempuan itu saat mandi.


“Loh, kenapa bengong, belum pernah melihat wanita lain mandi ya?” Perempuan itu menggenggam tanganku dan memberikan satu tapas berisikan sabun cair beraroma mawar. Ia menyuruhku membalurkan ke seluruh tubuhnya, ketiak, punggung, Pundak dan berpangkal di payudara. Pertama kalinya aku melakukan pekerjaan seperti ini.

“Maaf, Sri. Aku tadi melamun.” Aku mengurut tapas di punggungnya dengan hati-hati. Meski kulit putih itu bukan milikku, tapi naluriku berkata untuk tidak memberinya luka. Maka aku ratakan sabun cair beraroma mawar itu dengan penuh perasaan.

“Masih muda kok sudah banyak pikiran. Masih muda tuh senang-senang.” Sri seakan memandangku sebentar lalu kembali bermain air. “Eh, siapa namamu tadi?”

“Aku Delima, Sri.”

Air hangat aku putarkan untuknya, bilas dan keringkan dengan handuk halus. Tangannya memberi kode padaku untuk digenggam, lalu meminta bantuan untuk mengangkat tubuhnya dari dalam bak pemandian. Dan terlihat ranum-ranum tubuh perempuan itu secara keseluruhan. Aku cepat-cepat menutup auratnya dengan handuk yang lain. Sementara rambutnya yang basah masih ingin ia gelung, tapi aku menyarankan untuk dikeringkan terlebih dahulu. Perempuan itu tersenyum padaku. Ia meraba wajahku. Seolah memperhatikan lekuk bibirku dan ingin dikecup. Tapi mungkin tidak, ia hanya ingin tahu wajahku seperti apa. Maka aku biarkan ia menjelajahi lekuk hidung dan garis alis yang kasar.

Tanpa aku sadari ia telah menjelajahi tubuhku yang lain, jika tidak tuan besar datang, mungkin aku akan terbawa suasana.

“Hmm ..” Lelaki penguasa rumah ini tiba-tiba muncul begitu saja di depan kami. “Maaf tadi pintunya terbuka. Lain kali jangan seperti itu ya Delima.”

Aku menundukkan pandangan. Benar juga aku terlalu gegabah, padahal di rumah ini masih ada anggota keluarga lain seperti anak angkatnya yang baru tiba dari Bandara, Satpam yang bertugas di depan, Supir pribadi yang tinggi besar, dan tukang kebun yang mungkin saja masuk ke rumah. “Maaf, tuan. Tadi aku tidak sempat menutup, karena nyonya memintaku memandikannya.”

“Panggil aku, Sri. Delima.” Perempuan itu tidak suka disandingkan dengan Tuan besar. Menurutnya nyonya terlalu kebarat-baratan. Sedangkan Sri adalah sebutan agung bagi perempuan.

“Baik, Sri. Maaf tuan aku mengganti pakaian nyonya dulu, eh sri.” Aku meminta dengan sopan supaya ia keluar sebentar, entah kekuatan macam apa hingga mulut kurang ajarku berani-beraninya menyuruh majikan keluar dari kamarnya sendiri.

Aku memapah Sri ke tempat tidur, aku usap kaki mulusnya dengan handuk. Kuku-kuku kaki yang sangat terawat bersih. Baru kali ini aku melihat kuku indah perempuan seperti ini, sedikit Panjang daripada kuku milikku yang bantet. Perempuan itu meraba tempat tidurnya, memejamkan mata seolah ia pernah melihat isi dunia dan ingin melupakannya. Aku memijat-mijat kaki Sri, meski katanya ia sudah mati rasa. Apakah Sri pernah sakit?

“Aku sudah seperti ini, Delima. Laki-laki yang kau sebut tuan itu menikahiku entah karena apa. Padahal tubuhku kaku, dan mataku tidak bisa melihat dunia. Saat itu mungkin usiaku sama denganmu. Tidak mengerti apa-apa soal pernikahan.” Sri memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia mengambil cermin kayu. Dipegangnya seolah ia bisa melihat kedalaman sebuah pantulan bayangan.

“Apa aku masih cantik, Delima?”

“Lebih dari cantik, Sri.” Aku merasa iba akan kehidupannya. Tinggal di rumah kaya, bersuamikan lelaki sukses dan jaya. Namun sayang tidak berdaya, bahkan untuk memuaskan suaminya saja ia merelakan untuk mengambil dari wanita lain.

“Sri, tiduran dulu ya. Aku mau mengerjakan pekerjaan dapur.” Aku beranjak dari kasur, rambutnya tidak sengaja ku sentuh. Sangat lembut. Dan entah naluri seperti apa, aku mencium kening Sri. “Selamat malam, Sri.”

--

Di ruang makan, Tuan dan den Aldo telah duduk melingkar menanti makanan yang datang. Aku memasak makanan yang banyak untuk dua laki-laki itu. Sisanya aku makan sendiri di dapur atau aku berikan pada Satpam, Supir dan tukang kebun.

“Duduk sini, sebentar.” Tuan besar memintaku untuk bergabung bersama mereka. Tuan Aldo terlihat eskpresi marah. Wajahnya begitu ketus, entah ia tujukan padaku atau pada ayahnya.

“Ada apa tuan?” Aku berdiri di dekat den Aldo.

“Ada yang ingin bapak bicarakan. Duduklah dulu, kita makan malam bersama.” Tuan besar mendorong satu kursi untuk aku duduk. Aku sangat tidak enak hati diperlakukan seperti orang merdeka, padahal aku disini untuk bekerja. Bukan tamu atau keluarga. Nasi hangat di atas piringku, dada ayam dan siraman sambal balado di atasnya.

“Sudah cukup, tuan.” Aku berterima kasih atas pemberian mereka. Tuan besar tersenyum memperhatikanku. Sementara tuan Aldo seolah tidak mau melihatku. Padahal aku senang, akhirnya di rumah ini aku bisa bertemu dengan orang yang usianya tidak terpaut jauh. Sehingga aku bisa sedikit lega. Entah kenapa aku lega.

Masih dalam nuansa makan malam. Topik pembicaraan akan dimulai. Aku yang sedang menikmati masakanku sendiri, tiba-tiba harus menghentikannya. Tuan marah besar.

“Bapak kira, kamu sudah tidak perduli dengan keluarga ini?” Sedikit gemertak, sehingga air di gelas yang sedang kuminum bergelombang. Aku kaget betulan.

“Aku kesini tidak akan lama, pak.” Den Aldo sesingkat itu menjawab pertanyaan ayahya. “Lagian sudah tidak ada yang perlu aku butuhkan disini.”

“Berani kamu sekarang ya? Pendidikan apa yang telah membentuk watakmu hingga berubah seperti ini!” Tuan menantang jawaban dari amarahnya sendiri.

“Ini semua karena bapak, tidak mau menerima kenyataan!” Aldo sontak berdiri dari duduknya, sendok dan garpu beradu dengan piring. Aku yang sedang nyaman-nyamannya menikmati masakanku sendiri menjadi terganggu.

“Sabar pak, Sabar den Aldo. Apapun masalah kalian, alangkah baiknya tidak dibicarakan di depan makanan. Pamali!” Aku menengahi pergulatan lisan mereka.

“Diam kamu!” Sontak mereka kompak. Aku tergagap. Aku salah bersikap. Tidak ada salah satu pihak yang membelaku. “Kembali ke dapur! Dan cuci semua piring, cepat!”

Keluarga satu ini agak aneh. Sepanjang aku mencuci piring, suara mereka terdengar bising. Salahku juga terlalu bertingkah seperti yang punya rumah. Dan membuat hilang selerak makanku. Satu porsi makanan akan aku antar ke Sri. Semoga ia mau makan masakanku ini. Ibu pernah bilang masakanku penuh dengan bumbu, membuat kuah yang enak di mulut. Tidak sia-sia aku belajar siang dan malam secara otodidak di Youtube.

Aku meninggalkan dua laki-laki yang masih bertengkar di meja makan. Pelan-pelan aku naik tangga supaya tidak terlihat mereka. Tapi sayang aku ketahuan. “Delima, mau kemana kamu?” – “Apa yang kamu lakukan di kamar itu?”

Aku setengah berlari menjauhi mereka dan menuju kamar Sri. Dan mereka berlari pula mengejarku. Sri bisa mati kelaparan jika tidak diberi makan. Keluarga macam apa yang rela mengurung perempuan buta dan lumpuh di kamar atas?

“Sri, aku masuk ya!” Aku mencoba membuka handle pintu, tapi terkunci.

“Delima, apa yang kamu lakukan di bekas kamar ibuku?” Den Aldo memegang lenganku. Sangat erat, ia lebih memilih mematahkan tanganku daripada mendengar penjelasanku.

“Lepaskan aku! Kalian psikopat! Tega sekali!” Aku berusaha melepas tapi sulit. Aku gigit saja dia. Dan baru ia melepaskanku. Kesempatan itu aku ambil untuk terus membuka pegangan pintu. “Jelaskan padaku, kenapa kalian tega mengurung Sri di dalam!”

“Sri?” Den Aldo balik bertanya. “Sri siapa? Disini tidak ada anggota keluarga lain, selain aku dan bapakku. Kamu sudah seperti pembantu-pembantu yang lain, Delima! Suka mengarang hal yang tidak-tidak.”

“Jangan bohong, aku tidak peduli kamu sakit atau gila. Tapi akan aku buktikan bahwa Sri memang ada. Dan kalian akan menanggung semua perbuatan kalian!” Aku berteriak, setengah memaki, menghakimi dan mencaci. Aku sudah tidak peduli kalau nantinya aku akan disekap dan diperlakukan seperti Sri.

“Apa yang kamu bicarakan?”

“Aku kira kamu berbeda dengan anggota keluarga yang lain, tapi ternyata sama saja. Bejad! Jangan-jangan kamu menyalurkan nafsumu pada Sri juga ya? Sama seperti kelakuan bejad bapakmu itu!” aku kelewatan batas dan ..

‘PLAKK!’ tiba-tiba dari arah yang tidak aku duga, tuan besar menamparku dengan keras.

“Hati-hati kalau bicara, Delima!” Tuan besar mencoba menamparku lagi tapi den Aldo menahannya. “Aku pekerjakan kamu disini sebagai pembantu, bukan jadi biang kerusuhan! Cabut kata-katamu atau aku usir paksa!”

“Bapak!” Den Aldo, setengah membelaku. Aku menahan perih di pipi kananku. Gigi atasku menggigit lidah, sehingga aku tidak kuasa membalas perkataan mereka. Setelah aku luapkan kekesalanku tadi aku merinding. Energi kemarahan telah menguras tubuhku. Dan tiba-tiba pening. Pandangan seolah berembun dan gelap total.

Setengah sadar aku digotong ke kamar dimana tubuh Sri disembunyikan. Tubuhku dan tubuhnya terasa hangat. Tapi aku tidak bisa mengingat banyak, hingga keesokan harinya aku terbangun di tempat yang lebih empuk daripada kamar pembantu.

Keadaanya terasa begitu cepat. Cahaya matahari menusuk mataku, memaksaku untuk pulih dari cedera mental semalam.

“Kamu sudah baikkan, Delima?” Den Aldo terbangun disisi kasurku. Apa semalam ia menungguku? Aku mengamati kamar yang setiap hari aku masuki, memandikan Sri, bercerita, menyisiri rambutnya, memijat kaki mulusnya. Dan aku tidur dimana Sri aku ucapkan selamat malam.

“Dimana Sri?” Sisa memoriku masih terganggu dengan perdebatan semalam.

“Hentikan, cukup hentikan. Jangan dulu berpikir terlalu keras.” Den Aldo mencoba membaringkanku lagi. “Maafkan bapak menamparmu terlalu keras.”

Aku teringat tamparan itu, tapi anehnya aku tidak merasakan sakit apapun di pipiku dan tidak ada satu dendampun pada tuan besar. Mungkin itu kesalahanku karena memfitnah keluarga ini. Tiba-tiba kau menangis. Entah karena saking takutnya aku akan dipecat dari pekerjaan, atau karena kebaikan Den Aldo yang memberi perhatian lebih padaku.

“Aku mau kembali ke kamar bawah, disini terlalu dingin. Bantalnya terlalu empuk.” Aku mengoceh dan memaksa tubuhku keluar kamar. Yang sebenarnya aku terlalu sungkan tidur di ranjang mewah. Bukan hal yang wajah pembantu sepertiku mendapatkan perhatian lebih dari salah satu anggota keluarga. Terlebih Den Aldo. Sangat disayangkan kenapa aku masuk ke kehidupannya sebagai seorang pembantu. Hingga aku sadar derajat kami berbeda.

“Terserah kamu saja!” Den Aldo menuruti kemauanku untuk istirahat di kamar kecil dekat dapur. Ia memapahku. Rumah besar ini sangat sepi jika hanya diisi oleh kami.

--


Hari-hari selanjutnya aku dan den Aldo makin dekat, ia bercerita tentang ibunya yang telah lama meninggal, dan bapaknya yang jarang pulang karena bisnis di kota. Begitu aku terka pacarnya siapa, ia sangat tertutup. Makin menggemaskan saja anak ini. Aku merasa betah bekerja di rumah besar ini. Sampai aku lupa siapa aku sebenarnya.

Saat kasmaran itu aku tidak lagi percaya bahwa Sri memang benar-benar ada. Kata dokter keluarga ini, aku mengalami delusi atau halusinasi. Mungkin karena efek pertama kali bekerja di rumah orang yang gedenya tidak ketulungan. Dan aku sudah diwanti-wanti sama tuan untuk tidak lagi naik ke lantai atas.

Satu malam yang tidak aku inginkan adalah saat aku sudah selesai mencuci piring, terdengar suara kecipak air di kolam renang belakang rumah. Seperti orang yang sedang berenang. Apakah Den Aldo sudah pulang kuliahnya? – aku penasaran juga, kan. Kali aja bisa diajari berenang sama den Aldo.

“Den ..” Aku menyalakan lampu belakang. Gelap. Mana mungkin ada orang yang berenang dalam kegelapan. “Den, berhenti jailin aku ya!” Aku kepedean. Barangkali ia mau berusaha menjahiliku dengan pura-pura kakinya terkilir, kram di air, atau mendorongku ke air. Berbagai imajinasi menyesatkan datang menghampiri. Tapi mana mungkin den Aldo suka sama pembantu? Apa mungkin tuan besar? Oh tidak mungkin. Aku tidak mau membayangkan nya! Lebih baik aku balik aja ah ke dapur.

Esok pagi sebelum menyiapkan sarapan, aku tengok ke kolam renang di belakang rumah. Ada yang aneh. Airnya surut, dan menyisakan genangan air yang hitam dan kotor. Terlebih di belakang rumah adalah bekas renovasi yang belum selesai, sehingga balok kayu masih banyak menungging di bekas kolam renang. Kok aku baru ngeh sekarang kalau kolam renang ini sudah tidak lagi digunakan ya?

Seketika aku teringat Sri. Perempuan atau bukan, tapi Sri sudah pernah hadir di hari pertama ia bekerja di rumah ini. Dan sama sekali tidak ada yang menakutkan darinya. Hanya wanita lemah tidak berdaya. Jika imajinasiku sampai sejauh itu, kenapa merasa itu nyata ya?

Jika aku bercerita pada mereka berdua, aku masih tidak bisa menerka jawaban mereka. Mungkin nanti aku disangka gila.

“Hai!” – suara seorang perempuan mengagetkanku. Tubuhnya tinggi, berambut lurus, memakai gaun merah setengah telanjang.

“Ambilkan aku minum dong, kepalaku mau pecah nih!” bergaya seperti majikan menyuruh ini itu. Aku perhatikan wajahnya memerah dan tiba-tiba ia berlari ke dapur dan muntah begitu saja di tempat cuci piring. Air keran di basuh sekenanya. Aku segera berlari memberinya air minum dan membersihkan sisa muntahannya.

“Sorry, sorry ..” wanita itu melap bibir merahnya dengan kain tisu basah. Dan ambruk seketika, lemas. Aku segera memapahnya ke kamar tidurku. “Tolong ambilkan tasku di meja makan, aku mau memesan taksi.”

Aku segera memposisikan tubuhnya supaya tepat kepalanya di atas bantal dan kakinya kuselimuti supaya enak dipandang. Apa mungkin ia kelelahan? Aku melepas sepatunya, terlihat kuku-kuku yang cantik berbeda dengan kuku kaki ku yang bantet.

Saat aku ke ruang tengah, meja makan. Ada mas Aldo sedang duduk sambil memegang gelas. “Kemana aja sih, dipanggil tidak nongol-nongol. Ambilkan air aku haus!” katanya sinis. Tidak biasanya ia berbicara seperti itu padaku, padahal kemarin malam ia masih sempat menggodanya.

“Cepat! Lelet banget sih!” den Aldo melempar Gelas itu ke arahku, tepat di depan kakiku. Pecah, beling-belingnya berhamburan. Aku tidak bisa membalasnya. Seolah mulutku terkunci dan mau menerima begitu saja perlakukan.

Rasa sakit begitu menusuk tiba-tiba, orang yang kukira bersahabat ternyata kumat. Aku ke dapur dan membawa air dan menengok ke kamar. Tapi perempuan itu sudah tidak ada. Aku kembali ke meja makan. Tidak ada siapa-siapa. Pecahan gelas itu pun lenyap begitu saja.

Aku semakin bingung, dan tiba-tiba terdengar suara gaduh di lantai atas. Tepat dimana kamar Sri berada. Aku tidak boleh kesana. Janjiku pada Tuan besar adalah perintah. Tapi aku mendengar seorang perempuan menangis diantara percekcokan bapak dan anak itu.

“Oh, begini kelakuanmu ketika bapak tidak ada!” itu suara bapak. “Perempuan sundal, apa yang tidak kamu dapatkan dariku hingga berani-berani menggoda anakku sendiri?” terdengar suara tamparan keras.

“Hentikan pak! Ini semua salah Aldo, bukan kesalahan Sri!” itu suara Aldo. Ia menyebutkan nama Sri.

“Sadar, bodoh. Dia adalah ibu terusanmu. Istri bapak! Kenapa kamu berlaku seperti binatang mencumbu ibumu sendiri?” Bapak terdengar memaksa Sri masuk ke kamarnya dan mengunci. Entah apa yang terjadi di dalam, sementara Aldo menggedor-gedor pintu dari luar.

“Hentikan pak! Hentikan!”

--

Aku melupakan janjiku pada Tuan besar, aku lari ke lantai atas. Dan melihat tuan Aldo sedang meronta-ronta di depan kamar Sri. Aku memeluknya untuk menenangkan. “Tuan, hentikan!” aku ikut berteriak. Pintu itu terkunci dengan rapat.

“Aldo, katakan dimana kuncinya?” Aku mengguncang-guncangkan tubuh Aldo. Ia seolah tidak terpengaruh akan kecemasanku. Aku berpikir dimana harus aku cari kunci kamar ini. Aku berlalu Lalang di depan pintu, sementara Aldo menangis dengan tubuh setengah telanjang. Aku belum bisa menyimpulkan perbuatan apa yang dilakukan Aldo dengan ibu tirinya. Tiba-tiba, aku menyentuh benda keras di saku celanaku.

Kunci? Kenapa ada di saku celanaku? Tanpa berpikir lagi aku buka kamar itu dan sesuatu telah terjadi. Di depan mataku. Hal yang seharusnya tidak aku lihat seumur hidup. Kasur penuh darah, selimut berantakan. Tuan besar berdiri membelakangi tanpa memakai pakaian, ia melihat ke arah kamar mandi. Disana mayat Sri sedang terbaring di dalam bak pemandian. Kaki serupa duyung, terikat rapat dengan selotip cream yang besar. Tanpa pakaian, seseorang sedang memandikannya dengan air hitam, penuh karat paku, bekas comberan dan lilin malam yang diteteskan di kedua matanya.

“Awetkan dia Delima. Biar semua orang tahu kelakuan bejatnya!” Tuan besar masih berdiri memerintahkan orang itu, dan jari-jari tangannya seolah aku kenal. Membelai rambut Sri dengan penuh perasaan, mengikat kaki-kaki lalu dilapisin lilin supaya rapat seperti kaki duyung. Menyiram dengan air bekas kolam renang, yang sudah terkena karat. Dan mencabuti kuku-kuku indahnya dan dikumpulkan di satu wadah plastik.

“Sri, kukumu bagus sekali. Kamu sangat cantik!”

Friday, March 20, 2020

Cerpen : Kurnia si Boneka Tangan (Eksperimental 21+)

Huntu Menggigit. Gemeretak di mulut. Air liur mengisi rongga-rongga karang, menahan jeritan dan ketidak adilan. Bagi Kurnia ini aib. Ia menggoyangkan otot tubuh bawahnya untuk memuaskan tamu yang masuk.

Ketampanan seorang perjaka tak ada untungnya, jika tak mampu memberinya ruang kamar dan uang. Tindihan atau gertakan sama saja asalkan ada penghasilan. Bagi Kurnia ini aib. Mencari makan di bawah lampu remang-remang.

Kurnia menarik diri dari kerumunan pria yang datang dengan tawa dan lembaran uang kertas yang terhimpit keras celana ketat di selangkangan. Ia menutup wajahnya sehingga tidak ada satupun tamu dari mereka yang doyan. Bagi Kurnia ini aib. Tapi wajahnya sudah dikenali. Kemana ia pergi, bau tubuhnya seolah sinyal paling kuat dari laki-laki normal sejagat.

Mereka memanggilnya Nia, nama yang pantas bagi seorang perempuan boneka tangan. Kurnia hanya sebuah nama hinaan bagi pekerjaannya. Penambang emas dan muntahan lava hangat.

Ia dikenali seorang tamu oleh ibu suri Sriwati. Pria bijak dari tanah lama. Ibu suri kenal dengan pria ini, ia tahu kesukaannya. Ia paham cicipan lidahnya. Maka Nia adalah sapu tangan yang cocok untuk membasuh berahinya.


Prakasa, pria beristri yang sedang bertugas, numpang mandi, kakus dan berahi di losmen Sriwati. Ia terlihat lesu setelah perjalanan jauh. Tidak ada tempat yang paling nyaman, selain losmen Sriwati. Tidak ada bidadari yang tidak perawan di losmen sriwati. Ia berdua dengan temannya dan meminta satu kunci kamar saja. Dua pria dalam satu ruang, meminta pelayanan ekstra dari boneka Nia. Kurnia pasti kamu kewalahan.

Nia tidak dapat menyembunyikan identitasnya. Boneka tangan paling menggemaskan kepunyaan Sriwati. Ia menjadi primadona kebanggaan para bajingan. Baginya ini aib. Tapi tidak aday tangan yang mau terbuka dan menjemput paksa ia dari tempat terkutuk ini. Nia berikrar jika ada yang mengangkatnya dari lembah dosa, ia akan berubah. Setidaknya ia bisa makan dengan tenang. Dan laki-laki yang ada di kamarnya sekarang. Apakah mereka pahlawannya?

Malam adalah penyempurna kebenarannya. Nia menjadi surga bagi mereka. Tapi neraka baginya. Ini tidak adil. Mulutnya meracau doa. Tapi tidak dengan otot-ototnya. Kelar hidup Nia kalau ia membatalkan keinginan dua pria itu. Asalkan sopan meminta, sebenarnya Nia mau saja. Tapi tamu Sriwati, sungguh berbeda.

Beruntungnya bagi Nia diantara tamu-tamu itu ada yang memesan tempat dihotel-hotel mewah, kapal pesiar, dan vila-vila di kota jauh. Sehingga ia bisa mengikis kesedihannya dengan menikmati perjalanan. Sering ia iri dengan mereka yang hidup merdeka.

Nia tidak bisa berbuat apa-apa karena bagian tubuhnya telah ditandai. Sekali ia memberontak, maka lingkaran timah di lehernya akan mengerucut dan memotong lehernya sekaligus. Ancaman yang membuatnya takut setengah mati.

“Plis, bantu aku .” ia mencoba berinteraksi dengan kawan lamanya yang lebih dulu kabur. “Clear, dimana kamu sekarang?”

Nia membayangkan hidup dengan normal, memiliki anak dan karir yang cemerlang, berjalan dengan leluasa di jalan. Ia memejamkan matanya untuk melupakan kesedihannya. Sementara prakasa dan temannya sedan asik bergiliran memuaskan titit besarnya. Bak boneka, nia telentang. Tak bergerak. Pikirannya sudah jauh melayang ke dimensi lain. Ia asik dengan dunia imajinasinya. Tak bergerak.

Sriwati menelpon ambulan, mengusir dua laki-laki itu dari kamar dan menampar pipi Nia. Tapi tak juga ia siuman. Sriwati tidak mau kehilangan sumber penghasilannya.

“Apa yang kalian lakukan, Hah!” Sriwati bak seorang ibu yang melindungi kehormatan anak perempuannya. Menyerang prakasa dengan membabi buta. Air matanya membuncah, ia tak percaya salah satu anggota medis memapahnya ke rumah sakit.

Sriwati terhenti di pintu pagar. Ia sama takutnya jika melewati batas antara dunia normal dan dunia kegelapan yang telah dibuatnya. Ia hanya mendengar suara sirine melambat dan menghilang jauh ke kota. Ke bangsal-bangsal rumah sakit terdekat.

“Maaf, madam sebagai gantinya terimalah permintaan maaf ini.” Prakasa menyodorkan amplop tebal berisi uang. Lalu tanpa embel-embel tanggung jawab mereka berkemas dan pergi begitu saja meninggalkan losmen dan tamu lain yang masih setengah telanjang, berdiri di pintu dan jendela-jendela.

“Sialan kau Prakasa!” Sriwati merobek amplop dan berhamburan uang yang banyak. Uang yang dulu ia puja dan banggakan.

Bangsal rumah sakit.

Nia mulai siuman setelah tujuh hari tertidur koma. Lihatlah ia masih cantik seperti biasa. Ia melihat dunia serba putih dan terang. Ini jelas bukan kamar di losmen-losmen sriwati.

“Hallo Nia, apa kabar mu? Oh iya kenalkan saya ibu Widia.” Senyum yang hangat. Semoga dia yang jadi pahlawannya.

Thursday, March 19, 2020

Cerpen : Isabel dan Rubik Pandora

Kode rahasia yang tercantum pada kotak besi belum ditemukan. Siapapun yang berani dalam memecahkan sandi diundang. Mereka tidak tahu apa yang mereka temukan. Mungkin saja sebuah jebakan dari dewa Zeus. Mana tahu!


Tim arkeologi menemukan kembali barang temuan. Kali ini ada sangkut pautnya dengan mitos kotak Pandora. Benda angker tersebut dibawa ke tempat penelitian tersembunyi di bawah bunker militer. Kapten Razi bertanggung jawab atas perlindungan kotak tersebut. Mereka menyarankan untuk mengundang tim ahli pemecah kode. Mereka tidak tahu apa yang telah mereka lakukan. Mungkin saja berisi gerbang neraka penuh maksiat.

Sebuah kotak berukir tumbuhan terbuat dari baja yang kokoh; tidak ada celah terbuka. Hanya terlihat seperti rubik mainan anak. Mereka tidak gegabah untuk memainkannya. Salah-salah wabah berbahaya akan keluar dari dalamnya. Mereka percaya, bahwa keajaiban akan ditemukan.

Kapten Razi didampingi oleh beberapa pasukan memasuki aula room, menyambut para ahli rubik dari seluruh penjuru penjara. Mereka akan diperlombakan dalam memecahkan kodenya. Tanpa memberitahu mereka apa yang sebenarnya mereka mainkan.

Kertas perjanjian ditandatangani; uang imbalan sudah mereka terima. Hak kemerdekaan mereka akan diberikan. Maka tidak ada jalan lain selain menyelesaikan pertandingan. Kau tahu betapa busuknya penjara bawah tanah?

"Peserta nomor lima ratus lima silakan masuk!" terdengar gaung pengeras suara dari lobi. Maka masuklah seorang bocah perempuan. Kapten Razi memberi tanda jeda. Ia mendekati anak itu.

"Siapa namamu?"

"Isabel." Anak itu menatap balik kapten Razi, penuh keyakinan. Tetapi kapten Razi tidak cukup yakin. Sudah ada ratusan peserta masuk dari mulai pendeta, pendekar, pemulung, petarung, pesuruh, penyembah api, pembakar jenazah tapi tidak ada satupun dari mereka yang berhasil membuka isi kotak terakhir itu.

"Silahkan dibaca dulu, dipikirkan." Kapten menyerahkan kertas untuk ditandatangani. Anak perempuan itu tanpa jeda mencelupkan jarinya ke tinta. Tangannya bergetar; bukan karena takut tapi ada sesuatu yang berbeda darinya. Mungkin dia cemas.

"Kalau kamu berhasil hadiahnya untuk apa digunakan?"

"Pulang ke rumah." Anak perempuan itu jujur. Tapi tidak cukup kejujuran bagi Kapten Razi. Ia harus benar-benar seleksi pada para peserta. Ia mengamati anak perempuan itu, bajunya sangat dekil, kulitnya bersisik kurang air, rambutnya ikal lebat. Maka apakah sia-sia saja mengorbankan anak perempuan ini?

Beratus-ratus tahanan dari seluruh penjara, terutama yang sudah divonis hukuman mati seumur hidup pun mereka tidak mampu memecahkan kode. Anak ini bagaimana bisa?

"Kapten, bagaimana apakah kita lanjutkan?"

"Apa kesalahan anak perempuan ini hingga masuk penjara?"

"Mencuri uang di pasar, Kapten!"

"Hanya itu?" Kapten masih tidak percaya. "Berapa lama dia dikurung dalam tahanan?"

"Maaf kapten, akses anak ini belum bisa diungkap."

"Kenapa?"

"Akan saya coba, mungkin sistemnya sedang mengalami gangguan."


Apakah anak ini yang akan bisa membuka kata sandinya? Kapten Razin menyetujui agar anak perempuan ini mencoba keberuntungannya. Ruang khusus telah disediakan oleh kepala penjara. Beton kaca setebal lima meter. Akan tidak mungkin wabah yang dikeluarkan kotak itu dapat menembus. Tim sudah memprediksi hal tersebut. Karena mereka percaya kotak Pandora sudah pernah ada yang membukanya dan wabah penyakit serta kemalangan datang bagi siapapun yang ada di sekitarnya. Dan legenda mengatakan setelah wabah itu keluar; menyisakan satu keberuntungan. Dan keberuntungan apa yang sebenarnya diceritakan dalam kisah kuno itu? Hanya hal sepele itu lah penelitian ini didanai ratusan juta dolar.

Gedung yang dilengkapi senjata dan lengkap dengan pasukan khusus penjara; memiliki lima ribu kamar sel yang luasnya bisa menampung lima puluh tahanan. Penjara ini bertingkat ke dasar tanah. Bangunan paling atas digunakan bagi administrasi dan petugas. Bagian kedua hingga tingkat tujuh belas disediakan teratur mulai dari tahanan bangsawan, pemerintah, konglomerat, rakyat biasa, dan terakhir paling bawah adalah lantai bagi tahanan rakyat jelata yang tidak teridentifikasi data kependudukan.

Berair, panas, pengap. Begitu yang dirasakan Isabel, anak perempuan yang akan segera membuka kotak tersebut. Langkahnya pelan, mungkin ia cemas. Karena sebelumnya ia tidak tahu bagaimana cara memainkan rubik. Tapi mengingat kerinduan akan orang tuanya; ia bertekad memberanikan diri.

Hanya satu permintaan saat mencoba menyentuh kotak rubik itu. Ia ingin pulang.

Isabel mencoba memutar ke kanan, ke kiri, ke atas dan ke bawah. Ia terlihat cemas, manakala petugas keamanan dengan senjata penuh siap menghabiskan nyawanya bila tidak berhasil seperti peserta yang lain.

"Isabel! ... Isabel! .. Isabel! .."

Gemuruh penduduk penjara berteriak seirama, mencoba membakar semangat anak kecil itu. Petugas menendang, memukul dan mencoba mendiamkan mereka. Tapi gemuruh mereka tetap sama. Kalau boleh mencoba mereka bisa mendobrak sel penjara; melumpuhkan petugas; sebab jumlah menang banyak dari petugas. Tapi kehadiran kapten Razi yang matanya setajam elang. Mereka mengurungkan niat mereka. Kapten mencoba fokus menatap anak perempuan itu. Ia tidak terpengaruh suara yang lain.

Berhasil! Kotak itu terbuka. Petugas mengiring Isabel menemui kapten Razi.

"Pulang lah, kau sudah bebas sekarang!" Kapten memerintah kan satu petugas untuk membawa dia ke atas permukaan tanah. Melepaskan kesulitan dan memberi kemerdekaan. Seluruh penduduk penjara bergembira. Satu tahanan telah bebas. Rasa kesatuan mereka terpupuk secepat itu.

Isabel menaiki lift sampai ke lantai atas. Menghirup udara kebebasan yang telah ia rindukan. Rumput-rumput terinjak lembut dari kakinya. Matahari benda berpijar itu kini dapat ia lihat. Meresap ke dalam kulitnya yang mulai berjamur kedinginan. Kesengsaraan yang ia dapatkan semasa di penjara hilang sudah. Ia sudah tidak kuat. Ia tidak kuat untuk segera berlari – rindu pada ibu.

Petugas yang mengantarkan Isabel berdiri di belakang. Mengarahkan lubang senapan pada gadis yang sedang berlari kegirangan dari kejauhan. Tangannya siap-untuk melepaskan bising timah panas. Sebentar lagi. Tanpa peringatan. Tanpa pemikiran. Begitu dingin. Begitu kejam.

Mata indah bola pingpong. Rambut ikal coklat indah terurai. Wajah serupa malaikat. Menatap lembut penuh senyum. Tiba-tiba Darah sedikit keluar dari hidungnya. Menetes. Menyeringai penuh kemenangan.

Di belakang, petugas gelagapan. Senapan yang akan diarahkannya ke anak itu, kini malah menyerang balik. Ia tidak bisa mengendalikan tangannya. Sulit bergerak. Kini terlihat lubang peluru dengan jelas oleh matanya. Peluru yang akan menghantam kornea matanya. Merebut syaraf-syaraf di otaknya. Mencampurkan logam dengan darahnya. Dan dalam hitungan detik; dan

DORRR!!

Tuesday, March 17, 2020

Cerpen : Tabiat Buruk Putri Tangguk

Seorang suami berhenti menasehati istrinya, hanya karena tidak mau persoalan kecil menjadi besar. Setiap kali istri pulang dari memanen padi, tabiat buruk dari perempuan yang telah melahirkan tujuh darah dagingnya itu terlihat. Sering dengan sengaja ia menendang kaki meja, sakit sendiri lalu marah-marah tidak jelas. Pernah satu kali ia berupaya menegur dengan baik-baik, tapi apa yang keluar dari mulutnya hanya keluhan.

"Abang tidak punya hati ya, tiap hari aku banting tulang di sawah, pulang ke rumah harus pula mengurusi anak, tumpukan cucian segunung, belum lagi mengurusmu di kasur. Cape bang. Aku tuh butuh liburan, kayak teman-teman SD ku, shoping sama suaminya. Jalan-jalan ke Madinah, maksudku Umrah. Ah sudah lelah aku ngomong gini. Harta sebanyak ini buat apa bang?"

"Iya maafkan abang, abang hanya mau kita hidup sederhana." Suami dengan selembut mungkin menenangkan hati perempuan berambut panjang itu. Sepuluh tahun lamanya ia telah berhasil mencuri gadis kesayangan keluarganya. Rela hidup bersamanya yang jauh dari kemapanan.

"Selama ini aku sudah sabar, bang. Seolah aku ini engkau anggap durhaka." Emosi jiwa kewanitaannya tak terbendung, ia lalu menangis tiba-tiba. Sampai disana sang suami tidak tega dan tidak lagi mengusik hal ini.

Namun semakin hari, perangai sang istri malah semakin menjadi-jadi. Ia berpoya-poya dengan membeli banyak barang mewah, bergaul dengan ibu-ibu sosialita, berhutang bunga pada kosipa, tanpa sepengetahuan suaminya. Kini memang tidak terdengar lagi kemarahan sang istri, tapi karma istri datang pada malam ini.

Malam yang sial, perampok berhasil memboyong seluruh harta keluarganya, juga berton-ton padi yang telah disimpannya selama ini.

"Bang, aku mimpi buruk, padi di gudang hilang semua. Kakek tua dalam mimpiku itu menyalahkanku."
-

[Adaptasi dari 'Putri Tangguk' cerita Rakyat dari daerah Jambi. Diceritakan kembali dan diadaptasikan oleh Agus Sutisna. Ciamis, 03 Agustus 2019.]

Friday, March 13, 2020

Antologi Fiksi Mini : Benang Tiri

Tali Jemuran


Jika matahari sudah tergelincir ke arah barat, temui aku diujung jalan itu. Kelak akan aku ceritakan sedikit permasalahanku. Tapi jangan kaget jika menemuiku tidak utuh, sebab aku terlalu sembrono mengambil keputusan untuk menyerahkan leherku pada tali jemuran itu.

Cara Cepat Bertemu Tuhan


Seorang pelamar kerja mencoba membuat siasat baru agar dapat diterima masuk ke perusahaan, minimal ia bisa diberi kesempatan untuk wawancara. Di tengah perbicangan recepsionis, ia meminta waktu untuk menenggak minuman yang telah ia bubuki serbuk obat tidur. Dengan cara ini semoga lebih cepat berdialog dengan Tuhan. Ia akan meminta pada-Nya jalan menuju kesuksesan.

Jebakan Bocah


Angin meniup bokong seorang bocah yang sedang duduk menungging di sawah. Sepulang sekolah ia tidak pulang ke rumah, ia diajak seorang pemuda pengangguran yang hobby membeli CD bajakan. Bocah itu tertawa saja ketika ia diajak melihat sesuatu yang menakjubkan. Ada lubang mengangga kecil yang bisa dimasuki jari tangan. Pemuda itu bilang ini pelajaran IPA. Bocah itu mengangguk dan kembali menungging. Ia tak sabar melihat seekor belut terperangkap jebakan.

Pejantan


Seorang putri yang tertawan di atas menara, sedang asik menenun kain batik. Matanya seksama memperhatikan pola dan untaian benang. Ia seorang yang rajin. Jika ia ditakdirkan jadi seorang rakyat miskin pun, ia akan terangkat oleh kegigihan dan tentunya kecantikan. Hingga gulungan benangnya jatuh. Ia kebingungan. Maka ia bernadzar. Jika ada seseorang yang bisa membantunya menyelesaikan permasalahan ini, maka jika laki-laki akan ia jadikan suami. Dan jika perempuan ia angkat jadi saudara tiri. Dan ternyata yang datang seekor ayam pejantan, berbulu hitam dan jawer besar kemerah-merahan.


--

Agus Sutisna, lahir di Ciamis, 17 Agustus 1988. Memiliki ketertarikan dengan sastra khususnya cerpen (Cerita Pendek). Hasil karyanya hanya dituangkan dalam sebuah blog 'Pustaka Besar' dengan harapan suatu hari nanti bisa membumikan karya dengan Gedung Perpustakaan Terbesar di daerahnya untuk Literasi Baca Tulis yang lebih baik.