Smoking on Bench - [Cerpen Eksperimental 21+]

Agustus 29, 2018

Peringatan : Cerpen ini hanya boleh diakses oleh orang dewasa. Berisi kata-kata kasar dan tidak pantas ditiru. Dari judul di atas sudah ditandai 21+, mohon kebijakan bagi pembacanya. Dalam menulis cerita terkadang unsur real (ungkapan-ungkapan verbal) bisa membuat lega.

Tapi ada yang mengganjal. Meskipun cerita ini membuat tracking naik; tapi ada pesan moral yang sungguh disayangkan. Maka mulai detik ini akan dirubah atau dibiaskan dengan ungkapan-ungkapan yang lain.

Langsung saja ya. Semoga berkenan.



Tidak dapat dijangkau. Hatinya begitu keras. Pilihannya hanya satu. Asmara. Selain itu hanya kebohongan dunia. Seringkali ia mengakui semua perbuatan tidak senonoh. Berapa puluh gadis yang sudah diambil keperawanannya sejak ia lulus SMP. Wajah innocent yang tidak bisa disangka. Seorang Playboy. Penjahat kelamin.

Tapi salahnya mereka, kaum perempuan masih menyukai kemaskulinannya. Tubuh berotot, dada bidang, otot besar dan rayuan maut bibirnya. Mereka suka. Dan kadang rela menyerahkan rumput basahnya. Sial.

"Ovarium meledak!"

Apa memang dunia sudah tidak waras?

Aku mendengar setiap hari tentang pergulatan hidupnya. Kata-kata yang tabu didengar; jorang; menjadi makanan sehari-hari. Aku selalu bilang untuk menjaga mulutnya dari bahasa seperti itu.

Salah dia mengapa mau berteman denganku. Setiap hari aku ceramahi dia. Ataukah aku yang mulai ditarik masuk ke dalam dunianya? Entahlah rasanya setiap hari kata-kata sumbang itu seolah biasa.

“Ikut yuk.” Ben menawari boncengan padaku.

“Kemana?”

“Tempat biasa aku menindih mereka.”

“Astagfirulloh!”

“Bercanda. Kita ke rumah orang tuaku. Liburan.”

Aku mengiyakan. Lagian tidak ada kegiatan hari Minggu ini. Aku dan Ben satu angkatan di kuliahan. Bagiku ia memang sosok special. Entahlah. Berapapun banyaknya dosa yang ia sebutkan; aku akui ia gentle; mau mengakui. Tidak munafik. Dan aku saat ini butuh teman yang seperti itu. Terkadang aku ikut sedeng juga.

Tempat yang jauh dari kota; ke arah Panjalu. Tempat paling adem di kabupaten Ciamis. Berboncengan berdua. Romantis. Istirahat sebentar di bangku taman alun-alun. Menatap surya yang akan segera turun.

Dua harimau hitam dan putih menjagai keharmonisan dan kesakralan danau. Mengaum melumatkan jiwa-jiwa yang lemah dan penakut. Menampar wajah-wajah peragu dan bermuka masam. Seolah mereka gambaran kami. Hitam dan putih dalam persahabatan yang alami.

“Kalau kamu cewek pasti sudah aku hajar.”

“Maksudnya?”

“Senggama!”

Aku diam terpatung. Rasanya aku salah ikut kali ini. Ia malah tersenyum. Mungkin melihat ekspresiku yang ketakutan. Terkadang saat-saat ini aku bersyukur dilahirkan sebagai seorang laki-laki; mau berteman dengan siapapun; bebas. Enggak bakal diapa-apain. Selamat.

“Bercanda!” lagi-lagi ia menepuk bahuku. “Jadi orang jangan serius-serius amat kenapa!”

Lapangan hijau penuh dengan orang-orang yang berlalu lalang; bermain dan berpetualang. Suara gamelan menyentuh telinga dan melenakan pikiran. Angin berdesir rasanya ingin segera terlentang.

“Besok aku mau kawin; kamu datang ya.” Tiba-tiba ia ngomong serius. Dalam pikiranku buat apa kawin, toh setiap hari ia bisa menjamah surga dunia kapan pun. Tapi ia malah mau diikat dengan pernikahan?

“Aku mau bertobat.” Kali ini ia mantap. Rambut teralur dan angin membelai wajahnya. Tidak ada sedikitpun keraguan.

“Kali ini aku menemukan wanita yang bisa aku hormati.” Ben menerawang ke langit. Matanya tetiba sembab. Ada serak yang khas mana kala ia berbicara. Sudah lama ia ingin mengakhiri petualangannya. Mempunyai hidup yang benar. Dan berkeluarga layaknya manusia yang normal.

“Kelak kamu juga akan berpikiran sepertiku.”

Aku diam seribu bahasa. Orang yang kusangka tidak akan berucap demikian. Kini menarik dari dunia kelam. Sementara diri ini yang sok suci masih tidak mengakui perbuatan-perbuatan dosa. Kali ini ia benar. Dan mungkin aku yang ada di pihak setan.

Ben sudah bertobat dan berbuat banyak kebaikan; sementara diri ini masih mengingat cerita-cerita mesum yang telah ia ceritakan. Banyak dan menumpuk di dalam kepala. Hilang fokus lantaran terbayang beberapa adegan.

“Sial. Sekarang giliranku yang masuk neraka.”
-


Tasikmalaya, 29 Agustus 2018 

Gambar : https://www.splitshire.com/smoking-on-bench/

:)

1 komentar

  1. Awalnya cerita ini penuh ungkapan tabu, semisal nama kelamin dan teman-temannya. Jujur cerita 21+ ini malah menaikkan trafik pencarian di google. Tapi aku sadar sekarang, tidak ada keuntungan jangka panjang bagi seorang penulis yang vulgar, jorang dan penuh kata-kata bokep.
    -
    Semoga penulis masih bisa tetap di jalur aman.

    BalasHapus

Follow Me

Facebook