Bayi Laksmi - [Short Story On Plukme]

Agustus 02, 2018

"Jangan lagi, jangan lagi Gusti Alloh!"

-

Rumah satu-satunya di padang ilalang, Brebes. Terhampar diantara dua bukit perkebunan bawang milik pemerintah. April ini, kemarau seakan mengapit dua orang tua untuk bertengkar hebat. Leluasa berteriak, tidak ada yang mendengar.

Tidak ada jalan setapak. Tidak ada tetangga lewat.

-

"Aku sudah bilang sayang, kita masih bisa hidup meski tanpa anak. Aku terima kamu apa adanya." Sapto namanya, seorang suami sekaligus kepercayaan mandor untuk menjaga perkebunan bawang.

"Tapi, aku kesepian. Kadang kamu pergi berminggu-minggu untuk urusan bawang. Bagaimana aku tahan!" Laksmi mencurahkan emosinya. Kain rajutan yang seharian dibuat, ia lempar.

"Lalu aku harus bagaimana? Ini pekerjaanku satu-satunya. Mereka sudah berbaik hati mengizinkan orang tua ini bekerja dan memberi kita rumah tinggal. Kalau mereka menyuruhku pergi ke kota, apa salahnya!" Sapto berulang kali menjelaskan. Ia berupaya tenang. Sudah jadi ikatan kimia, manakala sang istri sedang marah. Ia merendah.

"Pokoknya tidak boleh pergi!" ucap Laksmi. Karena usianya mulai bertambah, sifat kekanak-kanakannya muncul kembali.

"Jadi apa yang bisa aku lakukan, agar membuat kamu senang?"

"Aku ingin punya anak dari kamu." katanya lugas.

"Sayang, jika saja aku mampu, sudah aku berikan puluhan bahkan ratusan anak manusia untukmu. Tapi gusti Alloh yang maha mengatur. Kudu sabar!"

-

Sepuluh tahun mereka menjalani hari tua tanpa kehadiran anak. Kadang kalau sudah keinget, Laksmi merajuk pada suaminya.

Malam saat suami pergi ke kota, tentu saja wanita tua itu sendirian. Ruang sunyi tanpa dialog manusia lain, hanya serangga, burung hantu dan kalau lagi purnama, terdengar auman serigala.

Laksmi tak tahan jika situasi seperti ini. Ratusan kalimat doa selamat ia untai berlama-lama, meminta pada gusti Alloh sang penguasa jagat.

"Ea .. Ea .. Ea .." Laksmi kaget setengah mati. Tasbih yang dipegangnya jatuh berhamburan, putus ke tanah. Suara bayi terdengar jelas.

"Astaghfirulloh, Gusti Alloh tulung. Jangan lagi, jangan lagi. Hamba tidak kuat mendengarnya."

Di padang bawang seluas itu, bayi siapa yang sedang digendong.

-

Pintu terbuka, terkerat.

"Innalillahi, Gusti Alloh tulung." Laksmi menjerit. "Ampun, ampuni hamba Gusti. Hamba mengaku dosa."

Laksmi merenggut mukenanya. Air mata bercucuran. Ia ingin menyelesaikan pertaubatan.

"Ampun Gusti Alloh, hamba menyesal melakukannya. Hamba menyesal." tak henti-henti ia mengaduh.

-

Sosok yang ditakuti Laksmi datang. Membuka kunci dan mendengar Laksmi menangis menyebut dosa di masa lalu.

"Apa yang telah engkau lakukan, LAKSMI!!"

Sapto hilang kendali. Selama ini ia bersabar, karena sebagai suami ia tidak dapat menabur benih. Namun demikian ia mendengar pengakuan bejad istrinya di masa lalu, membuatnya geram.

"Apa yang telah engkau lakukan, Laksmi..?." Ia tak pernah menyebut nama sebelumnya, selalu sapaan sayang. Tapi ini sudah keterlaluan. Kebohongan apa yang telah disimpan istrinya?

"Ampuni aku, mas, ampun .." Laksmi mencium kaki suaminya lama sekali, sementara Sapto menangis, menyesal dalam, karena sebagai suami tidak dapat mendidik istrinya dengan benar.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook