Pusara Batu Batu - [Cerpen : Ruang Cerita On Facebook]

Agustus 27, 2018


Ia sendirian. Termenung, menatap cakrawala di tebing gunung. Laki-laki kuat yang menyokong rahang dan tulang punggung.
Menatap kembali, setelah tiga tahun tidak naik dan balik. Tempat yang membuatnya merasakan aura baru. Hatinya. Kosong, terisi seketika. Itu yang membuatnya rindu.

Agustus, tiga tahun lalu. Ia masih bersama pecinta alam. Masih ingat bagaimana raut wajah temannya. Masih ingat nama-nama lengkapnya.

Prakash, ingin kembali mencium kerinduan itu. Berharap ia menemukan moment yang sama. Sebelum bencana.

Sial baginya. Udara hanya mengisi rongga dada. Dan matahari seolah benda langit bulat biasa. Ia butuh tidak sekedar cahaya. Ia butuh energi lain, dan itu pencariannya kali ini.

Dengan kata lain, pemuda tiga puluh tahun ini tidak terbiasa menatap awan sendirian. Ia terbiasa bersama berbagi dengan teman-teman.

Sayang, semakin dewasa waktu bermainnya berkurang. Tidak ada lagi teriakan penuh petualang. Tak ada lagi adrenalin pejantan. Dan arena balapan liar. Ia terkurung dalam biduk pekerjaan dan sekelumit makhluk sosial.

Prakash, tahu. Dunia berubah. Tak lagi harus searogan dulu.

Tapi ia belum yakin, apakah harus kembali pulang ke dunia asal, atau menikmati dunia hayali di atas awan.

Yang pasti hanya gunung lah, satu-satunya makhluk bumi yang rela ditunggangi.

-

"Kash, aku pulang dulu." suara asing tiba-tiba terdengar dari belakang. Begitu lembut, halus dan merayap di bulu punduk.

"Siapa?" Prakash menengok. Tak ada siapa pun. Yang ada hanya getir udara dingin, dan pusara atas batu-batu yang bersusun.

Jasad mereka belum ditemukan.

-

Ciamis, 11 Agustus 2018.
Gambar oleh Pexels/Abhiram Prakash

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook