Cerbung Leonel 4 - Sang Pembawa Energi Terbesar

Agustus 01, 2018

Paman Rob mengajak kami membuktikan sesuatu. Ia mengajak kami pada sebuah danau. Yang luas hampir seluas lapangan golp.

“Sekarang lihat ini!” paman memanggil eflima.

Dari sebuah danau. Terangkat sebuah kubus yang terbuat dari air. Di dalamnya ada seorang wanita yang sedang tertidur lelap. Bagaimana mungkin.

“Paman, itu bukannya Eflima. Eflima.. Ef,..” Lily mendekati bibir danau dan berulangkali meneriaki eflima. “Paman apa yang terjadi, apa yang paman lakukan pada Eflima?”

“Tenang dan perhatikanlah, Lily!”

Kubus air yang bening itu seakan sebuah tempat yang nyaman buat Eflima. Rambut panjangnya tergerai. Ia seperti putri tidur dalam balutan es. Eflima mendengar suara Lily. Matanya mula-mula terbuka. Seperti orang tertidur ia masih kebingungan dengan apa yang terjadi padanya.

Ia seperti terpenjara. Ia berteriak-teriak dalam kubus air. Entah apa yang ia bicarakan. Lily seperti mendengar sesuatu tapi ia tak begitu yakin dengan pendengarannya. Karena yang ia dengar hanya derasan air terjun yang sangat kuat di telinganya. Seakan suara Eflima seperti itu.

“Ia, butuh sedikit penyesuain diri. Ia belum terbiasa dengan jati dirinya sekarang ini.”

“Apa ia baik-baik saja, paman?”

“Tenanglah Lily, ia hanya sedikit takut karena ia terpisah jauh dari kalian.”

Kulihat eflima memukuk-mukul dinding kubus air. Seperti hendak keluar. Raut mukanya memang seperti sedih, dan ketakutan tapi ia tidak seperti orang yang sedang tenggelam. Ia seperti ikan.

“Eflima, telah menemukan sendiri jati dirinya. Ia memiliki energi potensial air. Suatu hari nanti ia bisa mengendalikan kekuatannya. Hanya butuh proses sehingga ia bisa kuat jauh dari air. Ia seperti bayi yang sedang baru merangkak.”

Benar. eflima seperti bayi yang sedang belajar. Belajar berbicara.

Kami diajak kembali pada sebuah taman yang sangat indah. Luasnya sama dengan luas danau dan lapangan golp.

“Xalton, ambilkan paman tali.”

“Baik paman.” Xalton seperti bukan seperti xalton yang ku kenal. Ia sekarang tak pernah membangkang. Ia bukan xalton yang ku kenal. Warna matanya berubah. Hijau bercahaya.

“Kau ajak Leonel untuk menepi dan paman akan mengajak lily masuk ke dalam taman.”

Aku merasa seperti dipermainkan. Aku merasa sesuatu akan terjadi. Apa yang akan dilakukan paman pada Lily. Biadab.

“Ly, menjauhlah!!” aku berteriak pada Lily. Aku punya firasat buruk. Entah apa yang terjadi Lily sama sekali tidak bisa menangkap bunyi apapun dariku. Ia hanya menengok sekali padaku dan kembali mengikuti jejak paman Rob ke dalam Taman dengan bunga-bunga yang tumbuh seperti pohon besar.

“Xalton, lepaskan aku. Kau tidak curiga? Ia akan berbuat jahat.”

“Diam, leonel, tak akan ada yang terjadi. Kau diamlah disini.” Dengan tangannya yang kekar dan ototnya besar ia mengikatku pada sebuah pohon.

“Xalton, sadar. Aku kawanmu!”

Ia malah pergi meninggalkanku. Hingga suasana di sini terasa begitu redup. Cahaya mengikuti kemana pun Xalton pergi. Ia mengikuti paman Rob dan Lily. Ku lihat paman telah berusaha mengikat lily di tiang yang sangat tinggi. “Lily!”

Xalton membatu paman busuk itu meminumkan sesuatu pada Lily. Hampir tak kelihatan apakah itu sebuah kapsul atau racun. Berulang kali Lily meronta menolak. Tapi Xalton membantu memasukan kapsul bulat hijau itu. Berhasil. Mereka menjauh. Dan Lily tak sadarkan diri. Dengan tubuh yang terikat di tiang yang tinggi. Diderek seperti bendera. Dan rambutnya yang pendek sudah hilang cerah wajahnya.

“Xalton menjauhlah.” Xalton kembali padaku. Maka cerahlah suasana padahal tak ada matahari di tempatku.

“Apa yang kau berikan padanya?”

“Benih.”

“Apa maksudmu dengan kapsul benih?”

Benih itu telah bereaksi di tubuh Lily. Ia meronta-ronta kesakitan. Ia hampir tak bisa bergerak karena terikat. Tubuhnya kejang-kejang seperti keracunan. Aku tahu apa yang terjadi. Tidak lama lagi aku akan diracuni juga. Aku coba melepaskan ikatan ini. berhasil. Aku mengendap-endap. Aku lihat tubuh Lily ada yang berubah. Daun-daun tumbuh di tubuhnya. Ia seperti tumbuhan. Ya. Apa yang telah diperbuat profesor. Aku hanya mendengar jeritannya yang seperti bom waktu. Ini kesempatan ku untuk melarikan diri. Maafkan aku Lily. Aku memang pengecut.

Aku berlari. Terus berlari.

“Xalton, dimana Leonel?”

“Paman ia melarikan diri!”

Aku lari sekuat tenaga. Xalton dengan tubuh ateltisnya hampir mau mencapai tubuhku. Aku berkelit berbelok dan mencari tempat lain. Seperti berputar-putar di tempat yang sama. Xalton berubah menjadi dua, tiga, empat entah berapa. Ia memakai motor besar mengejarku. Ia berubah menjadi pasukan pembawa cahaya.

“Leon, jangan pergi kau!!”

Aku tak habis pikir dengan semua ini. Xalton yang ku kira baik ternyata kaki tangan profesor yang mau melakukan percobaan pada manusia. Aku sudah muak dengan cerita-certa mengenai energi-energinya.

Aku menemui jurang. Tak ada lagi tempat yang bisa ku gapai. Aku harus terjun. Tanpa pikir panjang aku melompat. Sekali lompatan degan detak jantung yang hampir berhenti berdetak. Aliran darah seakan kembali. Detak jantung berhenti. Dan nafas seperti tertahan. Aku masuk ke jurang.

Seperti bola-bola di taman bermain. Pucuk-pucuk pohon tertinggi itu aku injak dan melompat. Berlari sebisa mungkin. Menjauh dan terus berlari. Tak ku biarkan aku dijadikan kelas percobaan professor itu.

“Apa yang telah terjadi pada tubuh kami? Gravitasi. Apakah benar yang diceritakan Profesor. Kami adalah pembawa energy terbesar?”

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook