Fase 008 - Surat untuk Aji

Agustus 02, 2018

Dalam sebuah kesempatan yang hampir padam. Jauh dilubuk perasaan kenangan itu masih sangat ku simpan, karena ku tahu bakal ada cara lain Tuhan untuk jiwa-jiwa yang terhubungkan.

Mungkin sekarang aku belum sukses; kawan. Tapi satu menit kau berbisik padaku ku anggap itu nasihat dan motivasi penyemangat. Dalam setiap rasi bintang pasti akan saling mencari satu persatu supaya dapat melekat sempurna dan mengumpulkannya menjadi permata angkasa. Aku kira begitu kawan; pertemuan denganmu bukan suatu kebetulan. Bukan karena aku tak ada teman; lalu kau datang mengisi kekosongan. Lebih dari itu ini suatu rantai yang kembali setelah terputus.

Kadang aku ingin menyelesaikan sebuah mimpi dan mengakhirinya. Kadang aku juga ingin menghancurkannya kadang pula memperjuangkannya. Aku bukan manusia yang kuat. Manusia yang berani menerima semua kemungkinan akibat segala tindakan. Aku terlalu penakut. Sehingga keputusan selalu ditimbang dan tak pernah sampai. Padahal cukup kau hadir dan memberi semangat dan nasihat. Aku pasti akan menjadi kuat.

Berbagai keluhan dalam mengarungi segala bentuk kehidupan. Mungkin pernah kalian dengar. Mungkin karena saking seringnya; kau malah malas mendengarnya dan pergi mencari seseorang yang layak untuk kau diamkan. Sebab aku tak akan tahu bagaimana Tuhan memberi pelajaran kepada manusia. Lewat mimpikah seperti nabi ibrahim? Lewat jibrilkah atau lewat sebuah surat. Sebab aku tak tahu bagaimana Tuhan menitipkan pesan-pesan pelajaran kehidupan. Mungkin dari nasihat yang sering ku dengar. Dan kau mengatakannya secara berulang.

Manusia mana yang tak pernah berteman. Manusia mana yang tak cukup bukti bagaimana ia didorong oleh teman-temannya sehingga ia sampai ke langit. Sebab itu aku berterimakasih atas segala yang telah kau beri. Aku berterimakasih kepada Tuhan sekalian alam. Karenanya menitipkan kalian pada waktu yang tepat dan situasi yang tepat. Tak tahulah bagaimana kalau seandainya kalian datang tak berangsur-angsur?

Aji, kawanku yang selama enam tahun ku lewati di bangku sekolah dasar. Bersedia menemaniku dan melihat seluruh gambar-gambar buatanku. Tanpa pernah menyela meski saat ini aku sempat berpikir bagaimana pendapatmu mengenai gambar-gambarku.

Kata nenekmu sekarang kau kuliah. Sudah berapa lama kita tidak bermain bersama sejak ayahmu pergi meninggalkan halaman sekolah waktu itu?

Aku masih ingat bagaimana topi merah itu tetap kau pakai di kelas; sementara kawan-kawan yang lain hanya memakainya saat upacara bendera saja berlangsung. Kau tak suka menyisir rambut kan? Yang kulihat kau tak pernah bersedih; meski ayah dan ibumu tak ada dikota ini. Hingga kau memutuskan bersekolah di kota.

Buku-buku pelajaran yang kau beli masih kau pegang sampai sekarang Ji? Kau tahukan bahwa hanya kau seorang saja yang membeli buku pelajaran. Kami tak membeli buku itu karena terlalu banyak yang orang tua kami harus beli. Bukumu sangat berguna bagi kami. Aku baru sadar hari ini. Untung saja kau beli, kalau tidak, bagaimana kami sekelas akan belajar?

Aku masih tak merasa waktu itu. Ku kira kepergianmu hanya sehari saja. Pagi-pagi ayahmu datang dan menjemputmu sebelum pengumuman sekolah mana yang akan diterima. Kau buru-buru pergi. Apa kau punya teman sebaikku di sana, Ji? Seandainya saat itu email sudah ada dan telepon genggam sudah ada. Pasti akan ku tanya bagaimana kabarmu? Sampai hari ini ku temukan alamat facebookmu pun aku sulit mengatakan apa? Kau sudah punya pacar? Menikah?

Sekarang pertanyaannya bukan lagi masalah bermain dan berhayal. Kau sudah besar. Kita sudah dewasa. Kau disana dengan segala perkembangan dan lingkungan yang mempengaruhimu. Dan aku disini dengan segala perkembangan dan lingkungan yang juga mempengaruhiku.

Aku kira kau Aji yang kecil seusia denganku. Aku lupa kalau kita sudah usia dua puluh. Kemana waktu itu pergi? Seperti rantai yang kembali setelah terputus. Mengikat seakan saat ini masih punya waktu itu. Waktu adalah sesuatu yang ganjil untuk diucapkan.

Aku sudah menuliskan apa yang masih aku ingat tentang kawan kecil ku ini. Bagiku kau masih kecil karena bayanganku kau masih Aji yang dulu. Yang rambutnya jarang disisir dan memakai topi merah dan tertawa seperti Derbi Romero. Kau tak jauh berbeda dengan artis yang ku tulis itu.

Aku hampir lupa makanan favoritmu; atau segala tentangmu. Maafkan atas kejadian yang tak tercatat sehingga aku tak ingat. Katanya kau kuliah di komputer ya? Balik lah ji, bersamaku dan kawan-kawan lain membangun desa kita dulu. Aku butuh orang-orang dengan semangat dan daya tahan tinggi. Kau sudah lulus kriteria. Kau tahu aku akan menulis tentang rasi bintang yang ku sebut rantai. Dimana kau adalah salah satu rantai yang akan mengisi segala impian.

Aku ingin jadi penulis ji! Lebih dari itu aku ingin punya sebuah karya. Aku pinjam namamu. Sebab itu bisa mengalirkan energi menulis bagiku. Jika kau mau aku mau berbincang banyak denganmu. Setelah lulus sekolah dasar itu kau ngapain? Apa saja akan ku dengar. Segala kisahmu akan ku tulis sebagai kenikmatan karena telah berbagi tawa dan canda waktu itu.

Untuk Sahabat ku. Aji.

Perpisahan yang paling mengejutkan adalah saat Aji pindah sekolah setelah ujian kelas enam. Orangtuanya datang ke sekolah dan membawa teman bermainku pergi ke kota. Aji kawan sebangkuku, yang suka menilai gambar-gambarku, yang suka meminjamkan buku paketnya pada teman sekelas supaya dibacakan keras-keras agar kami bisa mencatatnya. Topi merah SD-nya yang tak pernah lepas dan bercandanya dikelas. Kini hidup di kota besar.

Mungkin ini saatnya bagaimana keajaiban pertemuan itu dituliskan. Meskipun terasa sangat berbeda karena ketidakmampuan mengapresiasi. Tapi tak ada yang bisa dicegah selain diungkap hari ini. Bagaimana sebuah pertemuan diseting oleh Tuhan dengan begitu apiknya. Hal yang tak pernah terpikir dan diluar batas ilmu manusia. Ia punya rencana sendiri. Dan kita manusia hanya bisa menerka-nerka tanpa harus mengajukan pertanyaan ke atas.

Bertemu dengannya adalah suatu anugerah. Bagaimana kiranya sebuah pertarungan fisik antara pekerjaan dan ambisi yang tak terkendalikan. Aku hidup diantara bayangan mimpi dan kenyataan yang pahit. Jurang terdalam pernah ku jatuhkan. Bersama jasad dan jiwa yang hampir tak bertemu.

Kekurangan yang ku miliki; tak mungkin diumbar meski itu akan menjadi naskah yang unggul. Biarlah Tuhan merapatkan aibku dengan sempurna. Jalan masa depan harus tetap ditempuh jua. Belum cukup puas jasad ini berjabat erat; tapi perpisahan seperti racun yang mematikan seluruh sistem saraf. Tak cukup sehari untuk melupakannya. Benar sekali pepatah bilang. Cinta bisa datang dalam semenit tapi melupakannya butuh ribuan tahun sampai tak terlupakan.

Aku selalu berpikir apa ini? Adakah ini pertanda. Atau hanya selingan kehidupan saja. Tapi ku coba mencari jalan tengah. Seandainya ini ku tulis apakah pertemuan itu dapat terulang kembali?

Hingga akhirnya kami dipisahkan semua setelah kelulusan. Saling berpencar layaknya bintang jatuh bersamaan. Takdir manusia sedang dipersiapkan. Ia akan menemukan jalannya masing-masing. Dan aku salah satu bintang yang selalu ingin mengumpulkan kenangan untuk diabadikan.

Setelah ini kehidupan berubah. Orang-orang berubah. Tempat-tempat berubah. Masalah-masalah berubah. Dan entah apa lagi yang akan berubah. Satu yang tak pernah berubah. Mimpi. Ia harus tetap ada dan harus diperjuangkan.

“Tulislah mimpi kalian, hingga ia pantas untuk diperjuangkan.” Pak Guru

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook