Fase 009 - Naik Kereta

Agustus 02, 2018

Nyenyak sekali aku tidur dalam kereta. Terlelap diantara gerbong-gerbong yang beruntai panjang. Nuansa haru. Ditemani angin malam. Gemuruh mesin dan sajak-sajak malam para seniman. Angin malam melagu begitu tenang sementara bulan melingkar dengan sempurna. Begitu damai. Inikah rasanya naik kereta malam-malam. Mau coba? Ayolah naik dengan percuma. Ayo kawanku lekas naik. Keretaku tak berhenti lama.

Ini tentang pengalamanku naik kereta. Tak perlu kubayangkan lagi bagaimana asyiknya. Sungguh tak terkira serunya! Ini pengalaman pertama berpetualang bersama paman. Seperti hari sebelum dan sebelumnya aku selalu mendengar cerita paman. Hampir semua ceritanya asyik untuk didengar.

Sebelum bercerita paman membakar sesuatu yang baunya baru ku kenal. Membakar kemenyan. Lalu mulailah paman bercerita tentang sosok aneh dan menakutkan. Tapi meski begitu aku sangat senang. Entah kenapa. Sebab ada pengalaman baru yang ku dengar dari orang lain. Ini cerita yang berbeda dari televisi yang selalu ku pandang. Ini menakjubkan.

Setiap sore aku datang ke rumah paman; dengan memakai baju monyet aku datang; aku masih ingat akan hal itu. Karena itu adalah kebiasaan yang berulang. Hingga pada akhirnya setelah aku dewasa aku tak lagi mendengar cerita mustahil itu.

Paman sering naik kereta bila pergi ke Caringin. Paman kenal sama orang keretanya. Kadang tidak bayar katanya. Tak disangka saat libur sekolah aku diajak paman pergi ke Bandung. Tepatnya ke BonBin; tempat seperti apakah itu?

Sudah beberapa kali aku pergi ke Bandung mengunjungi keluarga Uwa di Ujung Berung. Dan aku akan ke sana lagi, tapi bukan ke rumah Uwa Melainkan ke kebun binatang. Tempat seperti apa pula kebun binatang itu? Apa aku bisa melihat secara langsung binatang-binatang itu. Aku tak sabar melihat gajah, jerapah dan buasnya harimau yang biasa aku lihat hanya di televisi saja.

Mungkin ini obat dari kekecewaan liburan tahun kemarin. Saat ibu tidak mengizinkanku ikut sama rombongan geng SD-ku melihat atraksi lumba-lumba. Aku sangat penasaran dengan hewan yang katanya cerdas itu. Aku bosan melihat lumba-lumba hitam putih saja yang kulihat di TV rumah. Aku ingin merasakan bagaimana sensasi cipratan air, salto anjing laut dan teriakan histeris dari pengunjungnya. “Si lumba-lumba oh si lumba-lumba!”

Ini adalah pengalaman pertamaku pergi ke kebun binatang. Di Bandung pula. Besoknya aku sudah siap saat paman katakan “Ayo berangkat!” Aku senang ini bukan lagi lelucon. Ini beneran. Asiknya berpetualang bersama paman.

Tapi kebahagiaan itu hanya sebentar lalu senyumku kembali mengatup karena aku harus meninggalkan ibu dan adikku yang masih menyusu. Tak mungkin aku mengajak ibu. Pasti paman ragu. Ibupun tak setuju. Siapa pula yang nanti menjaga adik. Aku ingin ibu ikut. Aku juga tidak perduli jika harus batal pergi ke kebun binatang. Tapi inilah ibu. Selalu mendahulukan kegembiraanku!

Ibu membantuku menyiapkan pakaian dan bekal selama perjalanan. Lagi-lagi ibu membantuku dengan tangan terbuka. Tidak diminta pun ibu sudah cekatan menyimpan baju dan celana. Tidak lupa aku meminum obat dan membawa obat yang lainnya dalam tas. Ranselnya lumayan besar. Pemberian dari paman untuk bekal ke kebun binatang. Ransel besar seperti hendak camping ke gunung Galunggung. Tapi apa tidak kebesaran paman? Pakai tas sekolah saja ya?

Sampai pula aku di stasiun Tasikmalaya. Tiba-tiba seperti mimpi aku sudah berada di rel-rel panjang itu. Mimpi naik kereta sama sekali tidak pernah. Seperti apa ya rasanya? Seumur hidup baru kali ini aku menginjak stasiun, ramai dikunjungi orang dan ramai sampah-sampah berserakan. Diantara sampah yang paling banyak adalah penutup botol minuman. Nanti kalau pulang aku pungut ah! Untuk mainan di rumah saat pulang dari Bandung nanti. Kawan-kawanku pasti senang!

Aku menghirup baunya mesin. Meraba gagahnya gerbong panjang. Dan merasakan angin membawaku menuju kebun binatang. Aku penasaran ada apa saja di kebun binatang. Lama ga ya?

Saat pemberangkatan kami tak dapat kursi kosong. Jadi kami hanya duduk di lantai sambil jongkok. Sebenarnya pegal juga. Apalagi keponakanku yang tak lain anak paman ikut juga. Lalu paman memberikan kami alas dari kertas koran sehingga kami bisa duduk dengan leluasa. Meski lesehan.

Gerbong-gerbong penuh muatan barang dan penumpang sampai mau keluar. Orang-orang bahkan ada yang duduk dekat pintu keluar. Sampai ada yang duduk di atas gerbong katanya. Aku tak melihat mereka. Hanya selentingan kabar saja. Aku sudah ngeri jika suatu kali orang itu terpeleset! Dan... Tapi tidak usah membayangkan yang demikian. Karena kini aku tak sabar untuk melihat jerapah dan gajah di kebun binatang.

Di setiap pemberhentian aku melihat anak-anak penghuni stasiun berkerumun mendekati kaca-kaca jendela kereta. Seolah memohon ingin mendapatkan hadiah dari pesedekah. Seorang gadis muda yang cantik dan keren dengan airphone terpasang di telinganya memberikan sebungkus permen pada mereka. Lalu ia keluarkan lewat kaca jendela serta merta anak-anak menyalami dan melambaikan tangan. Lalu berhamburanlah anak-anak stasiun seperti dapat jatah lebaran. Gadis muda itu nampak senang pada apa yang dilakukannya. Sambil membenarkan kembali kaca matanya ia membenamkan lagi wajahnya dalam buku tebal. Entah buku apa yang ia baca. Tebal tapi bukan kamus bahasa inggris. Entah buku macam apa.

Sudah dua pemberhentian tapi tak juga turun. Keponakanku Cucu lagi enak-enaknya tidur. “Lama! Kapan nyampenya Paman?” Aku tak sabar dengan kegiatan liburan ini. Apa saja yang bisa aku lihat di kebun binatang ya?

“Sebentar lagi setelah pemberhentian ini!” Paman kembali menggeser tempat duduknya memberi ruang agar nyaman. Angin seolah membelai rambut kami dan mengizinkan kami duduk saat orang-orang turun dari pemberhentian pertama.

Melaju dengan rel panjang, membelah hutan dan perbukitan yang menjulang. Sempat aku melihat ke bawah jurang yang penuh dengan tumbuhan hijau. Kami berlari diatas seutas tali baja yang terlentang diatas jembatan yang kecil dan menyeramkan. Dibawahnya jurang dan aliran sungai yang tak terlihat arusnya; sampai masuk ke rimbunan hutan yang rapat.

Aku takut kereta ini oleng dan terjatuh. Apalagi dengan tiga arus pusaran rambut di kepala yang aku punya. Orang sunda menamakannya “kulincir atau kumincir”. Yaitu lingkaran tumbuh rambut seperti pusaran arus air laut dan pusaran angin tornado.

Kebetulan aku punya tiga. Satu di atas kepala. Dua di belakang kepala dekat telinga masing-masing satu di sebelah kiri dan kanan. Seperti segitiga sama sisi yang pernah aku pelajari di kelas matematika dan seperti segitiga bermuda yang aku lihat di pelajaran geografi. Segitiga bermuda! Makin ngeri saja membayangkannya! Mistis.

Katanya; tapi jangan dipercaya. Jika kumincir lebih dari dua maka akan jatuh dari pesawat. Ada-ada saja!! Tahayul ya! Tapi kalau memang itu benar. Aku terjatuh dari pesawat berarti aku sedang dalam perjalanan pulang dari kota suci Mekkah atau tugas ke luar negeri. Iya kan? Tidak mungkinkan tiba-tiba kita jatuh dari pesawat tanpa harus naik dulu ke badan pesawat? Kalau sudah begitu, maka aku senang saja punya tiga pusaran arus samudera di kepala. Ini keajaiban pertama. Ayah mengapa aku berbeda. Ibu mengapa aku berbeda!

“Paman, aku ingin melihat singa?” Segera aku berlari diikuti Cucu yang masih kecil. Aku takjub dengan kebun binatang disini. Aku tidak menyangka ada begitu banyak hewan disini. Ku kira hanya harimau, gajah dan jerapah saja ternyata ada juga unta yang bisa dinaiki. Koq bisa ada di Bandung, ya? Bukannya ada di padang pasir? Menurut buku yang aku baca memang begitu. Ada juga kuda zebra. Ini hewan yang mungkin pernah tertidur di trotoar; kuda belang yang aneh!

Ada pula hewan yang jadi simbol kelahiranku. Leo yang nampak gagah. Ada sepasang singa di kandangnya. Makan siangnya daging yang dipadatkan. Petugasnya rutin memberi makan. Kalau tidak bisa-bisa prtugas yang dimakan.

Ada pula macan atau harimau. Loreng kuningnya ternyata bersih dan rapi. Menarik. Pantas saja selalu ada yang memburu untuk mengambil kulitnya. Ada pula kandang ular bagian ini tak usah dijelaskan karena melihatnya saja aku ngeri. Melilit, membius mangsa dengan bisa, menggigit dan berderik. Banyak pula jenisnya. Yang paling berwarna ya aneka burung, burung merak diantaranya. Warna bulu ekornya yang seperti mata mampu menghipnotis siapapun yang memandangnya. Aku ingin memetiknya jika boleh? bagus untuk pembatas buku kalau mau. Yang paling aku takjub yaitu jerapah. Tinggi menjulang; gagah dan besar. Kita bisa memberinya makan tetapi harus naik dulu ke bukit sana. Aku juga ingin memberi mereka makan. Tapi tidak usahkah takut ada petugas yang melarang. Karena tidak semua makanan bisa dimakan. Bagaimana kalau jerapah keracunan?

Disini juga ada wahana bermain anak seperti perosotan dan arena putar entah apa namanya. Sewaktu aku bermain ada anak kecil yang keliru menyapa kakaknya.

“Mas Andre?” Sadar jika ia keliru, raut wajahnya memerah menandakan permintaan maaf yang tak bisa diucapkannya dan ia kembali berlari dan menemukan kakaknya yang juga bermain tidak jauh dari tempat kami. Memang kami seumuran rupanya. Tingginya sama. Kulitnya sama dan bajunya sama. Tapi tak kulihat bagaimana wajahnya. Jangan-jangan.

Lelah kami berkeliling meski belum puas. Aku kira paman akan lebih lama tinggal di sini. Ternyata paman mengajakku pulang. “Paman aku belum mengunjungi dunia airnya.!”

“Sudah hampir sore, kita makan dulu ya sebelum pulang!”

Hari tak terasa menyusut. Malam kembali datang dengan bulan yang tak pernah kusut. Kali ini aku dapat kursi. Aku langsung cari tempat yang agak sepi. Di stasiun aku melihat toko buku dan majalah serta koran yang dijual eceran. Aku ingin beli satu. Tapi takut harganya mahal. Uang yang diberikan ibu harus utuh. Tak boleh aku jajankan. Padahal ada majalah Bobo dan komik Doraemon yang ingin aku baca.

Di stasiun juga banyak berserakan tutup botol mungil dengan warna-warna yang menarik. Aku pungut sampai penuh kantong kresek hitam itu. Tidak apa-apa orang beranggapan bagaimana. Aku pikir ini oleh-oleh dari Bandung buat teman-teman di sekolah. Aku pikir mereka suka botol limun ini. Merah; biru; kuning; hijau aku punya banyak warna.

Malam telah purnama terlihat dari lingkarannya yang telah berbentuk sempurna. Menggantung diantara awan dan lautan para bintang. Berisik tapi menenangkan. Suara gemuruh mesin seperti suara orkestra sehingga aku terlelap tidur begitupun seluruh peumpang kereta.

Samar-samar aku mendengar suara pengamen dan music-music yang merdu. Alunan gitar dan suara yang sudah berpengalaman. Ada juga ku dengar ayat suci Alqur’an dan shalawatan. Di dalam kereta? Ya. Apa saja bisa kau dengar semua.

“Assalamu’alaikum?” Tiba-tiba ku dengar suara yang menyapa. Dari suaranya seperti kakek-kakek. Tapi aku tidak bisa melihat dimana orangnya. Selain para penumpang lelah dan terlelap tidur, lampu kereta juga dibiarkan padam redup-redup tak terang.

“Assalamu’alaikum?” Lebih keras kakek itu menyapa seluruh penumpang kereta. Mungkin karena tidak ada yang membalas salamnya. Kakek itu memerah marah. Ia naik pitam dan berkali-kali ia berceramah tentang kewajiban seorang muslim membalas salam.

“Apa kalian bukan muslim. Hah!” Rupanya ia bukan pengemis biasa. Ia benar-benar marah karena tidak ada yang menghiraukannya. Entah karena kaget lantaran ada keributan seorang petugas kereta kemudian menyalakan lampu. Dan satu persatu penumpang dicacinya tak terkecuali aku.

“Apa kalian bukan muslim. Hah. Menjawab salam saja kau malas!”

Kata-kata itu seperti mengarah padaku. aku takut. Aku lihat paman dan penumpang acuh-acuh saja dan tak ada yang bergeming dan masih tertidur pulas tanpa ada yang mengganggu. Kenapa kakek berada tidak jauh dariku? Wajahnya yang tertutupi kegelapan kerana cahaya tak sanggup menyentuh raut wajahnya. Ia berdiri tepat di barisan tempat aku duduk.

“Apa kalian bukan muslim. Hah! Menjawab salam saja kau malas!”

Terdengar seperti petir suara amukannya. Bergemuruh laksana air bah. Menciut siapa saja yang menatapnya. Tapi kenapa diantara sekian banyak penumpang hanya aku yang ditatapnya. Dan kenapa pula aku tidak tidur saja seperti paman dan yang lainnya? Aku terus saja menatapnya.

“Jangan marah kek, aku masih anak-anak.!” Bathinku. Takut. Ngeri. Imajinasi waktu anak-anak memang terlalu berlebihan. Tapi kali ini aku tidak berimajinasi. Ini persis lewat tengah malam. Dalam suatu gerbong yang redup tak terlalu terang.

“Waalaikum salam..!” Desahku dalam lirih yang hampir saja tak terdengar karena laju lokomotif masih membaur diantara suara.

“Wa’alaikum salam, kek! Jangan marah lagi ya! Kasihan kami sangat lelah!” Aku terus saja membathin. Setelah itu lampu kereta dipadamkan petugas. Tak ada lagi kakek dan nasihat kerasnya itu. Kini giliran sang dewi malam menyampaikan cahayanya. Terang bulan di atas kereta. Merayap sampai ke luar kota. Kakek itu raib entah kemana.

Terkadang untuk menjawab dan memberi salam saja kita malas, memang benar. mungkin karena lingkungan yang menyebabkan kita cukup untuk memberi muka manis saja.

Dua puluh tahun kemudian aku mencari serpihan kenangan ini, aku berhasil menemukan dimana letak stasiun ini. Tempatnya tidak jauh dari tempat kerjaku di Jalan Cimulu. Dulu saat paman mengajakku kemari, aku hanya tahu paman mengajakku menyusuri rel kereta lalu tiba-tiba sampai entah lewat jalan mana. Sekarang aku berdiri di gerbang stasiun. Menatapnya saja sudah berbeda. Tetapi rasanya hampir sama. Masih ingin naik kereta!

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook