Fase 007 - Ingin Masuk TV

Agustus 02, 2018

Di rumah aku suka baca koran bekas. Keluargaku mana tahu ada koran untuk dibaca. Mereka tahu koran itu untuk membungkus makanan dan berkat saat perayaan Maulid Nabi dan Isra Mi’raj. Setiap tetangga memberi. Semua keluarga saling mengirim. Jadi kalau kau sudi mampir ke dapurku, banyak ragam sobekan koran dan majalah yang akan kau temukan. Bekasnya aku pungut satu persatu. Aku baca semua. Mulai dari kolom iklan, surat pembaca, berita, karikatur, apa saja. Itupun bacaannya tidak lengkap. Karena sobeklah! Karena rusak oleh minyak lah! Dan lain sebaganya. Namanya juga koran bekas. Ya tidak utuh. Jika ada bagian berita bersambung. Makin penasaran saja. Tapi tak bisa kutemukan kelanjutannya bagaimanapun juga.

Aku masih ingat ada koran yang menampilkan foto seorang wanita pakai kebaya hijau dan pada pinggul ke bawah berupa ikan mas warna hijau. Wanita berambut bulat itu Duduk di batu sebuah sungai. Aku jelas melihat persambungan antara tubuh manusia dengan ikan itu terselip beberapa buah konde emas sebagai penguat. Ditulis di bawah foto tersebut: Putri Duyung.

Karena aku ingin membaca. Saat ibuku pergi ke pasar Pancasila di Tasikmalaya ibu memberikan majalah Bobo bekas. Majalahnya sudah bolong-bolong mungkin digunting oleh pemiliknya. Ibu malah membelinya katanya murah! Meski bolong dan kepotong-potong tetap aku suka. Lalu aku mulai membeli yang agak bagusan dikit saat membeli baju lebaran. Jadi beli majalah Bobo pun setahun sekali. Pokoknya mulai hari itu tekadku tidak mau membeli baju lebaran. Mending beli buku bacaan!

Di perpustakaan SD adalah tempat aku mencari imajinasi. Banyak kakak-kakak kelas enam berada disana tapi tidak membaca hanya duduk saja sambil sembunyi dari guru. Maklum tempatnya gelap dan sepi. Tempat yang cocok untuk memboloskan diri.

Perpustakaanku itu bersanding dengan dapur. Jarang yang masuk kesana. Katanya angker. Maklum sekolahku juga dekat pemakaman umum. Ada cerita dari kakak kelas katanya ada yang pernah melihat Kun-kun yang melahirkan di perpustakaan itu. Dan bau amisnya kadang tercium oleh siswa dan petugas piket. Pantas saja menyeramkan tempatnya saja gelap dan berantakan.

Tapi aku ingin sekali masuk ke perpustakaan. Ini adalah ruangan yang belum pernah aku sentuh selama sekolah disini. Cara satu-satunya adalah saat istirahat. Dimana pintu dapur dibuka dan pegawai sekolah ada di dapur sedang mamasak air dan anak-anak sedang ramai keluar masuk perpustakaan untuk sekedar main petak umpet.

Aku minta izin pada petugas dapur supaya tetap ada di dapur sementara aku bergerilya mencari buku bacaan. Tak hanya itu aku juga mengusulkan ide pada kawan-kawanku supaya bermain petak umpetnya dekat perpustakaan. Kalau perlu bermain saja di perpustakaan sambil beristirahat. Dan mereka setuju saja!

Aku masuklah ke sana, buku-buku tua dan berdebu ada disana, bertumpuk seperti gudang dengan kursi-kursi rusak. buku-bukunya tidak ada yang bagus. Hampir semua buku dimakan kutu. Tidak ada yang baru. Yang baru masih ada di dalam lemari. Kata petugas harus didata dulu agar tidak hilang dicuri.

Aku pernah menemukan buku bacaan yang sebenarnya bagus tapi sudah digambari oleh kakak kelas laki-laki. Biasalah anak laki-laki suka gambar apaan di kertas? Pornografi. Sejak kecilpun aku sudah terkena virus ini, karena begitu banyaknya media yang gampang dilacak. Baik sengaja atau tidak disengaja. Meski hanya gambar hasil tangan, tapi itu mempengaruhi perkembangan kedewasaan. Aku kira semua anak laki-laki setidaknya pernah melihat gambar adegan seperti itu. Baik sengaja atau tidak disengaja. Meski bukunya bagus tapi jadi tidak ngeh bacanya. Kalaupun minjem dan dibawa ke rumah nanti aku yang dituduh membuat gambar tak senonoh itu. Sembunyikan saja!

Aku menemukan buku yang sangat bagus, judulnya Pengeran Kecil. Sebenarnya ini buku terjemahan. Dan Aku yakin penulisnya bukan anak kecil. Meski menceritakan tentang petualangannya yang sarat imajinasi. Dimana dalam cerita itu dikisahkan mengenai penulis yang ingin menelusuri pikiran anak-anak.

Setibanya di sebuah gurun tempat pohon Baobab tumbuh tinggi dan besar penulis tersesat karena pesawatnya jatuh kehabisan bahan bakar. Lalu bertemu anak kecil yang mengaku bernama pangeran kecil. Dia mengaku tinggal di atas sana. Sambil menunjuk ke langit. Jauh katanya. Kebetulan pesawat pangeran kecil jatuh juga dan rusak. Lalu pangeran kecil menceritakan semua pengalamannya menjelajahi semua antariksa.

Aku mulai suka dengan buku ini. Suka karena masih ada gambar-gambar ilustrasinya. Meski bukunya agak rusak dan kusam tapi isinya sangat bagus. Awalnya aku tidak begitu paham struktur kalimat dan ceritanya. Berbelit. Seakan memaksakan diri ingin menulis untuk anak-anak tapi gaya bahasanya seperti presentasi pada orang dewasa. Seperti ada gambar sebuah topi hitam menurut orang dewasa; sebaliknya menurut anak-anak itu adalah ular hitam yang menelan seekor gajah. Aku sendiri yang saat itu masih anak-anak pertama kali melihat ku kira itu topi juga. Setelah membaca penjelasan dan gambar yang kedua dimana terlihat gajah yang berdiri di dalam topi hitam itu. Aku sekarang paham. Rupanya benar itu adalah seekor ular hitam yang menelan seekor gajah besar.

Entahlah apa aku harus setuju dengan pendapat orang dewasa atau pikiran anak-anak. Sedangkan aku masih anak sekolah dasar.

Beginilah kalau bacaan terjemahan. Kadang mungkin penerjemahnya juga tidak mengerti? Barangkali. Ini novel pertama yang habis kubaca. Aneh tapi selalu teringat sampai sekarang. Mungkin benar, sesuatu yang aneh malah lebih lenget diingat. Diantaranya rumah dimana pangeran kecil tinggal. Planet tempat ia tinggal hanya sebesar bus yang digulung. Hanya berupa tanah tandus dan tumbuhan mawar sebagai sahabatnya.

Saat itu antara percaya dan tidak percaya sama penulisnya. Penjelasannya tidak masuk akal setelah aku belajar benda-benda langit di kelas lima. Tapi perjalanan penulis di gurun tempat pohon Baobab tumbuh besar. Ku rasa itu pengalaman yang menegangkan. Sendirian tersesat di gurun. Tanpa teman tanpa perbekalan. Hingga ia berimajinasi punya kawan kecil. Aku suka ide ceritanya.

Saat kelas enam aku disuruh membuat buku diary dan menyetor tulisanku sama guru. Nama guruku pak Ola. Awalnya karena aku dijauhi teman-teman karena tidak ada yang mengajak main bola. Katanya aku tidak becus main bola. “Main sama perempuan saja sana!”

Memangnya semua anak laki-laki harus pandai main bola? Kalau tidak suka? Kenapa dipaksa? Memang ga suka olahraga. Apa mau dikata? Oleh karena itu pak Ola memberikan kami tugas membuat diary. Berisi pengalamanku. Terlebih pak Ola menyuruhku untuk mencari tahu kenapa teman-teman yang lain tidak mau bermain denganku.

“Baik Pak akan aku setorkan setiap minggu!” Beliaulah yang mula-mula mengajariku menuliskan pengalaman di buku diari. Saat itu aku tak bisa membeli satu buku diary. Mahal. Maka aku buat saja buku diary dari buku biasa yang ku garis ke dua sisinya. Diberi kolom waktu dan kejadian. Lalu ku sampul. Dari situ aku ketagihan. Dari mulanya menggambar sekarang hobby menulis pengalaman. Meski aku tak bisa menulis terlalu lama pakai pinsil. Tanganku cepat pegal dan bengkak. Dan inilah hasil dari menulis dyari itu. “Ada hasilnya juga ya?”

Kenangan saat sekolah dasar memang tak pernah terlupakan. Kejadian saat guru tidak ada menjadi hal yang istimewa. Selain sayembara tarik suara, kami juga menggelar cerdas cermat. Siapa pandai dan mendapatkan skor dapat hadiah pinsil dan buku hasil dari patungan sekelas enam. Asik ya!

Oh iya saat kelas enam pun aku pernah ikut lomba menyanyi. Antar siswa sekelas enam. Kelas kami memang kreatif. Bangku-bangku dirapatkan dan simpan di depan. Maka jadilah aku peserta lomba. Pesertanya hanya tiga orang, aku, Ida si juara pertama dan Pipit yang selalu saingan juara kelas dengannya. Aku satu-satunya laki-laki yang berhasil masuk tiga besar. Semua anak laki-laki kelas enam mendukung ku. Saat itu belum ada polling sms, maka penilaian masih dengan keputusan juri. Jurinya ya ke enam belas kawanku itu sendiri. Entah bagaimana mereka menilai. Yang aku ingat Ida setiap tampil selalu membawakan lagi Elvi Sukaesih. Penyanyi terkenal itu. Katanya ia sering mendengar ayahnya menyetel radio pagi-pagi. Percaya!

Sayembara itu terjadi saat program pencarian bakat “Bintang Cilik” digelar di TV. Kami mengadakan sayembara saat guru kelas sedang tidak ada. Ada ada saja. Daripada bermain petak umpet melulu, bikin marah guru disebelah. Mendingan adu bakat dalam tarik suara. Pernah guru kelas lima marah dan mendatangi kelas kami karena berisik dan mengganggu pelajaran di kelas sebelah. Udah pada gede tapi biang masalah. Ga ada guru kelas tetap rame. Jika ditanya laagi apa cita-citaku, maka ku jawab: “Aku ingin masuk TV saja!”

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook