Fase 005 - Sebaik-baik Bersyukur

Agustus 02, 2018

Aku baru tahu jika ada kajian ilmu kewirausahaan di kampus. Aku sangat resfek dan senang dengan pelajaran ini. Pelajaran yang akan merubah hidupku seutuhnya. Bisanya anak-anak SMK sudah dapat ilmu bisnis dan kewirausahaan di sekolahnya. Tapi aku bukan jebolan sekolah tersebut. Aku dari Madrasah Aliyah yang banyak mendalami ilmu agama.

Melihat mereka yang masih muda sangat iri bagiku karena mereka begitu yakin akan yang mereka lakukan. Tindakan mereka sangat heroik. Di tengah-tengah isu mogok sekolah dan bangunan sekolah yang roboh, ada sebagian dari mereka yang telah memiliki visi ke depan.

Pernah aku bertemu dengan anak SMA sederajat yang bekerja part time di radio sebagai penyiar. Ada pula yang menjadi wartawan baik di koran sekolah atau koran daerahnya. Ada pula yang menjadi penjaga warnet, foto copy, bekerja di bengkel, berjualan di sekolah dan lain sebagainya. Aku selalu yakin mereka punya mimpi yang besar sehingga mereka tahu mulai dari mana mereka melakukannya.

Alangkah indahnya jika sikap kewirausahaan bisa langsung dipraktekan di kehidupan sehari-hari. Meski sangat disayangkan pelajaran materi kewirausahaan ini diberikan pada siswa kelas tiga saat akan mengakhiri tingkatan sekolahnya. Coba kalau diberikan pada awal sekolah dan jadi salah satu ekstrakulikuler rutin. Manusia-manusia produktif akan lahir lebih dahulu sebelum mereka kuliah dan keluar sekolah.

Apakah kegiatan ini akan mengganggu sekolah? Jawabannya justru jika mereka tidak melakukan yang demikian seperti menjadi penjaga warnet, wartawan, penjaga toko dan sebagainya, maka minat mereka pada belajar akan berkurang. Karena aku yakin ada suatu kepuasan ketika siswa bisa belajar sekaligus bekerja di luar. Bangga pasti! Sekaligus dapat menunjang pecapaian cita-cita mereka untuk melanjutkan belajarnya.

Kepada adik-adikku yang sudah mengerti masa depan dan mengerti jika masa depan harus diraih dengan kerja keras. Selamat berjuang dan raih masa depanmu sehingga kau akan mengenang masa-masa perjalanan hidupmu dengan senyuman. Kelak saat kau sudah sukses dan meraih apa yang kau pendam dalam hatimu. Jangan lupa share semangat itu pada yang lain. Karena sukses seseorang dihitung dari seberapa banyak ia mensukseskan orang lain. Satu yang bisa aku simpulkan untuk kalian. “Bangga!!”

Aku mendapat ilmu kewirausahaan saat kuliah semester tujuh. Ternyata ilmu yang selama ini tidak aku sangka muncul seperti oase yang memuaskan jiwa dahaga. Tak cukup aku duduk manis mendengar suara emas sang dosen. Aku praktekan dengan cara berjualan buah-buahan, buku pelajaran dan makanan. Kawanku Lutfi menjadi rekan yang tak bisa dipisahkan. Aku dibagian pemasaran, ia kebagian menghitung uang. Jujur kalau masalah uang sangat rentan. Lalu aku mencari buku tentang motivasi bekerja dan kewirausahaan. Aku sangat dahaga akan ilmu ini. Coba dari dulu aku ketemu dengan ilmu bisnis. Pasti aku bisa meringankan biaya kuliah.

Pekerjaan perdagangan yang dulu tidak aku sukai. Terbalik seratus delapan puluh derajat. Sekarang ku sangat ingin mendalaminya. Beruntung sekali Iwan yang masuk Fakultas Ekonomi dan manajemen bisnis. Sejak aku bertekad mendampingi ibu menjajakan dagangan ke warung-warung. Aku setiap hari mendapat pelajaran berharga mengenai peluang wirausaha. Saat kuliah pikiranku hanya terfokus pada satu tujuan yaitu bekerja sesuai program studi yang ku geluti.

Meski saat itu ada pelajaran kewirausahaan, tetapi belum sempat aku berpikir seperti apa dan peluang apa saja berwirausaha itu. Tetapi lambat laun aku mulai mengerti. Inilah awal dari pemikiran aku mengenai apa itu keberanian berwirausaha dan menghadapi risiko.

Yang kaya itu tengkulaknya. Barangkali begitu. Sebab ia selalu menawari barang dagangan kami dengan harga dua ribu, tiga ribu atau seribu sekilo.

Karena beban keluarga yang amat sangat. Kemudian karena jiwa wirausaha ibu yang sangat kuat. Sehingga ia selalu berusaha menyenangkan kedua putranya yang masih sekolah. Aku sangat tidak tahan jika ada yang membohongi kerja keras ibu. Memberi harga yang tidak pantas. Dari menjual laja, jahe, bawang daun, daun salam, daun kacang, daun sereh, buah pisang, buah alpukat, buah manggu, buah rambutan dan segala macam. Selalu diberi harga tidak lebih dari tiga ribu, dua ribu perkilonya.

Ibu tidak menanam dan tidak punya lahan besar. Sehingga ibu dan aku mencari orang untuk menjual tanamannya. Untung saja kuliahku waktunya tidak terlalu padat. Jadi bisa membantu ibu ke tempat tengkulak.

Mungkin yang kaya itu tengkulaknya. Bisa saja mendapatkan harga yang jauh lebih tinggi jika dijual ke pasar. Mungkin. Tapi kata ibu biar saja asal barakah! Ya. Mudah-mudahan saja.

Tugas kewirausahaan yang diberikan bu Isni seorang asisten dosen kewirausahaan. Untuk mendata sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan di daerah tempat tinggal rasanya sudah ku dapatkan. Meski tugas itu tidak ku ketik dan kumpulkan tapi biar saja karena aku dapat nilai sendiri dari pengetahuan ini.

Intinya semua sumber daya itu ada pada tanaman, tumbuhan dan buah-buahan yang kita tanam. Terkesan sederhana tetapi banyak manfaat dan menghasilkan uang yang lumayan banyak. Waktu aku pulang dari kegiatan kuliah kerja lapangan di karangkamulyan. Aku berbincang dengan kawanku Lutfi dalam bis. Aku menceritakan pengalaman ku tentang sumber daya alam yang bisa kita olah dan dimanfaatkan.

Aku juga saat kuliah kerja nyata ke bogor. Mendapatkan data ilmu yang sangat menarik. Segala tanaman bisa jadi obat. Dan jika dijual maka akan mendapatkan laba besar. Ya. Bisa dijadikan obat-obatan dan aromatik pada balai penelitian obat dan obat. Aku mencari tahu dan mengumpulkan data mengenai tanaman obat di internet dari balai penelitian tersebut ada 200 lebih tanaman yang ku dapatkan. Hampir semua dapat ku jumpai di lingkungan kita. Seperti jahe, lengkuas, pepaya, kumis kucing, kemangi, tomat, jambu dan lain-lain sampai tumbuhan mini mirip rumput yang ku kira itu hanya rumput biasa ternyata ada namanya juga dan bisa jadi tanaman obat.

Aku juga melakukan survey ke yogya defartemen store yang berada di ciamis. Aku langsung observasi buah-buahan dan sayuran disana banyak sekali macamnya. Dari mulai sayuran, buah-buahan lokal sampai yang diimpor dari luar negeri.

Dan tidak ku bayangkan jika ditempat itu dijual sayuran yang ku kira tidak dijual. Ada tauge dengan kemasan plastik. Ada bawang daun, serai,kol, wortel, cabe rawit, dan lain-lain. Ternyata semua hal itu bisa dijual. Kalau dirumah ku tinggal main ambil saja dipekarangan yang ditanam ibu.

Ini menjadi bahan ilmu kewirausahaan tersendiri diluar kampus. Aku malah pernah berfikir sangat beruntung mereka yang kuliah di jurusan agrobisnis.

Namun sekali lagi karena Aku anak biologi mengerti benar jika tumbuhan yang dieksplor dan dikembangkan menjadi barang dagangan yang menguntungkan harus juga memperhatikan lingkungan dan habitatnya. Jangan sampai punah, genting, rawan di negara kita sendiri.

Negara indonesia menjadi negara megabiodeversitas terbersar ke dua di dunia. Segala macam tumbuhan ada di indonesia. Maka dari itu beruntung sekali orang indonesia yang bisa menjaga warisan alam dan mengolahnya dengan baik serta memperhatikan kelestariannya.

Kembali lagi mengenai hasil pertanian yang bisa kita jualbelikan. Petani kita rupanya hanya sebagai penanam lalu menjual ke pasar atau tengkulak. Padahal kalau petani sendiri mempunyai niat berwirausaha. Bisa saja petani menciptakan pasar sendiri. Dengan cara mengemas hasil pertanian dengan kemasan yang higinis dan rapi. Seperti membungkusnya dengan plastik.

Aku yang sehari-hari berkunjung dan mengunjungi warung-warung tempat ibu menyimpan barang dagangan merasa perlu memperhatikan dua perbedaan pada suatu produk. Contoh yang ku temui adalah jagung. Jagung lokal dengan tidak dikelas tampak lusuh dan kering. Tetapi jagung yang masih lokal tetapi dikemas, dipres dengan plastik. Empat bongol jagung disatukan. Sangat terkesan rapi, baru, bersih dan higinis. Otomatis akan tahan lama dan menarik para konsumen.

Kalau ada modal kita bisa membeli alat untuk mengepres. Kita bisa menjual hasil pertanian apa saja dengan proses pengepresan. Dan memasarkan ke pasar sendiri. Tidak perlu ke tengkulak dan perantara.

Tetapi dari sudut lain ini sangat tidak menguntungkan banyak pihak. tengkulak juga butuh uang. Jadi kita sama-sama mencari rezeki. Biarpun mengambil laba yang sedikit.

Akhirnya segala bentuk rezeki semoga Alloh turunkan pada kita. Dan semoga segala bentuk jalan rezeki selalu Alloh perlihatkan pada kita. Dan kita mampu mensyukuri segala nikmatnya dengan sebaik-baik cara bersyukur.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook