Fase 003 - Biru Laut

Agustus 02, 2018

Langit tak selamanya berbalut biru laut. Terkadang senasib dengannya. Dirundung mendung dan dikekang badai. Maka kelamlah sudah hari itu. Tak ada matahari berwarna kuning lagi. tak ada kicaun twitter lagi. Tak ada bayangan sama sekali. Seakan sepi. Ditinggali. Dikhianati oleh bayangan sendiri.

Menyesal sangat menyesal setelah terpilih menjadi perwakilan satu kecamatan, aku malah malas membaca dan menghapal. Aku tidak lagi membaca buku pelajaran kelas enam. Ku kira pertanyaan yang akan diajukan pada lomba tingkat kabupaten itu adalah materi pelajaran kelas lima saja. Tak tahunya pelajaran kelas enam mengenai magnet dan otak malah mendominasi pertanyaan dibabak awal. Pantas saja pak Ola memberiku buku tebal untuk dihapal. Aku tidak amanah, maka kuterima ganjarannya. Akhirnya aku kalah tanpa perjuangan ke babak final. Itulah pengalaman yang mengecewakan.

Kulihat Anas pesaing dari sekolah lain yang juga turut jadi peserta; berhasil masuk ke babak cerdas cermatnya. Takdir akan mempertemukan kami kembali di sekolah lanjutan. Ternyata dunia sangat sempit. Kulihat wajahnya tersenyum dengan wajah yang bersih tak bernoda. Entah senyum persahabatan atau merasa puas mengungguliku sebagai pemenang.

Aku malu sama pak Ola. Aku malu sama kepala sekolah yang mengantarkanku. Padahal jika saja. Jika saja. Aku rajin belajar; mengenai magnet dan kutub-kutubnya serta bagian-bagian otak aku akan masuk jadi juara. Tapi entahlah itu perkiraan manusia. Tuhan merahasiakan. Jalan menuju sukses tertunda.

Kejutan kembali datang tak lama setelah itu. Aku mengikuti test baca cepat seratus kata saat kelas lima. Kalau tidak salah judulnya Bambu Runcing. Ya menceritakan tentang perjuangan bangsa Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan dengan hanya menggunkan bambu runcing sebagai senjatanya. Tanpa persiapan sebelumnya; aku semaksimal mungkin membaca dengan cepat. Sebuah stopwatch pengukur waktu yang berdetak diatas meja membuatku tak fokus. Aku malah melirik alat itu berulang kali. “Canggih!”

Saat itu sekolah kami menjadi tuan rumah lomba murid teladan sekecamatan. Ini masa-masa gemilang. Kebetulan diantara lima besar di kelas hanya aku laki-lakinya. Ya mau tidak mau meski aku tidak sepandai mereka yang jelas-jelas langganan ranking satu, aku ikut juga. Syukurlah jika jiwa ini masih dibutuhkan oleh sekolah. Meski aku tidak pandai-pandai amat.

Lomba ini entah dadakan atau apa. Tapi aku yang saat itu sedang belajar di kelas. Dipanggil kepala sekolah untuk bersiap menjadi peserta pada hari itu juga. Mau diapain aku dalam lomba itu? Sedang soal matematika aku tidak bisa. Ada juga soal pengetahuan umum. Aku jawab saja sekenanya. Ada pertanyaan bahasa inggris dalam lembaran tersendiri. Tinggal dibulatin saja kata guru pengawas. Hanya soal matematika dan bahasa inggris yang harus corat-coret kertas. Aku tidak bisa! Tapi apa boleh buat aku harus mencobanya.

Rencana awalnya yang akan dipilih nanti sebagai perwakilan sekolah tidak lain adalah Pipit dan Ida. Kedua bintang sekolah itu memang selalu dibawa kemana-mana jika ada pertandingan dan perlombaan sekolah. Dan aku bukanlah siswa yang diperhitungkan. Tapi karena peraturan berubah jika harus ada siswa dan siswi maka secara terpaksa aku dipanggil pak kepala untuk ikut bergabung bersama Ida dalam perlombaan murid teladan itu. Maka kagetlah aku!! Aku yang sedang asik bermain dengan kawan-kawanku harus rela dijadikan tumbal.

Ida adalah murid terpandai di kelas kami. Sejak kelas satu dulu ia langganan juara pertama. Tak terkalahkan! Itu julukan baginya. Entah makanan apa yang diberikan ibunya sama dia. Hampir semua pelajaran ia bisa taklukan. Hanya sayang aku tidak begitu dekat dengannya. Jadi aku tidak terlalu banyak tahu soal dia. Yang ku tahu hanya dia pernah ikut ke Garut atas persetujuan sekolah sebagai wakil sekolah. Ia dikirim selama sebulan; kalau ga salah. Kelas kami seperti kehilangan mahkotanya. Tak ada yang menjadi patokan. Tak ada yang duluan mengacungkan tangan saat ada pertanyaan guru. Tak ada yang orang suka memerintah ini itu. Kelas kami jadi aneh saja.

Entah apa makanan yang diberikan petugas di Garut. Tahu-tahu sebulan pulang dari sana ia sudah berubah. Ia tambah gendut. Pipinya makin chabi. Katanya ia selalu tak telat makan enak. Pembekalan macam-macam ia ceritakan. Meski aku tak bisa membayangkan seperti apa. Hanya yang ku tahu ia senang apalagi kenang-kenangan baju yang selalu ia pamerkan. Jadi juara memang banyak asiknya. Pergi ke sana, pergi ke sini. Tak ada di kelas. Selalu sibuk jadi perwakilan sekolah.

Penyuka Elvi Sukaesih inipun menjadi perwakilan murid teladan. Waktu aku masuk ke ruangan. Ia sudah ada di depan. Aku duduk di bangku paling belakang.

Meja-meja telah ditata sedemikian rupa. Satu meja satu kursi. Tidak ada siswa yang duduk bersebelahan berdekatan. Tidak ada siswa satu sekolahan yang dapat memberi bantuan. Aku yang terakhir datang kebagian bangku paling belakang. Suasana cukup menegangkan. Aku masih kepikiran permainan menebak negara pada si bundar globe di kelas. Aku tidak cukup pantas dengan anak-anak jenius ini. Aku minder sekaligus bangga. Entah perasaan bagaimana saat itu. Antara senang dan takut menjadi satu sehingga aliran darah begitu derasnya.

Kertas-kertas dibagikan. Lembar pertanyaan dijilid lebih tebal. Jawaban jangan sampai rusak atau terkena minyak. Aku malah ketakutan. Bulatannya harus rata tidak boleh ada yang keluar garis. Aku makin pesimis. Tidak boleh ada yang menengok; petugasnya ada dua orang. Akan aku lakukan sekarang semoga ada pertanyaan yang gampang!

“Pak ada kertas buram lagi?” Aku tidak malu, karena memang kertasku sudah penuh dengan coretan perkalian dan pembagian.

Selesai juga. Akhirnya aku bernapas lega. Mungkin aku sekarang bisa lagi bermain dengan anak kelas lima. Tapi tak ada jeda. Kami masih duduk di bangku yang sama. Tapi dengan kertas yang berbeda. Saatnya lomba menggali imajinasi lewat karangan bebas selama empat puluh lima menit. Kami harus bisa menulis sampai dua halaman polio penuh. Waduh! Kebangetan juga. Itu persayaratannya. Mau menulis apa? Tidak ada persiapan. Tidak ada ilham. Tidak ada ide yang datang. Aku tidak dulu menulis judul. Aku berpikir lama nian. Aku mencari tema apa yang kiranya bisa habis ditulis pada dua halaman polio bolak-balik.

“Mimpikan cita-cita kalian dan tuliskan, setidaknya kalian punya cita-cita yang harus diperjuangkan.” Pak pengawas memberi sedikit gambaran mengenai tema yang akan kami tulis. Setelah ia berkeliling memberi arahan ia kembali lagi ke bangku di depan sambil memerikasa jawaban matematika dan pengetahuan umum. Sedang kami sedang berpikir dan bersiap bertempur dengan imajinasi.

Cita-cita bagiku adalah sebuah pertanyaan. Punya atau tidak? Mulia atau tidak? Tinggi atau tidak? Bergunakah atau tidak? Dan sebuah pertanyaan akhir tercapaikah atau tidak?

Cita-cita bagiku adalah sebuah pernyataan. Pertahankan sampai berhasil. Gantungkan setinggi mungkin. Percaya dan yakin. Miliki. Dan teruslah berlari karena mimpi adalah kunci. Nidji dan Laskar Pelangi.

“Pak aku tidak bawa pulpen!” Saat itu sudah menit ke sepuluh semua peserta dari semua sekolah sekecamatan sudah mulai mengarang. Aku duduk di belakang. Tengok kanan tengok kiri. Tak ada yang aku kenal. Semua orang asik berkutat dengan imajinasinya masing-masing.

“Aku cuman punya satu!” Kata kawan pesaingku disebelah.

Malu dong yang jadi tuan rumah tapi tidak bawa pulpen! Namanya juga dadakan. Jadi saat dipanggil aku langsung nyelonong masuk saja dan tidak bawa alat tulis apapun. Itupun saat mengerjakan soal umum minjem pinsil sama kawanku yang nonghol di jendela kaca. Aku kira ada apa dipanggil kepala sekolah tak tahunya begini!

Aku maju ke depan. Menemui pengawas.

“Ada apa, De?” Katanya curiga. Tingkahnya menyelidik sudah kaya detektif Dee.

“Boleh aku menulis dengan pinsil, Pak!” Aku dengan polosnya memperlihatkan pinsil yang hampir habis. Sepotong. Itu pinjaman kawanku di kelas tadi.

“Tidak bawa pulpen?”

Pengawas itu menyuruhku kembali ke tempat duduk sambil dia memikirkan keputusannya bagaimana. Pengawas yang lain seperti tidak senang dengan kehadiranku yang mengganggu mereka di depan kelas. Aku menggeleng dan kembali memperlihatkan pinsilku yang sudah setengah.

“Pakai bolpoin bapak dulu ya!” Wah senangnya pengawas satu ini baik sekali mau meminjamkan bolpoin. Aku langsung menulis judulnya. Dan menumpahkan tinta pada tiap kalimat yang sudah aku tulis dengan pinsil tadi. Tertindih. Bertumpuk. Kotor. Tintanya menyerap sampai halaman belakang. Nambah pusing saja. Waktu terus saja berjalan. Tak ada bala bantuan. Tiba-tiba kepala kawanku nongol di kaca jendela.

Dengan bahasa isyarat aku menggerakan telunjukku maksud menulis kata. “P.U.L.P.E.N aku pinjam pulpen” mulutku ikut membentuk vokal. Kawan-kawanku yang sedari tadi ikut menyaksikan perjuanganku, setalah paham kemudian berlari. Tak kembali. Uh!

Apakah mereka mendengar isyaratku tadi atau lari karena teguran pengawas. Aku malah kehilangan harapan. Mereka tak mendengar. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara yang berisik. Dibalik dinding papan tulis itu. Sekolahku memang sengaja membangun dinding yang bisa dibuka kapan saja. Dinding ini terbuat dari kayu dimana dapat digunakan sebagai papan tulis oleh kelas di sebelahnya.

Suara-suara yang berdebat aku dengar. Aku jelas mendengar mereka berselisih mengenai pulpen yang ingin diberikan padaku. Mereka bingung mau lewat mana memberikannya. Sedangkan pengawas masih berjaga disana.

Entah bagaimana caranya pulpen itu bisa sampai padaku. Akhirnya perjuanganku mengerucutkan mulut berhasil juga. Aku dapat pulpen juga. Bolpoin cair itu aku berikan lagi sama pengawas baik hati itu. Malaikat pencabut duriku!

“Terima kasih Pak tapi sudah ada pulpennya”

Waktu tinggal separuh. Aku ngebut karena semua jalan cerita sudah ada di kepala. Semua karakter pemain ada di kepala. Semua tinggal ditulis. Dua halaman penuh. Waktu hampir habis. Aku tidak selesai. Meskipun aku sudah menulis dua halaman polio penuh bolak balik. Persyaratanku terpenuhi. Tapi aku belum selesai menulis endingnya. Aku masih ingin menulis lagi. Masih ada jalan cerita yang belum aku gambarkan. Kertasnya tidak cukup. Waktunya sudah tidak cukup. Aku harus membaca sekali lagi.

“Masih ada sedikit waktu, silakan yang masih belum puas bisa dibaca kembali. Karangannya.”

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook