Fase 014 - Cita-Cita di Ujung Pena #2

Agustus 03, 2018

Kaca-kaca jendela merayu mata yang malas untuk menatap keluar kelas. Menawari semua kesenangan dan kebebasan. Tergoda untuk hura-hura. Terperangkap dalam sia-sia. Setiap pintunya memberikan banyak pilihan. Tipu muslihat.

Kau mau bermain? Bermainlah! Di halaman depan sana ada taman yang dikerubungi bunga-bunga. Merah, putih, kuning dan jingga. Sebebas kau mau memetik yang mana. Tengok pula ikan-ikan di kolam dekat taman. Mas koi warna merah, putih, hijau, biru dan campuran warna diantaranya. Sebebas kau mau memberinya makan. Atau kau mau ke kantin? Menikmati baso hangat, kupat tahu yang masih hangat dan sayur kuah yang masih hangat pula. Nikmatilah! Begitu mungkin kira-kira rayuannya. Atau kau mau menghampiri seseorang di kelas sebelah? Ayo keluarlah!

Siapapun orangnya kecuali dia yang benar-benar kuat imannya, tidak akan kerasan tinggal berlama-lama di dalam kelas. Bosan dengan pelajaran, bosan dengan tatapan para pengajar dan bosan pada suasana yang membosankan. Maunya kaki ini berlari mengejar kesenangan dan mata ini menikmati kemewahan.

Seperti hari-hari sebelumnya dan mungkin selanjutnya, kelas kami tak pernah sepi. Selalu berisik. Selalu saja mengganggu kelas lain. Galon kosong ditabuh bertalu-talu. Bangku dijadikan alat musik amatiran, dan suara cempreng melesat tidak hanya dari satu vokal. Bass, bariton, alto dan sopran bercampur menjadi paduan.

Energi ini bersipat menular. Ketika ada satu orang yang unjuk kebolehan vokal, maka serasa gatal lidah ini ingin menyumbangkan sebuah lagu kebangsaan. Lalu terciptalah koor yang tak direncanakan.

Mungkin karena beban kami menjadi anak-anak kelas IPA yang pertama. Atau mungkin karena kita pikir kelas IPA itu lebih unggul. Tapi apapun itu. Itu masalah kronis dari hati. Hati siapa yang tahu. IPA, IPS atau BAHASA sama saja. Mereka unggul dibidangnya masing-masing.

Aku jadi malah kuatir jangan-jangan benar kecurigaan kepala sekolah, jika kami ini “Anak buangan dari sekolah lain. Anak yang tidak masuk seleksi sekolah unggulan. Anak bermasalah. Anak yang tak mampu membiayai uang sekolah.” Mungkin karena saking tak bisa diurusnya kami.

Aku juga dari dulu sangat curiga. Sepertinya ia. Sepertinya tidak. Kalau benar memang keadaanya. Maka suramlah masa depan genersi ini. Kalau memang benar kiranya, sudilah sekolah dan pendidik semua membimbing kami anak –anak yang lemah ini. Supaya jadi manusia serbaguna.

Langit di sekolahku masih sepi. Matahari masih bersolek sembunyi-sembunyi. Duduk diantara gula-gula raksasa. Bermanja-manja dengan embun yang masih basah.

Seperti biasa pagi itu aku kesiangan. Biasanya tidak ada hukuman. Biasanya juga tidak ada pengawas. Biasanya juga begitu. Biasanya aku tidak sendirian. Biasanya ada kawanku Lina dewi yang juga tidak on-time. Tapi hari ini ia rajin sekali. Biasanya juga aku yang menjemputnya pagi-pagi. Mungkin sudah nasibku yang malang. Aku dihukum langsung sama kepala sekolah. Memunguti dan membuang sampah. Lalu menggotong tong sampah ke tempat pembuangan sampah akhir di belakang sekolah.

Pernah suatu kali aku kesiangan dan terlambat masuk kelas. Waktu itu ada mahasiswa dari Yogjakarta yang hendak mempromosikan universitasnya. Kebetulan kami sudah kelas tiga jadi brosur-brosur mengenai perkuliahan berserakan dimana-mana.

“Kamu, Ya, Kamu, yang baru masuk. Coba sebutkan apa cita-citamu?” Belum juga aku duduk, sudah ditanya ini-itu.

Saat itu pikiranku masih di tong sampah menyesali kenapa seragamku harus berbau keringat padahal hari masih pagi. Aku kelu menjawab. Diantara mau menjawab atau kubiarkan saja. Mungkin kupikir itu hanya pertanyaan retoris. Pertanyaan yang tidak usah dijawab karena jawaban ada pada diri individu masing-masing. Aku kira itu hanya sapaan saja agar aku berpikir. Tapi apa balasannya?

Dikiranya aku tak punya cita-cita. Ia meledekku sampai jam kunjungannya berakhir. Menyebalkan.

“Masa kamu tidak tahu apa cita-citamu. Orang yang tidak punya cita-cita adalah orang yang tidak punya tujuan hidup. Kalau sudah begitu maka sia-sialah jalan hidup yang dijalani!” Nasihatnya memang benar tapi terlalu pedas dihadapan teman-teman. Blak-blakan. Setengah malu dan marah jadinya.

“Coba yang lain apa cita-cita kalian?”

“Menjadi seorang pengusaha, Pak!”

“Pegawai bank, Pak!”

“Menjadi guru, Pak!”

Bangku-bangku cadangan sudah tersedia di belakang. Aku duduk dengan perasaan yang sama seperti hari yang lalu. Aku tak dapat bangku paling depan. Aku tak bisa membaca kalimat yang guru tulis di papan tulis. Aku perlu kaca mata baca. Aku perlu kaca mata yang dua ratus ribu itu. Bangku-bangku kaku. Murid-murid yang duduk terpaku. Suasan kelas yang beku. Pelajaran yang sulit menurutku.

“Ada pertanyaan?” Kami diam tak memberi jawaban.

“Kalian sudah mengerti bab ini. Ayo acungkan tangan!”

Aku melirik dengan gerakan mata yang hilir mudik. Sepi. Teman-teman tak ada yang menggubris. Mereka tak paham. Kecuali Lina yang paham. Dia anak yang pandai. Tapi guru tidak menyuruhnya maju kedepan. Justru ini yang sangat dikhawatirkan.

“Coba Agus, kerjakan di depan!

Gadis-gadis berkerudung putih itu berlalu meninggalkan pelataran mesjid seusai shalat dhuha bersama. Tinggal kami bertiga yang duduk-duduk dekat kolam mesjid. Baru kali ini aku mengerti pentingnya shalat dhuha. Selama lulus sekolah aku tidak melaksanakannya. Rasanya rezeki tidak memberi kecukupan selalu saja kurang dan kurang.

Sekolahku memang selalu mewajibkan siswanya shalat dhuha bersama, berdoa bersama dan bergiliran menyampaikan tausiah. Setiap murid pasti kebagian bertausiah di depan ratusan siswa lain. Uji nyali dan uji dasar agama.

Syamsul kawanku dari Banjarsari yang hobynya nyemplungin kaki ke kolam. Kini merapat bersamaku. Kaki-kaki kami digigitnya oleh ikan mujair sebesar kelingking. Geli, geli, geli. Aku baru tahu kalau ini adalah sebuah terapi. Kawanku Winda yang dari Sadananya duduk tak jauh dari kami. Kami bertiga membicarakan kesempatan untuk melanjutkan kuliah tahun depan.

“Gus, ikut Nda ke UIN Bandung ya?”

“Ikut aku saja ke Unsoed, ya Gus!”

Aku bingung pilih yang mana. Lebih bingung biaya kuliahnya dari mana. Karena aku belum dapat suntikan motivasi yang besar. Karena aku tidak tahu mendapatkan uang yang besar.

Kami bertiga berkeinginan masuk jurusan IPA : Kedokteran, farmasi, biologi atau keperawatan. Meski kata Eva Sri Maspupah kawanku yang ingin masuk farmasi itu, aku itu cocoknya di bahasa sastra Indonesia. Saat itu aku mengacuhkan pendapatnya. Penyesalan akan tiba setelah ini.

Saat pelajaran berlangsung bapak kepala sekolah yang juga mengisi kelas bimbingan konseling menaruh harapan kepada kami untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Aku bukannya tidak mau tetapi aku ragu apa orangtua ku setuju. Aku juga tidak terlalu tahu seluk beluk dunia perkuliahan. Hingga akhirnya ada saja penyesalan yang tertanam di dada mengapa dulu aku tidak bilang pada kepala sekolah kalau aku mau kuliah. Mungkin saja beliau bisa membantu administrasi dan segalanya.

Lihatlah Winda dan Syamsul yang dulu sudah siap dan meminta izin pada kepala sekolah sebelum dibagikan izajah dan perpisahan pun mereka sudah syah jadi bagian keluarga besar Universitas Islam Negeri Bandung dan Universitas jenderal Soedirman.

Aku malah waktu itu bingung dalam beberapa hal diantaranya biaya, bakat dan beasiswa. Biaya aku tidak punya. Bakatku belum terdeteksi lebih jauh. Apakah harus ambil biologi sesuai dengan jalur IPA. Kedokteran, keperawatan yang masih satu lingkup kesehatan. Atau mau ambil komunikasi dakwah atau jurnalistik. Atau kuliah di komputer informasi atau di jurusan bahasa dan sastra indonesia. Aku paling suka lihat brosur jurusan HI hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah malang. Atau melanjutkan hobby menulisku di jurusan sastra Indonesia. Terakhir beasiswa. Aku tidak terlalu pintar. Aku tidak terlalu jenius. Aku hanya pandai mengingat-ingat peristiwa saja. Lalu kutulis agar tidak terlalu lupa.

Jam istirahat masih lama. Kami gunakan untuk mencari makanan di kantin seberang jalan. Biasanya aku makan kupat tahu dengan kawanku Dadan. Jajan kupat selain murah juga kenyang dari pada membeli jajanan yang tak kenyang-kenyang. Aku cukup beli kupat tahu saja.

Hari ini kami siswa kelas tiga mendapat wali kelas baru. Namanya ibu Yesi. Ia lulusan Universitas Siliwangi jurusan program studi pendidikan matematika. Apa yang nanti akan beliau ajarkan pada kami selain angka-angka logaritma? Apakah ia akan serumit sin cos tan?

Jendela kami kini memelas kasihan. Kami tidak lagi terpengaruh bujukan jendela-jendela syetan itu. Dan ikan-ikan yang sering kami beri makan kini sepertinya memerah cemburu karena perhatian kami justru pada masa depan yang bu Yesi bawa sejak ia datang. Beliau mengajar dengan seksama. Rumus-rumus dan langkah yang rumit kini bisa kami taklukan. Ternyata gampang dan menantang.

Ibu Yesi usianya masih muda. Bergaya dan punya wibawa. Setiap ia lewat senyum dan keramahan datang bukan dari sosok ke ibuan tapi sikap persahabatan bagi kami. Khususnya aku. Ia terlihat seperti kakak atau ibu juga bisa. Beliau juga rupanya pandai main basket saat ada pertandingan antara guru dan Osis.

Pernah suatu kali aku sakit cacar. Badanku terutama wajahku sudah tidak kelihatan ketampanannya. Penuh dengan bintil-bintil besar cacar yang belum keluar. Aku absen dua minggu. Aku lihat wajahku seperti monster. Mengerikan. Aku juga ragu apa mungkin wajahku akan kembali segar seperti dulu? Entahlah.

Entah penyakit apa yang menimpa tubuhku. Apa benar-benar cacar? Atau ada alergi makanan aku tidak tahu pastinya. Aneh. Saat masuk sekolah dasar aku pernah cacar. Saat masuk SMP aku juga terkena cacar. Dan saat SMA aku juga kena cacar. Cacar yang aneh. Aku ragu pada yang dikatakan ahli kedokteran. Katanya kalau cacar cukup satu kali seumur hidup. Tapi kenapa cacarku tiga tahun sekali? Katanya tergantung kekuatan antibodi seseorang. “Oh!”

Siang hari saat aku terbaring di kamar depan. Karena aku tak bisa keluar rumah. Karena cacar menyerangku tiba-tiba. Aku melihat kawan-kawanku yang masih pakai seragam datang mengunjungiku. Tak terkecuali ibu Yesi.

“Tadi Ibu hampir jatuh sewaktu menuruni tebing sengkedan itu?” ceritanya dibenarkan kawan-kawan.

Ya begitulah bu. Kalau aku berangkat sekolah harus naik turun gunung. Bisa kebayangkan kalau hari itu hujan? Licak. Licin. Entah apa lagi bahasanya. Malah aku sering menjinjing sepatu agar tidak kotor oleh tanah dan lumpur. Nah, baru jika sudah menginjak jalan aspal atau berbatu aku ganti pakai sepatu. Perjalanan mencari ilmu memang butuh pengorbanan!

Ibu Yesi pernah datang kerumah orang tuaku. Aku juga pernah datang ke rumahnya di Imbanagara. Bersama kawan-kawan yang lain tentunya. Rencananya kami akan belajar matematika menjelang UN tiba. Tapi kenyataannya lebih banyak waktu untuk makan dan merepotkan keluarga beliau. Kenakalan yang wajar dan perlu dimaafkan. Maafin ya, Bu!

Keluarga ibu Yesi adalah pendidik. Ayah dan ibunya seorang guru. Mungkin karena itu caranya mengajar meski matematika sekalipun tetap menyenangkan. Selain lahir dari keluarga pendidik juga terlahir dari keluarga yang masih melestarikan budaya sunda. Yaitu gamelan. Gamelannya lengkap sekali dan disimpan di rumah yang satunya lagi persis di seberang rumah. Ada saron, bonang, goong, gendang, dan angklung lengkap semua. Benar-benar keluarga seniman. Ada kura-kura kecil yang berenang dalam sebuah aquarium di bawah mushola di dalam rumah. Aku melihatnya saat minta izin shalat dhuhur di rumah yang penuh gamelan itu. Lucu ya!

Rumah ibu Yesi bersampingan dengan pabrik tahu. Otomatis kami diberi tahu goreng satu wadah penuh. Sampai habis dengan taburan aida yang menambah selera.

“Jangan dulu dihabiskan tahunya. nasi liwetnya belum masak!” Aku kaget ternyata acara belajar matematikanya hanya setengah jam selanjutnya memasak liwet dan makan-makan. “Wah, ada ayam goreng pula!”

Tak akan habis rasanya menceritakan kisah ini. Apalagi saat kami melakukan perjalanan terakhir ke Brebes di salah satu tempat tinggal kawan kami, Maman dan Eva. Mereka berdua adalah siswa yang paling jauh tempat tinggalnya. Dengan bantuan calon pendamping bu Yesi kami akhirnya dapat kendaraan gratis. Karena tidak muat semua. Ya. Harus ada yang mengalah naik kendaraan bermotor saja.

Melewati kota Majenang dan beberapa tikungan tajam diantara pohon-pohon kopi yang membelah jalan. Desanya masih asri dan kebetulan orang Brebes yang masih termasuk daerah Jawa Tengah ini berbahasa sunda. Jadi kami tak ada masalah berkomunikasi dengan mereka. Meski agak kasar sedikit bahasanya.

Selepas sekolah Maman mau pergi kuliah di Jakarta menyusul paman dan kakaknya yang juga kuliah dan kerja di Jakarta. Kawanku ini sangat dermawan. Setiap pulang dari kampungnya nun jauh disana ia mengajakku ke asrama untuk memberi beberapa telur asin dan buah-buahan. Aku tak habis pikir padahal seharusnya aku yang memberi karena aku tak terlalu khawatir kehabisan bahan makanan sedangkan dia hidup di asrama sendirian.

Sekolah kami memang memiliki asrama sekalian tempat mengaji. Anak-anak yang jauh atau dekat bisa mondok sekaligus belajar pagi harinya. Madrasah Aliyah (terpadu) Ar-Rahman tertampang di pintu gerbangnya. Aku bersyukur bisa masuk ke sekolah ini. Sendirian.

Maman adalah anak paling serius dalam berpuisi. Ia rekan menulis aku selain Lina Dewi Sartika. Lagaknya sudah seperti penyair kondang saja. Rayuannya pada semua gadis di sekolah tak lepas dari bait-bait puisi ciptaanya. Bahkan saat pelajaran kepesantrenan yang diantaranya Riyadhohan atau belajar dakwah. Gaya pidatonya macam proklamasi Ir. Soekarno dicampur gaya Chaerul Anwar saat berpuisi. Benar-benar pujangga yang sejati.

Aku sangat bersyukur bisa bergabung di sekolah ini. Tanpa aku sengaja dan aku sadari aku hidup diantara para juara sejati. Syamsul sudah ketahuan dia memang suka dan berminat sama biologi dan penelitian. Beberapa kali dia mengajakku dan Maman membuat karya tulis remaja yang diselenggarakan Universitas Galuh Ciamis. Saat deadline hampir habis kami sengaja meminta kunci laboratorium komputer untuk mengetik di sana. Lina dewi juga tak ketinggalan ikut berkumpul bersama kami. Alhamdulillah perjuangan kami tak sia-sia. Kuhabiskan waktu sore hari hanya untuk membuat karya tulis di lab. Komputer sekolah, hingga aku pulang ke maghriban. Dan ditakuti pohon besar dan gelapnya hutan. Aku masuk sepuluh besar.

Pernah juga suatu kali dan sering malahan Syamsul mengajakku ke laboratorium IPA untuk meneliti berbagai benda mikro untuk dilihat di bawah mikroskop. Sampai benda-benda yang sengaja dikeluarkan hampir ditelitinya juga. Kalau orang biologi macam kami sudah biasa menyebutnya.

“Gus, siap!” Selalu dengan pertanyaan itu.

“Nanti sajalah!” Aku ragu, malu sekaligus ingin tahu juga. Jika makhluk berekor yang berlari cepat itu kita teliti lewat mikroskop. Seperti apa ya wujudnya? Apa seperti dalam gambar buku Biologi SMA?

Ada pula kawanku Eli dia anak yang sering mengikuti perlombaan debat bahasa inggris, kalau ada perwakilan dia orangnya. Lain Eli lain Warkoh yang jago bahasa Arabnya. Ada pula Eva Faujiah yang paling sering dipanggil untuk bertilawah jika ada acara di sekolah. Rena, Andrie, Syamsul, Toni, Eli, Maman paling juara pidatonya dengan gaya khasnya. Dan masih banyak talenta-talenta yang dimiliki oleh kawanku yang lain.

Kawanku Lina dia yang terbaik. Jago tilawah, pandai juga bermain gitar. Ketua PMR dan aktif di PMI. Ia juga pernah berangkat ke Palembang dalam acara persahabat PMR. Aku melihat foto-fotonya bersama orang bule. Ia juga pandai matematika sekaligus bahasa. Kimia, kesenian dikuasainya juga. Koq ada orang sepintar itu ya?

“Kabari aku 10 tahun mendatang setelah sukses menggapai mimpi-mimpi kita!”-Lina Dewi Sartika.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook