Fase 013 - Cita-cita Di ujung Pena #1

Agustus 03, 2018

Setiap pertemuan ada perpisahan. Dan orang-orang baru datang bergantian. Menunggu dengan tidak sadar. Menunggu dengan tidak sabar. Aku tak pernah menyangka dapat bersekolah lagi. Jika tidak didorong Pak Ola aku mungkin tidak akan sekolah. Bagiku sekolah itu ya sekolah, ku kira tidak ada kelanjutannya.

Pak Ola pernah bercerita dulu saat sekolah dasar ia melihat kakak kelasnya memakai seragam putih biru. Ia membayangkan jika dirinya itu memakai seragam putih biru. Hingga akhirnya ia bisa sekolah dan memakai seragam harapannya. Sewaktu ia sekolah di SMP ia melihat kawan-kawannya memakai seragam putih abu-abu. Lagi-lagi ia membayangkan jika suatu saat nanti ia sendiri yang memakai seragam putih abu-abu itu. Terus seperti itu sampai ia melihat ada pemuda yang naik bis untuk kuliah. Pak Ola memang memberi insfirasi dan ide yang banyak.

Maka ku pejamkan mata dan membayangkan saat aku memakai seragam putih biru. Rasanya seperti mimpi tapi harus diperjuangkan sampai berhasil. Sekolah yang berbeda. Pelajaran yang berbeda dan jam pulang yang lebih lama.

Di kelas aku bertemu dengan kawan baru Cucu namanya. Dia yang memotivasiku untuk menulis. Kami pernah membuat cerpen sama-sama. Aku boleh menulisnya dengan tulisan tangan pada kertas polio bergaris. Aku masih ingat judul yang pernah ku tulis. Yaitu angkot setan. Dia yang menyuruhku menulis cerita misteri. Maka aku bayangkan jika aku pulang sekolah naik angkot yang ternyata penumpangnya adalah pocong semua. Aku saja yang menulis ketakutan. Apalagi jika sudah tercetak seperti bukan hasil tulisanku sendiri. Imajinasiku berlebihan, sehingga aku juga malah ketakutan jika membayangkan naik angkot tengah malam.

Saat pemilihan ketua Osis adalah pertama kalinya puisiku ku pajang di mading. Aku sengaja merentalkan naskah puisiku, lalu ku tempelkan di mading yang ku kira tak terpakai. Mading-mading yang besar, tapi isinya hanya sederetan himbauan belajar dan kesehatan dari pemerintah berupa poster-poster dan pengumuman libur panjang. Aku hanya sedikit memberi celah terbuka bagi siapa saja yang suka membaca sastra.

Aku menempelnya sore-sore saat sekolah sepi tak ada penghuninya. Mengendap-endap seperti pencuri. Buru-buru menempelnya dan segera beranjak dari tempat itu.

“Agus, puisimu banyak yang baca lho?”

“Oh, ya. Ayo kita pura-pura pergi ke kantin!” Aku ingin tahu bagaimana reaksi kawan-kawan. Ternyata benar. Tidak sedikit yang membacanya. Mereka sekarang tidak bosan dengan tampilan mading yang menampilkan poster Narkoba. Mereka tidak tahu itu tulisanku. Karena aku hanya menulis insial kelas saja.

Seminggu kemudian, kepala sekolah memberi arahan kepada anggota Osis supaya kembali memberdayakan mading dengan karya-karya. Kali ini kepala sekolah memberi perhatian terhadap media sekolah ini. Kertas-kertas pengumuman jadwal pelajaran lama dan pemberitahuan lain yang sudah usang segera dicopot dan dibiarkan kosong. Tiga hari kemudia bertaburanlah kertas-kertas warna yang ditulisi puisi dan karya anak-anak Osis. Sayang aku bukan Osis jadi tidak bisa memberikan masukan langsung. Aku tak lagi menulis karena proses seleksi sekarang tergantung Osis. Tidak akan sembarangan menulis di Mading. Karena ada yang pernah menulis artikel mengenai masturbasi dan sejenisnya, sehingga perhatian siswa lain kini beralih dari sastra terhadap kehidupan pada zamannya.

Inilah awal dari pubertas pertama, secara tidak langsung kami semua merasa penasaran dengan artikel itu. Ditutup-tutupi seperti apapun, otak kami sudah terisi dengan isu yang menghangatkan anak lelaki itu. Jika guru-guru tidak membuka aib artikel itu, mungkin aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Dan aku tidak tahu apa isi artikel itu. Meski sampai saat ini aku tidak tahu apa yang siswa itu tulis dalam artikelnya.

Padahal jika memang itu gejala awal pubertas, kenapa tidak diberi arahan. Kami memang sedang dalam masa pertumbuhan. Hal-hal yang berbau baru akan segera kami cari tahu. Apalagi teknologi akan segera mendatangi kami. Zaman dimana handphone tidak semenjamur ini. Zaman dimana internet hanya sebuah mata pelajaran bukan pengaplikasian. Zaman dimana akses media belum sebebas ini. Mungkin tidak hari ini kami menemui hal tersebut, tapi esok hari atau kapan pasti kami mengetahuinya juga. Tidak lewat isu menghebohkan itu tapi lewat cara lain dimana waktu memberi tahu kami semua, dengan caranya dengan jalannya.

Masa sekolah ini, adalah masa dimana ketidakpercayaan diri dan rasa percaya diri yang tinggi hampir datang bersamaan. Dimana suara mulai berubah, membesar tapi sangat aneh. Tubuh kami yang masih kecil tapi suara yang besar. Sangat lucu mendengarnya. Bagi kami tidak masalah tapi bagi yang mendengar pasti ketahuan kalau kami sedang pubernya. Tinggi badan mulai berubah. Rambut-rambut halus mulai tumbuh, membuat kami merasa telah terjadi sesuatu. Sesuatu yang bukan kami. Sesosok monster berbulu telah merubah kami anak laki-laki. Maka giliran guru BK yang datang ke kelas kami.

Di SMP aku meneruskan mengeksplor kemampuan vokal. Pernah ikut lomba karokean. Ada pilihan mau pop atau dangdut. Karena di keluarga tidak ada kaset pop Indonesia, maka aku coba jenis lagu yang kedua. Judul pilihannya Cuma satu “Jatuh Bangun” dari Megi Z. Maka jatuh bangunlah aku belajar bernyanyi. Saat itu aku belum kenal musik pop. Yang aku tahu lagu Indonesia Raya, Garuda Pancasila dan Bintang Kecil serta lagu himne Pramuka. Itu adalah lagi-lagu kenangan saat lomba bernyanyi di kelas enam.

Maka tibalah aku tampil di depan panggung. Siswa yang menyanyi lagu pop dibedakan, mereka di test vokal dulu untuk mendapatkan nada dasar. Sedang kami hanya disuruhnya bernyanyi. Sungguh lagunya tidak aku kuasai. Perasaan yang aku dengar dan aku hapalkan dalam kaset irama lagunya tidak separah ini. Permainan keyborad diubah oleh guru kesenian, sehingga terkesan aneh didengar. Maka tersesatlah aku pada pilihan sendiri.

Aku mencoba mendengar dulu bagaimana mereka bernyanyi. Aku malah ingin pergi cepat-cepat karena tempo tidak aku kuasai. Tapi seluruh kelas meneriaki kelas kami jika tidak ada yang maju. Perjuanganku harus tuntas. Bagaimanapun parahnya. Belum apa-apa tepuk tangan membahana. Bahkan teman-teman sekelas mendukungku sebagai perwakilan kelas unggulan. Kaget melihat begitu banyak yang melihat. Siswa mulai dari kelas satu sampai kelas tiga, dari kelas A sampai H menonton sebagai acara yang tak biasa.

Mendengar gendang dangdut aku berjoget saja tanpa malu. Kebetulan tadi malam aku melihat kontes dangdut di TPI sekarang MNCtv. Meski rada kikuk mau pake gerakan yang mana. Baru nyanyi beberapa bait. Eh, Musiknya dihentikan. Ada tiga kali pengulangan karena aku tidak pas masuknya. Mungkin karena indera pendengaranku tidak peka sama ketukan dan tempo. Jadi aku sampai tiga kali disuruh mengulang. Dan akhirnya diputuskan sudah selesai.

“Koq, udahan sih nyanyinya?” Kawanku bingung melihat aku turun panggung.

“Tahu tuh pak Gurunya tidak adil. Pilih kasih!” Aku sengaja mengkambing hitamkan orang lain padahal malu karena tak bisa bernyanyi. (Haaa... Haaa.. !!)

Setiap perlombaan harus aku ikuti. Aku mencari lomba yang menurutku bisa aku ikuti. Yang jelas lomba ini tidak dipungut biaya. Dari sekian banyak lomba aku ikut Lomba dakwah saat maulud Nabi. Alhamdulillah menang juara tiga. Sayang sekali saat pengumaman pemenang aku tidak hadir. Karena hari senin itu aku minder. Ah masa iya sih menang! Jadi aku bolos saja. Kebetulan aku juga tidak enak badan. Jadi diwakilkan sama Aris ketua kelas. Tidak adil malah dia yang dapat sambutan kepala sekolah. Padahal yang menangkan AKU!!

“Beneran aku menang?” Esoknya aku masuk sekolah dengan perasaan senang. Bangga ternyata ada bakat juga! Meski jura tiga tapi tak mengapa. Itu adalah hasil dari jerih payahku, menulis, mengarang dan menghapal selembar naskah pidato. Aku masih ingat judul pidato waktu itu, kalau tak salah judulnya adalah Demi Waktu.

“Hadiahnya mana?”

“Hadiahnya ada di kolong meja!”

Teganya menyimpan begitu saja hadiahku. Lain kali harus aku sendiri yang memegang kehormatan bisa tampil dihadapan kepala sekolah! Akan aku usahakan biarpun pusing sedikit aku akan ke sekolah, memang terbukti waktu adalah sesuatu yang mahal. Satu hari tak sekolah kesempatan hilang tak bisa direbut kembali. Tubuhku memang tidak sesehat orang lain. Hampir setiap bulan ada saja izin berobat atau surat izin sakit. Tapi tak apalah agar aku bisa refreshing di rumah. Bosan di sekolah belajarnya itu-itu saja. Mencatat, menghapal dan menghitung matematika.

Aku pernah jadi tutor sebaya bahasa Indonesia. Berkeliling kelas dari A ke H bersama guru sudah seperti asisten. Membantu kawan lain yang kesulitan dalam pelajaran bahasa Indonesia. Bergerilya sampai ke kelas satu dan kelas dua. Sampai jadi kuli perpustakaan aku mau saja. Di suruh bawa buku ini buku itu. Tapi aku suka. Itu intinya. Kalau ditanya apa cita-citaku, maka ku jawab : “Aku ingin jadi pustakawan!”

Jadi peserta lomba mendongeng? Aku pernah. Tapi tak pernah maju ke depan panggung di kabupaten. Hiks.. Nasib ku sial. Padahal di sekolah ada dua peserta perwakilan mendongeng dan baca puisi. Itupun bertarung dulu dengan sekolah lain sekecamatan. Saat di kabupaten di gedung kesenian. Malah ditunjuk satu orang saja. Aku kalah sebelum bertanding.

Begini ceritanya: Dua minggu itu aku dengan susah payah membawa buku setebal tiga,empat kamus besar untuk difotocopy. Padahal yang akan difotocopy hanya dua lembar. Yaitu dongeng legenda Situ Bagendit. Setiap hari sepulang sekolah aku tidak dulu pulang. Aku menemui guru bahasa sunda untuk berlatih. Aku menghapal dan menghapal.

Babak penyisihan diadakan di sekolahku. Hanya beberapa orang dari perwakilan sekolah yang masih menginduk dengan sekolah kami. Dengan sekuat tenaga aku menampilkan penampilan terbaikku. Tak boleh ada yang terlewat satu kalimatpun. Tidak boleh ada kusia-siakan dari perjuanganku. Tidak sia-sia aku terpilih untuk menjadi perwakilan ke kabupaten. Aku sebagai wakil mendongeng dan satu lagi adik kelas sebagai wakil membaca puisi. Adik kelas ku ini sangat istimewa. Berkerudung rapi, berwajah putih, manis dan sangat ramah. Aku lupa siapa namanya.

Tragedi terjadi saat mau mendaptar ulang ke meja juri. Aku dan adik kelasku sama-sama mendaftar sendiri ke ruang juri. Aku pikir seperti dalam film-film wanita harus didahulukan. Jadi aku mempersilakan dia untuk menandatangan pertama kali. Nah. Kilat menyambar kepalaku saat juri memutuskan hanya satu orang saja perwakilan tiap sekolah. Kagetkan! Gondokkan! Aku kalah sebeluh bertanding. Tidak adil. Padahal aku sudah berdiri di depan meja juri. #Kalau saja ayahku seorang menteri!!

Jadilah itu pengalaman yang masih ku kenang. Di rumahku sama sekali tidak ada piala, tida ada piagam, tidak ada kenangan tentang penghargaan. Tapi memori kegagalan masih terbentuk di otak. Mungkin suatu hari nanti aku bisa mengabadikan memori ini dalam sebentuk buku yang bisa dibaca manusia. Sehingga aku menciptakan sendiri prestasiku. Mungkin tidak disini. Mungkin tidak hari ini. tapi pasti terjadi. Dan mimpi itu selalu aku genggam dengan kuat.

Cara untuk mengeksprsikan diri sangat boleh dibilang aku mabuk prestasi. Karena ingin sekali mendapatkan satu piala penghargaan. Bagiku mengikuti perlombaan adalah cara untuk mendapatkannya.

Saat pementasan siswa kelas tiga pihak sekolah dan guru kesenian memberi tiga syarat kelulusan mata pelajaran kesenian. Memang selalu saja ada yang beda dari guru kesenian ini. Ujian kesenian bukan hanya test tulis saja tapi praktek yang sangat ketat. Sarat yang pertama adalah bernyanyi solo. Lagunya boleh bebas, mau pop mau dangdut apa saja boleh. Sarat kedua adalah memainkan alat musik dan ketiga menari.

Kalau diceritakan satu persatu bisa jadi novel beneran. Saat kelas dua malah ada perlombaan pementasan music ansamble. Diwajibkan untuk semua anak kelas dua untuk manggung. Karena aku tidak bisa memainkan satupun alat music maka aku memilih botol limun sebagai alat music. Caranya gampang sekali botol limun yang terbuat dari gelas itu aku gerek oleh pinsil. Meski tidak terdengar secara keseluruhan, karena gitar dan piano yang mendominasi semua suara

Maka tibalah tahun kedua dimana kelas tuga kembali menampilkan grup musik sebagai penutup ujian kesenian. Tapi sekarang aku tidak kebagian kelompok. Sebab teman-teman membutuhkan orang yang bisa memainkan alat musik. Disana sudah disediakan berbagai alat musik. Keyboard, drum, gitar dan alat music lain atau bawa sendiri. Ada juga mereka yang karokean. Duet. Solo. Menari. Dan lain sebagainya. Aku mau menampilkan apa? Memainkan musik aku tak bisa. Bernyanyi lagi malah akan merusak pita suara. Aku nekad saja naik ke panggung saat kelompokku dipanggil. Aku naik sendirian. Kawan-kawanku pada kabur karena merasa tidak siap tampil dipanggung apalagi tidak ada persiapan sama sekali. Mau main alat musik apa atau mau menampilakn apa.

“Silakan mau menampilkan apa?” Juri didepan sedang memelototi aku. Kawan-kawan yang duduk di pinggir lapangan upacara saling berbisik.

“Mau membaca puisi. pak!” Karena terlanjur sudah ada di panggung. Juri terpaksa mempersilakan daripada tidak sama sekali.

Puisi yang aku susun semalam telah rampung. Sekarang bisa aku deklamasikan. Aku waktu itu habis idea. Mau menampilkan apa jika aku tak bisa bermain musik. Masa aku harus bernyanyi dangdut lagi. Kenangan buruk sekali.

Aku ambil saja mikropon dan aku membaca puisi selembar penuh. Lama. Tak tahulah pikiranku waktu itu. Yang penting aku tampil itu saja. Sudah. Aku tak bisa membaca pikiran para juri. Ataupun teman-teman yang sedang berkerumun. Aku juga tak tahu apakah ide membaca puisi di saat teman-teman memainkan alat musik ini diperbolehkan. Kalau mereka ingin aku tampil. Sekarang aku sudah tampil tapi dengan apa yang aku mampu. Penilaian terserah juri dan guru kesenian. Kalau dipikir-pikir sekarang memang enggak nyambung. Harusnya baca puisi untuk lomba Bahasa bukan kesenian. Tak apalah asal tampil dan dapat nilai kehadiran.

Aku pernah mendengar Pak guru memberi sambutan saat upacara bendera. “Pada zaman globalisasi nanti, yang dibutuhkan bukan hanya kecerdasan tapi keberanian!”

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook