Fase 011 - Anak Sholeh #2

Agustus 03, 2018

Lembut menahan awan di langit, mengukir sejarah sebentar di muka bumi. Dengan setengah lingkaran ragam warna pelangi. Maka terciptalah harmonisasi dari Tuhan turun ke bumi.

Tengoklah dulu sebentar. Langit menaungi kami anak-anak sekolah agama Al-hidayah dibawah naungannya. Belajar membaca Al-Qur’an dan menghapalkannya. Bergemuruhlah suara-suara lantang dari para penghapal kecil.

Setiap pelajaran diwajibkan mempunyai buku sendiri. Kami membeli buku di warung mi Tayem. Kata panggilan “Mi” mungkin berasal dari kata bibi. Karena ia berjualan di warung. Jadi kami panggil Mi Tayem. Entah siapa yang mengajari kami memakai kata tersebut untuk panggilan pada bibi penjaga warung. Mungkin itu tradisi yang sudah lestari.

Selain warung Mi Tayem yang sampai kini tetap eksis. Ada juga Mi Nasonah. (Bukan merek mie goreng atau mie rebus lho! Hee.. ) Hanya ada dua warung itu yang bisa kami kunjungi saat kehabisan buku. Mi Nasonah warungnya agak jauh. Jadi Mi Nasosah khusus dikunjungi ibuku yang mau membeli bahan makanan saja. Karena kalau mau membeli buku dan pinsil di Mi Nasonah sia-sia saja! karena warungnya khusus makanan dan sayuran. Tapi tidak tahu juga mungkin sekarang sudah serba ada. Siapa tahu!

Setiap memasuki ajaran baru, kami membeli buku baru untuk pelajaran baru. Aku sekarang duduk di kelas tiga. Bersama teman-teman sebaya dan masih terikat keluarga. Di sekolah dasar kami satu kelas, di madrasah juga tetap satu kelas. Kami memang tak terpisahkan!

Setiap akhir tahun ada imtihan. Kami menampilkan kebolehan masing-masing. Hampir semua anak menampilkan apa yang telah dipelajarinya. Setiap anak ada yang menampilkan sesuai bakatnya ada juga yang dikasihani lalu diberikannya tugas untuk dihapalkan. Mulai dari pidato, tafsir qur’an, puisi, lakon drama, sholawat dan nadoman (syair-syair berisi nasihat dan sejarah Islam).

Entah kenapa kakak-kakak senior dan pak guru tidak pernah menempatkan aku di peran yang penting. Anak-anak lain selalu diberinya naskah pidato, syair puisi, menjadi lakon drama dan lagu-lagu Islami. Kalau aku lebih banyak main di bidang pidato setiap imtihan. Pak guru yang memberikan hapalan pidatonya. Kadang aku kebagian pidato yang sangat panjang. Sehingga membutuhkan waktu dan pikiran yang extra untuk menghapal.

Pemberian tugas menghapal naskah ini diberikan sebulan sebelumnya. Jadi persiapan untuk naik panggung masih lama. Aku masih bisa menghapalnya. Jika dipikir-pikir mungkin akan lelah jika anak kecil menghapal dua halaman polio. Tapi dengan semangat yang yakin terlebih ingin tampil, naskah pidato sepanjang apapun akan kami sanggupi. Agar penampilan kami nanti di panggung tidak demam, maka setiap minggu sebulan penuh kami melakukan (GR) gladi resik. Sengaja kami melakukannya dengan memakai pengeras suara. Dinding-dinding pemisah kelas dibuka, karena memang serba guna bisa dibuka sehingga seperti auditorium yang besar.

Hal yang paling ditunggu adalah pemilihan murid teladan dan berprestasi. Siapa yang berperstasi dengan nilai teringgi akan naik ke atas panggung dan akan diberikan hadiah berupa buku tebal berisi lima buah dan pinsil dua buah, piala kalau ada dan piagam kalau sudah disiapkan. Girangnya bukan main saat ada yang namanya disebut. Lalu disalami kepala sekolah dan pemuka adat setempat.

“Itu anakku lho yang jadi juara pertama!” Salah satu orang tua yang disebut nama anaknya berbisik. Bikin orang tua bangga!

Sayang sekali sejak aku bersekolah tidak pernah dapat rangking satu. Entah dengan cara apa aku bisa berbuat untuk membuat ayah dan ibu bangga! Eh. Pernah juga ku dapat ranking satu itu kata guruku. Tapi sayang tahun itu tidak ada imtihan. Jadi aku tidak naik ke panggung; piala pun aku tak dapat. Tidak beruntung!

Biasanya seusai samen atau imtihan aku dan keluarga sengaja menunggu tukang bakso dan mainan murah yang harganya dua ribu ke bawah. Meski tak dapat piala tidak apa-apa. Mungkin lain kali. Mungkin suatu hari nanti. Asal ada semangkok bakso itu sesuatu yang luar biasa. Zaman dulu beli bakso saja jarang; sama dengan sekarang!!

Ada hal yang paling aku sukai selain membeli bakso dan mie ayam, yaitu dikasih buku. Apalagi gratisan! Meski kami bukan juara berprestasi tapi jika kami naik kelas pak guru memberikan kami sebuah buku dan sebuah pinsil. Satu buku dan pinsil saja aku sudah cukup senang. Jadi kalau banyak buku; aku bisa banyak menggambar. (Hee!!!)

Jika dibandingkan dengan buku hadiah tadi, buku yang kami beli di Mi Tayem jauh berbeda beratus kali lipat dan mudah dilipat beratus-ratus kali lipat. Nama bukunya saja buku leces. Ya sesuai namanya bukunya tipis, ringan, tidak keras dan hanya sedikit lembarannya. Cepet habis. Kalau menulisnya keras-keras maka tidak bisa digunakan lagi pada halaman belakangnya. Rusak tinta sebelanga. Tapi murah. Itu letak pentingnya. Jadi kalau dikasih uang seribu dapat dua buku leces. Atau beli satu saja lumayan uang lima ratus waktu itu bisa dapat jajanan enak.

Setiap sampul buku kami beri judul “Aqidah Akhlak”- “Tafsir Al-Qura’n”-“Tarikh Islam” – “Tauhid” -“Ibadah” -dan bahasa arab. Sesuai dengan mata pelajarannya. Mata pelajaran yang paling sering mencatat adalah tarikh atau sejarah Islam. Jadi kalau mau belajar tarikh bukunya harus tebal. Atau persiapkan buku cadangan. Atau kau baca saja buku cetaknya ada dilemari pak Daman. Buku yang sering kubaca adalah buku mengenai sejarah 25 nabi. Mulai dari nabi adam sampai nabi muhammad. Bukunya sangat tebal setebal buku La Tahjan. Aku tak pernah bosan membacanya karena memang belum selesai; terlalu tebal untuk anak kecil seperti kami.

Pak guru kami adalah pak Daman. Dulu ia mengajar di kelas satu sejak aku jadi anak bawang. Ikut duduk dan mendengarkan bersama sepupu (anak dari bibi) yang usianya tiga tahun lebih dariku.

Sekarang pak Daman mengajar lagi di kelas tiga dan empat. Aku bertemu lagi dengan beliau. Kalau ada penghargaan guru agama paling lama dan sanggup bertahan. Beliaulah pak Daman. Pak Daman pandai bercerita mengenai sejarah Islam. Setiap hari ia memakai peci, kacamata dan celana panjang kecoklatan. Tidak pernah kulihat ia memakai sarung. Berbeda dengan guru yang lain. Selalu memakai sarung yang setiap hari berbeda corak dan warnanya.

Pak Daman adalah guru paling rajin yang pernah aku kenal. Dia yang pertama datang dibanding guru lain. Walaupun rumahnya sangat jauh. Jauh sekali. Malahan paling jauh diantara guru yang rumahnya paling jauh. Walau hujan pun dia sempat datang memberi bekal kehidupan dan ujian kenaikan.

Aku sedikit kesal dengan yang namanya ujian. Persaingan yang tidak sehat. Dimana-mana begitu. Terkadang yang menyontek nilainya lebih tinggi. Mana tahu guru jika yang demikian hasil dari perselingkuhan dengan kertas contekan? Tak bisa dipungkiri hari ini berbeda dengan hari kemarin; dulu hanya sekedar kertas sekarang bisa lewat handphone dan internet tanpa batas. Atau malahan guru mengira nilai tinggi tersebut hasil dari padahal siswa tersebut jujur tidak dibuat-buat. Semua serba praduga dan purbasangka. Jawaban-jawaban ujian pun penuh prasangka. Keadilan akan sulit ditegakkan selama mata kita hanya ada dua di depan.-Tapi tidak di madrasah.

Untuk buku ujian kami menyediakan buku tersendiri dan disimpan sendiri oleh pak guru. Jika sewaktu-waktu kami ujian, pak guru membagikan buku tersebut. Dan bisa dievaluasi sendiri oleh kami. Beberapa hasil ujian minggu lalu tertera dengan jelas beserta dengan catatan merahnya.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook