Fase 030 - The Big Water

Agustus 04, 2018

Ada yang belum pernah menginjak gelinya pasir pantai? Ada yang belum pernah merasakan pijat refleksi oleh ombak pantai? Kebetulan anak-anak SD kujang satu akan perpisahan. Kami mendapat pilihan untuk berekreasi ke pantai pangandaran. Karena ada sedikit ganjalan dalam segi pengeluaran maka kami anak-anak sekolah dasar diberi tiga pilihan: diadakan pentas seni dan PKK (memasak), PKK dan liburan ke pantai Pangandaran, terakhir pentas seni (perpisahan) dan liburan ke pantai Pangandaran.

Jelas aku lebih setuju dengan pilihan terakhir. Kalau acara masak-memasak dirumah juga bisa! Kalau ke pantai itu adalah pengalaman luar biasa.

Ada yang tahu apa itu PKK. Entah apa. Yang pasti saat aku kelas lima SD. Sering aku lihat anak-anak kelas enam membuat masakan dikelas sebagai acara perpisahan. Satu kelas dibagi beberapa kelompok. Tiap kelompok membawa alat dan bahan masakan. Sering air liurku menetes karena aromanya yang sedap.

Nasi hangat yang mengepul, sayur sop daging yang menggiurkan lidah, daging ayam yang renyah, buah pisang yang mantap dan segelas air susu yang menambah sempurna. Empat sehat lima mau semuanya.

Tapi aku ingin ke pangandaran. Sebab ini adalah pengalaman libuan terakhir dengan teman-teman. Akan jadi kenangan yang tak terlupakan!

“Obatnya sudah dibawa, Kak?” Pagi-pagi Ibu sudah mengisi tas dengan bekal dan pakaian.

“Kenapa Ibu tidak ikut?”

“Ibu harus menjaga adikmu. Yang lain juga tidak mengajak ibunya, kan?” Memang sih. Tapi aku ingin ibu ikut. Aku ingin ibu juga merasakan betapa gelinya menginjak pasir pantai dan berlari dikejar ombak.

Shubuh-shubuh sekali teman-teman sudah berkumpul. Ceria sekali waktu itu. Kawanku di SD ada enam belas orang. Nining, Bedah, Aji adalah kawan bermainku. Ada juga murid paling pintar yaitu Ida dan pipit. Ida selalu nomor satu disusul pipit setelah itu aku bersusul-susulan dengan Bedah di angka 3. Ada apa dengan angka tiga? Hampr petualanganku berkenaan dengan angka tiga.

Ini ombak. Ini pasir putih. Ini batu hiu. Ini laut. Sebuah hal baru yang aku dapatkan bersama kawan-kawan. Anginnya kuat. Sampai aku bisa saja terbang tanpa kekuatan.

“Saatnya berenang!!”

Kami anak-anak sekolah dasar masuk ke dalam air laut yang asin, berlomba-lomba sampai ke tengah menyapa ombak lalu mengantarkannya lagi ke tepian. Kakiku hampir tidak bisa menginjak pasir. Aku seperti melayang diantara himpitan plastik-plastik udara. Hampir semua kawanku masuk ke dalam air. Aku masih ingat wajah Pak Ola wali kelas enamku yang dengan sangat kerepotan memegang tali pelampung kami. Takut kamu terlalu ke tengah dan tertelan ombak selatan.

Aku duduk kembali ditepian pasir menyaksikan ombak bergulung dan mengejar kawan-kawanku. Aku sudah puas mandi garam. Aku ingin menghampiri pasir dan melukis sesuatu disana. Pasir ini pasir yang sangat lembut. Hingga diinjakpun tak ada sakit yang amat sangat.

“Agus, Ayo kita berenang!” Khido membawa papan selancar. Ia membuka pakaian penutup dadanya dan bergelut dengan ombak serta sengatan matahari. Hampir coklat tubuhnya.

“Nanti sajalah. Oh ya Dho, darimana kau dapatkan papan selancarnya!”

“Sewa!” ia tak banyak bertanya ia langsung menantang ombak dan berlari sampai ke tengah. Kawan Seposko ku itu sangat suka olahraga, maklum dia anak olahraga. Sedang aku tak terlalu berani menatang ombak. Aku hanya berharap dapat ikan laut dan kerang supaya aku dapat sedikit referensi.

Aku pernah ke pantai Santolo di Garut. Lautnya selalu surut, sehingga berbagai jenis ikan, kerang, dan hewan lainnya dapat kita tangkap dengan mudah. Tak ada ombak sehingga aku bisa sampai ke tengah sambil berjalan, tidak takut kebasahan atau tenggelam. Disana kami meneliti dan belajar mengenali binatang invertebrata. Ada kerang, landak laut, bintang laut dan keanekaragamannya.

Tapi disini di pantai pangandaran tak ada tempat seperti itu. Sepanjang pantai hanya ada ombak besar dan wisatawan yang bermanja dengan ombak besar. Tak pernah aku melihat sepi. Dari saatku Sekolah dasar sampai sekarang. Meski sudah terbasuh tsunami tetap saja tidak menyurutkan hasrat kami untuk datang sekali lagi ke pantai ini.

Kawanku Fajar juga sekarang sedang berada di pangandaran tepat saat liburan semesternya. Jauh-jauh dari bandung hanya untuk pergi ke pantai yang mungkin sama dengan tanah kelahirannya di Sukabumi. Jika benar photo di facebooknya ia sedang berlibur kemari, mungkin saja aku akan bertemu dengannya sekali lagi.

“Gus, kita kumpulin kerang yuk?” Aji kawan SD ku mengajak kami anak-anak sekolah berlomba mengumpulkan kerang. Buat oleh-oleh rasanya okeh. Ada yang menemukan kumang, ada yang menemukan ikan ajaib, bulat seperti balon, dan ada yang mengumpulkan pori-pera yang sudah memfosil. Senangnya bisa menghabiskan liburan akhir tahun di pantai.

Merindu kembali pada angin dan ombak-ombak besar. Merindu pada karang-karang dan pasir pantai yang tergenang. Merindu pada asiknya bermain pasir di pantai selatan.

Lihatlah pula buih-buih lautan. Menangkap satu persatu secara sembarang dan berlari mengejar ombak berlomba ke daratan. Seorang pemuda bertubuh tinggi dengan kulit sawo matang terbakar menitipkan kaca minusnya padaku. Ia berlari sambil membawa papan selancar. Menerobos ombak dan bercanda dengannya. Disusul secara acak oleh manusia-manusia lainnya. Anak kecil sampai dewasa berbaur satu bermanja-manja dengan pantai laut. Suara tawa membahana membelah ombak. Menghabiskan jam hari di pantai Pangandaran.

Shubuh sebelumnya aku terjaga dari tidur. Tak biasa-biasanya aku bangun saat adzan shubuh berkumandang. Aku tidak biasa berlama-lama tidur di kamar pengap berempat. Aku juga tidak mungkin membangunkan mereka. Lelah. Setelah perjalanan jauh.

Tapi aku tidak biasanya tidak merasakan hawa dingin shubuh hari. Mataku juga tidak terlalu mengantuk. Mumpung sedang di tempat baru aku mau jalan-jalan shubuh ini.

Tempat pertama yang aku kunjungi adalah letak masjid yang paling dekat dengan penginapan. Aku akan mempergunakan indera pendengaran. Mencari mesjid dengan hanya mengandalkan suara adzan. Aku harus bergegas sebelum kalimat adzan padam. Seolah aku Si Sayap Besar mencari sasaran menggunakan radar.

Dimana mesjidnya? Aku bergegas melompat dari kasur. Melewati khido dan dengkurannya berhasil melewati asep yang tertutupi sarung. Dan oh dimana Ahyad? Dia tidak ada di atas. Aku cari dulu handphone buat persiapan kalau-kalau aku ke sasar. Tapi Hp ku ga ada entah siapa semalam yang minjam. Oh aku temukan. Bukan handphone tapi Ahyad tengkurap di atas lantai. Nanti kalau pulang aku tanyakan apa yang telah terjadi padanya hingga ia lengser dari atas kasur. Aku berhasil melewati hambatan pertama.

Dengan mata yang agak rabun ku cari sarung, peci dan sweeter. Setelah itu aku mengurung diri di kamar kecil. Dengan rambut berantakan aku tutupi dengan peci. Dan untuk jaga-jaga kalau masuk angin aku pakai sweter. Aku basihi muka saja. Aku tidak mengambil air wudlu disini. Nanti saja di mesjid supaya sensasinya terasa beda. Airnya asin tidak ya.

Aku juga berhasil melewati pria-pria kelelahan berbaris mirip ikan tongkol. Dengan hati-hati jangan sampai membangunkan mereka. Semalam kemana mereka? Tahu-tahu mereka sudah terdengkur di lantai ruang keluarga. Waktu mendiamkan peristiwa. Apakah harus aku bercerita tentang semalam. Atau biarkan itu jadi rahasia semata.

Dalam kegelapan aku meraba-raba suara adzan. Melewati beberapa tikungan dan jalan besar. Sebentar-sebentar aku lirik kebelakang. Sambil mengingat-ingat jalan pulang. Aku tahu suasana kegelapan akan berbeda saat terang benderang. Melewati pohon besar dan studio radio. Oh. Ternyata disini ada radio juga. Apa aku boleh siaran sambil mengisi liburan?

Bintang-bintang bertaburan mengisi angkasa. Terang benderang seperti keramaian saat hari raya tiba. Bulan nampak melingkar sempurna dan diselubungi syal putih menambah anggun nampaknya. Aku mencoba mencocokan garis-garis rasi bintangnya. Sambil tak henti-hentinya tanganku menunjuk dan menggeser jari ke atas langit. Sudah mirip touch screen saja. Ku coba hubung-hubungkan garis koordinatnya. Namun nampaknya aku tidak mengusai tentang rasi bintang. Jadi aku hanya mengagumi sambil menikmati bintang paling terang.

Kejadian semalam sungguh perlu dirahasikan. Tapi aku tak henti-hentinya kenapa tempat maksiat itu tidak dibongkar. Sebuah tempat dekat pasar malam dekat pantai. Tempat terlarang bagi seorang bujangan.

Kami serombongan pemuda hendak mencari kelegaan sehabis menghadapi rutinitas yang menguras tenaga dan pikiran. Lalu kami mengiyakan pergi ke pantai Pangandaran. Sejak seminggu yang lalu pun aku merasa ada yang tidak beres dengan rencana ini. Tapi sayang aku sudah menyimpan tabunganku pada mereka jadi aku terpaksa ikut liburan esok sorenya.

Kami menyewa sebuah rumah di belakang pasar. Setelah tawar menawar harga akhirnya kami menyerah dengan penerimaan biaya penginapan semalam yang segitu tidak wajarnya. Kemahalan.

Setelah menyimpan tas dan perlengkapan, kami diajak berkeliling sekitar pantai. Menikmati nasi goreng yang lagi-lagi dengan harga yang kurang wajar. Kemahalan. Lalu menikmati desiran ombak malam di pantai utara lalu mengunjungi pameran dan pasar malam. Kami mengitari pantai sambil merasakan lembutnya angin pantai dan suara gemuruh ombak di pantai. Lantas tiba-tiba aku diajak ke sebuah tempat terlarang. Berjajar rumah-rumah makan sederhana. Kedai-kedai yang berkedok minuman haram. Kami saat itu hanya melewatinya saja. Ingin memperlihatkan beberapa tempat katanya.

Kulihat sekitar jam dua belas malam lebih. Ramai sekali rupanya. Tak mungkin kami begadang sedang besok ada kegiatan berenang di pantai. Lalu kami pulang ke penginapan dengan perdebatan yang amat melelahkan. Ada yang ingin tetap tinggal ada pula yang ingin pulang.

Rasanya tak pantas menulis terlalu rinci masalah ini. katanya pemerintah dan MUI setempat sudah memperingatkannya tetapi masih ada saja lokasi yang berdiri ramai berkedok rumah makan pinggir jalan. Dengarlah suara musiknya kencang mana mungkin tidak ada masyarakat lokal yang mendengar.

Hidup memang tak bisa kita kendalikan. Penuh kejutan dan prasangka yang berlebihan. Aku masih kepikiran kenapa tidak ditutup saja tempat itu.

Aku sangat lelah dan memilih berbaring di kamar. Setengah sadar aku tertidur dan masih terbangun karena satu kamar berempat. Ku dengar ada suara pintu luar dibuka. Dan rencana-rencana jahat mulai bersiap.

“Tidur, Gus! Sudah jangan dihiraukan. Itu urusan orang!” Khido sepertinya tahu apa yang aku pikirkan. Khido boleh dibilang lebih dewasa daripada yang lainnya.

“Tapi..” Aku susah mengatakannya. Mau kemana mereka malam-malam begini. Apa mau ke tempat tadi. Apa iya mereka mau mendatangi tempat bujang bunuh diri? Apa ia mereka akan ke sana? Apa yang akan mereka perbuat? Apa ia mereka berani bermaksiat? Apa anak muda seperti kami wajar saja? Atau hanya aku saja yang ketinggalan zaman?

“Sudah, mending kamu charger kameranya. selagi tak ada yang menggunakan apalagi besok kita akan berkeliling pantai dan berenang, istirahat dulu sekarang!”

“Tapi?” Aku masih kepikiran. Kulihat Ahyad sudah tertidur disebelah. Syukurlah ia tidak ikut ke sana. Sebab dia adalah diantara orang yang kompak pada rencana sebelumnya. Tapi entah kenapa ia tidak ikut bersama mereka. Kak Khido juga tak bergerak pergi. Sebab jika dia pergi pada siapa lagi aku berteladan.

Malam kian pekat. Dinginnya menguapkan keringat. Mata terpejam rapat. Dan mimpi kembali mengikat manusia-manusia dalam istirahat.

Di tempat ini aku menemukan catatan yang ku garis tebal. Sudah berulangkali kemari tapi aku merasa selalu ada petualangan yang berbeda. Saat Saat usiaku baru 12 tahun aku hanya asik bermain pelambung udara di tepian pantai, memunguti kerang dan kumang dan berkumpul bersama kawan. Saat aku berpetualang dengan rombongan suatu partai aku hanya menikmati pantai pangandaran dengan hanya membenamkan saja kaki di pasir putih, berkeliling naik perahu, main bola di pantai dan ditraktir makan ikan laut yang sangat banyak. Hingga aku ketagihan.

Selang beberapa bulan lagi aku menjadi panitia Ospek Mahasiswa hanya berkeliling di hutan lindung untuk meneliti berbagai tumbuhan dan sekali-kalinya menginap di hotel. Tak lama setelah itu bersama kawan-kawan seposko aku bisa sepuasnya mengenang ombak seperti saat masih anak-anak, berselancar sepuasnya dan menghabiskan waktu seharian di pantai sampai kering kulitku terpanggang matahari dan dibaluri garam lautan. Dan satu yang aku paling senang adalah jalan-jalan saat tengah malam, mencicipi makanan di pesisir pantai lalu tanpa sengaja menemukan tempat lelaki hidung belang telanjang.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook