Fase 022 - Ayam Bakar #1

Agustus 04, 2018

Pagi itu aku sudah mandi. Tidak lagi membasuh muka saja tetapi byur byur seluruh badan. Segar juga ternyata. Tak perlu yang namanya air hangat. Sangat merepotkan apalagi jika ada aktifitas yang segera dilakukan shubuh hari. Pagi-pagi sekali.

“Sarapan dulu, Kak!” Berbeda dengan ibu. Aku tidak serajin dirinya. Bangun pagi saja kalau tidak ibu bangunkan akan labas sampai pukul tujuh. Tipe pertama orang pemalas yaitu kurang bisa bangun pagi-pagi. Padahal rezeki sedang dibagikan pagi-pagi sekali.

Tapi kalau ada makanan hilanglah rasa malas. Siapa pula yang akan malas makan jika dihadapan kita ada makanan hangat yang telah disiapkan ibu. Apalagi makanan kesukaanku. Kata kawanku Arif Ramdhani, “Makanan dari ibu mengandung berkah, selain sehat juga terjamin halalnya”.

“Bu, aku mau bekal nasi ke kampus” Segera ku habiskan sarapan di dekat televisi. Biasanya setelah acara Mamah Dedeh “Curhat dong Mah! Mah..mah mamah!!!” lalu dilanjutkan Liputan 6. Setelah itu tak jauh dari dunia pergosipan.

Tapi aku lebih suka melihat kartun Spongebob. Ada hikmah dan pelajaran besar dari persahabatan si kuning Spongebob dan Patrick si bintang laut merah itu. Pertama jika dilihat dari mata biologi maka ini film ini akan menjadi media pembelajaran yang efektif bagi anak-anak untuk mengenal dunia bawah laut.

Yang ke dua dari segi pembelajaran karakter. Meski mereka berdua berbeda tapi semakin solid saat melakukan kekonyolan-kekonyolan yang mereka buat. (tapi kekonyolan ini perlu didampingi orang dewasa agar anak-anak tidak seratus persen meniru tingkah mereka.) Cukup mereka bisa meniru suara tawanya saja.

“Haaaaaaa.. Haaaaaaaaa.. Haaaaaa..”

Ketiga mengajarkan kesetiaan. Spongebob juga punya karakter mau belajar apa saja pada makhluk apa saja termasuk Shandy si tupai ilmuwan. Spongebob juga konsisten dan punya dedikasi tinggi terhadap pekerjaan dan tempat kerjanya di rumah makan Tuan Crab. Menjadi koki dijalaninya dengan tawa dan senyuman. Tak pernah aku lihat ia bersedih atau uring-uringan saat bekerja. Meski diganggu Squidword ia tetap menghadapinya dengan tawa-dan tawa yang khas. Tak ada dendam tak ada permusuhan. Kejahatan tidak harus dibalas kejahatan.

“Gus, kalau mau daftar seminar bisa langsung ke aku. ya” Lutfi memotong konsentarsi perkuliahan. Langsung buyar dan tak ada tanggapan apa-apa untuknya untuk beberapa detik.

“Berapa, Fi? Kapan bayarnya, Fi? Kan kita mau KKL ke Situ Panjalu, Fi?”

“Besok terakhir, tujuh puluh ribu!” Singkat, padat dan tak kepalang tajamnya.

“Kalau enggak ikut ga apa-apa kan, Fi?”

“Siap-siap saja dipersulit saat sidang skripsi!” Tak beralasan. Aku diam tak menyambar. Aku kembali menatap LCD perkuliahan “Ekologi hewan”.

“Kalau ngobrol denganku serius melulu!” menggerutu.

Terlalu banyak pengeluaran. Kenapa harus terjadi saat aku tidak lagi bekerja. Tidak ada penghasilan tambahan. Apa yang harus aku lakukan. Tidak mungkin lagi aku mengiba memohon jadi penyiar radio lagi. Cukup bakatku yang jadi korban.

Suasana perkuliahan mulai berantakan aku tidak lagi bisa mengingat perbedaan antara Habitat, Populasi dan Komunitas. Hampir mirip. Ada lagi Niche atau relung. Kata relung ini sering aku temukan dalam syair-syair puisi: semacam relung qolbu ku yang terdalam.

“Seminar apa sih, Gus?” Iwan merapat padaku.

“Seminar lingkungan hidup” Aku duduk merapat barisan syura’ LDK. Syura’ berarti pertemuan. Bisa juga dibilang meeting atau rapat barangkali. Bicara soal rapat, sejak sekolah dasar dan lanjutan sering aku mendengar kata rapat ini.

“Koq, pulang sekolahnya cepat, Kak?”

“Katanya gurunya ada rapat, Bu!” Begitulah yang ku dengar saat sekolah dasar.

“Kalau di Fakultas Ekonomi berapa Wan kalau ada seminar?” Aku mulai menanggapi keingin tahuan Iwan.

“Paling besar 50 ribu. Kadang-kadang kurang dari itu.”

“Murah ya!” Pikirku begitu. Padahal dapat uang 5 ribu saja tak tahu caranya.

“Iya.. soalnya kan seminar ini hanya untuk FE saja. Nah kalau objeknya luas mencakup masyarakat umum dan seluruh mahasiswa di kampus. Baru agak mahalan!”

“Ada yang hendak ditanyakan dari peserta syura?” Ketua LDK meminta peserta syuro untuk memberikan saran dan pendapat atau hal-hal yang kurang dipahami. Lutfi menyikut pinggangku disuruhnya aku diam sebentar karena syura sedang berjalan.

Bulan ini banyak sekali yang harus dipikirkan. SPP dan semester belum dilunasi. Minggu depan harus bayar KKL ke Situ Panjalu. Besok harus bayar seminar. Besoknya lagi apa lagi yang harus dibayar?

“Ayo, Kak cepetan berangkat kuliah!” Ibu mengembalikan kesadaranku dan menuangkan nasi pada piring adik. Disuapinya. Manja.

Kalau aku memaksa bisa durhaka. Sedang dalam tabungan saldo pun tak punya. Darimana aku dapat tiket seminar tujuh puluh ribu. Aku menyesal kenapa tidak kemarin-kemarin saja membicarakan masalah ini sama ibu. Jadi ibu tidak terlalu syok. Mana ini akhir bulan. “Mau cairin apaan ya?”

“Kakak, berangkat saja dulu ke kampus!”

“Tapi Bu, harus ada uang pendaftaran dulu!”

“Kawan-kawanmu sudah bayar? Lutfi sudah bayar?” Aku mengannguk. “Lutfi panitianya, Bu!”

Aku tidak akan mengaku dulu jika kemarin aku tidak mengikuti rapat HIMA (Himpunan Mahasiswa) Biologi. Karena kalau pengurus HIMA pasti akan jadi panitia. Sayang sekali waktu itu aku ada keperluan. Jadi dua kali berturut-turut tidak hadir saat rapat dan teknikal meeting. Mau ditaruh dimana harga diriku ini jika minta digratiskan mentang-mentang pengurus.

Lima menit sudah berlalu berita pagi sudah berakhir dan diganti acara gossip pagi. Aku semakin kalut. Galau. Apa aku harus ke kampus. Tanpa rasa malu. Tanpa membawa uang 75 ribu. Bagaimana caranya biar bisa ikut seminar ya? Kenapa harus mahal-mahal sih biaya pendaptarannya? Apa tidak bisa ceramah saja di kelas?

Baru kali ini aku sadar setelah aku berada di bawah kekuasaan jabatan. Dulu saja saat jadi panitia suatu acara dan lomba, aku dan kawan-kawan lainnya lebih menyetujui pendaftaran dinaikan agar dapat menutupi uang kas kembali. Syukur-syukur dapat menambah uang kas HIMA untuk kegiatan selanjutnya.

Tapi kali ini berbeda. Aku tahu sekali uang segitu tidak boleh diremehkan. Karena hanya dapat 1000 saja susahnya tidak ketulungan.

“Kakak, Sudah pukul tujuh! Berangkat sana!”

Aku berharap hujan datang mengurungku di rumah biar ada alasan tinggal di kamar. Tapi bayangan akan dipersulit saat sidang skripsi membuat aku ngeri. Aku juga tidak mungkin meminta pada ibu dalam jangka waktu hitungan menit. Harusnya aku tidak lagi meminta tapi memberi padanya. Oh ibu maafkan ananda jika kali ini ananda meminta kesediaannya mengeluarkan uang tujuh puluh ribu!

Aku punya rencana ke dua. Aku memang tidak akan membayar pendaftaran. Tapi aku akan duduk saja di luar. Menguping pembicaraan. Mencatat apa apa saja biar suatu saat ada yang meragukan kehadiranku aku sudah punya bukti dan alasan kuat.

Atau aku rekam saja pembicaraannya. HP adikku! Ya aku rayu saja biar ia menukar hapenya. Sekali saja bergantian. Sebab ada aplikasi record nya. Mula-mula ia memang tidak mau. Tapi dengan sedikit tipu muslihat berlindung di ketiak ibu. Akhirnya atas pembelaan ibu. Aku dapatkan alat canggih itu.

“Tapi janji ya kak, enggak boleh telat. Saat Ade pulang sekolah nanti hapenya harus ada! Titik!”

“Beres!”

Sepeda motor sudah aku panaskan. Aku sudah siap pergi ke seminar. Ku salami dan ku ciumi tangan ibu dan terimakasih pada adikku.

“Jangan lupa!” katanya.

“Beres! Nanti kakak kasih oleh-oleh, deh!” Bisa-bisa aku saja biar tidak cerewet “Kalau ada!” Tambahku pula. “Assalamu’alaikum?”

Hampir pukul tujuh.

“Jam delapan tiga puluh jangan lupa langsung saja ke bagian pendaftaran di auditorium, ya!” Sms lagi.

Belum beberapa meter dari pekarangan. Aku balik lagi. Aku ragu. Apa iya aku mau merendahkan diri. Ah. Rencana yang kurang masuk akal. Bagaimana kalau ada satpam yang menjaga di bagian depan? Bagaimana kalau lapar? Bagaiman kalau seminarnya berlangsung berjam-jam? Ah. Rencana yang kurang mantap.

“Berangkatlah Kak! Insya Alloh bisa!”

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook