Fase 020 - Surat Untuk Fajar

Agustus 04, 2018

Aku malas mengakuinya. Tapi setiap pertemuan itu pasti akan ada perpisahan. Dan pertemuan setelah perpisahan aku tak pernah mengalaminya. Berbeda rasanya jika sudah jauh terpisah.

Fajar. Sahabatku yang sangat lucu. Aku tak menyangka ternyata ada pemuda seterbuka itu. Setiap hari berbincang padaku. Hingga aku sulit berbincang balas denganmu. Kau mendominasi setiap percakapan. Tentang photo pacarmu; tentang hantu di rumah kakekmu; tentang sekolah barumu; tentang mimpi-mimpi besarmu. Aku sudah cukup puas. Aku sudah cukup termotivasi oleh semangatmu. Tapi mengapa terlalu cepat Tuhan kembali melepas rantai itu.

Rancangan tuhan memang sungguh sempurna. Sesempurna kau. Laki-laki manapun pasti iri. Dengan rambut lurus pendek dan suara yang berciri khas. Tinggi badan yang lebih. Dan kendaraan yang menggema setiap berangkat sekolah. Sungguh itu suatu pertanda jika kau bisa jadi trendsetter di lingkungan kami. Aku baru sadar setelah kepergianmu; banyak hal yang serupa dengan gaya dan tingkahmu.

Satu pertanyaan yang dulu pernah ku utarakan. Kau kenapa bisa sekolah di kota kami. Padahal kota kami sangat sempit dan tidak sekomplit di tempatmu berasal. Aku lupa jawabanmu apa; ku anggap kau mau mandiri tanpa orang tua disini. Aku kira hanya dongeng saja ada pemuda yang berkelana mencari ilmu; hingga aku menemukan sosok baru dan memotivasiku untuk meneruskan kuliahku.

Katanya kau ingin membuat perusahaan; aku ingin membangun fasilitas pendidikan dan kesehatan. Kau lebih suka ikan sarden dalam kaleng; padahal kau tidak tahu aku tidak suka baunya. Aku lebih memilih petai yang alami daripada makanan beku.

Kau tahu kan aku dari desa; yang biasa sekolah berjalan kaki. Berangkat pagi hari dan pulang sampai malam untuk menghemat uang jajan. Bagaimana caranya aku menabung. Sedang aku iri setiap bulan kantongmu tebal. Bentar-bentar pergi ke ATM. Sementara sampai saat ini aku masih kikuk bertemu dengan nama itu.

Kau banyak bercerita, jar. Sungguh aku tak pernah bosan; meski kau bercerita dengan bualan misalnya akan aku dengarkan. Bagiku itu hiburan sebagaimana ibuku mendongengkan cerita setiap malam. Harusnya aku yang mendongengkanmu. Kau harus tahu daerah seperti apa Ciamis ini. hanya saja aku tak sepandai lidahmu. Aku juga kurang begitu selera berbicara bahasa nasional. Aneh saja gitu. Orang daerah berbicara bahasa indonesia.

Bisa terhitung bulan pertemuanku denganmu. Tapi bagiku itu suatu sekolah. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa aku simak setiap kali mengikuti arahmu. Aku orangnya bebas; bebas belajar dari siapa saja. tak perduli selisih satu tahun denganmu. Bagiku ilmu ada untuk dipahami.

Pepatah bilang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sejak keluargamu datang ke kota kami. Sungguh mereka keluarga bahagia. Kau beruntung bisa berkumpul dengan mereka. ayah dan ibumu sibuk sepertinya ya? Aku mulai sadar itu adalah suatu didikan dari keluargamu apalagi kau anak lelaki pertama. Harus bisa mandiri dan tidak manja. Meski kau bisa berubah menjadi manja. Apalagi sampai memamerkan potongan rambut barumu.

Aku mulai sadar kehadiranmu bisa memperlancar gaya bicaraku. Yang selalu malu-malu dan tak seterbuka dirimu. Aku belajar bagaimana melatih vokal. Aku perlu beradapatasi dan mengimbangi pembicaraanmu. Aku tidak mau selamanya menjadi pendengar setia, berilah jeda untukku bercerita, kawan!

Kau belum bertanya bagaimana kehidupanku. Aku juga tak mau tiba-tiba bercerita seluruh cita-citaku. Aneh saja kita seperti sudah kenal jauh sebelum ini. dan kau tanya siapa mantanku? Aku bilang aku belum pernah pacaran. Kau malah tertawa bilangnya jangan bercanda. Kau bilang lagi ingin berguru padaku. Ilmu apa yang bisa memuaskan perhatianmu tentang wanita dan seluk beluknya?

Aku belajar mandi setiap hari; aku belajar merawat diri. Aku kalah sama pemuda kota sepertimu. Aku biasa saja tidak ganti baju selama tiga hari. Aku tak perduli. Tapi berbeda dengan kebersihanmu. Kalau aku memang belum dewasa aku masih belajar. Entah didikan yang tertutup atau sama sekali belum pernah berpergian jauh kecuali study tour ke Jogjakarta. Aku belum paham dengan cara pria merawat tubuhnya.

Tak ku kira rantai itu memutuskan dengan sendirinya. Kau sedang menapaki setengah perjalanan suksesmu; dan mampir sebentar di kotaku. Aku do’akan kau lekas jadi pengusaha! Entah kenapa aku yang tadinya bercita-cita cukup berjaya di daerah. Sekali-kali ingin pula berlayar memutari dunia. Sama sepertimu yang berenang mencari arus yang deras; aku pun ingin berselancar di udara dan di laut yang ganas.

Permata permata itu kembali terhempas ke sudut-sudut gelapnya. Entah menunggu siapa supaya jadi rasi bintang yang sempurna. Entah siapa lagi yang Tuhan siapkan untukku bisa mengambil pelajaran. Tapi yang pasti setiap yang datang akan ditandai supaya tidak lupa jika bertemu di waktu kemudian.

Inilah kehidupan baik jika kita menjalaninya dengan sadar dan sabar.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook