Fase 018 - Day Break #3

Agustus 04, 2018

Berdesak-desakan dengan para pedagang kaki lima. Berdesak-desakan dengan penghuni pasar. Ini dunia baru yang aku kenal. Bermacam-macam jenis barang dagangan bisa kita jumpai di pasar. Mulai dari minuman, makanan, perabotan, pakaian sampai dengan keresek hitam yang ditawarkan anak-anak pasar. Ini dunia baru. Bukan rumah bukan sekolah. Ini keduanya. Rumah tempat belajar bisnis dan kehidupan. Jika kita sedikit saja memberi waktu untuk memikirkan.

Sesak. Itu kata pertama kala seseorang yang baru datang ke pasar. Entahlah, biasanya aku hanya pergi ke warung dekat rumah, beberapa meter saja. Tapi mungkin jika kita terbiasa hidup dekat pasar akan berbeda pendapat dengan anak pedalaman yang hanya sewindu sekali atau hanya setahun sekali saja ke pasar perkotaan. Itupun saat membeli pakaian lebaran. Cuma sebentar. Setelah mendapatkan satu set pakain, atau hanya kemeja koko saja lantas pulang sambil membeli makanan untuk keluarga dan tetangga. Hidup sederhana memang membawa berkah tersendiri.

Panas terik matahari membuat pejalan kaki merapat ke pinggir kios-kios pedagang pasar. Berteduh sambil lirik kiri dan kanan. Jalan yang semestinya lebar menjadi tidak lebar karena banyak kendaraan yang parkir sebentar mencari muatan. Barang dagangan semakin banyak karena permintaan meningkat, alhasil barang dagangan dimuntahkan sampai pekarangan kios. Alhasil menumpuk seperti gudang. Tidak ada jeda, tidak ada pembatas antara pedangang kecil, pedangan besar, agen dan eceran. Karena diantara kios pedagang besar berdiri tempat usaha pedagang kecil yang duduk di emperan mencari tumpuan kehidupan. Itulah cara hidup sebagian anak adam.

Aku tidak mengerti banyak tentang kehidupan pasar dan perdagangan. Hanya ssedikit yang aku paham. Aku kenal paman yang punya kios buah-buahan. Seperti itu mungkin kehidupan. Manis, segar dan menyenangkan. Hampir setiap pulang paman datang membawa buah-buahan, jeruk, apel, sawo, mangga dan segala rupa. Atau seperti ayahnya Fajar yang punya toko kain. Fajar kelihatan keren dan elegan dengan pakaian yang ia kenakan. Apapun yang ia kenakan terlihat cocok baginya. Apapun termasuk jam tangan yang aku tanya berapa harganya. Seperti itulah mungkin kehidupan cukup dan menyukupkan.

Asap kendaraan menyatu dengan asap rokok, berpilin ke langit sampai berbukit-bukit. Mengepul sampai ke bermil-mil jauhnya. Bagian ini aku tidak suka. Terlalu berbahaya. Pencemaran udara. Tapi ada bagian yang aku suka ketika mencium udara pasar. Yaitu bau sedapnya mie ayam, bakso dan sate. Uh, menggiurkan! Inginnya melahap semua. Nyam nyam nyam. Tapi harus pilih satu.

“Nanti siapa yang bayarin ongkos pulang? Apa mie ayam dan sate kambing bisa membawa kamu sampai pekarangan rumah!” Itu kata ibu.

Rasa haus tak tertahan. Dahaga akut menyerang kerongkongan. Kepulan asap dari tusukan sate kambing sengaja dibakar agar mengundang perhatian. Godaan mie ayam pinggir jalan dan bakso Parahiangan tak ada yang bisa mengalahkan. Mereka bertiga adalah primadonanya jajanan pasar.

Padahal kalau kita perhatikan banyak areal pasar yang kurang memperhatikan lingkungan. Sampah dimana-mana. Lalat berpesta pora. Selokan mampat. Warnanya bukan lagi keruh, tapi hitam pekat. Seperti jelaga jika kau sendiri. Apalagi jika semalam hujan. Uh.. mana tahan!

Pasar identik dengan keramaian. Orang-orang hanya peduli jika itu urusan mereka dan mengganggu ketenangan pelanggannya. Barangkali. Ramai sekali. Selain pencemaran udara, pencemaram air, pencemaran tanah dan lingkungan juga pencemaran suara. Bising sekali. Berkoar-koar. Tak tanggung-tanggung dari mulai suara kaset original, VCD sampai DVD bajakan; Disusul dengan suara kendaraan berontak; Disusul siulan dari kelakson sepeda motor; Lalu diselingi panggilan mesra tukang sate “Tee.. sate...!”; Serta suara sopran tentang himbauan peduli kesehatan dari mbak jamu “Muu.. jamuu!”; Semua bersatu membentuk harmonisasi tersendiri.

Pedagang tak kalah tanggap mereka lebih ekspresif menawarkan dagangan agar pendatang yang hanya mampir sebentar bisa jadi pelanggan. Tak kalah dari pedagang, pelanggan menawar barang dengan semena-mena. Pedagang tak habis akal ia merayu sang pelanggan habis-habisan. Pelanggan juga tak kurang siasat dengan pura-pura pergi lalu balik lagi setelah pedangan mengiyakan dengan penawarannya. Pedagang pintar seolah-seolah ia kalah dan menyerah tapi itu siasat saja. Padahal ialah pemegang kekuasaan produknya. Terus saja begitu. Bukan dari satu kios tapi semua orang yang ada di pasar. Membentuk paduan suara koor susul menyusul, sahut-sahutan. Harmoni yang indah jika kau tak punya hiburan di rumah.

Tak jauh dari pasar terlentang rel kereta api. Menyahut tanpa berhenti. Kereta berlalu menyombongkan diri. Tak mau ia berhenti jika tidak di Bandung-Surabaya. Bolehlah naik dengan percuma. Ayo kawanku lekas naik. Keretaku tak berhenti lama.

Perhatian kini tertuju pada kereta. Mata-mata melirik makhluk besi berlari. Aktifitas sekejap terdiam menunggu kereta hilang dari pandangan. Hingga papan penghalang mempersilakan kendaraan berlalu lalang.

Pengalaman yang unik bisa melihat kereta di pasar. Lebih-lebih pengalaman unik saat naik kereta.(Ada di cerita sebelumnya). Pasar kini mulai beraksi kembali, suara kecrekan dan petikan gitar mulai dimainkan seniman jalanan lalu diprovokasi tukang sate “Tee.. sateee!!!’

Cerita ini begitu menyatu dengan potongan kisah masa lalu. Fajar mengambil dulu air kopi dan tersenyum siap bercerita tentang ayahnya saat berjalan-jalan melewati pasar. Kulihat giginya putih menyihir. Sesering apapun ia meminum kopi tak tampak noda hitam di giginya. Sungguh menawan. Aku mendengar ceritanya seperti aku sedang berada di pasar. Lengkap dengan sedap dari mie ayam. Seperti menghayati.

“Di makan dulu mie ayamnya, Gas, nanti aku ceritakan lagi!”

Fajar memang jago bercerita. Tentang apa saja. Tentang cerita cintanya, tentang pengalaman masa kecilnya di Sukabumi, sampai cerita hantu di rumah kakeknya yang ia sengaja racik untuk menakutiku. Entah benar atau tidak tapi ia menggambarkan design rumah kakeknya sampai aku hapal betul seberapa luasnya. Sebuah visualisasi yang diragukan kenyataannya. Kadang adakalanya hayalan kita bisa sama dengan apa yang ada. Realitanya. Itulah kekuatan yang tak kita sadari. Diantara kekuatan itu adalah mimpi, firasat ibu - anak dan saudara kembar tentunya.

Tak jauh dengan pamanku yang pengusaha buah itu pandai sekali ia bercerita. Sampai-sampai tiap sore aku sengaja merengek supaya diantar ibu pergi ke rumah paman. Itu saat aku masuk SD. Sudah aku ceritakan pengalamanku naik kereta dan jalan-jalan ke kebun binatang di Bandung pada cerita sebelumnya.

Diantara malam dan bintang yang menemaninya. Kali ini tak dapat kulihat kedipan manja mereka. Seolah pamit karena Fajar hendak menyala. Saatnya Fajar melanjutkan ceritanya.

Aku terbiasa mendengar cerita dan dongeng. Kali ini aku mengangguk saja meski terbersit perasaan ragu. Entah kisah nyata atau fiktif semata. Aku dengarkan saja sampai aku temukan sendiri jawabannya. Malam ini dia bercerita tentang ayahnya.

Aku menarik-narik tangan ayahku. Meski ragu-ragu aku bergelantungan pada lengannya.

“Aku ingin membeli mainan itu!”

Saat itu usiaku sebaya dengan anak sekolah dasar. Kebetulan saja ayahku pulang. Kebetulan pula aku diajak ke pasar. Aku lupa waktu itu hendak apa. Ayahku separuh hidupnya tinggal di kota hujan Bogor dan hanya sebulan atau dua bulan sekali ia pulang ke Ciamis. Hanya beberapa hari saja aku melihatnya di rumah. Paling lama sebulan itu pun saat bulan Ramadhan dan lebaran. Ramadhan memang ajang ngumpulnya keluarga.

Ayahku tipe keras. Hanya adikku yang dapat meluluhkan hatinya. Berbeda denganku. Entahlah. Aku tidak tahu bagaimana membuat ia tersenyum. Setelah kejadian ini entah motivasi apa yang membuatku. “Baiklah aku akan jadi anak yang sholeh yang mendo’akan ibu dan bapaknya. Suatu saat aku bisa berdamai dan membahagiakan mereka”

Sifat ayah sama kerasnya denganku. Kata ibu sifat ayah sama denganku. Sama-sama acuh dan tak perduli dengan pakain yang dikenakan. Asal enak saja dirasa maka baju apapun, aku pakai. Wajahku pun dominan mirip ayah daripada ibu. Konon jika wajah anak serupa dengan ayahnya maka tidak akan pernah akur. Terbukti kan? Selalu saja ada yang tak sepaham. Semoga aku salah dan ada yang mematahkan teori kuno itu. Teori menyesatkan!

Entah apa salahku. Apa aku anak pertama sehingga segala tindak tandukku dijaga dan diarahkan dengan seksama. Segalanya dilarang. Segalanya disuruh habis-habisan.

“Hidup itu harus getir, biar kesuksesan akan datang di masa depan. Lihat para pengusaha sukses itu. Dulu saat remaja mereka tak punya apa-apa. Tapi lihat sekarang karena mereka perih dan getir dalam hidupnya mereka bisa mikir (berpikir)!” Ayahku selalu berkata hal itu. Aku sudah bosan dengan pepatah itu.

Ayah Fajar berbeda aku kira. Sejak bertemu dengannya sifatnya sama dengan anaknya. Banyak cerita dan menyenangkan. Humoris dan rapi bersih.

Saat itu Fajar dan ayahnya berada di pasar. Sama-sama di pasar. Aku di pasar Pancasila Tasikmalaya sedang ia di pasar Sukabumi. Tapi caranya ia bercerita seperti aku sedang mengulang kembali potongan pengalaman tersebut. Seperti melihat pada dua layar infokus. Sebelah kiri cerita Fajar dengan ayahnya. Sebelah kanan cerita aku dan ayahku.

Aku masih merengek di jalan. Di tengah pasar. Aku terlalu kekanak-kanakan. Fajar juga begitu merengek pada ayahnya ingin membeli mainan. Jari kami sama-sama menunjuk satu mainan. Arah yang sama tapi ruang dan waktu yang berbeda. Entah imajinasi macam apa yang dapat menjelaskannya.

“Ayah aku ingin mainan itu!”

Pernah melihat kabut atau halimun di pegunungan? Seperti itu mungkin perumpamaan yang bisa aku jelaskan. Gunung setinggi dan sebesar apapun di depan mata tak akan kelihatan karena terhalangi kabut. Seperti siluman. Ada tapi tak terlihat wujudnya.

Aku ada di pasar. Fajar ada di pasar. Aku di Ciamis. Fajar di Sukabumi. Tapi aku merasakan bahwa Fajar dan ayahnya ada disekitar kami. Dia begitu dekat. Sebelum kami kenalpun aku merasa sudah dari kecil pernah bertemu.

Aku berbeda. Perbedaan yang terlalu mencolok antara kami. Aku anak pemalu dan pendiam. Sedangkan Fajar anak aktif dan gampang akrab. Aku anak melankolis, dia anak fragmatis. Ayahku keras, ayahnya tidak.

Di tengah pasar yang ramai dan orang-orang berjualan. Aku meminta ayahku untuk membelikan mainan itu. Aku suka mainan itu. Aku memohon-mohon pada ayah. Ini pertama kali dan yang terakhir kalinya aku di ajak jalan-jalan ke kota. Sesudah itu tak ada lagi ajakan. Dan tak ada lagi kesenangan.

Rengekan ku tak berhasil. Percuma aku menghinakan diri menangis di jalanan. Malah dengan sengaja ayah meninggalkanku di jalan agar aku berhenti menangis. Mungkin ayah malu dengan kelakuanku. aku tak tahu kesalahan apa yang aku perbuat sehingga tidak ada jajanan yang aku peroleh dari jalan-jalan itu. Ayah meninggalkanku.

Berbeda yang ku lihat di seberang jalan itu. Anak dan ayah berjalan beriringan dan hampir berpapasan denganku. Anak itu sama halnya denganku ingin mendapatkan mainan itu. Ia lebih cerdik daripada aku. Ia berani menangis dan mengancam tidak mau pulang kecuali mendapatkan mainan itu. Aku kalah taktik.

Ayah masih dengan nada ketus dan muka merah padam menahan malu menarik lenganku dan segera pergi dari tempat itu. Ayah memaksaku menghentikan tangisan itu. Jika aku menangis maka aku tahan supaya tak terdengar hanya air mata dan mata memerah yang menjadi pelampiasan.

Ku lihat di sana anak itu berhasil dengan taktiknya. Pura-pura tidak mau pulang dan menangis sejadi-jadinya tidak setengah-setengah. “The best acting”. Akhirnya ayahnya membelikan mainan itu, ia seketika menghentikan tangisannya dan berlalu meninggalkanku dengan senyuman yang hampir menusuk jantungku.

“Tuhan, kenapa aku tidak sepandai dia?”

“Aku tidak tahu mengapa aku suka boneka si cepot!” Fajar menghentikan ceritanya.

Cepot adalah salah satu tokoh dalam pewayangan yang suka dimainkan dalang sebagai lakon pembawa cerita. Aku terdiam. Diam-diam menyeka air mata. Ia tidak pernah tahu jika yang ia ceritakan sangat membuat aku terharu mengingat kejadian itu. Padahal sebenarnya Fajar menceritakan kisah serunya bersama ayah. Sedangkan mainan yang paling aku suka adalah mainan kereta api. Gagah sekali langkahnya melewati pulau jawa.

“Suka dengerin cerita pewayangan?”

“Aku malah takut dengerin sendirian malam-malam. Ada unsur magis yang mengikutiku sampai ke mimpi segala!”

“Ah. Kau saja yang berlebihan. Dasar penakut! Tapi ada benarnya juga lho Gas, setiap orang yang tidak menonton sampai tamat suatu acara wayang yang digelar di panggung terbuka. Maka ia tidak akan pernah bisa tidur pulas!”

Aroma mistis mulai mengganggu tenggorokanku. Sampai aku harus menata ulang pernafasan agar tidak tersedak. Suasana juga malah semakin dingin membekukan dada. Apa memang benar orang yang meninggalkan acara sebelum selesai tidak akan bisa tertidur. Jangan-jangan.

“Kau bercanda kan? Kali ini tidak serius kan?”

“Lho, ini kenyataan, Gas!”

“Apa ia diganggu arwah dari pewayangan? Apa jangan-jangan ia jadi tumbal?”

“Kau nih, makin lama makin ngawur lagi. Maksudku orang yang tidak mendengar sampai selesai memang tidak akan bisa tertidur pulas. Bukan karena ketakutan seperti bayanganmu itu”

“Lantas, apa lebih menakutkan dari itu?”

“Bentar dulu jangan suka memotong cerita makanya, ada-ada saja kau ini, Gas. begini mereka tidak bisa tidur karena penasaran..”

“Tuh kan, penasaran? arwah siapa? Sudahlah!”

“Dengerin dulu kawan! Jangan memotong aku bilang! Kau nih parno sekali. Mereka tidak bisa tidur karena penasaran cerita selanjutrnya bagaimana, begitu. Titik.”

“Puih!” Aku kira ada yang magis. Ternyata itu maksudnya.

“Kalau kita mendengarkan cerita pewayangan maka kita akan mendapatkan ilmu yang tidak akan kita temukan di sekolah manapun. Besok saja aku ceritakan. Sekarang sudah malam. Besok ada ujian!”

Embun pagi menutup cerita. Menetes pada ujung-ujung daun nangka. Dan tertutup kabut sehingga mengigil. Sementara bintang masih setia mendampingi malam dan bulan mendominasi cahayanya. Malam telah larut. Satu menit lagi pukul dua belas malam. Kami tidak boleh begadang terlalu malam sebab esok masih ada cerita yang akan dibagikan Tuhan. Sebab esok harapan akan berubah menjadi kenyataan. Semoga hidup terus berjalan. Membiarkan mimpi mengubah kesedihan menjadi menyenangkan.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook