Sri Pohaci 007 - Gadis dari Sungai

Februari 14, 2018

Asap mulai mengepul. Dapur Rumah Makan tua milik Nandi kembali masyhur. Secara bertahap. Tidak mudah untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat di sekitar. Hanya mengandalkan nama kakeknya saja tidak cukup. Mereka butuh bukti. Dan Nandi butuh kepercayaan mereka.

Maka setiap pagi ia membuka jendela dan pintu selebar-lebarnya untuk menghirup kembali aroma masa-masa jaya kakeknya. Peralatan lama yang tersimpan di gudang kembali di pakai.

“Nenek istirahat dulu, biar Nandi yang akan membereskan ruangan ini!” Nandi dengan hati-hati membopong Nenek yang jelas bukan siapa-siapa baginya. Papan-papan besar yang ia bawa dari kota siap menjadi meja makan yang baru. Cat dan beberapa benda unik lain siap untuk ditampiaskan pada dinding-dinding sekitarnya.

“Nenek akan jadi orang yang tidak tahu balas budi, jika harus berlaku demikian!” Cegah Nenek Sri. Ia ingin sekali membantu apa saja yang ia mampu.

“Hari ini saja Nek, turuti permintaanku.!” Nandi pelan-pelan memberitahukannya. “Tidak ada maksud untuk membuat nenek menjadi orang yang tidak berguna. Tidak demikian yang dipikirkan Nenek. Nandi mohon istirahat saja dulu.”

Namun sia-sia saja. Jiwa Nenek Sri telah dibentuk untuk bekerja keras; lelah sedikit tidak mengapa asal bisa membantu pemuda yang memberinya tempat untuk berteduh.

Siang seterik itu Nenek Sri masih mencoba membawa kayu-kayu besar untuk memperbaiki beberapa pintu dapur dan jendela di ruang makan. Dengan usianya yang tidak lagi muda. Nandi tidak mau disalahkan akan perlakukan kepada seorang paruh baya. Dan mereka sama-sama keras kepala. Kali ini Nandi mengalah membiarkan apa saja yang ia mau lakukan. Dengan syarat nanti malam Nenek Sri tidur lebih cepat di lantai dua. Sementara dirinya menggantikan untuk tidur di dekat dapur.

“Deal!”

Lingkungan sekitar ditumbuhi rumput-rumput tebal. Jarak dari rumah makan ke tetangga lumayan jauh. Dengan arti rumah tua ini memang didirikan untuk tempat menyepi. Bukan untuk bersosialisasi. Namun demikian pada masanya tempat ini banyak dikunjungi. Sebagai kedai makan yang diburu orang kala lapar.

“Nek Nandi mau pergi ke sungai untuk mengambil air. Nenek bisa siapkan bahan makanan untuk makan malam.” Nandi bergegas membawa beberapa jerigen ke sungai. Tepat di belakang Rumah tua tersebut. Menuruni lembah hingga sampai ke arus sungai yang mengalir deras.

Kehidupan di kota yang membuatnya sangat muak. Kini beralih menjadi seorang yang mandiri berpetualang di tempat yang tidak satu pun alat transportasi dan komunikasi. Merasakan air yang sejernih kaca dan sedingin es membuatnya merasa kembali hidup. Pikirannya kembali terbuka.

Nandi menyimpan baju dan celananya di atas batu yang besar di sungai. Dan tidak segan-segan untuk meneguk derasnya air di tubuh dan kepalanya. Ini adalah rekreasi yang belum pernah ia rasakan. Ia merasa bebas, tidak ada yang melihatnya telanjang, tidak ada beban pikiran.

Jerigen sudah terisi penuh.

Instingnya sebagai pemburu muncul; ia pernah melihat beruang dalam film. Mereka menangkap ikan dengan mudahnya.

“Ah …. “ Suara teriakan terdengar. Nandi terbangun dari dimensinya. Ia gelagapan ketika seorang gadis berdiri dekat batu, dimana semua pakaiannya ada disana. Gadis itu berteriak, entah kaget atau tersedak.

“Mundur, balik badan. Kamu .. tutup mata!” Dengan pelan-palan Nandi berjalan. “Lemparkan bajuku yang ada di dekatmu, Lempar!” Molekul air sungai turun dari mulai dahi, dagu, dada secepat ia mengangkat tubuhnya dari dalam air.

Nandi merasa polos. Bahkan ia merasa sudah terlanjur polos. Seorang gadis menjamah seluruh lekuk tubuhnya. Bingung, kaget dan ekspresi yang sulit dijelaskan dari keduanya.

Dalam keadaan mata yang tertutup dan membelakangi, gadis tersebut meraih pakaian Nandi dan melemparkannya. Sekenanya. Dan alhasil memang tidak tepat sasaran. Tubuh Nandi dimana, ia melempar ke arah mana.

“Tutup!”

“Iya, iya.”

“Cepet.”

“Iya.”

Pakainnya terlempar ke arah yang tidak tepat.

“Sial!” Nandi mencoba memunguti baju-bajunya yang basah. Gadis itu merasa bersalah, dan ia balik badan meminta maaf.

“Berhenti!” Nandi gelagapan tubuhnya masih dalam keadaan tidak terlapis. Sementara bajunya dipungut dari air. Basah. “Sudah ku bilang balik badan dan tutup matamu.”

Nandi dengan terpaksa memakai celananya saja. Sementara pakaian atasnya ia kalungkan di bahunya yang kekar. Lalu ia melangkah pergi dengan membawa dua jerigan besar. Terlihat otot-ototnya terbentuk dan terbalur air sungai. Fantasi gila di siang hari yang terik.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook