Sri Pohaci 006 - Satu Butir Penuh Harapan

Februari 14, 2018

Nandi mendengar kisah-kisah yang seru di meja makan. Kakek yang menceritakannya. Cerita yang paling ia sukai adalah pengalaman kakek berlindung dari serangan penjajah dan gerombolan. Selain cucunya yang menyimak, Nandi pun ikut menyimak. Seolah ia adalah cucunya.

“Nak, Nandi?” Suara Nenek Sri terdengar dari arah dapur. Sangat mustahil. Karena yang ia lihat dihadapannya pun nenek Sri sedang bersama pria tua dan cucunya.

“Nak Nandi?” Suara Nenek Sri makin keras; ia pun berbalik ke arah suara yang memanggilnya.

“Nak Nandi, bisa bantu nenek mengantar makanan ini ke rumah sebelah?” Nenek Sri menepuk pundaknya. Seketika garis-garis pemisah antara khayalan dan kenyataan terlihat. Meja-meja seolah bergeser, orang-orang itu menyusut menjauh, membenturkan antara dua waktu yang berlainan. Ia berada diantara dua waktu masa lalu dan masa sekarang.

Cat dinding seketika mengelupas; Jam dinding seketika berputar arah; Lantai bergetar merombak seluruh perabotan di ruangan ini. Nandi seketika naik ke atas meja dan berdiri ketakutan.

“Ada apa?” Nenek Sri yang hendak memberikan satu kantong makanan pesanan menyuruhnya turun dari atas meja makan.

“Kamu kenapa?” Nenek Sri mengkhawatirkan keadaan Nandi. Anak kota itu memang belum terbiasa bangun pagi dalam keadaan menggigil.

“Orang-orang yang datang kesini, kemana, tiba-tiba menghilang!” Nandi mengecek seluruh ruangan seperti hilang kesadaran. Antara masih tidur atau setengah bangun. “Aku tidak mungkin bermimpi, Nek!”

“Aku melihat semuanya!” Nandi berseru. Ia bertingkah seperti orang kesurupan; menunjukan beberapa kursi dan menyebutkan siapa saja yang duduk disana. Suasana; dan apapun yang pernah dialamainya.

“Aku melihat semuanya!” Nandi memegang pundak Nenek Sri. “Aku melihat semuanya, Nek. Semua yang pernah terjadi beberapa puluh tahun lalu disini.”

“Lihat dapur ini!” Nandi beranjak dari ruang makan dan menuju dapur. “Disini Nenek dan para pelayan membuat masakan dan mereka, mereka membelinya.!”

“Ini menakjubkan!” Nandi sangat antusias. Keajaiban seperti ini membuatnya bersemangat. “Aku tidak peduli, apakah tadi mimpi; ilusi atau memang roh-roh leluhur datang berkunjung, tapi aku punya ide sekarang!”

Dalam pikiran Nandi tergambar ide-ide besar. Rencana-rencana yang mulai terlihat. Dan segala macam startegi agar rumah makan ini kembali jaya seperti dulu. Resep sudah ia miliki. Berkat Nenek Sri ia akan memulai dengan dengan makanan lokal. Tidak ada makanan jepang, eropa atau yang lain.

“Dan Nenek, adalah orang pertama yang akan aku ceritakan mengenai rencana besar ini!” Sebuah ciuman seketika di punggung tangan nenek sri. Luapan kebahagiaan besar yang baru ia dapatkan.

“Sekarang aku mau pergi ke kota untuk membeli berbagai perabotan untuk merenovasi tempat ini. Nenek jaga rumah ya!” Nandi segera ngacir mengambil kunci mobil dan pergi ke luar. Tanpa memberikan satupun jeda waktu bagi Nenek Sri untuk berucap.

Di tangannya masih tersangkut satu bungkus makanan yang akan ia berikan kepada tetangga. Sebuah tradisi untuk menjalin silaturahmi bagi warga baru disini. Nenek Sri menggelengkan kepalanya. “Mungkin eosk hari saja memberikan makanan ini ke tetangga.”

Kadang kita tak pernah tahu apa rencana Tuhan mengirimkan kita tempat untuk disinggahi; ditinggali. Maka aku berdoa kepada Tuhan penguasa Alam. Untuk memberikan kebaikan dari tempat ini dan Mohon dijauhkan dari keburukan yang datang dari tempat ini.


:)

0 komentar

Follow Me

Facebook