Sri Pohaci 003 - Rumah Tua, Gitar Tua dan Makanan Asing

Februari 14, 2018

Di desa yang masih sejuk. Jauh dari kebisingan. Tempat yang tepat untuk menyegarkan pikiran. Satu-satunya rumah di bukit ini; pemukiman warga berada di bawah. Untuk mencapai kesana; hanya ada jalan khusus satu-satunya. Buntu.

Jalanan yang terbilang rapi untuk ukuran pedesaan. Sunyi senyap.

Nandi menatap keseluruhan bangunan di depannya. Rumah yang akan ia tinggali sementara. Rumah ini dulunya adalah dijadikan rumah makan oleh kakeknya. Terlihat dari peninggalan dapur yang cukup lengkap; dan meja-meja tempat para pelanggan. Ia merasakan suasana zaman kerajaan dimana pemudanya hanya memakai kain sarung dan golok disetiap pinggangnya. Perpaduan antara kayu dan tembok tertuang dalam kesan epic.

“Nenek bisa tidur di sini.” Nandi mengajak Nenek Sri berkeliling. Ia penasaran dengan buntilan yang ada di tangannya. Tapi pesan Nenek untuk tidak membukanya; walau dalam keadaan apapun. Maka Nandi hanya mencoba memindahkannya dari bagasi mobil ke ruang tidur.

Kamar yang seingatnya pernah dimasuki saat menginap di rumah kakek. Saat kecil. Nandi mencoba sendiri alas tidurnya dan masih bagus. Ada lemari tua didekat kamar tidur dengan tempelan cermin yang sudah tertutup karat.

“Anggap saja rumah sendiri.” Nandi tanpa banyak kata meninggalkan nenek yang ditemuinya di jalanan. Tanpa rasa curiga sedikit pun. Sementara itu ia mengamati beberapa ruangan yang sudah berpuluh-puluh tahun ditinggalkan.

Ada kamar di lantai atas yang mengarah ke arah pegunungan. Disini sangat nyaman. Ada gitar tua dan beberapa buku lama yang tersimpan rapi di lemari. Tempat tidur kecil yang cukup untuk satu orang. Sementara beberapa alat-alat elektronik bekas menumpuk di salah satu sisinya. Lampu menyala. Ia membuka jendela. Angin menyapa. “Hai orang asing!” katanya.

Ini adalah bekas kamar ayahnya waktu masih muda. Nandi menghabiskan waktu lama untuk sendirian di atas kasur. Menatap langit-langit dan sesekali memetik gitar. Disini tidak ada suara kendaraan. Tidak ada tagihan. Tidak ada keributan.

Tak terasa sudah hampir tengah malam. Ia tidak berencana untuk berkeliling kampung. Cukup merebahkan tubuhnya semalaman. Otot dan syarafnya selama ini teralu tegang; kini mulai melonggar.

Rindu pada ayah dan ibu; rindu pada keluarga. Ia kembali memetik gitar tua. Dentingannya cukup menggetarkan ruangan; terbawa jendela kamar, merayap dantara daun-daun pohon besar; terarak oleh angin malam dan menyebar ke seluruh kegelapan hutan. Siapa pun yang mendengar, telinganya mencuat; jantungnya berdegup; bulu kudukknya merinding, menghasut; merayunya untuk menemui rumah tua itu.

“Nak, jangan main gitar tengah malam. Pamali!” Suara nenek Sri tiba-tiba terdengar. Memaksa Nandi untuk bangkit dari kasurnya dan mengakhiri petikan gitar.

“Eh, nenek mengagetkan saja!” Nenek tiba-tiba sudah ada di depan pintu. Nandi mungkin lupa mengunci pintunya.

“Nenek sudah membuat teh hangat; di minum ya.” Ia menyodorkan cangkir ke dada Nandi. Sedikit memaksa. Nandi menerima cangkir tersebut. Sebetulnya ia tidak suka teh. Tapi untuk menghormati, ia meminumnya juga. Agak pahit rupanya hingga ia pura-pura menelan ludah.

“Nenek tidak tahu mana gula dan mana garam. Sepertinya rumah ini telah lama ditinggalkan.” Nenek mencoba sendiri minumannya. Bibirnya kecut. Menambah raut wajah nenek yang sudah tidak mulus. Ia tersenyum memamerkan giginya yang tanggal. Disaat seperti ini hanya lelucon nenek yang membuat Nandi kembali sadar akan hidup. Apapun yang terjadi hidup harus terus berjalan.

Baru kali ini, Nandi bisa tertawa.

“Nenek berterimakasih karena nak Nandi mau menampung orang tua seperti saya.” Ia bersujud di kaki Nandi. Buru-buru Nandi mengangkat tubuh Nenek tersebut. Ia sudah malas mau berbicara apa ditambah nenek ini mau menyembah di kakinya segala.

“Nenek lihat di meja makan banyak bahan makanan, apakah nak Nandi suka memasak?” Nenek melihat Nandi curiga. Dan Nandi merasa risih melihatnya. “Laki-laki memang bisa masak?”

Nandi malas menjawabnya lalu ia meninggalkan pembicaraan ini. Mengucapkan selamat malam, Dan malam menguapkan kepenatan.

Tercium aroma minuman hangat dan makanan tersaji di ruang makan. Dari aromanya sangat langka. Ia merasa berada dalam dimensi lain. Sesuatu yang mampu menggerakan tubuhnya akan penasaran. Semua indera nya bangkit. Ia seakan menginjak lantai seolah awan-awan yang membuatnya terbang hingga meja makan.

Rasa penasaran akan jenis masakan yang mampu membuat air liurnya tidak berhenti menetes.

“Apa ini?” Keningnya mengkerut ketika ia tahu dihadapannya ada makanan yang tidak begitu selera untuk dilihat. Harapannya hancur seketika.

List makanan eropa tidak ada disana. Hanya dua gelas kopi dan setangkup nasi putih, serta gulungan mie dalam satu bungkus anyaman bambu.

Halus sempurna bertindihkan kentang-kentang irisan yang dicumbui cabe merah. Dilengkapi sebutir telur ayam dan ikan mujaer kering yang sudah diambil telur dan ususnya.

Setiap porsinya mengandung keberkahan si pembuatnya. “Apa ini Nek?” Sekali lagi Nandi mengatakan hal yang sebenarnya tidak perlu diucapkan. Hanya akan membuat sedih orang lain.

Merasa tidak dihargai; Nenek menguji Nandi. “Kalau tidak lapar, tidak usah makan.”

Nenek menghirup asap kopi lalu menelannya pelan-pelan. Satu hidangan disodorkan kepada Nandi yang sudah duduk. Terdengar perutnya keroncongan. Nandi tidak dapat membohongi perutnya.

Pelan-pelan Nandi melahap; pelan-pelan sampai ia hampir habis separuh. “Habiskan saja. Nenek sudah sarapan tadi.”

Awalnya tidak suka. Tapi kini hanya tersisa bungku nasinya saja. “Terima kasih, Nek. Boleh tahu apa nama makanan ini?”

Dalam kedalaman hutan; sebuah cahaya dari pemilik mata terbangun.



:)

0 komentar

Follow Me

Facebook