Sri Pohaci 011 - Antaboga

Februari 15, 2018

Seminggu sudah sejak Sang Bawang Putih meninggalkan kediaman Nandi dan Nenek Sri. Suasana Rumah makan kembali sepi. Hanya mereka berdua yang mengurusi para pemesan makanan. Dan terpaksa Nandi sendiri yang mengantarkan menu dan pesanan pelanggan. Peluh terasa berat mana kala ia harus berbagi tenaga antara memasak dan melayani tamu.

Pencarian pegawai baru sudah siarkan ke pelosok kampung, namun belum juga ada pegawai yang cocok. Mungkin Nandi masih terjebak dengan sosok Diani. Hal yang selama ini tidak ada dalam kamus hidupnya, mencari pegawai seperti mencari calon istri.

Setiap hari gadis-gadis desa yang menerima undangan menjadi pegawai berbaris di depan pintu untuk wawancara. Tapi tidak ada yang membuatnya harus menerima mereka. Dalam benak Nandi mereka hanya ingin bermalam saja di rumah makannya. Tidak untuk berlelah bekerja.

Suatu kali ada yang mendekati kriteria Nandi, namun belum genap satu hari gadis itu pamit meninggalkan rumah makan. Alasannya hanya sepele ‘tikus’.

“Banyak sekali tikus di dapur, Nek!” Nandi membawa seekor kucing lagi ke dalam dapur. “Heran sekali, sudah tujuh kucing yang sudah saya bawa. Tapi mereka tidak membuahkan hasil. Apa saking banyaknya tikus sehingga kucing tidak sanggup mengejar mereka?”

Sengaja Nandi mencari beberapa kucing dari kota maupun kucing liar yang ia temukan di jalanan atau yang tersesat di hutan. “Ini terakhir kali kucing aku bawa. Pemilik kucing kemarin marah-marah, karena kucing kesayangannya yang saya pinjam jadi tidak lagi nafsu makan.”

“Aku heran, koq bisa seperti ini?” Nandi mengelus-elus kucing terakhir yang dibawanya. Mata yang kuning tajam seakan kuat menahan serbuan tikus-tikus sialan itu.

“Aku serahkan tugas ini padamu, ya Pus!” Nandi berbicara sendiri pada kucing itu. Tanpa sadar kucing itu berontak, mengeluarkan kuku tajamnya dan melukai pergelangan Nandi. “Tenang!”

Nenek Sri mendengarkan tanpa bicara. Ia membantu Nandi melepaskan seekor kucing. Nenek Sri mulai gerah dengan kehadiran suara mencicit di dapur dan kamarnya.

Dan ia tidak bisa dengan jujur jika pernah suatu malam tikus-tikus sawah itu menunggunya di depan kamar. Mencicit kegirangan seolah menemukan lumbung padi. Dan Nenek Sri hanya melampiaskan dengan pergi ke lantai atas, menemui Nandi seolah-olah tidak mengantuk dan butuh teman ngobrol.

Nenek Sri membutuhkan Diani, dengan bau bawang putihnya ia mampu mengaburkan penciuman tikus-tikus jahanam itu.

“Kucing saja bukan solusi!” Seorang tamu datang membawa tas besar. Pria bertubuh tinggi besar, berjanggut tebal, mirip algojo. Tiba-tiba ia berdiri di belakang mereka. Sebuah Buntalan besar terlihat di punggungnya. Mengingatkan Nandi pada Nenek Sri saat pertama kali bertemu.



“Maaf anda harus melihat dapur kami seperti ini.” Nandi mempersilaka pria besar itu untuk duduk dan memilih menu di meja makan. “Tidak tahu kenapa akhir-akhir ini tikus di dapur berdatangan, saya takut persediaan padi kami terkuras sebelum panen.”

Pria itu tersenyum. Memegang erat tangan Nandi. Nandi merasa risih, tapi genggamannya tidak ia lepas.

“Aku tidak punya uang untuk membeli makanan ini, tapi jika boleh saya bisa bekerja disini. Dan saya punya solusi untuk masalah tikus-tikus itu!” Pria besar itu akhirnya melepaskan genggamannya. Nandi mengelus-elus tangannya, takut jika ia berbuat sesuatu.

Dari penampilannya memang mengesankan jika ia seorang pengembara. Nandi seolah melihat hal yang sama ketika ia menemukan Nenek Sri. Mereka sama-sama membawa buntilan besar di punggungnya. Untuk menolak permintaannya rasanya tidak mungkin saat ini. Kumis tebalnya seperti mampu menyimpan seribu golok tajam. Dan Nandi memilih pasrah saat ini.

“Dengan senang hati, saya terima. Tapi maaf kami tidak bisa membayar anda dengan layak!”

Pria besar itu tersenyum lagi. Kali ini Nandi merasa gemetar. Pria besar ini sangat mencurigakan. Senyumannya terasa dipaksakan. Seolah-olah ada niat jahat yang telah dirancangnya.

Nandi mengajaknya ke ruang tamu dekat dengan kamar Nenek Sri. Pria yang mengaku bernama Antaboga tersebut menyanggupinya. Sementara Nenek Sri menyikut Nandi. “Siapa dia?” Namun Nandi tidak menjawabnya secara cepat.

“Lalu boleh saya tahu apa solusi untuk tikus-tikus itu?”

“Musuh bebuyutan mereka!”

“Apa maksud Anda?” Nandi belum paham rantai makanan pada pelajaran di sekolah. Ia masih menerika-nerka. Apakah racun tikus atau kucing bergigi tajam? Entahlah. Satu-satunya musuh tikus selain kucing adalah ular. Ah, Nandi melupakan pikiran anehnya.

Pak Anta membuka buntilan besarnya. Kain yang ia bawa. Diusapnya. Ia berbisik pelan, seolah sedang merapal mantra atau berbicara pada sesuatu yang ada di dalam buntilan itu.

Dan benar. Seekor ular sanca hitam melilit tangan Pak Anta. Ular itu menggeliat, melepaskan diri dari dalam buntilan kain. Suara desisnya terdengar samapai gendang telinga. Nandi melonjak kaget.

“Apa yang akan kau lakukan?” Nandi setengah tidak percaya jika apa yang selalu ia gendong itu adalah ular. Ular yang sangat besar.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook