Sri Pohaci 015 - Gadis Kerudung Merah

Januari 13, 2018

Sejak Diani resmi dekat dengan Wahyu, raut wajah dan suasana hati Nandi carut marut. Ia kehilangan beberapa selera makan dan selera tidur. Tubuhnya mulai kurus karena tidak diperhatikan. Kegiatan olahraga kecilnya pagi-pagi ia tinggalkan. Ia putuskan untuk melupakan gadis pengintip itu dan mulai konsentrasi dengan menu-menu baru di rumah makan.

Sejak itu ia berubah seratus persen. Nandi lebih dahulu bangun dari siapapun di rumah ini. Mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci, menyapu halaman dan membereskan perabotan dapur. Sesekali ia merelakan diri pergi ke kebun untuk mengambil bahan makanan sayur-sayuran segar, atau pergi ke sungai untuk mencari ikan. Dan tanpa sengaja ia telah mengingat-ingat semua hal yang pernah dilakukan gadis itu sebelum ia berubah mencintai adiknya.

Diani yang kini bangunnya siang, selalu menguap dan meminta kopi hangat. Wahyu benar-benar merubah tabit Diani yang lembut dan humoris. Gadis itu sekarang lebih mirip dengan gadis-gadis lain di kotanya. Dengan sikap Diani yang berbeda itu membuat Nandi merasa ragu untuk merebut kembali cintanya yang lalu.

“Sudah seminggu ini aku bekerja, kenapa aku tidak diberi upah dan diberi labu besar berwarna merah?” Diani menyuapi kekasihnya di ruang atas. Tidak sengaja Nenek Sri mendengar pembicaraanya.

“Maksudmu, apa? Kau ingin membeli perhiasan dan baju baru. Jangankan labu merah, apapun akan aku berikan!” Wahyu menyeruput kopi milik Diani lalu sesekali mengecup bibir gadis itu. Wajah mereka bagaikan buah anggur. Ranum dan penuh dengan enzim percintaan.

“Bukan, bukan itu. Aku hanya perlu pulang ke rumah, dan membawa labu besar merah. Itu sudah cukup.” Diani melepaskan pelukan Wahyu. Pria di depannya selalu ingin melumat dadanya. Terkadang ia risih harus memberikan mahkota padanya.

Percakapan mereka selalu berujung pada ranjang.

Nenek Sri segera turun tangga menemui Antaboga. Tamu sedang ramai-ramainya di depan. Nenek Sri pelan-pelan berbicara pada Antaboga tentang peristiwa awal mula gadis itu datang.

“Mang, aku tidak mau lagi makan disini!” Salah satu pelanggan mendekati Nandi di meja kasir. “Apa-apaan pelayanannya berbeda. Tidak seramah dulu.”

“Tenang, kang. Kita bisa bicarakan baik-baik. Tidak perlu dulu lantang di depan umum.” Nandi memasang wajah serius. Bisnis yang ia bangun akan hancur gara-gara pelayanan yang tidak ramah. Ia ingin tahu akar permasalahannya.

“Gadis sombong itu, membuat selera makan ku berkurang!” Katanya.

“Betul tuh Mas Nandi.” Ibu-ibu pelanggan datang dari belakang karena mendengar keributan. “Kalau cari pegawai yang rajin dan ramah donk.”

“Maaf bapak-bapak, ibu-ibu. Kami akan segera memperbaikinya.” Pak Anta melerai dan menenangkan mereka. “Sebagai gantinya makanan yang ibu pesan gratis tidak usah bayar.”

Nandi kecewa ia segera pergi ke dapur. Ia hanya ingin membela gadis yang ia sukai. Diani yang rajin dan ramah tidak mungkin berlaku demikain. Hal-hal yang menyangkut pelayanan justru ia ambil pelajaran dari Diani yang dulu.

“Nak, Nandi. Ada yang perlu nenek ceritakan.” Nenek Sri memanggil Antaboga dan menyuruhnya untuk menutup sementara rumah makan. “Kita bicara di dalam kamar Nenek saja.”

“Coba ceritakan kembali apa yang terjadi malam itu, Anta!” Nenek Sri meminta Nandi mendengarkan baik-baik apa yang akan dijelaskan Anta boga.

“Malam itu, aku mendengar seseorang mencungkil jendela dan melihat persediaan beras kita diacak-acak. Tidak salah lagi gadis berbaju merah itu. Tapi sayang ketika aku hendak mengusirnya, adikmu membela gadis itu.”

“Diani, tidak mungkin melakukannya!” Nandi masih membela gadis itu. Ia mulai tidak percaya pada Antaboga.

“Kau harus mendengarnya, Nak!” Nenek Sri menenangkan. “Sebab Nenek takut jika gadis itu bukanlah Diani. Ia tidak pernah lagi mengajak nenek bercerita. Tidak pernah lagi membantu nenek bekerja. Dan tadi pagi nenek mendengar pembicaraan mereka di atas.”

“Tidak mungkin, mana mungkin hal itu terjadi?” Nandi mulai tidak mempercayai keduanya. “Hal yang harus kita pastikan adalah memberikannya kembali labu merah besar.”

Wahyu datang begitu mendengar kata Labu Merah Besar. “Apa aku tidak salah dengar, kalian mempunyai benda seperti itu?” Wahyu bersorak kegirangan. “Diani sangat ingin hadiah dariku sebuah Labu Besar Merah. Nenek masih punya?”

Nandi terperangah. Apa yang dikatakan nenek benar.

“Berikanlah labu ini padanya.” Nenek Sri segera kembali dari dapur dan memberikannya pada Wahyu. Tanpa basa basi, Wahyu segera pergi meninggalkan mereka dan kembali ke lantai atas. Hal yang ingin selalu Wahyu lakukan adalah memberi kebahagiaan pada wanita yang dicintainya.

“Kang Wahyu, bisa keluar kamar sebentar?” Diani meminta sendirian di dalam kamar. Ia tidak sabar ingin membelah buah itu. “Aku ingin sendiri, bisa?”

Wahyu mengangguk dan membiarkan wanita itu mengunci sendirian di dalam kamar. Nasib sial bagi Wahyu ia tidak dapat mencumbunya tepat waktu. Batas berahi sudah di ubun-ubun. Ia mondar mandir menunggu pintu itu terbuka.

“Apa yang kau lakukan, Wahyu. Kenapa kau gelisah seperti itu?” Nandi, Pak Anta dan Nenek Sri menemuinya di lantai atas.

“Tidak apa-apa.” Wahyu benar-benar mampu menyembunyikan syaraf rangsangannya. “Diani hanya ingin sendiri. Ia ingin membelah Labu Merah Besar itu. Ia mulai membuat kata-kata yang sangat absurd, tapi bagi Nandi itu adalah beberapa kode bahwa Wahyu punya hal-hal yang tidak baik pada Diani.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam kamar!

“Diani, ada apa? Buka pintunya cepat!” Wahyu dan Nandi secara bersamaan mengkhawatirkan perempuan itu. Sementara Nenek Sri dan Pak Anta tetap pada dugaan bahwa gadis itu bukanlah yang seperti mereka kira.

“Tolong!” Diani tidak dapat membuka pintunya. Dengan sekuat tenaga mereka berdua mendobrak pintu kamar. Dan Nahas, gigitan ular hampir menyerang mereka. Gadis itu ketakutan dipojok tempat tidur. Dari dalam labu tidak henti-hentinya ular hitam keluar beranak pinak. Ular-ular yang pernah Nandi lihat dari buntalan milik Pak Antaboga.


:)

0 komentar

Follow Me

Facebook