Cerpen - Saksi Dalam Gedung (Extended)

Desember 19, 2017

Hari kelulusan SMA.

Untuk membuat suatu perpisahan saja yang hakekatnya adalah berpisah satu sama lain, mereka merayakannya. Berbeda saat mereka bertemu dan bertatap muka di kelas. Rasanya seperti ironi di tengah-tengah uporia. Tiga tahun sudah kebersamaan ini terjalin, ganti rupa, ganti suasana setiap awal tahunnya. Sama membosankannya dengan staf-staf kerja yang itu-itu saja. Tidak adakah pensiun bagi staf yang membosankan?

Maryamah guru SMA Kharismatika Satu Bekasi merasa sudah sekian tahun menjamah dunia pendidikan, namun tak jua ia diberi imbalan atas lelahnya selama mengajar. Sifat kejujuran dan tenggang rasa yang ia pupuk dalam pelajaran kewarganegaraan hanyalah sebatas teks tertulis dalam kumpulan bab-bab patriotik.

“Sebentar lagi kelas tiga perpisahan, panitianya bisa diambil dari siswa kelas dua dan staf guru wali kelas.” Kepala Sekolah mengusulkan satu nama gedung yang membuat syok Maryamah. “Dana sekolah kita tidak lebih dari menyewa gedung perpisahan.”

“Kenapa tidak sebaiknya di sekolah saja, Pak!” Maryamah mengusulkan tempat dengan alasan penghematan dan efektivitas kinerja staf. “Meskipun tidak kondusif. Aula masih digunakan untuk ruang akreditasi.”

“Kalau begitu tidak ada alasan lain. Gedung tersebut memang diperuntukan bagi sekolah kita, lebih dekat dan lebih luas.” Kepala Sekolah mengambil keputusan final. “Kita beruntung mendapatkannya. Sekolah lain masih nego dengan jadwalnya.”

Maryamah tahu desas-desus gedung tersebut. Bekas kebakaran 15 tahun yang lalu, kini menjadi gedung serbaguna di tengah kota. Gedung yang sangat besar, semua orang tidak percaya gedung tersebut menyimpan sejarah kelam. Kebakaran yang menewaskan ratusan staf pegawai laboratorium dan penelitian. Tanpa satupun penanggung jawab atas insiden tersebut. Seolah-olah beberapa pihak menutup-nutupinya.

Maryamah mengenakan kebaya putih malam ini, terlihat keramaian dan ornamen lampu hias dimana-mana. Sepertinya kekhawatirannya tidak terjadi, buktinya sampai pukul sembilan malam, acara baik-baik saja. Gedung yang luas dan terdiri dari tiga lantai tersebut, tampak ramai. Anak-anak muda dengan berbagai busana melenyapkan kegelisahan guru tua tersebut.

Ia berdiri di sudut ruangan memperhatikan seluruh anak didiknya. Rasanya baru kemarin mereka bertemu, dan sekarang sudah mau jadi mahasiswa.

“Ibu Maryamah, baik-baik saja?” Pak Gandi mempersilakannya duduk. “Ibu terlihat pucat, ada apa bu?” Maryamah menepis halus pegangan tangan Pak Gandi. Ia merasa anak muda itu terlalu berani pada dirinya.

“Maaf pak, mungkin hanya kelelahan saja.” Maryamah meminta air minum bening saja mana kala pengantar minuman menawarkannya. “Oh iya terima kasih.”

Kursi untuk para staf dan guru disiapkan di tengah, mereka malam ini bagikan raja semalam. Disuguhi musik hot pop anak muda dan lampu-lampu atraktif yang telah disiapkan panitia. Untuk ukuran gedung murah dan baru pelayanan di gedung ini melebihi apapun. Ini sebuah konser.

Pertunjukani lebih meriah ketika malam, Maryamah dan para guru serta staf merasa pangling diantara ratusan anak muda. Riasan mereka menyembunyikan wajah mudanya. Panitia memberi kejutan pada ratusan anak muda tersebut, kedatangan artis muda yang sedang naik daun menjadi malam perpisahan yang menakjubkan. Sontak teriakan dan antusias mereka berjingkrak.

“Luar biasa, bu. Kepala sekolah rupanya punya gaya lelucon tersendiri. Ia tahu kesukaan anak muda.” Pak Gandi diamini oleh yang lain. “Mari berpesta!”

Berbeda dengan Maryamah, usia sudah kelewat banyak, dan tak lagi muda. Ia hanya dapat membayangkan bagaimana otot-ototnya kembali kuat dan bagian-bagian tubuhnya pejal semampai. Terasa getaran di dompetnya. Sebuah pesan dari anaknya.

“Ma, apakah ayah menghubungimu? Aku sedang kesulitan di rumah sakit. Segera membalas.” Dari catatan pesannya sepertinya sangat urgen, baiknya Maryamah permisi sebentar mencari tempat yang sepi. Handphone-nya bergetar kembali, ada panggilan. Ia mencari tempat yang sepi untuk menangkap pembicaraan ini. Sebuah tangga di lantai dua terlihat jelas akibat cahaya lampu. Ruang yang sangat tenang disana.

"Iya, sebentar .."

Maryamah menepis pandangannya. Langkah kakinya tidak ia pijakan pada tangga-tangga tersebut. Ia pergi keluar gedung, satu-satunya tempat kedap suara hanya di dalam mobilnya.

Dalam perjalanan menuju parkir, beberapa orang berlarian masuk dan keluar gedung. Terlihat panik dan kacau. Tapi seolah-olah mereka berputar-putar saja, tanpa bisa menolong satu sama lain.

"Sebentar mas, nanti aku telepon balik." Maryamah menutup panggilan suaminya. Ia mendekati salah satu siswanya yang berlari. "Ada apa, nak?"

"Kebakaran di dalam gedung, Bu" Anak itu sambil terengah-engah mengambil nafas. Tapi kemudian ia berteriak manakala melihat ke wajahkku

“Apa yang terjadi?”

"Pembunuh-pembunuh!" seru siswa itu. “Lepaskan. Tolong!” Siswa tersebut malah menuduhnya sebagai pembunuh. Kurang ajar mulut anak ini. Maryamah kalap ia menyumpal mulut anak itu dengan tamparan keras. Hingga terkapar dan hampir tewas sebelum polisi-polisi itu menembakkan peluru peringatan.

Tangannya yang tua bergetar, wajahnya semakin pucat. Ia takut orang-orang menyangkanya sebagai pembakar gedung tersebut. Wajah-wajah mereka seolah-olah menyudutkannya. “Bukan aku!”

Polisi menangkapnya, mengamankan barang bukti di tangannya dan berliter-liter bensin yang ada di bagasi mobilnya. Mereka menciduknya bagaikan tahanan kelas kakap. Kebaya putihnya terseret hingga robek.

Maryamah meminta penjelasan secara langsung dari polisi. Ia tidak tahu apa-apa tentang kebakaran di gedung tersebut.

"Jangan memperkeruh penyelidikan kami, Nyonya. Lebih baik Nyonya diam sembari kami mencari pelaku utama." Pihak polisi memerintahkan satuannya untuk masuk ke dalam gedung.

Kedua tangannya diborgol, dan polisi mencari pelaku utama. Dalam kegelapan, dan api yang bertebaran. Berjalan seorang pria dengan dikawal polisi. Ia suaminya. Suaminya yang sedang menjalani rehabilitasi trauma, yang terbaring di rumah sakit jiwa. Ia kabur dan mengulang kembali bencana lima belas tahun yang lalu.

Maryamah memukul dada suaminya. “Apa yang telah kau lakukan? Tidakkah kau sudah lupa telah menaruh aib di wajahku? Lalu apa balasanmu padaku?” Terlihat gerakan kepala suaminya. Ia menggeleng, namun tak berucap satupun kata darinya. Maryamah selama lima belas tahun mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Maryamah hanya tahu suaminya malam itu membangunkan tidurnya dengan wajah pucat, darah dan tubuh yang bergetar. Sementara ID card pegawai masih terkalung di lehernya.

Misteri yang belum terpecahkan sampai sekarang. Polisi menyerah menggali informasi dari suami Maryamah. Dokter menyarankannya untuk di terapi. Tanpa penjelasan dan bukti yang kuat. Ia satu-satunya pegawai yang selamat. Dan nahas ia satu-satunya saksi sekaligus tersangka dalam kebakaran besar di gedung penelitian tersebut.

“Nyonya tidak apa-apa?” Maryamah tertunduk lemas, menangis. “Pulanglah Nyonya.”

Seorang penjaga malam menyadarkannya. Maryamah diantar pulang oleh penjaga malam. “Kenapa Nyonya ada di gedung kosong sendirian? Sebaiknya nyonya beristirahat.”

Maryamah tidak berucap, dadanya masih sesak. Ia masih terusa saja mengulangi peristiawa tersebut. Setiap tanggal yang sama di setiap tahunnya. Selama sang Suami belum menjelaskan perihal insiden kebakaran tersebut. Maryamahlah yang menanggung penderitaan korban-korban.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook