Kiamat Kecil Tulang-Tulang 001

Desember 19, 2017

Rumah sakit bekas pagi itu. 

Matahari sudah meninggi. Suhu tubuhku tetap menggigil. Aku mencari seikat rumput kering untuk ku masukan ke dalam baju. Tapi sia-sia saja, peredaran darahku sepertinya membatu.

Persendian tulangku mulai terasa berkurang, setiap kali bergerak terdengar suara kretekan diantara tulang-tulang yang menopangnya. Buku-buku jariku terasa begitu longgar dan aku kehabisan setiap warna di kulitku. Dokter jaga mengatakan aku mengalami kelainan tulang dan persendian.

Ayahku bilang hari ini kiamat datang. Ia akan mengetuk setiap pintu yang dipilihnya. Menebar aroma tanah dan lumpur sebagaimana wujud manusia asalnya. Ia mengarahkan lampu tempel padaku. Ia berkata jika suatu saat nanti ia datang, kau harus berpura-pura mati dihadapannya.

Hari itu terakhir kalli ibu berselisih paham mengenai cerita gila ayah.

“Sudah jangan perdulikan ucapannya. Sekarang kau harus ke sekolah, lupakan cerita-cerita yang menyulitkanmu berkonsentrasi, sekarang hari ujianmu! Bukan hari kiamatmu.” Bentak ibu sambil memasukan buku pelajaran matematika, fisika dan sejarah ke dalam tas.

“Jangan lupa makan siang dan minum obat harianmu.” Nasehat ibu sambil memberikan telapak tangannya untuk kucium. Ibu bekerja di rumah sakit sebagai perawat dan asisten dokter. Sementara ayah adalah pegawai kebersihan rumah sakit.

Aku bergegas pergi setelah bunyi klakson mobil jemputan sekolah datang. Aku melambaikan tangan pada ibu dan seseorang di jendela kamarku, yang kupanggil ayah itu.

“Apakah hari ini hari kiamat?” Seorang temanku menyenggol perbekalan makananku dan berhamburanlah nasi-nasi di mobil angkutan. Sementara bus melaju cepat.

Aku menatap matanya. “Aku bersama malaikat pencabut nyawa, khusus untukmu.!” Kalimat berisi sumpah serapah dengan mudah aku ucapkan. “Otakmu akan berhamburan sebagai makan siangmu. Dan matamu akan beradu gerak dengan telor mata sapi kesukaanmu. Dan mulutmu yang penuh dengan marabahaya itu akan terlindas ulekan sambal di piringmu. Kuharap kau puas dengan makan siangmu!”

“Sial, beraninya anak sepertimu mempermalukanku. Dasar kutu!” Ia mendorongku dengan keras sampai terbentur supir bus.

Arah kendali supir bus menjadi oleng, kerusuhan terjadi di dalam bus, aku tidak mengatakan anak besar itu membullyku tapi teman-teman yang lain melindungiku. Ya, teman-teman malaikat pencabut nyawa itu.

“Apa yang kalian lakukan?” Sang sopir kepayahan mengendalikan keributan anak-anak.

Dan sialnya. Pagi itu bus melewati lereng yang sangat terjal, jalanan berbelok menuju tempat sekolah dengan jarak yang jauh. Entah apa sebab tapi pagi itu jalur yang biasa dilalui tidak dapat dilalui, katanya ada pohon yang tersambar petir semalam.

Aku tidak mengatakan bus yang kulalui terjungkir, oleng lalu jatuh ke jurang. Dengan sigap sang supir menghentikan laju kendaraan. Tepat di bibir jurang.
m.weheartit.com

Mobil ambulance dan polisi datang dengan cepat dan tepat. Mereka menyelamatkan kami dari kecelakaan pagi itu. Aku tidak mengatakan ibuku terlibat persengkongkolan atas penculikan aku dan teman satu kelasku. Tapi ketika aku ditemukan dan diantarkan ke rumah, tidak ada satupun orang di rumah yang menyambutku.

Suatu kali pernah aku mendengar keluhan ibuku. Tapi aku tidak jelas menangkap pembicaraannya dengan dokter jaga itu.

Aku memohon kepada salah satu anggota polisi itu untuk menginap saja di rumahku. Terutama polisi lelaki yang masih muda. Karena malam akan segera datang, sementara hujan datang bersama kilat menyambar.

“Apakah ayahmu belum pulang? Ibumu juga?” Polisi muda itu sedikit gelisah memandangi kaca jendela sementara rekan kerjanya pergi meninggalkannya seorang. Aku tahu ini adalah saatnya. Aku harus kembali pura-pura mati agar nyawa orang lainlah yang diambilnya.

Aku menatap mata polisi muda itu, merabanya dari bawah dagu sampai akhir. Aku merafalkan mantra pemberian ayahku. “Aku bersama malaikat pencabut nyawa, khusus untukmu.!”

"Sial, apa yang kau lakukan?" Merasa geli dengan ulah tanganku ia mendorongku hingga tubuhku terlempar ke arah dinding, hampir saja rusuk-rusukku terpisah. Mungkin ia merasa ternoda, harkatnya sebagai polisi terenggut bocah ingusan. Tapi itu salah satu cara agar ia mau berbuat aniaya.

Darah keluar dari hidungku. Aku menikmati masa-masa ini. Aku tutup sedikit mataku dan aku berpura-pura mati lagi hari ini.

Dalam remang-remang penglihatan, aku melihat polisi muda itu dirangkul sepasang sosok hitam serupa ibu, dan sosok kekar serupa ayah. Ibu menggodanya di depan, sementara ayah mendorongnya dari belakang. Lalu mereka mulai melucuti tulang-tulang dari tubuhnya.

Setampan apapun ia, tetap berupa tulang. Segagah apapun ia tetaplah tulang juga.

Aku mulai merasakan tulang-tulangku mulai kuat, terasa lega dan mulai sehat. Ayah dan ibuku memberi tulang baru padaku. Terima kasih ayah dan terima kasih ibu.

"Sehat-sehat di rumah ya, suatu hari nanti ayah dan ibu akan kembali, ketika ada jaringan atau organmu yang rusak!" Semilir angin berbau tanah dan lumpur menghilang diantara gemburnya tanah di pekarangan.

Aku tahu ayah dan ibuku akan datang lagi, maka aku harus selalu menjaga kesehatan tubuhku.



:)

0 komentar

Follow Me

Facebook