Cerbung - Labirin Terkutuk - #5 Dalam Mimpi

Desember 04, 2017

Perjalanan yang melelahkan. Hingga sampailah firasat itu terbukti benar.

Di satu tebing, dimana hutan sudah sampai di perbatasan; Kami dikejutkan dengan sebuah bangunan tua di tengah hutan. Apakah memang ada penduduk, dan ini kota yang maju? Sebuah bangunan mirip gedung putih dalam usang, tapi untuk menuju ke sana kita harus menelusuri sebuah labirin. Nampak begitu luas.

Labirin yang terbentuk dari dinding bangunan; yang sangat kompleks. Sangat terlihat berliku di atas tebing. Dan kulihat di tengah-tengahnya bangunan inti yang tak kalah besarnya. Tertutup rapat.

“Sam, kau sudah siap?”

“Siap, Kapten!”

“Oke semuanya, kita berangkat. Jangan sampai berpencar. Kalau merasa lelah bilang pada orang disekitar kalian, dan kita akan istiahat. Lee kau berjalan paling belakang, awasi setiap orang. Sam, kau dibelakangku.”

“Aku ingin dekat denganmu, kapten.” Mariah hasli memutar bak angin, merapat tubuh kapten dan tak melepaskan genggaman tangan.

“Lebih baik kau dijaga dengan pengawalmu. Itu lebih aman untukmu.”

“Tidak, aku tidak membutuhkan mereka sekarang. Aku membutuhkanmu ..”

“Baik, terserahmu saja. Tapi jangan memperlambat perjalanan kita. Sam kau jaga dia ya!”

“Baik kapten.”

Perjalanan dimulai, akar-akar hutan mulai kami tinggalkan, rawa-rawa mengering, angin mulai sepi dan bangunan itu mulai kami dekati. Sebatas pandangan labirin tinggi menjulang. Siapapun yang masuk tidak dapat terlihat kemana ia mengarah. Kecuali dilihat dari atas tebing. Dan itu seperti game mencari arah. Dan kita adalah semutnya.

Bongkahan batu besar seakan-akan menyambut kedatangan kami, sebuah bencana alam seakan telah melenyapkan kehidupan di hutan ini. gunung meletus seperti dugaan kami. Hampir semua bangunan di sekitarnya runtuh tak tersisa sedikitpun bongkahannya; dan hanya berdiri labirin serta gedung ditengahnya yang tak tersentuh sedikitpun.

Lee mungkin benar, ada yang aneh di hutan ini. dan ini adalah yang pertama kali. Di hutan seperawan ini ada satu bangunan yang pastinya penduduk pernah menempatinya. Penduduk maju dengan segala kecanggihannya dan bangunan beton yang hanya dimiliki penduduk perkotaan. Gedung penelitian lebih miripnya.

Lee ada diurutan paling belakang, menjaga semua penumpang, Mr. Hendrik dan dua rekannya, Mr. Paotan dan Mr. Loan mereka pegawai swasta yang ramah, disini merka melepaskan semua kenangan kejayaan di kantor besarnya. Kini hidup adalah yang paling penting. Mereka sudah menjadi bagian team solid sekarang, aku, Lee dan Letnan Mdade.

Mariah, satu-satunya artis seronok bergabung dengan grup kami, meski jelas pakaiannya tidak sepatutnya digunakan di hutan belantara, bodyguarnya Jek dan Mikel, akan menjadi pelengkap team kami. Kami harus tetap bersatu memecahkan jalan kami ke Negara masing-masing.

“Kita sudah sampai.”

Tampak dihadapanku bangunan tua yang usang dengan sedikit ukiran; semua hanya tembok-tembok beton yang terkunci rapat. Ada begitu banyak pintu besar di depan. Tak seorang pun berhasrat untuk memasuki bangunan itu. Inilah pintu labirin. Kalau pepatah mengatakan setiap masalah ada pintu keluarnya. Disini kami menemukan banyak pintu yang terbuat dari besi. Dan akan berkeret ketika kita memasukinya.

Lee berjalan cepat, melewatiku. Ia menghadap Kapten Hans; adakah yang penting sehingga aku tidak diajaknya berdiskusi. Entah kenapa aku merasa tidak berguna.

“lebih baik kita menginap di hutan, Kapten.”

“Apa alasanmu berbuat demkian Lee.”

“Kita belum tahu bahaya apa yang ada di depan. Dan sebaiknya kita menghindari bahaya yang sama sekali tidak kita ketahui.”

“Apakah di hutan lebih aman menurutmu bagi para penumpang.”
Lee menggelengkan kepalanya, sepertinya Jonatan lee mempunya firasat yang sangat kuat.

“Tapi bagaimana pun hanya ini satu-satunya tempat kita untuk mencari jalan keluar. tapi aku menghargai bagaimana pun pendapatmu,”
Letnan Mdade memberi petunjuk pada semua penumpang.

“Hari ini kita menemukan sebuah harapan dengan menemukan sebuah gerbang; semoga ada jalan pertolongan di dalam sana, setidaknya kita tidak tidur di tengah hutan. Tapi bagaimana pun tempat ini bukan berarti aman. Kita tidak gegabah masuk ke dalam.

Untuk itu kita bagi dua regu, regu pertama bertugas mengamankan keadaan sekeliling. Telusuri 
bangunan ini dari Luar. Mr. hendrik aku mengandalkanmu, ambil sebagian orangku denganmu.
Lee giliranmu untuk memastikan para penumpang dalam keadaan selamat. Buatlah tenda sementara di luar.

"Sam, kau ikut aku masuk ke dalam. Mariah, kau juga ikut. Dan siapa yang berani ikut?”
Kapten mengajukan pilihan, dan beberapa pemuda ikut dengan kami untuk masuk ke dalam.
Aku melihat Lee menghentikan langkahnya dan meminta para penumpang untuk menjauhi labirin dan mendirikan tenda di atas bukit. Ia akan mengawasi dari atas. Begitu tanggap Lee memberikan perintah; usia yang jelas tidak jauh berbeda denganku; tapi jiwa kepemimpinannya jauh melampauiku. Aku akan berguru padanya. “Ayo, Sam.. kita akan masuk ke dalam.”

Salah satu pemuda, membawa buku catatan dan pinsil gambar. Ia akan menggambar koordinat kemana saja kita bergerak. Dan pintu yang berkerat tengkorak itu yang akan kita masuki. Tidak ada pilihan; hanya pintu ini yang terlihat pernah dimasuki. Sedang pintu yang lain tertutup rapat.

“Kau yakin tidak salah memilih, Rossan?”

“Bagaimana aku yakin, kapten. Sementara ini hanya peruntungan saja. Setidaknya kita telah memilih, Kapten!”

“Mariah Kau punya ide?”

“Apakah kita akan tersesat?” Maria melempar pertanyaan yang semua orang memikirkannya. Tidak ada yang salah dengan pintu; tidak ada yang salah dengan pilihannya. Tapi labirin ini tidak ada yang tahu rutenya. Dan salah satu cara adalah mencobanya. Dengan resiko tersesat, berputar-putar dan tidak akan pulang.

Semua orang merasa diragukan atas pilihannya. Maju mundur atas pilihannya. Sementara Lee sudah berangkat ke atas tebing. Dan Mr. Hendrik Saiki telah melaksanakan tugasnya. Berkeliling labirin. Menemukan pintu yang lain. Melihat semua tingkah mereka, kapten memberikan satu pertanyaan.

“Baik, sekarang final. Siapa yang bersedia ikut ke dalam. Dan memilih pintu ini bersamaku?” Mata sang kapten terlihat jengkel dengan ketakutan dan keraguan semua pengikutnya. Kemarahan tertungku didalamnya. Dan aku merasa tidak enak membiarkan keheningan itu mendera lama-lama.
Dan aku mengacungkan tangan, tertanda bersedia. Jika ini yang harus dilakukan. Kita akan ikuti scenarionya, sejenak teringat Lee dengan firasat, scenario dan kubusnya. Disusul Maria hasli mengangkat tangannnya, Rossan, Mikel, Jek, dan Mr. A Philip.

Lorong-lorong yang pernah kumasuki sebelumnya; dalam mimpi. Persis dengan cerita mimpiku sebelumnya. Aku pernah menemui tempat ini sebelumnya. Hanya tidak sekomplek ini ceritanya. Kapten Hans yang ada disampingku sekarang lebih jelas perawakannya dan semua penumpang pesawat sungguh jelas kehadirannya.

Dan apa yang bisa kuperbuat untuk seorang anak penggemar internet sepertiku. Memegang senjata pun aku tidak cukup berani. Langkah kaki yang harus terlihat kuat, mengikuti mereka yang berjalan cepat. Mataku mengamati area sekitar. Menghapal setiap tikungan kanan dan kiri, setiap pintu yang dibuka, setiap arah yang kulalui. Dan semakin bingung ketika pintu-pintu itu muncul lagi seperti pilihan di awal. Dan pintu mana sebenarnya yang akan mengarah pada bangunan di tengah.

“Kapten, ada yang harus saya bicarakan!” aku mendekati Kapten Hans Mdade; sambil berjalan dan menelusuri lorong-lorong berkerak.

“Kuharap tidak ada suara disini, sam. Kau bisa pelankan suaramu.”

“Aku pernah kesini!”

“Kau jangan bercanda; tempat ini saja tidak ada dalam peta.”

“Aku pernah kesini dalam mimpi!”

“Kau harus beristirahat Sam, kau terlalu kelelahan. Nanti kita bicarakan!” Kapten Hans seperti tidak pernah menghiraukanku. Berat sekali langkahku mengikutinya lagi. Baru kali ini Kapten Hans menyentakku dengan sangat. Bagaikan tersengat bisa listrik. Seketika aku mematung dan tak tahu apa yang akan aku lakukan. “Sam, ayo jalan!” Letnan Mdade, memperhatikanku kelelahan.

“Oke, maafkan aku. Sekarang apa yang akan kau bicarakan. Kau pernah kesini dalam mimpimu; dan apa yang terjadi kemudian.”

“Aku lupa bagaimana ceritanya. Tapi ada yang tak beres dengan tempat ini!”

“Kau keterlaluan Sam, Ceritamu bisa mempengaruhi semua orang disini. Dan aku tidak ingin lagi mendengar apapun dari semua mimpimu itu. Lekas bangun dan kita akan cari tahu sendiri kebenarannya.” Aku tidak tahu betapa tergambar rasa marah dalam wajahnya. Tanpa suara. Dan sengatan itu tergambar lagi. Bisa lilitan listrik 2000 volt seakan datang dengan kawanannya. Melilit seluruh keteguhan.

Dinding-dinging yang rapuh; dipeluk lumut; lembab seperti darah. Lantai-lantai yang kotor; tidak beraturan; akar-akar timbul keluar; seperti tangan-tangan korban pembunuhan. Labirin terkutuk. Pikiranku waktu itu tidak bisa tenang. Aku berpikiran macam-macam selama perjalanan. Setiap kali aku berhalusinasi; dinding itu seakan berbicara dan aku tidak pernah mendekatinya.

“kau benar Sam, labirin ini sungguh tidak beres. Tidak ada ujungnya. Sudah berapa lama kita disini? Dan sudah berapa pintu yang kita masuki. Ini membuatku muak!”

“Sam, kau dengar aku?.”

Ada seseorang yang memukul belakang kepalaku hingga aku terjatuh kebelakang; aku tidak merasakan apa-apa. Semua gelap dan ada bagian scenario yang hilang. Terbakar atau dirobek oleh yang menulisnya.

“Sam, .. “ Beberapa orang menggumam halus namaku. Aku merasa tenang mendengar namaku disebut begitu.

“Sam, kau sudah siuman?”

“Apa tadi aku melewatkan sesuatu?”

“Ya, kau tahu apa yang terjadi di dalam sana?” Lee memberikan air dalam botol plastic. Dan aku meminumnya dengan amat sangat.

“Di dalam sana; sekarang aku dimana?”

“kau ada di tenda ku sekarang, Sam.” Lee mulai bercerita padaku. “Hampir dua jam tidak ada komunikasi dengan Letnan. Aku berinisiatif untuk melihat kondisi dalam gerbang. Aku punya firasat buruk. Dan aku benar.”

“Aku tidak ingat, Lee. Yang kuingat aku berjalan terlalu lama di dalam sana.”

“Ok kau beristirahat lah dulu, aku mau keluar dan membicarakan semua ini dengan yang lain.” Lee menutup tenda. Dan aku beristirahat lagi. Aku begitu lelah dan nikmat tidur; di hutan.

Dibalik tenda kudengar lee dan beberapa penumpang merangkul doa untuk mereka yang hilang, termasuk sang kapten. Aku merasa bersalah ketika aku tidak bisa banyak membantu.

Tidurku kali ini tidak begitu tenang; aku ingin sekali meregangkan tubuhku yang pegal. Lampu tenda sebagian telah dimatikan. Dan aku keluar mencari angin segar. Duduk di perapian dengan asap yang mengepul; habis terbakar. Sebagian berjaga dan sebagian istirahat. “Sam, kau tak istirahat?” Lee duduk disampingku.

Dihadapanku bulan sedang purnama dan angin serasa tenang menyergap. “Aku merasa bersalah tentang apa yang terjadi? Seharusnya aku bisa menyelamatkan mereka, setidaknya aku tahu apa yang telah terjadi.” Aku turut menyesal.

“Aku sudah menduganya sedari awal.” Lee mulai bercerita. “ Kapten pun tahu aku punya kelebihan, tetapi ia lebih percaya pada keselamatan penumpang.”

“Dan ia menyuruhmu menetap di luar labirin, kan?”

“ya. “ Harusnya aku lebih jelas apa yang kumaksudkan.” Lee berkaca-kaca. “orang baik selalu bernasib sial.”

Menatap ke atas langit dengan pengharapan yang pahit. Apa yang sebenarnya terjadi di labirin itu.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook