Cerbung - Labirin Terkutuk - #2 Adaptasi

Desember 04, 2017

Nasib naas bagi kami semua. Terdampar di hutan. Diantara puing pesawat besar. secarik Koran di tanganku bertuliskan. ‘Pesawat Airbus KD07 tersungkur di hutan untuk menghindari lautan berkarang.’ Nyaris seluruh awak terpanggang dan pencarian dihentikan.

Kejadian serupa kami alami sekarang.

Aku tak mengerti kenapa pencarian itu dihentikan. Tahukah mungkin mereka masih berjuang dissana. Sama halnya kami disini. Aku mulai ingin mengamuk. Tapi aku mulai bisa menghentikan amarahku. Aku meremas-remas tanganku hingga ingin menangis. Teringat keluarga yang kutinggalkan. Hal yang tak pernah terbayangkan, kini aku alami.

“Kau tidak apa-apa anak muda?” Seseroang yang tidak kukenal namanya menyapaku dan duduk bersamaku. berbasa-basi.

“Ya.” Aku membalas perkenalannya. Pikiranku masih kacau. Belum ada pertanyaan yang bisa ku tanyakan untuk melanjutkan dialog ini. Dan keheningan merayap ke seluruh tempat. Dimulai dari hatiku yang tak bisa berpikir banyak.

“Sam, kemarilah kau bisa pegang senjata?”

Senjata. Dan yang kulihat memang sungguhan. Aku tak pernah mencobanya dan tak pernah berniat mencobanya. Aku mengerutkan dahiku. Entah kenapa aku melakukannya. Perlu energi lebih untuk memastikan keadaanku baik-baik saja.

“Aku tidak bisa!”

“Pegang saja, kau harus menarik pelatuknya dan pegang kuat-kuat.”

Dan bagaimana caranya. Tidak semudah kelihatannya. Tapi kondisi yang mengharuskan menguasai salah satu senjata. Hutan ini. adalah medan yang pasti tidak mudah untuk dilalui. Binatang buas; mungkin salah satu sasaran ketika pertahanan.

Bahkan Maria Hasli pun bersiap diri dengan senjata mutakhirnya. Bagaimana dia bisa menguasai keadaan secepat ini. Aku kagum pada emosinya. Siapa kira ia bisa bertahan bersama seluruh pria disini.

“Oh baiklah!”

“Namaku Kapten Hans Mdade, senang berkenalan denganmu, Anak muda. Aku yang sudah menamparmu tadi.” Pria besar itu sungguh membuatku tegang. Kumis tipisnya tidak mampu membuatnya terlihat santai. Aku takut ia memakanku mentah-mentah.

“Terima Kasih.” Aku balik keras jabatan tangannya.

“Syukurlah kau tidak lupa siapa namamu; kau sedikit terbentur oleh kursi penumpang; kau lihat sekelilingmu. Keberuntungan tidak ada dipihak kita sekarang.”

“Sekarang apa rencanamu, Kapten Hans?”

“Kau bersemangat sekali, anak muda. Nanti kita bicarakan lagi! Sekarang bersihkan dirimu; kacau sekali kelihatannya.” Letnan Hans Mdade meninggalkanku diantara tumpukan koper-koper.


Hutan mengumpulkan kesepian dan menaruhnya di bagian ini. Lengang seketika kapten meninggalkan percakapan. Senjata yang kupegang; sangat hati-hati ku mainkan. Salah sedikit bisa-bisa aku mati konyol. Ini bukan perang 3 dimensi yang sering kumainkan. Aku juga tidak bisa menggunakan jurus-jurus elemen jika aku terdesak. Aku berada pada kondisi yang tak satupun kekuatan yang kumiliki. Pikiran kosong, senjata yang tak dapat kugunakan dan medan hutan yang sangat perawan.

Aku harus membiasakan diri. Bertahan hidup dalam kondisi sulit. Kulihat hutan seolah menyeringai, menakut-nakuti orang yang baru dikenalnya. Makhluk berbulu, berbisa, bercakar atau bertaring tajam akan siap datang menghadang. 

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook