Supermodel 5 - Saksi Kedua

November 23, 2017

Tangan-tangan kasar mendobrak pintu yang memang tidak terkunci. Entah apa sebenarnya yang ada di otak kepolisian itu. Wartawan pak Gio dibiarkan meliput kegiatan kepolisian, tapi dengan syarat tidak dipublish sebelum clear siapa pembunuh sebenarnya.

Pintu yang hanya ber engsel itu rusak seketika dihajar dua anggota kepolisian. Pecahan kayunya masih tergeletak, belum sempat angin masuk, pasukan kepolisian sudah membuat peringatan kepada semua penghuni hotel untuk keluar dan berjajar menunggu identifikasi.

Mariah Hasli dengan mata setengah hitam kelelahan itu, dipaksa keluar meskipun pakaiannya belum sepenuhnya terpakai. Berjajar wanita-wanita di ballroom untuk diidentifikasi keterangan dan identitasnya. Mariah merasa diperlakukan semena-mena, ia terpaksa berdiri berdesakan sambil melindungi tubuhnya yang tidak terhalang.

Hotel itu tepat berada di arah jam 12 tempat kejadian perkara. Dan sewaktu kejadian mengenaskan tersebut mereka menyewa hotel untuk mereka sendiri. Para Model Royal Beauty. Merasa diperlakukan seperti tidak berkelas Mariah Hasli menghunungi ketua yayasannya.

Mariah diperiksa dan ditanyai apa saja seputar malam itu. Namun tak satupun balasan dari bibir Mariah Hasli.

“Pengacaraku yang akan menjawab pertanyaan kalian!” Bentak Mariah pada salah satu anggota. Membuat pernyataan seperti itu membuat darah Sersan Bras naik, ia tidak sungkan menendang kursi dan menghampiri gadis yang tidak tahu adab tersebut.

Mata mereka saling bertatap dalam jarak yang sangat jauh. Entah apa yang akan mereka perdebatkan. Langkah kaki Sersan Bras semakin mendekat.

Dalam detik-detik seperti itu, tak ada satupun alasan bagi Mariah Hasli untuk menarik ucapannya. Ia semakin menantang sepertia apa tindakan ketua kepolisian tersebut.

Dalam tuts-tuts piano yang terwarna hitam dan putih masih bisa berbunyi dan mengeluarkan nada yang indah. Dan bagaiamana jika dua orang yang hidup dalam dua kehidupan yang berbeda dipertemukan. Satu wanita dalam kehidupan riakan dunia gelap dan satu laki-laki yang rela berkorban demi menegakan visi yang suci.

Belum sempat mereka beradu mulut, dari barisan terlihat gelagat mencurigakan. Seorang penata rias berlari menghindari interogasi dan menimbulkan suara gaduh. Berulang kali diperingatkan jangan melawan hokum, tetap pria setengah cantik itu memilih meninggalkan ruangan dengan terburu-buru.

Dengan aksinya yang mencurigakan itu, ia melewati beberapa antrian dan berlutut di kaki salah satu model.

“Selamatkan aku, Aku tidak bermaksud .. “ terdengar sepatah pernyataan di bawah kaki seorang gadis berpakaian hitam Anglina Ka. Namun bukan tanpa maksud untuk jijik, ia menendang laki-laki tersebut hingga ia berada di antara lingkaran para model.

Anglina Ka risih merasakan kaki jenjangnya dipeluk oleh penata rias itu. Ia melihat arah sekitar memperhatikannya. “Ini dapat menghancurkan reputasiku. Pergi sana, serahkan dirimu sendiri ..” Bisiknya.

Tidak adanya pertolongan ia mulai kehabisan pikiran dan tanpa pikir panjang, ia mencari sosok Mariah hasli lalu hendak mengejarnya. Melihat seseorang hendak menyerang salah satu saksi, anggota mencoba melindungi Mariah Hasli.

“Hentikan sekarang, gadis setan!” Ia berucap kasar pada orang-orang disekitarnya. Kedua polisi menahannya dengan sekuat tenaga. Namun kekuatan yang ia miliki diluar batas manusia. Kekuatanya melebihi kekuatan seorang lelaki.

Tanpa sadar tangannya sudah memegang senjata milik polisi. “Apa yang aku lakukan?” Ia merasa jijik. Tapi bukan itu maksud sebenarnya ia mengambil pistol kepolisian dan mencoba mengarahkan kepada gadis-gadis disana. Satu peluru melayang melesat dengan cepat ke arah Mariah Hasli. Dan “Dor”peluru membelot ke arah tangan Mariah hasli.

Teriakan Mariah Hasli bergema di hotel Royal. Disusul oleh teriakan para model yang lain membuat suasana tidak terkendalikan. Gadis yang hendak Sersan ajari, tergeletak kesakitan dipangkuannya. Nafasnya terdengar keras, masih tidak percaya peluru itu akan menjadi teman hidupnya.

Tapi keseruan belum selesai. Pria itu masih mengacungkan pistol. Dan ia tidak segan-segan untuk menghabisi seluruh nyawa disana.

Matanya mulai tersentak ketika melihat darah mengalir di tangan Mariah, ia merasa bersalah. Kesadarannya mulai waras. Ia terlihat kebingungan ketika melihat orang-orang disekitar ketakutan melihatnya. Terlebih ia sedang memegang senjata api.

“Apa yang telah terjadi?” teriaknya. “Bukan aku ..” Ia mulai tidak waras. Ia mengacungkan pistol tinggi-tinggi supaya tidak ada yang mendekat. Dan setengah takut ia mencoba meletakan ujung pistol di kepalanya.

Dan Dor!

Sebuah peluru bersarang dikakinya serta dengan cepat melepaskan genggaman pistolnya. Seorang anggota bersenjata datang dari arah pintu. Meskipun dengan jarak yang jauh ia bisa menghentikan aksi bunuh dirinya. Dialah Jonathan Lee. Anak buah Sersan Bras yang seringkali bikin ulah.

Lee tersenyum dengan bangganya. Kehebatan memanah dan menembak sudah dikuasainya sejak ia bergabung dengan Tim Garuda pimpinan Kapten Hans Mdade. Semua orang terkagum pada kehebatan dan tentunya ketampanan Jonathan Lee. Terutama wanita-wanita tersebut.

Melihat peluang itu pria penata rias mengambil bongkahan kayu pintu yang ujungnya tajam untuk kembali percobaan bunuh dirinya. Dengan gemetar ia mencoba mengiris lehernya dan terputus.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook