Sangkuriang The Series - Naskah 6 - Rarasati

November 03, 2017

((Auditorium. UPI Bandung))


Sementara Sang ayahnya menyajikan mata kuliah seminar umum di Fakultas Bahasa Daerah, Si Bujang tidak luput untuk menyimak seluruh materi Sang Ayah. Namun tidak lama, setelah sesi Tanya jawab berlangsung, Si Bujang pergi mengelilingi kampus dan sampai di perpustakaan.

“Rarasati!” Teriak si Bujang pada gadis yang tengah duduk seolah-olah tahu jika Si Bujang akan datang. “Teu nyangka. Bisa jumpa disini?”

“Sekarang, kamu sudah jadi orang Bandung, euy!” Ejek Rarasati. Ia mempersilakan duduk pada si Bujang. “Kebetulan kuliah libur. Ayah ingin aku pulang ke Bandung.”

“Bagaimana petualanganmu mencari cerita Legenda Sangkuriang? Sudah terkumpulkah semua naskahnya?”Matanya berbinar. Ia sudah lama kenal sama Si Bujang. Sosok yang selalu ingin tahu hal-hal yang tidak masuk akal. Lalu Rarasati melambaikan tangannya pada sang supir yang sedang menunggu di luar. Memintanya untuk membelikan minuman segar bagi mereka.

“Belum semua sih, baru beberapa sumber yang saya baca dan berbeda ceritanya.” Si Bujang diam, terlintas dalam benaknya akan cerita Sang Ayah, buku bacaan sejarah, Agama dan Sastra Sunda Naskah Bujangga Manik.

“Kamu tahu Wayung Hyang dan Situma Hyang?” Si Bujang mencoba mengawali ceritanya. Gaya dan tuturnya dalam bercerita hampir mirip sama Sang Ayah.

“Wayung Hyang adalah ibu dari dayang sumbi. Sedangkan Situma Hyang adalah yang kita kenal dengan nama si Tumang. Mereka berdua adalah bangsa halus dari kahyangan. Yang entah kesalahan apa diturunkan ke bumi. Dikutuk jadi celeng hutan dan Anjing.”

Rarasati mendengarkan dengan seksama. Ia berterima kasih kepada sopirnya. Memberikan satu minuman pada si Bujang. Lalu kembali mendengarkan. Belum ada kesempatan baginya untuk mengajukan pertanyaan.

“Mereka berdua terpisah dan saling mencari. Sampai suatu kala Wayung Hyang bertapa karena ingin berubah menjadi manusia kembali. Maksudnya menjadi seorang dewi kembali. Tapi sekian lama ia kehausan lalu tidak sengaja meminum air keruh dalam daun Caring atau keladi hutan.”

“Minggu lalu aku pergi ke Kebun Raya dan mencari apa itu daun caring dan keladi hutan. Bentuknya memang dapat mempertahankan air. Sejak Wayung Hyang meminum air tersebut. Yang ternyata adalah air seni Raja Burangreng, yang sedang berburu. Dalam waktu Sembilan bulan Celeng Hutan Wayung Hyang melahirkan gadis bernama Dahyang Sumbi atau Dayang Sumbi.”

“Sebentar, air seni raja dapat membuat hamil? Pun pada seekor hewan?” Rarasati mempunyai pikiran yang sama ketika ia tahu cerita itu dari ayahnya.

“Karena tidak mungkin seorang manusia menghamili seekor binatang. Jelas secara genetic mereka berbeda. Itu pada kasus Raja dan Wayung Hyang. Apalagi hanya dengan meminum air seni.” Si Bujang nampak menguasai bahan ceritanya. “Maaf, tidak bermaksud berbicara seperti ini. Terlebih kita sedang minum es cincau!”

“Haha .. Tenang aja atuh Jang, ini kan suatu cerita!” Rarasati tertawa terpingkal-pingkal. Ia lupa bahwa dirinya bukan perempuan yang geuleuhan. Meskipun anak seorang Gubernur, ia bukan tipikal anak manja. Si Bujang menggaruk-garuk kepalanya, meski tak gatal. Ia melanjutkan.

“Pun karena tidak mungkin manusia dihamili seekor binatang. Jelas sekali secara genetic manusia dan hewan sangat berbeda. ini pada kasus Dayang sumbi dan Si Tumang. “

“Lalu mereka berdua manusia?” Raras memperjelas pertanyaan.

“Dalam riwayat lain, dina jero buku karya Utuy Tatang Sontani. Diceritakan dalam babak dramanya. Jika mereka berdua bukanlah dalam wujud Celeng dan Anjing sungguhan. Itu hanyalah sebutan bagi kesalahan yang telah mereka perbuat. Sang Raja yang sering berburu dan pergi blusukan ke daerah-daerah, menemukan seroang gadis cantik. Kesemsem. Mengawininya sampai mempunyai anak. Tapi ya tidak disebutkan riwayatnya karena bisa menurunkan wibawa raja.

Para penulis yang sudah mengamati legenda ini pun mencoba untuk berpikir logika mengenai Legenda Sangkuriang. Unsur Mistis, Gaib dan melewati batas kenormalan.

Pun Si Tumang atau Situma Hyang, bukanlah sosok anjing. Tapi seorang yang mengabdi pada kerajaan. Ia setia. Tapi cacat. Wajah dan fisiknya. Karena sumpah serapahnya Dayang Sumbi, maka ia mau tidak mau harus menepati janjinya untuk menikahi lelaki tersebut. Tentu saja Raja Marah, anak gadisnya yang sudah ia sediakan lamaran-lamaran dari berbagai pangeran di kerjaan. Ditolak hanya untuk menikahi seorang abdi kerjaan. Buruk rupa dan miskin pula. Maka Dayang Sumbi diusir dan hidup di dalam hutan.”

Rarasati sangat paham sekarang. Pemikirannya yang modern sekarang nyambung dengan cerita Legenda Sangkuriang. Untuk selanjutnya ia akan lebih menerimanya kembali meskipun ada beberapa hal yang tidak masuk akal. Apakah benar ada manusia atau makhluk dari kahyangan?
Pertanyaan masih belum terungkap mengenai jati diri Wayung Hyang dan Situma Hyang. Apakah mereka memang dewa, makhluk langit, silumat, demit ataukah manusia biasa yang hidup di kerajaan lain.

“Saat Kerajaan di Indonesia ada apa saja?” Rarasati yang memang anak Ekonomi UI belum paham benar apa itu sejarah kerajaan Islam, Hindu Dan Budha pada saat dahulu. Begitu banyak pelajaran yang belum ia pahami.

“Lho, rupanya kalian disini, Ayah mencari-cari tahu-tahunya di perpustakaan.” Sang Ayah tetap berdiri dan mengajak mereka pergi, sebab hari sudah sore.

“Kenalkan, Ayah ini Rarasati.” Si Bujang memperkenalkan Sang Ayah yang selama ini ia ceritakan. Seorang Dosen dan Ayah Rumah Tangga.

“Salam kenal, Sang Ayah. Bagaimana seminarnya?”

“Lain kali kalian harus ikut. Disana ayah bertemu dengan seseorang yang mungkin saja akan memperkuat pengetahuan mengenai sejarah kerjaan. Ayah bertemu dengan seorang yang sedang meneliti situs Gunung Padang. Mungkin ia masih ada di ruang seminar. Tapi jika pun tidak ada. Kita akan pergi ke Cianjur.” Sang Ayah menepuk pundak Si Bujang. Terlihat mata si Bujang yang berbinar. Rarasati ikut senang, ia tidak menyangka Sang Ayahnya Bujang begitu banyak petualangan.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook