Cerpen - Tidak Tercatat

November 29, 2017

Memberikan sebuah pengalaman mengejutkan bagi anak remaja sangatlah rentan. Diberi cerita horror malah jadi musyrik. Sedikit-sedikit minta permisi sewaktu melewati rumah kosong, jembatan tua maupun Gedung bekas peninggalan Belanda. Diberi cerita cinta malah jadi pacaran, bergaul yang tak wajar hingga hamil duluan. Diberi cerita anak-anak malah jadi syndrome peter-pan, jiwanya terkungkung dalam raganya yang besar.

Tapi kali ini aku akan memberi mereka sedikit dramatis. Kematian. Semoga mereka sadar jika hidup mereka terancam.

- Tidak Tercatat

Hujan membelah kota menjadi dua bagian tipe remaja. Mereka yang kekebalan tubuhnya rendah, berdiri di bawah pohon rindang, warung kopi, ruangan gedung atau membawa payung. Sedikit-sedikit ketakutan akan gadgetnya basah, flu esok harinya atau tidak ada baju/sepatu ganti.

Sementara mereka yang tidak diajarkan rasa sakit tetap melangkah ke jalan menuju tempat hiburan. Tempat uji coba kami, dibungkus oleh gemerlapnya hiburan malam dan badut-badut penyuka permainan lempar bola. Dimata mereka hanya ada kata bersenang-senang. Hujan hanyalah pembuka cerita bagi mereka. Entahlah antara pemberani dan bodoh memang sulit dibedakan.

“Seluruh tim, siap di posisi!” Ketua memberi komando. Seluruh tim bersiap dengan job desknya masing-masing.

Tahap penyeleksian dimulai. Hanya beberapa dari mereka yang menurut kami cocok yang akan dijadikan sampel utama. Lain dari itu adalah percobaan yang gagal.

Anak-anak remaja yang masih tanggung dalam fase perubahannya. Beranjak ke dewasa tapi masih kekanak-kanakan. Berlarian seperti anak-anak tapi sedikit agak aneh, karena tubuh mereka tidak mampu menopang lagi bahu yang lebar, dada yang bidang, dada yang membesar, pinggul yang kokoh membulat dan otak-otak yang makin tumbuh membesar. Dijejali halusinasi dan cerita-cerita dari senior mereka. Mereka adalah umpan yang cocok penelitian kami.

Sebuah taman hiburan di tengah kota, baru dibuka pada minggu pertama bulan Desember tahun ini. Dibuka untuk umum. Hal yang berbeda dari taman hiburan yang lain adalah adanya ruang kesenian. Gedung mewah yang baru dibangun untuk menyelenggarakan pentas seni atau olahraga. Mereka menyebutnya Aula Kebesaran.

Sore ini sebagai rasa syukur pak Walikota atas terwujudnya pembangunan dimasa pemerintahannya, maka seluruh siswa menengah akan diundang untuk menyaksikan film layar lebar. Film ini menceritakan kengerian masa penjajahan. Diharapkan siswa setelah menonton film ini timbul rasa nasionalisme dan mau mempertahankan kemerdekaan sebagaimana para pahlawan yang telah gugur.

Diawali dengan menyanyikan hari kemerdekaan dan pujian atas keberkahan Negara, para siswa berkumpul di dalam ruangan, Pintu aula ditutup. Pihak sekolah dan pemerintahan telah bekerja sama untuk mengisi jam-jam siswa.

“Terimakasih sudah menggerakan siswa-siswa kemari, pak!” Sebuah senyum tersungging dari raut wajah tua kepala panitia. “Istirahatlah di tempat yang telah kami sediakan.”

Ketua membawa walikota ke ruangan pribadinya. Dosis alkohol yang di cekoki membuat ia kehilangan kesadaran. Meracau dan mengeluarkan unek-unek selama pemerintahannya.

“Kami ingin tahu bagaimana reaksi anak muda mendekati kematian!” Suara ketua panitia berbisik menghentikan canda tawa mereka. Antara sadar dan tidak pak Walikota mendengar rencana jahat tesebut. Untuk memberontak ia tidak sanggup. Zat narkotika telah membuatnya lumpuh. Segala upaya ia lakukan untuk memberi tahu ajudan dan pengawal pribadinya. Namun ia tak sampai dilakukan. Efeknya sudah masuk ke otak. Memutuskan kontrak dengan alam bawah sadar. Terjerembab pada dunia khayalan.

“Rencana A selesai. Tim segera bergerak!” Ketua menyerahkannya pada seluruh tim.

Saatnya film dipertontonkan.

Anak-anak zaman sekarang terkadang lupa akan kematian, malahan dibuat lelucon di jejaring social. Ada pula yang dengan mudahnya mengeluarkan sumpah serapah mengenai kematian seseorang. Seolah yang mereka lihat adalah tayangan fiktif belaka. Kebakaran, kecelakaan, tertimpa musibah atas bencana alam hanya sebuah cerita bagi mereka. Padahal kejadian itu ada di sekitar mereka.Efek kecanduan gadget membuat mereka menjadi anti social.

Untuk itulah percobaan ini dilakukan. Rencana besar untuk mengembalikan Negara menjadi benar-benar bersih dari generasi yang madesu. Kita tidak lagi main-main sekarang. Kepala Negara dan staf, serta petinggi dan professional sudah tua dan tidak lama lagi akan pensiun. Menyerahkan bangku kekuasaan pada mereka yang masih labil adalah bencana besar. Kiamat kemanusiaan. Kiamat Negara.

Aku sebagai bagian dari tim harus segera menempati posisi sesuai rencana. Lampu gedung dimatikan. Volume kematian diperbesar dan pintu keluar telah diamankan. Tidak ada yang bisa keluar sebelum menamatkan film ‘Jurang Kematian’.

Suara jeritan dan teriakan terdengar di dalam ruangan. Beberapa efek film sadis akan membuat otak bekerja. Mereka yang sudah kehilangan otak kecilnya akan dimasuki oleh memori baru. Dan memori yang pertama mereka lihat adalah film ini. Pembunuhan, pemerkosaan, penindasan dan perang. Evaluasi yang telah kami lakukan adalah efek setelah ini. Mereka akan bertambah kuat, merasakan bagaimana perjuangan masa lalu untuk membebaskan diri dari perbudakan. Maka dari itu tidak boleh ada satupun yang boleh keluar sebelum film-nya selesai.

“Pak, aku ingin permisi ke belakang!” Seorang siswa remaja menahan kemaluannya.

“Tidak boleh banyak alasan! Tetap duduk dikursimu!”

“Tapi aku tidak tahan!”

Peraturan selama film berlangsung, tidak boleh menonton film ini setengah-setengah. Efeknya akan membuat mereka keliru dalam membuat kesimpulan.

Anak perempuan itu menahan sekuat-kuatnya. Lalu bau pesing tercium olehku. Mukanya merah menahan malu. Mungkin satu orang saja yang keluar tidak akan membuyarkan rencana.

“Hanya sebentar saja cepat!” Teman satu tim, ku dengan gegabah membuka pintu dan mengantarnya. Mata genitnya ia perlihatkan padaku. Mereka berdua pergi ke belakang. Lalu terdengar suara keras. Entah menjerit atau terjerat. Tapi kulihat ada genangan air merah yang mengalir deras.

“Hanya sebentar saja!” Suara gadis itu terdengar. Langkah kakinya terdengar. Menginjak aliran darah. Timku terkoyak membelah. Ia menaburkan petaka dan bahaya. Mendekatiku dan melemparkan kepala temanku.

“Selesai.” Katanya. Ia lalu pergi ke luar mencari udara segar. Entahlah bagaimana cara gadis itu memenggal kepala, aku tidak tahu. Dan tak pernah tahu.



:)

0 komentar

Follow Me

Facebook