M.O.S. 001 - Micha

November 16, 2017

Tidak ada yang berani mendekati rumah tua ini. Dipandang sebelah mata dan tidak terawat. Terlewat dari perhatian pemerintah setempat. Masih kokoh dan kuat. Rumah bekas belanda di tengah-tengah kota Metropolitan.

Berdiri diantara gedung-gedung tinggi dan area perkantoran. Membuat sebuah ironi yang sangat kentara. Rumah Tua berkarat dan jika didorong pintunya berderit. Tidak ada orang yang berani masuk ke dalamnya. Konon katanya selalu terdengar suara rintihan pada tengah malam, dan terdengar perdebatan hebat di dalam rumah tersebut. Entah apa yang terjadi pada rumah itu sebelum ditinggal pemiliknya. Pada masa lalunya.

Lupakan sejenak mengenai ‘Rumah Terkutuk’ itu. Hari ini tepat aku merayakan kelulusanku. Berkalung medali dan seikat piagam coumlaud di tangan. Aku berlari dengan penuh semangat ketika disebutkan namaku di atas panggung. Terbayang wajah bangga dan sumringah kedua waliku. Melihatku sampai segagah ini. Namun sayang waliku tidak datang. Mereka tidak terlihat duduk diantara barisan orang tua.

Namaku Micha. Dan ini kehidupanku.


Aku mengunci pintu rumah, merebahkan tubuh di sofa, menerang jauh dan menatap haru bingkai foto keluarga. Seandainya ibu dan bapakku masih ada, maka beban ini tidak akan terjadi pada diriku yang tidak berdaya. Tapi aku yakin Tuhan Maha Ada. Ia mengawasi hamba-hambanya.

Sepaket bunga pemberian mahasiswa tergelar di atas meja, buku-buku baru pun telah menumpuk diatas lantai. Aku tidak terima raga ini harus bergelut kembali dengan dunia akademisi. Malam ini saja aku ingin menenangkan diri.

“Tok.Tok.Tok!” terdengar suara ketukan pintu yang memaksa. Lagi-lagi orang itu datang ia selalu tidak tahu waktu selalu saja datang pada malam hari.

“Micha, ku dengar kau sudah lulus kuliah?” Orang itu membelai wajahku, serasa dibelai samurai. Sungguh itu menghinakanku. “Sesuai perjanjian kita, kamu harus meninggalkan rumah ini.!”

“Bapak pengacara yang terhormat, aku tidak tahu perjanjian apa yang telah orang tuaku lakukan. Tapi aku tidak akan pernah meninggalkan rumah ini. Ini satu-satunya warisan orang tua yang aku tahu. Dan hanya ini satu-satunya peninggalan mereka.” Aku mencoba menaikkan nadaku.

Brak!

Mereka melempar berkas perjanjian itu di atas meja. Debu-debu yang memang tidak pernah kubersihkan berterbangan hingga membuat hidungku tersumbat. Dan kami semua bersin-bersin.

“Sial!” Umpatnya.

“Persetan dengan keras kepalamu, Esok rumah ini akan kami urus. Kau akan menangis tersedu jika tidak manandatangani surat ini! kalau tidak akan kami robohkan.”

Mereka keluar sebelum ku balas perkataan mereka. Aku menutup pintu dengan keras. Sontak terdengar seorang wanita berteriak. Aku kaget dan ku buka pintu namun tidak ada apa-apa. Aku kembali ke dalam rumah dan mengacuhkan surat-surat bermaterai itu. Aku tidak percaya pada mereka.

Rumah terkutuk ini akan tetap milikku.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook