Cerbung Horror - Ahool 005 - Kamu adalah Jawaban

November 21, 2017

Hari Kelima

Adelia anak perempuan yang ditemukan pak guru Arif kini mulai siuman. Kondisi yang memprihatinkan sekarang berubah bugar. Anak sekecil itu diajaknya berjalan jauh saat malam. Mungkin udara menggerogoti paru-parunya.

“Apakah ia salah satu murid bapak?” Asep membuatkan teh hangat dan memberikannya pada pak guru ketika sedang beristirahat di sermabi.

“Bukan.” Pak guru Arif mencicipi teh buatan Asep. “Aku menemukannya sendirian dalam kabut.” Lantas Asep menahan segala pertanyaan. Lalu mengajaknya ke ruang tengah menemui mantri Ida.

Di ruang tengah sudah berkumpul mantra Ida, Pak Daman dan beberapa warga. Pak Arif dan Asep ikut berkumpul. Beberapa makanan khas sunda tersaji dalam wadah-wadah yang terbuat dari anyaman bambu. Arif yakin sekali ini seperti dalam film laga tutur tinular.
Disana ada juga Adelia dan seorang Nenek yang saling berpelukan.

“Adelia adalah anak yang hilang dan sekarang telah ditemukan.” Pak Daman menjelaskan sebelum pak Arif bertanya. “Sudah lima tahun yang lalu kami mencoba mencari keberadaannya.”

“Lima tahun?” Arif mengulang pertanyaannya. Mungkin ia salah dengar. Anak yang hilang lima tahun, sangat kecil kemungkinan ditemukan dan tidak mungkin sama wajahnya karena sudah berubah. Tapi dari pengakuan anak itu, ia baru saja kemarin malam ia mencari ibu dan ayahnya.

“Lima tahun yang lalu, ada kejadian yang tidak bisa kita percayai. Kami hampir mempasung Kadir karena ceritanya yang ngawur!”

“Boleh diceritakan maksud ‘ngawur’?” Arif mencoba mencari cara agar ia dapat menyambungkan pengalamannya ke dalam penjelasan.

“Anak ini digondol Ahool!” Asep menegaskan. Diamini oleh semua warga.

“Maksud bapak, Ahool ini makhluk yang bersayap seperti kelelawar?” Arif mencoba menggambar dalam kertas. “Seperti ini?” Arif menggambar segerombolan hewan yang mirip kera bersayap dan seorang wanita tanpa busana yang dapat melebarkan sayapnya.

“Ya. Seperti itu. Tapi siapa wanita bersayap kelelawar itu?” Asep menunjuk wanita tanpa busana yang digambar Arif.

“Dia yang mengomando mereka!” pak Arif menjelaskan. “Kami diserang makhluk itu. Murid-murid kami diculik oleh segerombolan makhluk itu!” pak Arif mulai lega karena bisa menjelaskan itu semua.

“Kenapa baru sekarang ceritanya?” Pak Daman mencari cara untuk menenangkan warga yang saling bertanya.

“Karena, buktinya hilang. Seluruh luka ditubuh ini tiba-tiba hilang ketika keluar dari kabut. Aku takut tidak ada yang percaya hal ini. Terlebih ada kejadian lima tahun. Kalian pasung ayah yang menceritakan kebenaran.”

“Aku ingin menemui ayah yang kalian pasung!” Arif bangkit dari tempat duduknya. “Aku ingin tahu apa sebenarnya makhluk itu?”

“Tenangkan diri, Pak Arif!” Mantri Ida merangkul pundak Arif dan menjelaskannya. “Kami kehilangan Kadir. Ia pergi mencari anak dan istrinya. Sejak itulah, kami meyakini itu hanya akal-akalan kadir. Ia berbicara yang tidak masuk akal.”

“Kadir, ada yang punya fotonya?” Arif mencoba menyambungkan dengan pengalamannya. “Nenek, punya foto kadir?” Sungguh terkejutlah Arif. Apa yang ia khawatirkan terjadi. Bahwa sopir bus yang ada disana adalah Kadir.

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Kita harus mencari. Tidak pada siang hari. Tapi saat Maghrib.” Arif menjelaskan.

“Tidak ada yang boleh keluar saat Maghrib, pamali!” Pak Daman mencoba mencegah Arif. “Kami warga disini sangat patuh pada peraturan ketua adat disini. Pantangan, Nak!”

“Kalau kalian mencari saat matahari bersinar, kalian hanya akan mencari kelelahan. Mereka akan muncul saat waktu-waktu pantangan itu.” Tegas Arif. Ia tidak hanya berbicara. Tapi ia mengalaminya juga.

Ketua RT dan warga saling berdiskusi. Sementara Arif pergi ke kamar untuk berkemas disusul Asep.
“Kang, tidak sewajarnya akang pergi sendirian. Berbahaya.”

“Kalian semua memang pengecut!” Arif sekonyong-konyong berbicara kasar. “Mau adikmu direnggut oleh makhluk itu?”

“Jangan bicara sembarangan, Kang!” Asep mengenggam kerah baju Arif. Ototnya yang memang terbentuk alami, terlihat menonjol. Ditambah raut wajah yang merah padam. “Aku sama khawatirnya sama Kang Arif. Tapi tidak begini caranya.”

“Maaf, maaf!” Arif langsung lunglai. Emosinya mereda ketika Asep mulai naik darah. “Maaf, maaf.”
“Ya, sudah. Aku juga minta maaf, kang. Tidak seharusnya aku ikut emosi.” Asep merangkul pundak Arif. Sebentar. Lalu mereka berbaikan. “Kita harus cari cara agar kita tidak kalah dalam pertempuran itu.”

“Kau percaya makhluk itu ada?” Arif menatap wajah pemuda desa itu. Disingsingkan bajunya. Terlihat otot perut yang kotak-kotak, membuat Arif menelan ludah.

“Apa yang kau lakukan?” Arif merasa risih. Pemuda itu menanggalkan pakaiannya. Asep berjalan mendekati cermin.

“Tengoklah!” Tubuh Asep berbeda dengan apa yang ia lihat. Dalam cermin terlihat bekas cakaran di dadanya. Luka yang hampir sama. Bahkan sama persis dengan yang ia punya.

“Tidak mungkin.” Arif mencoba meraba luka tersebut. “Tidak mungkin luka yang sama pada tempat yang sama. Siapa kamu sebenarnya?”

“Aku lupa siapa aku.” Asep tertunduk. “Namun ketika aku bertemu denganmu, aku melihat seutuhnya diriku. Lihat wajah kita sangat mirip. Kamu adalah jawaban atas apa yang terjadi pada diriku.”



:)

0 komentar

Follow Me

Facebook