Sangkuriang The Series - Naskah 1 - Wayung Hyang

Oktober 26, 2017

Terperanjat ia melihat rupa yang berubah.
Moncong yang membedakannya antara manusia dan hewan.
Kulit kasar yang menjauhkannya dari rupa para gadis-gadis kahyangan.
“Siapakah pemilik wajah ini? Aku tidak sudi melihatnya!”
Ia memukul-mukul genangan sungai yang ditatapnya.

“Enyah … Pergilah jauh dariku!”
Kebencian pada rupa buruk itu menyeruak sampai ke ubun-ubun.
Seketika itu ia tidak bisa membedakan mana tangan dan kakinya.
Jari-jari besar dengan kuku hitam mirip celeng.



((Di salah satu kamar, Asrama Wanita. Lantai Tiga.))

Seperti kilat menyambar di dua alam. Gemuruhnya ada di langit sementara getarannya sampai di bumi. Terasa seperti raksasa bangkit menyeruak permukaan bumi dengan kepalan tangannya yang berbatu.

Keringat membanjiri wajahnya. Keterkejutan itu seirama dengan mimpinya yang mengerikan. ‘Pertanda apa ini?’ bathinnya.

Malam itu Wayung Hyang terjaga dari mimpinya. Dilihatnya kamarnya berantakan. Angin seolah mengacak-acak seluruh isi kamarnya. Wayung Hyang terperangah dengan apa yang terjadi.

Ia meraba-raba dinding kamarnya mencari pemantik api. Ditemukannya lilin yang terbungkus kurungan ornament besi, berbentuk ulir tanaman. Terlihat indah dan eksotis. Tapi ini bukan waktunya untuk mendeskripsikan bentuk sedetil-detilnya. Wayung Hyung gadis cantik itu ketakutan setengah mati dalam kegelapan.

Setiap kali ia menyalakan lilin di tangannya, setiap itu pula angin meniupnya. Terus berulang seperti itu, bagaikan drama komedi. Suasana kegelapan itu membuatnya kehilangan kewarasan. Ia berpikir entah apa benar atau keliru. Bahwa ada seseorang bersamanya entah itu siluman, dedemit atau bangsa kahyangan yang sedang mempermainkannya.

Sekali lagi ia mencoba menyalakan lilin, sedetik kembali sesuatu meniupkannya. Kali ini tiupannya sampai ke wajah, ia yakin itu ulah manusia. Tercium dari aroma bawang dan sedikit bau ketumbar. Bau tersebut mengingatkannya pada bujang tampan yang mencoba menggodanya. Tempo hari yang lalu, ketika ia bersama dengan Sri menuju guru pergi berilmu, di perjalanan ia bertemu dengan Situma Hyang. Bujang tampan pujaan gadis satu kahyangan. Awal-awalnya godaannya bikin mual. Tapi lama-kelamaan membuat ia merindukan candaan dan perhatian. Dan malam ini semua adegan pertemuan itu terulang dalam bayangan di kepalanya.

Seketika suasana hatinya berubah, raut wajahnya pun merah merona. Ia merasa tenang ketika sekelebat bayangan pria berdada bidang itu terbayang. Lilin yang ada digenggamannya bagaikan kulit kasar berotot milik Situma Hyang.

“Bodoh-bodoh!” Ia memukul keningnya. “Mana mungkin pria popular tersebut sungguh-sungguh menganguminya.”

Tapi pun seandainya bujang tampan itu ada di kamarnya? Pecah ubun-ubunnya. Celaka. Malapetaka. Bencana. Mana boleh bujang dan gadis ada dalam satu kamar, tanpa ada restu dari alam. Ini sesuatu yang salah. Ini musibah. Hanya satu pilihan. Ia atau dia yang harus keluar dari kamar!

Kali ini ia benar-benar memusatkan pikirannya pada lilin yang ada di genggamannya. Semoga tidak ada angin yang mencoba menggagalkannya. Dan dengan tangan gemetar pemantik api mulai menyentuk sumbu lilin, pelan dan perlahan. Ditutupnya ruang lilin dengan kedua tangannya dan dengan hati-hati, ia menutupnya dengan ornamen besi ukiran tumbuhan.

Sial.

Setelah berhasil menghidupkan lilin. Listrik malah kembali hidup. Terang benderanglah seisi kamar. Raut wajah Wayung Hyang terlihat gemas.Terdengar sayup-sayup suara musik di iPod yang memang tidak ia matikan sembari tidur.

“Pemuda itu!” Pekiknya. Ia menerawang seluruh kamar, tapi tidak ada apa-apa kecuali dirinya seorang di kamar tersebut.

“Mana mungkin! Mana Mungkin!” Ia kembali menyelidiki seluruh isi kamar. Tak ada. Ia mematung lama. Apakah tadi ia bermimpi? Rasanya tidak. Ia menghembuskan nafasnya, tanda lega. Lega dalam arti, tidak ada yang terjadi selama mati lampu tadi. Cepat-cepat ia meninggalkan kamarnya.

Langkahnya mundur menutup knock pintu. Lalu ia keluar perlahan, masih dengan nafas yang terburu-buru. Entah setan apa yang mendatanginya malam itu. Sementara pakaian tidurnya masih ia kenakan dan rambut panjangnya yang semu kecoklatan terikat namun berantakan.

Tiba-tiba. Sebuah tangan menepuk keras pundaknya.

AHHH

“Wayung, kenapa malam-malam berkeliaran di luar?” Ibu Asrama berdiri di belakangnya. Galak. Kuat aturan. Saklek.

Nafas Wayung Hyang kembali beraturan.

“Apakah tadi mati lampu, bu?” Wayung dengan wajah kekanakan, menggaruk-garuk kepala. Membenarkan ikatan rambutnya juga. Tanpa alas kaki. Lantainya dingin, kakinya bergantian tumpang tindih antara kiri dan kanan.

“Tidak pernah ada mati lampu di Asrama ini, Wayung!” Sentak Ibu Asrama setengah marah. “Jangan banyak alasan. Cepat masuk ke kamar. Atau ibu jatuhkan hukuman!”

Otot lehernya terlihat manakala ia berbicara. Entahlah apapun konteks pembicaraannya. Semua terlihat sama seakan marah. Terkenal seanteor Asrama wanita. Tubuhnya tinggi besar lebih gagah daripada lelaki manapun.

“Oh mungkin aku masih bermimpi!” Sesal Wayung dalam hati, sambil mengetuk-ngetuk keningnya berapa kali dan ia masuk kembali ke kamarnya.

“Sial, hantu atau manusia sama saja menyeramkannya!” gerutunya sambil menutup kamarnya.

Malam ini ia tidak berani tidur. Ia jongkok semalaman di depan pintu. Takut sesuatu hal mengganggunya kembali. Dan lilin ornament tumbuhan itu masih ia pegang erat-erat. Nampak terlihat lampu berkedip-kedip.

“Jangan mati lampu lagi!” teriaknya. Maka lampu kembali gelap. Hitam tanpa satupun warna dan cahaya. Tuhan mengabulkan permintaan sebaliknya.

AHHH


((Ruang Baca Keluarga))

PUHH ..

Sebuah tiupan menyembunyikan warna dan cahaya. Gelap gulita. Lalu sebuah lilin serupa dalam cerita diperlihatkan. Maka terang benderanglah isi seisi ruangan. Sebuah Ruang Baca keluarga. Sang Ayah dan Si Bujang sedang asik bercerita.

“Apakah ini lilin yang dipakai tokoh utama kita, Wayung Hyang, Ayah?” Pria remaja melihat ukiran tumbuhan pada tempat lilin ayahnya.

“Betul.” Ayahnya merapatkan tangannya dan membiarkan api sebentar menyulut sumbu dan mempertahankan titik cahayanya. Lantas setelah api telah membakar setengah sumbu, ia lepaskan kembali. Maka bertahanlah api dalam cangkahnya.

Tidak banyak memang seorang Ayah yang tetap bercerita dengan anak remajanya. Di sebuah rumah sederhana, dimana tingkat pendidikan hanya dijadikan sebatas ornament kewibawaan dan nama baik. Ia tipikal manusia yang suka anaknya membaca. Baginya belajar tanpa membaca, seperti menelan bulat-bulan pil yang diberikan dokter. Tanpa tahu bisa meramunya kembali ketika sakit.

“Ayah, bukannya malam ini, Ayah mau menceritakan legenda Sangkuriang, lalu siapa tokoh Wayung Hyang ini?” Si Bujang ini amat perhatian pada setiap detail yang diceritakan Sang Ayah.

“Wayung Hyang adalah ibunda dari Dayang Sumbi. Belum adakan yang menceritakannya?” Ayahnya mengambil dua pensil yang tergeletak di meja, bekas anaknya menggambar.

“Ini adalah Wayung Hyang.” Sang Ayah mengandaikan sebuah pencil dengan tokoh utamanya. “Dan ini adalah Situma Hyang.”

“Mereka adalah bangsa kahyangan, sejak kerjaan Hindu dan Budha, datang ke Negara kita, cerita ini bermula dan banyak mengaitkan dengan Animisme den Dinamisme. Jika nanti ada hal yang diluar logika yang ayah ceritakan, kau akan paham, bagaimana cerita ini dapat dirangkai.”

Si Bujang mengangguk tanpa penjelasan, mungkin ia paham. Atau mungkin ia sabar untuk mendengarkan penjelasan lebih ayahnya. Atau barangkali ia sudah mengantuk, anak sekarang mana kuat mendengarkan dongeng selama berjam-jam. Maka dari itu Sang Ayah menutup ceritanya.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook