Sangkuriang The Series - Naskah 4 - Air di Daun Keladi

November 01, 2017

"Ayah, apa yang menyebabkan mereka diusir dari kahyangan?" Si Bujang rupanya punya pemikiran sendiri. "Sedangkan kedua jenis hewan tersebut saling bermusuhan pada habitatnya. Wayung Hyang menjadi celeng hutan yang biasa diburu oleh anjing, dimana Situma Hyang jadi wujudnya. Dalam kehidupan sebelumnya, mereka saling mencari karena cinta. Kini diburu nafsu membunuh."

Sang Ayah hanya mendengar kali ini, Si Bujang yang sudah hapal fase perkembangan manusia, mempunyai pemikirannya sendiri. Ada rasa bangga dalam dirinya. Anak yang ia besarkan seorang diri kini menjelma bak dirinya. Kelak suatu hari nanti, ia yang akan memberinya begitu banyak cerita.

"Kalau dalam buku dan internet diceriakan mereka tidak diketahui kesalahannya. Tapi kalaupun kutukan itu ada, tidak mungkin mempan pada orang yang tidak besalah." Si Bujang kembali menorehkan pendapatnya. Dibuka kembali beberapa naskah dari perpustakaan ayahnya. Modem ia hidupkan. Mencari semua sumber mengenai kesalahan yang diperbuat olah kedua orang kahyangan itu.

"Sebentar, Ayah." Si Bujang membawa pelajaran agama bekas sekolahnya. "Nabi adam dan Hawa diusir Tuhan dari surga ke bumi. Karena mendekati buah khuldi, atas bujuk rayu iblis."
Si Bujang, agak rasa malu dalam menerjemahkan pendapatnya. Tidak dengan pemikirannya, ada rasa penasaran tertancap besar dalam dada Si Bujang.

"Barangali Situma Hyang telah mendalami ilmu pengendali mimpi tersebut, atas bimbingan tokoh tambahan Ayah itu. Siapa namanya, ya. Ki Hideung lestreng. Situma Hyang mendekati Wayung Hyang dalam mimpinya."

Sang Ayah paham, apa yang ia maksud. Sesuatu yang tabu dijelaskan. Tapi Sang Ayah mendengarkannya dengan tenang. Ia merasa sudah seperti kawan sepermainnya dalam membicarakan hal yang sudah sewajarnya anak remaja tahu.

"Dalam beberapa hal kau benar, nak. Hubungan layaknya suami istri tanpa ada ikatan pernikahan. Sangat bertentangan. Lebih mirip perilaku binatang." Sang Ayah tertawa terbahak-bahak. Ia tidak habis pikir anaknya dapat berpikir sejauh itu. "Terlebih anak muda yang penasaran akan hal baru."

"Kenapa orang tua selalu memperingatkan anak muda?" Nada Si Bujang tiba-tiba merasa terpojokan. Oleh semua pemikirannya. Oleh semua pengetahuannya.

"Karena orang tua pernah muda." Kembali Sang Ayah tertawa terbahak. Ada beberapa hal dan kejadian yang mungkin tidak harus ia jelaskan. Ada sedikit masa lalu yang ia harapkan tidak dialami pula oleh darah dagingnya.

"Ayah apakah Wayung Hyang dam Situma Hyang akan kembali menjadi manusia?" Si Bujang mencari pertanyaan lain yang mengarah pada topik.

"Mereka diberi kesempatan. Situma Hyang akan berubah menjadi manusia tatkala bulan purnama. Sementara Wayung Hyang tetap berada di hutan, menunggu seorang raja yang bijak, memberinya seorang anak."

"Aku tahu certa itu, karena kehausan sehabis bertap, babi Wayung meminum air dari daun caring (Keladi Hutan). Yang ternyata adalah air seni raja tersebut."
"Benar."

"Tapi mana mungkin bisa terjadi?" Si Bujang mengingat-ingat daun caring atau keladi hutan, saat pergi jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor.
((Perbatasan Hutan))

Buruk betul tabiat Situma Hyang hingga ia lalai dalam kehidupannya. Sepasang telinga yang runcing, moncong bergigi tajam dan lidah menjulur. Jauh dari kesan wibawa seorang ksatria. Situma Hyang menerima apa yang menjadi takdirnya. Wujud seeor anjing hitam, tinggi besar dan mata tajam.

Kesalahan karena cinta yang menggebu, hasrat yang seharusnya tidak tertumpah pada sembarang insan. Terlebih belum adanya ikatan pernikahan. Di kehidupan yang kedua ini ia akan lebih berbuat kebajikan pada siapapun, terlebih jika ada yang menginginkannya menjadi hewan penjaga.

Situma Hyang terpisah dari Wayung Hyang. Sekian lama ia mencari untuk memaafkan kesalahannya. Berharap hanya dia seorang yang menerima kutukan ini. Tidak dengan gadis yang dicintainya. Sampi ia lelah dan menembus batas hutan, berkeliaran di jalan, pasar hingga ke halaman keraton kerajaan.

Takdir kembali datang pada Situma Hyang

Pun sungguh ia tidak ingin menjadi bagian dari pengawal keamanan. Tapi titik garis kehidupan menempatkan ia pada kenyataan.

Suatu tempat yang begitu banyak orang. Sampai ia melihat seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang diganggu oleh sekumpulan anjing jalanan.

"Tolong .. Ayah!" teriak anak perempuan iu. "Pergi jauh anjing nakal!"

Anak itu menyembunyikan sesuatu yang diinginkan oleh para anjing pasar. Seekor kucing manis yang ia pungut di pasar, ketika itu.

:)

0 komentar

Follow Me

Facebook