Pangeran Matahari - Cerita Pendek Bahasa Indonesia #016

Matahari pagi itu telah datang terlalu dini. Goesan sepedaku terasa lemas sekali. Melewati hutan-hutan besar dan jalan yg beraspal. Kucari tepian jalan yang diteduhi pohon besar dan ku pelankan sepedaku hingga aku berada di urutan paling belakang.

Liburan kali ini aku ingin sekali memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Tidak disangka waktunya pas sekali; ada lomba bersepeda di akhir pekan musim liburan sekolah.

Ayah menitipkan aku di rumah bibi; jauh dari perkotaan dan jauh dari hiruk pikuk keramaian.

Kali ini aku sungguh bersemangat sekali; ingin pamer bagaimana orang kota mengendarai sepeda. Aku sungguh akan memakai pakaian yang paling mencolok; inilah pakaian olahraga orang kota!

Kakak tidak bisa berlama-lama menemani liburanku; ia harus pergi bekerja. Aku akan mengisi liburanku kali ini dengan adikku.

Hari perlombaan sudah tiba; kami bersiap-siap di garis start. Tak ayal jalannya berbeda sekali dengan jalanan rumahku dulu. Beraspal tapi tidak halus; aku akan coba menyeimbangkan sepedaku.

Mencoba mengakrabkan dengan jalan-jalan yang baru. Pamit pada bibi dan berkeliling kampong sendirian. Tidak ada kawan sama sekali. Aku mencoba sekali lagi berkeliling di desa; jalan-jalan yang agak berlubang dan pemandangan yang hampir sama; hutan dan sawah yang terbentang luas. Tidak berlebihan jika aku mengatakan tempat ini terlalu luas; aku melewati jalan yang menembus hutan yang luas; dan sawah yang terbentang luas tak tahu dimana ujungnya. Pohon-pohon karet berdiri tegar di tempat aku bersepeda.

Petani-petani yang kutemui tidak berjalan kaki; hampir tidak ada orang yang berjalan kaki. Untk mencapai pasar mereka harus memakai mobil bak beramai-ramai. Mereka sangat gembira dengan semua hasil buminya.

Kehidupan yang tak pernah kutemui sebelumnya. Dan aku melewatinya seorang diri. Tidak ada kawan sama sekali.

Seorang anak seusiaku berjalan mendorong sepeda. Aku hampiri dia.

“kenapa?”

“rantainya.”

Aku lihat dan perbaiki rantainya. Tak perduli oli mengotori tanganku. Dia kawan pertamaku di desa.

“terima kasih.”

“sama-sama.”

“aku kevin folder.”

“sedan.”

Aku mengajak sedan bertemu bibi di rumah. Mengajaknya makan dan memberinya pakaian. Kulihat sedan pakaiannya sangat kotor karena pelumas.

“kamu sekolah dimana?”

“sekolah?”

“kamu sekolah, kan?”

“di bukit sana. Jauh dari sini.”

Bibi datang dan mendengar percakapan kami. Ia ikut duduk dan menemani kami makan.

“senangnya bibi jika folder punya kawan baru disini, sedan anak kampung sebelah ya, soalnya bibi baru pertama lihat. Ah mungkin bibi saja yang jarang keluar rumah.

Sedan mengangguk dan menggaruk rambutnya. Lucu. Aku sperti melihat cermin padanya. Perilakunya sama sepertiku.

“ya sudah selesaikan makannya, bibi mau pergi menjemur padi.”

“ya bi ..”

Sepanjang siang aku bermain bersama sedan di rumah; terlalu terik jika harus keluar rumah. Dan sedan sepertinya senang ketika ku bawa bermain di rumah. Aku bawakan ia mainan dari kota; semoga ia senang.

“kau suka mana mobil atau robot?” Aku memegang keduanya.

“yang ini yang ada rodanya.”

“oh, itu ban namanya. Kau suka?”

Ia mengangguk.

“ambilah.”

“buatku.”

“ya, aku masih ada banyak di rumah.”

Sedan memain-mainkan mobil kesayangannya. Ketika sedang asiknya bermain tiba-tiba sedan pamit pulang.

“sudah sore; sebentar lagi malam. Aku mengantuk.” Katanya.

“besok main lagi ke rumah ya.:”

Ia hanya tersenyum. Dan aku membawakan mobil-mobilannya. Kumasukan dalam kantong dan kumasukan lagi dua mobil lain dan robot-robotan. Aku berikan padanya.

Esok harinya aku tak bertemu dengannya lagi,

Dan esoknya lagi. Dan kemudian lagi.

Hampir seminggu dan aku tak punya kabar darinya.

Aku bersepada lagi.



Dalam perjalanan keliling desa; minggu terakhir sebelum ayah pulang menjemputku lagi. Aku menemukan lagi seorang anak seusiaku yang bersusah-susah; mendorong sepedanya. Aku telah berjanji tidak mau menemuinya lagi. Janji semalam sampai aku tidak bisa tidur. Tapi ketika kulihat lagi ia kesusahan; aku datang menghampirinya. Rasa kesal masih ada tapi memudar demikian waktunya.

“Kenapa lagi?”

“Sepadaku, Folder.”

“Aku benerin; jangan sungkan-sungkan ya.”

Aku memperbaiki rantainya lagi; kotor lagi tanganku; entah kenapa aku sudah lupa bagaimana rasa benciku ditinggal begitu saja.

“Oh ya, kenapa tidak main lagi ke rumahku? Rumahnya ga bagus ya?”

Iya menggelengkan kepala.

“ya sudah kita main sepeda-an saja ya; kita balapan bagaimana?”

“Boleh.”

Aku dengan semangat menggoes sepedaku; ah rasanya aku terlalu gembira. Berkawan denagannya serasa berbeda. Seminggu kemarin aku membencinya; sekarang aku sudah lupa.



“Kita istirahar dulu ya,?”

Aku duduk di tepi sungai dan memainkan air dengan kakiku; sementara ia berdiri tanpa lelahnya.

“Hari ini hari terakhirku disini.” Agar berat sekali suaraku mengucapkan ini; pita suaraku seakan terjepit sehingga terputus-putus.

“besok ayahku akan datang dan menjemputku.”

“kau mau bertemu ayahku? Dia akan senang aku punya teman baru.”

“tenang; aku tidak akan melupakanmu.”

“Mobil-mobilan dan robot yang kuberi masih ada kan?”

Ia mengangguk . “ada.”

“baguslah.”

“Aku senang liburan disini.”

“banyak sawah; banyak pohon; bibi dan berkawan denganmu.”

Ia tersenyum.

“boleh aku bertanya sesuatu?”

“rumahmu dimana?”

Seketika hening.



"rumahku di gerbang cina?"

"apa itu gerbang cina."

"diatas bukit sana.” Ia menunjuk bukit yang tidak kulihat ujungnya. Tinggi sekali; bagaimana mungkin sepedamu bisa sampai ke rumahmu.

“jalan mana?”

“kita memanjat.”

“sepedanya?”

“simpan saja disini?”

“apa tidak apa apa,nanti kalau bibi tahu sepedanya hilang bagaimana?”

“ga bakalan, yuk!”

Kami naik dengan jalan kaki, menginjak batu-batu besar sebagai pijakan agar sampai ke atas bukit.

Lalu tibalah kami di atas bukit dengan takjubnya melihat pemandangan di bawah sana.



Memandang sekeliling adalah hal yang sempurna, balutan awan putih seirama dengan birunya langit dan hijaunya hutan dibawahnya.

Tak terkecuali itu, aku mengetuk sebuah pintu dimana kawanku memasukinya.

Seorang kakek tua, seperti wajah kakek. Memberi sedikit nasehat dan lainya. Kami duduk dan mendengarkan. Buku-buku dikeluarkan. Sedang aku tak ada buku yang kupegang. Aku meminta maaf entah karena kesalahan atau emosional. Ini memang tak masuk akal.

Disebuah bukit dimana gerbang cina didirikan. Seperti sajian surga yang teramat dangkal.

Duduk aku didepan halaman. Memandang gemericik air dan ikan-ikan yang bermacam-macam. Entah itu ikan mas atau ikan apa aku tak mengenalinya. Pokoknya semua jenis ikan ada warnaya.

Awan yang seperti dibawah kakiku.

Langit yang seperti buatanku. Aku dipermainkan pelukis.

Tak mungkin matahari bentuknya seperti itu. Tak mungkin warna nya biru langit sepudar itu. Ini seperti lukisan yang kubuat kemarin, atau hari yang lalu.

Aku seperti dipermainkan jiwa seniku.

Angin bergerak semakin dingin; keras. Awan kulihat mendung semendung-mendungnya. Kilatan petir menyambar; siang hari bagaikan malam. Bintang-bintang seperti dilemarkan,

Hal yang sama sekali tak pernah ku bayangkan. Balutan awan itu menggumpal dan bergerak leluasa seperti ada yang menungganginya.

Satu persatu rahasia dibukakan. Awan awan itu bergerak lincah seperti hewan. Langit membelah sepeti gerbang. Dan muncullah pasukan langit yang seperti wujud kerajaan yang kulihat ditelevisi.

"kembalikan pangeran matahari pada kami!"

Apa yang mereka katakan. Siapa dia yang dimaksud pangeran matahari?

Berualng kali salah satu pemimpin pasukan langit berteriak dan meminta kembali apa yang mereka miliki. Seperti suara gemuruh di siang hari. Apa yang telah terjadi?

Seluruh penghuni rumah keluar dan mengatakan tidak tahu dan tidak akan mengaku.

Kakek menyuruhku pergi.

“Cepat kembalilah kebumi dan bersembunyi disana.”

Tak ada waktu lagi aku harus bergegas. Pasukan langit mulai berontak. Panah_panah panas menyerang bumi. Dengan gampangnya mereka menyiram dengan api, hujan dan kilat yang menggelegar.

"larilah bawa kawanmu jauh-jauh!"

Aku berlari sekuat tenaga. Tak kusangka yg ku ajak lari adalah pangeran matahari. Ia memang tak ingin kembli ke langit.

Gunung-gunung mulai membentuk pertahanan dan berubah menjadi tengbaja. Meluncurkan meriam ke atas disambut dengan dentuman keras. Entah suara siapa yg menang.

Lumpur-lumpur di sawah membangkitkan prajurit tanah gagah. Bermunculan seketika membuatku kaget juga.

"larilah yg jauh. Selamatkan dia!"

Sudah lama kami berlari. Dan mereka belum sadar siapa diantara kami yg meloloskan diri.

Hingga yg sembunyi itu terbuka, mereka tahu aku yg melarikannya. Berbondong-bondonglah mereka membabi buta di atas sana. Melempar dengan sembarang dan seenak hatinya. Kami diserbu. Apa yg harus kami lakukan?

"bagaimana mungkin kerajaanmu balik menyerang kita?"

"aku akan dilungsurkan dari kerajaan dan akan diganti paman jauhku."

"siapa dia?"

"dia yg merusak kerajaan langit yg utuh dan telah memperdaya pasukanku."

Kami berlari sangat jauh. Melewati rel-rel kereta dan bertemu anak anjing yg ingin ikut bersamaku.

Aku mengenal tempat ini. Setahuku diujung rel ini ada jembatan emas. Mungkin saja ada tempat bersembunyi teramat disana.

"ide bagus."

Anak anjing itu duduk menunggu kami di luar sementara kami menuruni jembatan emas dan terjun ke airnya. Sempit tapi tak ada yang bisa kami lakukan lagi. Ini tugasku. Aku harus menyelamatkan pengeran matahari.

Rasa sesak akibat air masuk ke tenggorokan membuatku kehilangan kesadaran. Dan tak bisa kupegang apa-apa begitupun kabar pangeran.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.