Ngidam Duda - Cerita Pendek Bahasa Indonesia #015

Gila. Malam-malam dia keluar rumah hanya untuk mengabulkan permintaan istrinya yang sedang hamil tua. Orang bilang ngidam namanya. Tapi ada yang aneh dari permintaan ngidam istrinya. Mulai dari ngidam duriannya tetangga sebelah sampai ngidam duda dari kampong sebelah. Apapun keinginan istrinya akan ia kabulkan. Wajar. Ia memang menginginkan buah hati sejak usia perkawinanya berangsur tujuh tahun.

“Tapi itu kan hanya mitos, Mur!” Celetuk Mpok Ida ketika ia datang menawari satu sikat pisang untuk ditukarnya dengan uang. Wajahnya menunduk, tapi ia bersikeras menawarkan pisangnya.

Murdi namanya, lelaki bertelinga besar itu setiap pagi pasti meminta tolong pada setiap tetangganya. Ya. Tidak jauh-jauh dari meminjam barang atau uang. Alasannya hanya demi istrinya yang sedang ngidam. Namanya juga ngidam jadi harus dikabulkan kalau tidak anaknya pasti suka ngeces atau mengeluarkan air liur. Mitos lama tapi masih dikunyah oleh orang lama. Maka mau tidak mau tetangganya mau memberikan apapun juga untuknya. Terserah!

Sampai suatu hari ia menginginkan duda dari kampung sebelah.

“Busyet, enggak salah denger nih?” samar-samar suara terdengar dari area sekolah, tepatnya di warung dekat sekolah, dimana anak-anak sekolah dasar berkumpul untuk jajan. Dan para pedagang yang bergabung dalam ikatan pedagang keliling membuat basecamp “Telaten” pengusaha rajin dan kompeten. Jangan salah, basecamp ini didanai langsung oleh pemerintah untuk mensejahterakan dan memberi modal bagi usaha kecil menengah. Sementara sistemnya tidak jauh-jauh dari kredit dan riba.

“Ngidam apa sebenarnya si Warsih itu?” Ibu penjaga warung sekolah berbisik ditengah-tengah kumpulan bocah. Para pedagang satu angkatannya mendengarkan gossip pagi ini dengan sumringah.

“Emang kali ini ia ngidam apa, Mbo?” Tukang rujak sambil meladeni anak-anak SD rupanya tertarik arah gossip ini.

“Dia ngidam duda!” Mbok Ida penjaga warung sekolah geleng-geleng kepala.

“Ngidam apa kebelet?” Gelak tawa dari tukang sayur dan asongan menyambar topik pagi ini.

“Ada-ada aja istrinya si Murdi itu, lagian si Murdi mau-maunya meladeni permintaan istrinya.” Tidak habis pikir para tukang itu padanya, orang yang dulunya sering mangkal di perkumpulan ini akhirnya jadi bahan gunjingan juga. Tidak ada kawan atau lawan, jika isu itu menguntungkan maka akan diperjualbelkan.

Jam waktu bergeser menuju jam delapan, saatnya mengakhiri pembiasaan pagi ini. Lalu mereka bersalaman, berdoa dan mengucapkan janji akan berjumpa lagi di “Selamat Pagi” gossip update warga perumahan. Dan mereka membubarkan diri menuju perum-perum di kota mereka.

Perumahan mentereng dijejali oleh pedagang asongan, sayur dan segala macam. Mereka mendapatkan shift dan jam kerjanya masing-masing. Mereka memang terorganisir dan itu lebih baik daripada kejahatan yang terorganisir dari pemilik dasi-dasi di lehernya.

“Ketopraknya bu, ketoprak ..!”

“Tambal panci bu, tambal panci!” Sahut-sahutan pedagang ramai menuju perum wilayahnya masing-masing. Lambaian tangan mereka menandakan mereka memang satu perkumpulan “Telaten”.

“Sayur-sayur!” Pedagang sayur mendorong gerobaknya di antara kerumunan ibu-ibu pembantu. “Sayurnya bu masih segar!”

Ibarat mendengar suara orkes dan undian, ibu-ibu pembantu rumah tangga itu berkumpul mengelilingi tukang sayur. Laki-laki mana yang tahan, bah. Daster-daster berbunga aster meliuk-liuk terkena angin pagi yang dibuat langsung oleh Pak Rojak, si pedagang Sayur Kemayur. Persis model iklan shampoo dan pengharum cucian tanpa bantuan sinar matahari.

“Nanti dulu bang, gampang kalau beli sayuran mah!” Salah satu pembantu rumah tangga yang dasternya warna merah menyala, sambil memutar-mutar terong ungu dengan tangannya. Ia member komando pada yang lain.

“Yang paling penting adalah gossip!” sambungnya. “betul tidak ibu-ibu?”

Memang sudah diprediksi oleh para tukang di Warung Mpok Ida. Ibu-ibu sekarang demennya bukan lagi daster atau panci alumunium, tapi gossip tetangganya sendiri. Untung saja mpok Ida ketua mereka memberikan tips-tips bagaimana menjinakan ibu-ibu tersebut. Salah satunya dengan stok gossip terupdate. Dan ini berhasil. Bang rojak membenarkan setelan dinasnya dan memberi ruang bagi ibu-ibu untuk mendapatkan informasi yang sebenar-benarnya. Pagi ini Bang Rojak-lah Rajanya.

“Eh, bang Rojak bener istrinya pak Murdi, ngidam duda?” Selosornya. “Ih, repot banget, mau digimanain itu duda kalau sudah dapat!” Gelak tawa terdengar dari mulut-mulut kecil itu. Pikiran mereka memang sulit dikendalikan, terlebih majikan pria mereka yang membuat kesemsem ketika hanya handuk yang dililitnya. Uh, Repot.

“Betul sekali!” Bang rojak menjawab dengan lugas apa yang memang sudah didengarnya. Dan kali ini ia harus menahan rasa perduli. Meski Pak Murdi adalah bekas sahabatnya dagangnya, tapi jika urusan bisnis ini menguntungkan, ia lupakan aib temannya. Semua ia lakukan demi keluarganya. Mana mungkin kita menyalahkannya juga. Ini bisnis, apapun bisa dilakukan demi sesuap nasi. Yang tidak setuju jadi guru ngaji saja! – watak seseorang memang sulit diprediksi. Keterlaluan atau tidak biarlah jadi dosa bang Rojak. Dosa? Apa itu dosa? Bagi mereka dosa adalah doa dan usaha.

“Tapi, sebentar. pernah lihat belum istrinya hamilnya sebesar apa?” Salah satu pembantu bertanya pada Bang Rojak. “Soalnya agak aneh juga gitu?”

“Selama masa ngidam itu, tak pernah ada berita seperti apa istrinya sekarang. Katanya ke bidan pun tidak pernah. Tetangga hanya mendengar gossip tentang suaminya saja. Emang agak aneh juga.” Bang Rojak sengaja melempar pertanyaan pada yang lain, biarlah yang lain merasakan dosa dari kejinya bisnis ini.

“Jelas ada yang disembunyikan, ini mah!” Pembantu lain menimpali. “Jangan-jangan ia mengandung anak setan.! Gila!”

Arah pembicaraan semakin jauh dari kenyataan. Entah benar atau tidak mereka lalu menambahkan sedikit demi sedikit menurut asumsi setiap orang dan dapatlah kesimpulan dari sumber yang tidak pasti.

Esok paginya.

“Mpok Ida, apa kita tidak berdosa menyampaikan kabar seperti ini pada warga?” Tukang-tukang berbisik mencari tempat duduk. Sementara anak-anak SD ramai mencari jajanan. Entah benar apa salah yang mereka dengar, karena bisingnya anak-anak SD membeli jajanan. Sementara Bang Rojak hanya terdiam antara lega dan tidak tega.

“Emang apa yang kalian dengar?” Mpok Ida meminta kesimpulan dari apa yang ia utarakan kemarin pagi.

“Istri Pak Murdi Hamil Setan!” Serempak para pedagang.

“Asragfirulloh .. Gila. Koq jadi seperti ini beritanya?” Mpok Ida mengusap keringat di dahinya. Rasa bersalahnya muncul begitu pun para pedagang terutama Bang Rojak. Keputusan untuk menjadikan gossip sebagai penglaris akan mendatangkan musibah, kekacauan dan malapetaka di daerahnya. Terlebih ada orang-orang yang tersakiti, teraniaya dan terdholimi. Apa yang dia perbuat meski awalnya baik tapi sangat bertentangan sekarang. Mpo Ida menewarang ke masa lalu, ketika guru ngajinya di kampung mengajarkan bagaimana fitnah menjadi lebih kejam dari pembunuhan. Membayangkan hal tersebut, membuat Mpok ida merinding.

“Pak Murdi dan istrinya akan diusir dari kampung sebelah. Perbuatan sesat mereka diluar batas!” Sesal pedagang lain.

Mpok Ida tidak dapat menelan kembali ludahnya. Ia hanya berpikir kenapa serumit itu jadinya. Padahal Pak Murdi sebenarnya hanya meminta bantuan pada para tetangga untuk mencarikan uang pinjaman untuk biaya melahirkan. Dan soal Duda-duda itu, ia berencana akan meminjam pinjaman pada Duda di kampung sebelah. Mpok ida tidak mampu membersihkan nila belanga, sudah hancur dan tidak dapat diperbaiki. Ibarat meniup bunga kapas selama perjalanan, jika dikumpulkan lagi karena penyeasalan pun tidak akan bisa sempurna dan utuh seperti semula.

Mpok ida menutup kembali warungnya. Dengan raut wajah datar ia meminta para pedagang untuk kembali bekerja, sementara Ia meminta pada sang Kuasa untuk memaafkan segala kesalahannya. Shalat dhuha yang tidak pernah ia lakukan, segera ia laksanakan. Shalat-shalat Taubat yang pernah diajarkan ia lakukan semampu dan sehafalnya. Penyesalan ini sungguh membuatnya menjadi orang yang lebih baik. Mpok ida tidak pernah keluar rumah sebelum perasaaanya tenang. Berapapun banyaknya ketukan pintu para pembeli, tidak ia hiraukan. Hanya selimut, tasbih dan mukena lusuhnya yang tertempel di badannya. Memohon ampun atas apa yang tidak sengaja dilakukannya.

Sementara di luar sana dalam hujan dan kebasahan Pak Murdi dan Istrinya terseok-seok di jalanan mencari bantuan pinjaman untuk biaya pengobatan. Dari satu rumah ke rumah yang lain. Diusir dari kampong yang pernah membesarkannya. Tapi berita tersebut sudah tersiar ke kampung-kampung lain, begitu mudahnya berita tersebar. Dan malang, setiap pintu-pintu yang diketuk tertutup. Lalu umpatan yang kasar lagi tajam tersiram begitu pedas. Tuhan adakah yang mau membukakan pintu untuknya? Hujan mulai besar, malam sudah larut dan perut istrinya sudah tidak kuasa lagi berjalan jauh.

“Mas, aku tidak sanggup lagi, sepertinya akan keluar disini!” Lirik istrinya dalam kepasrahan yang luar biasa.

“Sabar, sayang. Tabakan hatimu .. Sebentar lagi.” Pak Murdi mencium dahi istri dan juga perut tempat sang jabang bayi.

“Anakku kau harus sekuat ibu dan bapakmu ya!” Ia mengajak berdialog anak dalam perutnya.

Sampailah juga ia di depan bekas puskesmas. Terlunta-lunta hingga sampai ke tempat jauh. Membunyikan bel berkali-kali. Namun tidak ada yang menyahut. Tidak sadar itu hanyalah bangunan usang yang kosong. Terdengar suara bisik-bisik dari dalam, seperti saling mendorong satu sama lain. Mungkinkah orang yang di dalam bertengkar dulu sebelum membuka pintu?

Suara lingsir wengi, terdengar.

Hingga nasib mempertemukan keluarga malang itu dengan bidan-bidan gentayangan. Dan memberikan pintu puskesmas bekas itu terbuka, dibantu melahirkan oleh makhluk halus nan menyeramkan. Masa bodoh dengan raut wajah mereka yang terkelupas, dan tatapan mereka yang tajam tanpa ekspresi. Istrinya harus segera dibantu dalam proses persalinan.

“Dorong mba!” Suara bidan satu begitu dalam dan tanpa gerakan mulut saat mengucapkan.

“Bapak silakan tunggu di luar.” Bidan ke dua mendorong bahu Pak Murdi, dan wajah-wajah saling bertatapan. Pak Murdi dengan wajah yang tegang dan kaku, sementara Bidan dengan gerak-gerak patahan kepalanya ke samping kiri dan kanan. Dan sesekali tersenyum padanya, pada bidan satu dan pada istrinya, seolah berkata “Siap!”. Dan Cekikikan halus terdengar..

Belum hilang rasa takut pak Murdi atas cekikian halus bidan tersebut, meraunglah jeritan istrinya kamar bersalin. Keluar dari rahim dengan bantuan dua bidan gentayangan seorang bayi mungil yang bersih, dan tak lama bayi itu menangis sejadi-jadinya karena di hadapannya ada dua bidan terkelupas yang mencakar-cakar rahim ibunya.

Pak Murdi mendobrak pintu dan segera mengambil bayi yang masih basah dengan cepat.

“Belum dibersihkan ari-arinya pak! Sini kami bantu?” Salah seorang bidan yang suka tersenyum mendekati Pak Murdi. Sementara bidan satu masih melumat darah nifas. Tanpa sekalipun tersenyum. Di kasur bersalin, tergolek lemas sang istri, ia menoleh dan menawarkan tangannya untuk meminta bantuan. Tanpa suara.

“Tumbalku cukup kamu, tidak untuk bayiku.” Pak Murdi mengambil anaknya dan meninggalkan istrinya lemah habis dikoyak. Tanpa perasaan. Tanpa perasaan.

Pak Murdi kembali ke kampung halamannya dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bahwasanya istrinya tidak mengandung anak setan. Tapi sayang istrinya meninggal saat proses melahirkan. Warga warga yang menyesal menerima kembali kehadiran Pak Murdi. Terlebih Bang Rojak dan Mpk Ida.

Kini pak Murdi hadir di tengah-tengah masyaakat. Tanpa istri tapi dengan bayi yang menggemaskan yang butuh kasih sayang ibu baru. Pak Murdi melanjutkan kembali apa yang telah dimulainya. Tanpa sepengetahuan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.