Fase 010 - Anak Shaleh #1

Sekarang keberadaan sekolah agama atau Madarasah Diniyah mulai ditinggalkan oleh anak-anak usia remaja. Setelah lulus sekolah dasar dan duduk di sekolah menengah mereka tak lagi mencari ilmu agama di madrasah. Entah gengsi karena sudah gede. Atau sudah pede karena sudah tak perlu belajar lagi. Meski tidak semua. Masih banyak anak-anak sholeh disekitar kita.

Kami belajar agama setiap pulang sekolah desa. Sekolah desa adalah sebutan kami untuk yang bersekolah di Sekolah Dasar. Disebut demikian karena sekolah tersebut hanya ada di desa. Tepat di samping balai desa. Atau mungkin balai desa yang dekat sekolah. Ah. Entah siapa yang lebih dahulu dibangun. Sekolah dasar di dekat balai desa atau balai desa yang dekat sekolah dasar.

Hampir seluruh masyarakat, pemuka adat, tokoh agama, pengusaha, mantri, ABRI, guru dan aparat desa pernah mengenyam bangku sekolah di sekolah desa. Berbagai kenangan dan pengalaman tentang belajar disana sangat banyak. Tak cukup satu bab untuk menceritakan ini semua. Inilah awal pendidikan bagi penerus bangsa.

Berbeda dengan sekolah dasar yang hanya ada di desa. Sekolah madrasah atau sekolah agama menjamur sampai tiap kampung. Di tempat ini anak-anak yang belum cukup umur masuk SD pun bisa bersekolah di madrasah. Istilahnya anak bawang. Ikut-ikutan. Aku pernah jadi anak bawang. Sebelum masuk SD aku sudah lebih dulu masuk madrasah. Keren kan?

Akan aku ceritakan. Karena aku suka bagian cerita ini. Saat itu aku berumur 5 tahun. Atau mungkin kurang. Anak-anak sebaya belum ada yang ikut jejakku. Aku pikir begitu. Karena memang satu kelas itu hanya aku yang masih balita. “Berikan harapan pada kami si pendobrak!”

Sejak kecil aku memang ingin lebih dulu sekolah dari pada yang lain. Masuk SD pun aku ingin masuk lebih dahulu, meski waktu itu usiaku 6 tahun. Ibu melarangku. Padahal aku ingin selangkah lebih dulu. Setelah diberi pengertian setiap malam, maka aku redakan ambisi masuk sekolah dasar. Lalu selang waktu setahun aku menunggu masuk SD, setiap hari pagi-pagi sampai sore hari, aku belajar mengucapkan kata “Rr”. Biar tidak cadel.

Menyesal memang karena tidak sekuat tenaga memaksakan kehendak. Ternyata yang masuk Sekolah dasar sebelum usia tujuh tahun juga banyak. Contohnya Winda ia masuk SD saat berumur enam tahun. Aku tidak mengerti kenapa mereka melihat orang lain selain dirinya hanya melihat satu faktor saja. Faktor usia.

“Usia mu berapa, nak?”

“Kau tidak boleh dulu naik kelas dua madrasah, jika kamu belum masuk Sekolah Dasar!”

“Usiamu baru enam tahun jalan, bukan?”

“Nanti saja naik kelasnya bareng teman-teman sebaya ya?”

Aku tidak menyalahkan siapa-siapa. Hanya kesal saja. Sebab aku harus kembali lagi ke kelas satu madrasah dan mengulang-ulang pelajaran yang itu-itu saja. Masa aku harus belajar alif, ba, ta, tsa lagi. Aku ingin pelajaran Sejarah Islam, Aqidah Akhlak, Jurumiah kalau perlu seperti yang diajarkan pada anak kelas enam. Memaksa!

Perputaran waktu tidak bisa terhenti. Percepatannya sudah lama terbukti. Jika tidak cepat maka akan didahului orang lain. Aroma persaingan telah terasa menyakinkan saat satu kelas dengan anak yang usianya lebih dari kita. Kalau lebih berhasil dari mereka; banggalah kita. Kalau kita keteteran karena tidak sanggup menguasai pelajaran; dengan gampang kita beralasan “Kan masih kecil! Wajar”.

Tembok-tembok keras yang berdinding tebal itu sudah lama ditempati sejak orang tua masih sekolah disana. Kata ibu belum ada perombakan sampai aku sekolah lagi di madrasah itu. Madrasah Al-hidayah terukir di dinding tangga. Suatu kebanggaan tersendiri bagi kampung kami karena memiliki sekolah madrasah yang berdiri megah. Meski tidak segagah rumah disekitarnya yang mentereng mewah.

Bangku-bangku panjang hitam adalah tempat kami menyimpan buku dan menopang dagu mendengarkan penjelasan guru. Terkadang makanan juga kami simpan di dalamnya. Kursi-kursi panjang yang kami gunakan ada yang terbuat dari kayu dan ada pula dari besi. Berat sekali waktu kami memindahkannya. Sering kami duduk bertiga; berempat atau berlima.

Tuliasan-tulisan aneh selalu muncul di dinding-dinding. Ulah mereka yang tidak rajin. Tak cukup tulisan; gambarpun nampak mengaga lebar bersama tembok-nya yang keropos. Selalu ada bongkahan tembok lepas. Karena zaman memakan keadaan. Sudah lama tidak direnovasi. Sudah lama tidak diperbaiki.

Jika bosan jalan-jalanlah sebentar untuk menguping pelajaran di kelas lain. Menguping? Ya boleh saja. Asal tetap bisa fokus pada pelajaran di kelas kita. Anak kecil mana tahu apa itu fokus. Kalau kata khusu’ mungkin mereka mengerti. Karena madrasah ini hanya terdiri dari tiga ruangan saja jadi kita bisa melihat dan mendengar langsung apa yang diajarkan di kelas lain.

Ruangan pertama ditempati anak-anak kelas satu yang masih banyak bimbingan dari gurunya dan disebelahnya anak-anak kelas dua. Ruangan ke dua ini dihuni anak-anak yang naik kelas tiga dan empat. Dan ruangan terakhir adalah ruangan bagi mereka yang lebih dewasa usia SMP ke atas yaitu kelas lima dan enam. Kelas paling eksekutif menurutku. Pelajarannya pun bukan hanya bacaan alif ba ta lagi. Tapi lebih dari itu. Anak-anak kelas lima dan enam diberi tugas hapalan beberapa ayat dari Al-Quran, membaca kitab gundul semacam kitab Sapinah, Jurumiyah dan Tizan serta pelajaran bahasa arab yang lebih dalam. Lebih susah memang. Tapi ada peningkatan tarap pembelajaran. Dan ku rasa itu menyenangkan bukan? Sebagian angkat tangan. Sebagian mengangkat sebelah tangan.

Ya, karena ruangannya terbatas dan hanya dibedakan dari dua barisan bangku untuk kelas pertama dan dua barisan lagi untuk kelas empat. Jadi aku bisa memperhatikan pelajaran dari kelas lain.

Gurunya pun hanya satu dalam satu ruangan. Jadi satu guru mengajar dua kelas sekaligus dalam satu ruangan. Entah metode apa yang diterapkan. Waktu itu aku tak terlalu memikirkan kalau mengajar itu ada metodenya. Aku kira hanya ceramah dan mendikte saja. Baru aku tahu macam-macam metode mengajar saat kuliah pendidikan. Ada kisah seru yang ingin aku bagikan tentang guru madrasah. Tapi nanti saja aku selipkan pada setiap penggalan kisah, biar mengalir cerita ini apa adanya.

Anak-anak madrasah aku kira anak-anak yang tak kenal lelah. Bagaimana tidak, sepulang sekolah dasar mereka langsung pergi ke madrasah. Asharnya mereka mengaji lagi di serambi mesjid dan malamnya mengaji lagi di dalam mesjid. Aku saja kalah jika sekarang harus dilibatkan aktifitas sepadat itu.

“Waktunya bermain, kawan!!!”

“Ayooo!”

Sudah menjadi peraturan tak tertulis, sebelum datang guru berarti belum waktunya masuk kelas. Jadi kami anak-anak madrasah masih bisa bermain sepuasnya. Kesana-kemari mencari lawan permainan, menunggu teman datang atau mengerjai teman yang datang kesiangan.

Biasanya permainan yang kita lakukan diantaranya petak umpet, lompat tali, lempar kelereng, kucing-kucingan dan main lempar tangkap dengan penghapus kain. Permainan terakhir ini sangat ekstrem karena jika mengenai muka atau baju maka bekas kapur yang putih dan gatal itu akan menempel sembarangan. Jangan sampai kena deh! Karena kalau kena tangan lalu tak sadar mengucek mata. Aduh. Perih!

Pernah suatu kali aku disuruh guruku untuk membuat penghapus karena penghapus kelas hilang entah kemana. Pasti ulah anak-anak itu! Lagi-lagi semua murid ditugaskan membuat penghapus kain. Satu orang berulah yang lain dapat getah mentah.

Selain bermain ada juga yang hobby menggambar di papan tulis. Sampai-sampai habis kapurnya. Biasanya dilakukan oleh anak kelas tiga, empat atau lima yang sudah mahir membuat kalighrafi. Aku juga sering ikut-ikutan menggambar tapi gambar imajinasi. Kata Iwan itu namanya lukisan abstrak. Lukisan setengah jadi barangkali! Ah. Namanya juga anak-anak biarkan saja!

Papan tulis yang kami gunakan masih menggunakan papan tulis hitam atau bor. Bolong-bolong karena tidak pernah diganti dan direnovasi. Berbicara mengenai papan tulis hitam atau bor. Pak Dosen pernah bercerita jika di sekolah Jepang mereka masih menggunakan papan tulis hitam. Di tengah-tengah adikuasa teknologi yang mereka punya mereka masih menggunakan alat-alat yang sederhana. Rasanya aneh saja. Pak Dosen bilang justru dengan menulis di papan tulis hitam atau istilahnya chalk and blackboard lebih efisien karena mudah ditangkap oleh murid. Apa iya? Mungkin ada hubungannya dengan warna? Teliti saja!

Entah dari mana guruku membeli kapur. Hampir setiap tiga kali sehari kapur dalam box habis tinggal patahan dan sisanya saja. Terkadang kami minta ke kelas lain sebelum ambil tindakan membeli ke warung. Sedangkan yang aku tahu guru madrasah dibayar dari upah sawah dan ladang yang disewakan pihak desa dan uang dari iuran murid yang hanya Rp1.500,- perbulan persiswa. Itupun suka ada yang nunggak sampai berbulan-bulan. Termasuk yang nulis, hee..

Memang kesadaran orang tua menyekolahkan anaknya di madrasah sangat kurang. Berbeda dengan sekolah umum, iuran semahal apapun mereka bayar! Anak kecil mana mungkin memikirkan uang iuran. Biarkan orang tua dan kesadarannya. Anak kecil tugasnya belajar!

Serbuk dan patahan kapur itu adalah saksi bahwa kami anak-anak kreatif. Sudah tak terhitung jumlahnya kaligrafi-kaligrafi buatan anak madrasah yang sengaja dihapus karena Pak Guru sudah datang. Selain itu ada beberapa kawanku yang ditunjuk jadi asisten menulis karena tulisan arabnya bagus. Bagaimana tidak bagus setiap hari latihan sampai kapurnya habis. Pasti orang ini yang suka menghabiskan kapur. Ketahuan nah sekarang! Suudzhon mulu ya!

Madrasah adalah gerbang para penghapal Qur’an. Sudah berapa banyak hapalan yang kami terima setelah pak guru menulis ayat-ayat Al-Quran untuk kami hapalkan. Sudah berapa banyak mimpi-mimpi yang menjadi nyata berkat pondasi akhlak saat usia dini. Inilah kami anak-anak madrasah Al-Hidayah siap menjadi pemimpin masa depan bangsa. Insya Allah!

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.