Fase 001 - Buku dan Pinsil

Sejak kecil aku dekat dengan yang namanya buku dan pinsil gambar. Aku masih ingat begitu banyak buku yang aku gambari. Berwarna warni. Bukan melukis. Tapi mengambar sketsa. Hanya berupa sketsa. Gambar rumah, hewan, manusia, tumbuhan, pemandangan atau gambar imajinasi yang aku gabungkan antara dua tubuh hewan. Asal-asalan tapi enak dipandang.

Tidak tahu bagus atau tidak menurut pembaca. Itukan selera! Aku menggambarnya dengan sadar dan tidak ragu-ragu. Aku menggambarnya saja tanpa harus aku hapus. Buat apa aku hapus sebab itu adalah gambaran jelas mengenai emosi kita. Apakah kita yakin atau ragu-ragu? Sesederhana itu jika mau.

Karena latar belakang lingkunganku yang sangat religi. Maka ada yang mengatakan jika menggambar manusia dan hewan itu adalah haram. Tidak boleh. Hukuman bagi yang melanggar adalah akan dihidupkan apa yang telah digambar. Lalu menyerang si empunya gambar. Sempat takut; menahan geli; tapi aku menurut saja. Bagaimana kalau sudah terlanjur digambar? Jalan keluarnya adalah dengan menghapus salah satu bagian gambar atau mencekiknya dengan garis silang. Kalian pernah dengar hal ini sebelumnya?

Maka tak aku teruskan mengacak-acak buku dengan gambar-gambar makhluk hidup. Kecuali tumbuhan katanya. Tapi aku tidak punya referensi lengkap mengenai berbagai bentuk tumbuhan. Terlalu sulit membedakan karakter antar tumbuhan. Semua tumbuhan ada kalanya punya bunga daun dan batang yang hampir sama. Hingga sampailah aku di bangku kuliah. Tetap aku masih percaya larangan menggambar manusia dan binatang. Sialnya aku masuk program studi biologi dimana mau tidak mau aku harus terlatih menggambar hewan yang telah aku taksodermi.

Entah ada berapa buku yang sudah aku coret-coret. Aku senang tapi ibu marah bukan kepalang. Usia anak-anak adalah usia yang bebas. Meski dimarahi pun aku tetap menggambar dan mencorat-coret tembok. Apa saja aku gambari. Namanya juga anak kecil jangan dimarahi! Saat sudah dewasa aku hanya geli sendiri ternyata aku dulu keras kepalanya bukan kepalang. Masa iya sampai dinding rumahpun aku iseng digambar!

Mungkin sudah dua puluh tahun rumahku tidak dicat ulang. Sebab gambar-gambar karya imajinasiku masih dapat dilihat di dinding-dinding kamar. “Nanti Bu, nanti Pak kalau gaji pertamaku keluar akan aku beli cat untuk mewarnai rumah kita!”

Aku mulai senang sama buku bacaan setelah lancar membaca. Buku apa saja aku lahap. Koran bekas, pembungkus makanan, majalah masakan, komik tetangga, apa saja apalagi jika ada gambarnya. Di rumah tidak ada satupun buku bacaan. Ayah dan ibuku hanya lulusan sekolah dasar; dan sama sekali tidak mewariskan satu bukupun untuk aku telaah. Satu-satunya tempat hanya sekolah. Itupun di perpustakaan. Itupun hanya buku pelajaran. Menyebalkan!!

Aku mulai takjub dengan keajaiban yang ternyata tidak sederhana. Huruf-huruf biasa yang disusun ternyata memiliki arti tersendiri. Membentuk kata-kata yang dirangkai sempurna sehingga terbentuk kalimat yang memikat. Menciptakan alur yang teratur. Menciptakan dunia baru. Sehingga aku mengerti jika ia sedang berhadapan denganku. Berbicara padaku. Seakan rahasia berdua. Mendekatiku dan mengajari aku dunia yang lebih luas. Buku itu persegi tapi penuh energi. Buku itu hanya sebuah kertas tapi luas. Buku itu hanya sebuah benda tapi berharga.

Tahukah kamu guru yang paling baik adalah buku. Tak pernah ia marah. Tak pernah ia malas. Tak pernah ia kecewa.

Jika aku membacanya seperti mendengar ibu yang berdongeng padaku. Jika aku membacanya seperti paman yang bercerita padaku dengan segala imajinasi yang tak terkira luasnya. Aku seperti berada di dalam kalimat yang kubaca. Aku seperti memerankan apa yang kubaca. Aku seperti mendapat petualangan yang luar biasa.

Jika ibu atau paman berhenti bercerita sekarang giliran buku yang membawaku ke berbagai belahan dunia. Mengunjungi tempat-tempat yang jarang dibuka. Mengunjungi kedalaman laut yang jarang ada di berita. Menjelajahi hutan yang tak terbaca peta. Dan membumbung ke angkasa dengan pilot yang tak pernah salah eja.

Mereka yang telah mengajariku membaca begitu hebatnya. Mereka yang telah memperkenalkan cara menulis begitu hebatnya. Mereka ada dan masih melakukan hal yang sama. Mereka ada dibalik dinding sekolah dan tersebar diantara ribuan manusia. Mereka yang mengajariku menulis dan mereka yang memberiku kail. Supaya aku bisa memanfaatkannya. Supaya aku bisa mengolahnya, mengeksplornya. Maka berilah mereka tanda jasa pada guru-guru kita. Dengan cara kesuksesan kita. Mereka sungguh ada.

Inilah pelajaran pertama; menulis dan membaca.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.