Fase 027 - Sukasari dan Mantri Ida

Seteguk teh hangat rasanya sudah cukup bagiku untuk memulihkan kembali energi. Terlebih senyuman dan wajah penuh keramahan warga, membuat siapapun lupa betapa melelahkannya kerja bakti. Membersikan tanah longsor tadi. Longsor yang memisahkan dua dusun di Desa Sukasari. Tapi tidak memisahkan hati kami para penghuni dua dusun yang bersebrangan ini.

Tepat pukul sebelas lebih sebelum adzan dzuhur berkumandang, kami beristirahat dan dijamu disalah satu rumah warga. Tidak hanya air teh saja tetapi makanan ringan seperti seroja, rengginang, tumpi, papais serta makanan khas sunda lainnya tersedia untuk kami. Selain itu sebakul nasi beserta lauk pauknya yang bisa kami ambil sendiri telah mereka hidangkan. Benar-benar jamuan penuh kehormatan. Waktu yang tepat untuk makan siang. Kebetulan sekali perutku lapar sejak dari tadi.

Pagi itu sekitar pukul delapan tiga puluh kami mahasiswa KKN desa Sukasari telah berada di tempat bencana yang telah diinstruksikan bapak kepala desa. Kami dan beberapa warga di lima dusun akan melakukan kegiatan kerja bakti. Di Desa Sukasari kegiatan kerja bakti sering disebut “Pasukan Topi Kuning” tapi sekarang diganti dengan nama Pasgoro (pasukan gotong royong).

Kegiatan Pasgoro dilakukan warga setiap hari kamis. Kegiatan ini khusus hanya di desa Suksari. Setiap dusun biasanya mengirimkan beberapa perwakilan untuk membantu kegiatan tersebut. Kebetulan hari ini giliran merelokasi dan membersihkan jalan dari bekas longsoran tanah di bawah tebing Gunung Layang.

Gunung Layang sebenarnya hanya nama dari sebuah bukit. Bukit ini berada di pinggir jalan yang menghubungkan dusun Cihideung dan dusun sebelah. Akibat hujan deras akhir Januari ini telah memutuskan akses ke dusun sebelah.

Aku pernah mendapat kabar dari warga, jika Gunung Layang itu dihuni populasi kera ekor panjang. Biasanya kera ekor panjang sering melintasi jalan berbatu itu. Dan ada cerita menarik yang aku dapatkan ketika berkeliling kampung. Yaitu mengenai asal usul nama desa Sukasari, Gunung Layang dan cerita kera ekor panjang. Terutama kawanku Ahyad yang seneng sekali sama mitos dan sejarah. Secara dia anak sejarah.

Menurut cerita warga jika di atas bukit itu ada batu besar yang dililit oleh akar besar hingga puluhan tahun lamanya. Sekarang pun bisa kita lihat jika kita ke sana. Sebuah tempat yang mengandung unsur magis. Misterius dan mistis.

Kera ekor panjang yang diceritakan warga masih kerabat dekat dengan kera yang ada di Cagar Alam Pangandaran dan di karangkamulyan. Kera ini termasuk mamalia yang suka memakan buah-buahan.

Ada yang menarik dari cerita warga mengenai kera ekor panjang. Ternyata kera ini sangat cerdik dan berprilaku seperti manusia. Pernah ada kejadian saat kera-kera mencuri makanan yang disimpan di atas tampian yang disimpan pemilik warung. Kera-kera itu mencuri secara gerombolan dan memangku tampian bersama-sama. Tingkahnya tidak jauh dengan manusia. Sifat gotong royongnya tidak usah diragukan. Bisa dibayangkan betapa mengesankan bercampur begidik menyeramkan.

Biasanya kera suka sama buah pisang. Dan ada cerita dari warga tentang pemilik kebun pisang yang jengkel dengan kelakuan kera ekor panjang yang suka mencuri buah pisang. Hingga suatu waktu petani pisang membuat jebakan. Pohon pisang yang sudah berbuah ranum itu, sengaja dibungkus dengan semacam jala yang agak kerap yang diisi oleh abu sisa kayu bakar. Sehingga menurut akal pemikiran petani, kera itu akan kelilipan matanya saat mencuri pisang dan tidak jadi mencuri. Namun ternyata seruntui pisang itu tetap saja hilang. Karena kera-kera ekor panjang itu menggoyang-goyangkan dulu batang pohon pisang itu dengan batang panjang. Sehingga abu sisa kayu bakar itu jatuh pada jala yang dipasang petani. Sungguh cerdik si kera ekor panjang ini. Beda sekali dengan cerita si kancil dan si kera saat aku masih duduk di sekolah dasar.

Kera ekor panjang ini bukan sekedar kera biasa. Warga desa Sukasari malah mengkeramatkan spesies ini. Sehingga populasi kera ekor panjang ini tidak ada yang menggangggu dan sampai sekarang kelangsungan hidup kera ekor panjang masih tetap lestari di Gunung Layang.

Aku juga dapat informasi dari warga jika pernah ada pemburu yang menangkap dan membunuh kera-kera itu untuk dijual atau dijadikan obat secara illegal. Alih-alih ingin mendapatkan untung ternyata buntung. Ternyata keesokan harinya keluarga pemburu seketika meninggal dengan bekas luka yang sama seperti yang ia lakukan pada kera ekor panjang itu. Tercincang. Cerita ini membuat bulu kuduk ku merinding apalagi sekarang kami akan kerja bakti di sana.

Letak Gunung Layang dapat ditempuh dengan kendaraan. Meski jalannya berbatu-batu sebesar buah kelapa muda dan curam seperti tikungan Nagrek, tetapi masih bisa dilalui apalagi bagi orang yang berjiwa petualang dan suka tantangan ekstrem. Daerah ini cocok untuk adu nyali keberanian.

Jalan yang melewati bukit Gunung Layang ini menghubungkan dusun Cihideng dengan dusun lain dan memutuskan akses SD 4 Sukasari, ini satu-satunya jalan yang paling cepat dan tidak berbahaya, dibandingkan harus memutar ke jalan alternatif lain. Namun karena akses jalan ini tertimbun tanah longsor maka akses sementara diputuskan. Sebenarnya masih bisa dilewati oleh sepeda motor. Tapi seperti yang aku sebutkan tadi, daerah ini cocok bagi yang mau adu nyali. Berani?

Sebenarnya daerah yang merupakan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah ini sangat indah. Pohon-pohon besar masih bisa kita jumpai disini. Apalagi dengan air terjun di beberapa titik di tebing Gunung Layang ini menambah pesona alam surgawi. Dengarlah air terjunnya begitu menenangkan getaran dada ini.

Ada satu hal yang mau aku kasih tahu. Daerah ini dulunya dijadikan tempat pemujaan dan berlangsung sampai sekarang. Entah memuja siapa aku tak mau bertanya lebih lanjut. Dan katanya setiap malam jum’at kliwon masih ada pendatang yang mengunjungi kawasan tersebut. Kawan-kawanku dari prodi sejarah malah mendapat keuntungan dari cerita ini. Lumayan buat bahan skripsi katanya. Ada-ada saja.

Beberapa dari kami ada yang mengabadikan moment ini dan mengabadikan betapa asrinya kawasan berbukit ini. Padahal sebagian warga sedang kerja bakti. Kami malah tak sadar malah main kamera. Tapi daerah ini jodoh sekali dengan lensa kamera. Apalagi air terjunnya. Suaranya mendamaikkan jiwa. Dan jika naik ke bukit maka kita akan melihat satu pegunungan di perbatasan Jawa Tengah yang sangat indah.

Aku tidak tahu apa yang dipikirkan warga di sana. Bukannya kami membantu malah asik bermain kamera. Sadar akan kekeliruan ini kami pun rela bersalaman dengan cangkul dan tanah lumpur. Apa saja dilakukan agar bisa menyenangkan warga disana. Beradaptasi memang susah. Tapi harus berusaha agar akur.

Tiga buah cangkul yang kami pinjam dari pak Kesra sangat berguna membantu warga. Sengaja kami menyebarkan pasukan agar kami sekalian bisa berbaur dengan masyarakat dan mendekatkan diri pada mereka. Sementara para pemuda bekerja, sebagian mahasiswi putri membantu ibu-ibu PKK menyiapkan makanan dan mengantarnya ke lokasi. Tapi ada mahasiswi yang mencoba mencangkul tanah longsor. Nurhayati namanya. Ia sangat gesit mencoba mencangkul. Meski tidak ahli tetapi semangatnya menulari mahasiswi yang lain untuk berani mencoba mencangkul tanah. Terlebih memecut motivasi para mahasiswa yang hanya duduk dan minum kopi saja. Sungguh ibu Kartini telah lahir diantara kami.

Siang telah beranjak dengan begitu cepat. Mandi dulu dan mencuci pakain yang kotor setelah tadi melakukan Pasgoro. Tak lupa ku cicipi secangkir kopi hangat sambil melahap sebuah novel yang sangat tebal. Semoga Bunda di Sayang Allah. Membuat aku rindu sama ibu di rumah. Aku bertekad untuk menetap sebulan di sini. Semoga banyak ilmu yang aku dapatkan di desa ini.

Cukup beberapa halaman saja aku telaah, ku kembalikan lagi pada yang empunya buku. Untungnya ada Ghani mahasiswa dari prodi bahasa Indonesia yang membawa dua buah novel. Daripada tidak dibaca dan hanya tersimpan di atas lemari. Maka aku pinjam saja. Lumayan ada obat kangen karena disini tidak ada perpustakaan.

Setelah shalat maghrib di mushola rumah. Kami bergegas mencari makanan ke posko logistik yaitu Posko ke dua tempat mahasiswa putri berada. Di sana makanan tersedia cukup banyak. Jika nasi sudah masak mereka menelepon kami mahasiswa putra. Dan dengan semangat membara karena lapar yang begitu mendera, kami hidupkan mesin dan melesat secepat kuda berlomba.

Inilah posko ke dua lebih tepatnya di rumah pak RT. Masyarakat mengenalnya dengan pak mantri Ida. Karena beliau adalah pensiunan dari tenaga kesehatan di desa Sukasari ini. Pak mantri Ida sangat ramah. Sangat baik. Begitupun ibu Nining istrinya. Ia bekerja di salah satu sekolah dasar sebagai tenaga pengajar. Pak mantri Ida juga punya seorang anak yang kami tidak tahu siapa namanya. Lupa aku tanya siapa namanya. Tapi ia sangat ramah seperti kedua orang tuanya. Ia seusia kami. Ia masih kuliah di fakultas keperawatan di kota Bandung. Mungkin meneruskan perjuangan bapaknya.

Dalam sebulan ini aku telah menghabiskan satu buah novel. Aku sempatkan diri membaca meski kegiatan rutinan terus saja menumpuk dan berdatangan. Entah kenapa aku keranjingan bacaan novel yang tebal. Karena semakin asyik jalan ceritanya. Penuh teka-teki dan imajinasi. Mungkin inilah awal kesukaanku pada novel, suka baca novel, suka pinjam novel sampai mencoba membuat novel ini. Energi Angin dan Anak-Anak Kelas Tiga.

Sebelumnya kami (mahasiswa putra dan mahasiswa putri) tinggal di posko yang sama, namun ada kejadian yang tak terduga yang membuat kami bercerai. Pindah maksudnya. Malam itu setelah hujan deras berhenti dan sehabis mandi karena lelah dalam perjalanan, kami menempati posko yang sudah disediakan oleh desa dan pak Kesra. Mereka dan dosen pembimbing yang menentukan lokasi posko ini.

Kami yang sedang menonton televisi berlangganan dan sebagian sedang mengaji sehabis sembahyang Isya. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu di luar. Kami kira pak Kesra yang punya rumah. Ternyata bukan.

Mengagetkan. Seorang lelaki paruh baya mengagetkan istirahat kami. Ia menegur keras kami supaya tidak tinggal satu atap. Takut ada fitnah katanya. Kami tak tahu siapa beliau dan tak ada perkenalan sebelumnya. Memang kami baru datang dan tak sempat untuk bersilaturahmi. Mungkin saja beliau tidak tahu kegiatan kami selama disini. Mungkin belum ada konfirmasi desa mengenai kedatangan kami.

Karena teguran keras itu membuat beberapa kawan emosi, meski dilampiaskan saat lelaki itu telah pergi. Mahasiswa putri terlihat ketakutan sampai tak sadar jika mukena yang ia pakai untuk sholat masih ia kenakan.

Kami memang tahu jika nasihatnya tidak salah. Tapi sikap tiba-tibanya itu membuat kami kesal dan tersulut emosi. Dengan kesepakatan bersama kami akan pindah jika hari telah beranjak siang. Karena tak mungkin salah satu spesies dari kami pindah malam ini. Tanpa tujuan, tanpa mengenali dareah ini. Dan usut punya usut di daerah yang baru kami kenal ini dilarang bagi perempuan yang masih lajang keluar malam-malam. Sebuah misteri yang belum terpecahkan.

Sadar jika kami hanya tamu dan pendatang maka kami menghormati adat kebiasaan di daerah ini. Hal ini tidak merugikan juga. Sebenarnya.

Hujan deras mengguyur di luar. Bersuara dan bersahabat. Kami menikmati makan malam yang panjang dengan lauk pauk seadanya. Sayur lodeh, sayur nangka, sambal dan lalap, tahu dan tempe sudah tidak asing lagi. Kadang-kadang kami berangkat beli goreng ayam ke pasar Rancah. Mungkin karena lelah seharian terjun di masyarakat, makan malam kali ini begitu nikmat.

“Tadi siang sehabis jum’atan kami diundang Ketua Dusun.” Khido kawanku dari PJKR mengawali pembicaraan setelah makan malam selesai.

“Kita membicarakan soal maulud nabi.” Sambungku yang juga tadi ikut nimbrung.

“Ya, kita diamanahi jadi panitia.” Tambahnya lagi.

“Boleh, bagaimana teman-teman?” Tri dari PJKR sekaligus ketua KKN memberi kesempatan pada kami untuk berkomentar.

“Setuju, kita buat kepanitiaan sekarang” Nurhayati dari Akutansi menambahkan.

“Aku usul, bagaimana kalau kita buat perlombaan.” Dia dari Bahasa dan Sastra Indonesia punya ide cemerlang.

“Seru juga tuh, kita akan mengadakan lomba balap karung, makan kerupuk bagi anak-anak” Asep dari prodi Sejarah ikut menyetujui saran Dia.

“Bagus sih, tapi terkesan seperti lomba Agustusan.” Khido menengahi pembicaraan.

“Bagaimana kalau lomba MTQ dan kaligrafi” Endi dari PJKR punyas usul lain.

“Lomba adzan bagi anak cowok ditambahin ga?” Ahyad mulai ikut ambil suara.

“Mewarnai bagi anak-anak PAUD juga kayaknya seru” Euis dan Ika dari Prodi Bahasa Inggris kompak ceria.

“Seru seru seru” seru Mumu dari Bahasa Inggris.

“Oh, ya, teman-teman baru inget tadi siang saat survey sekalian silaturahmi ke sekolah, kepala sekolah SMP 1 Tambaksari mengamanahi kita untuk bergabung menjadi panitia acara Mualud Nabi.” Tiana dari prodi Bahasa inggris datang sambil menjulurkan cemilan.

“Tugas kita apa disana?”

“Kita membantu mendekorasi dan mempersiapkan perlombaan. Acaranya dua hari. Hari pertama diisi perlombaan oleh kita. Dan sehari lagi tausyiah kalau itu guru yang handle.”

“Wah, disana lomba disini lomba. Apa kita bisa menghandle itu semua?”

“Bisa asal kita bersama.”

“Tapi bagaimana dengan biayanya? Ga mungkin kan kalau kita minta dari sekolah, ga mungkin juga kita tanggung sendiri”

“Sebaiknya kita fokus pada satu pembahasan saja.”

“Kita bahas yang paling dekat waktunya.”

“Aku ikut suara terbanyak saja lah!”

Udara di desa Suksari sangat dingin. Terasa pori-pori terisi udara seperti fentilasi. Pernah aku sakit dua hari karena tak tahan dengan suhu yang berbeda seperti ini. Hujan di bulan Februari selalu datang tak tepat waktu. Kadang pagi. Kadang siang. Kadang malam. Terkadang hujan menghangatkan perasaan. Terkadang pula menjebak dan menghambat pekerjaan.

Beberapa dari kami melakukan tugas yang telah dibagikan saat rapat setelah makan malam. Tiana dan Tri pergi ke desa sebelah untuk mengurusi perlombaan bahasa inggris sekecamatan. Untuk pergi ke desa sebelah sangat jauh tetapi satu hal yang perlu aku katakan bahwa sepanjang perjalanan kita pasti menemukan tempat yang indah yang tak pernah kita temui sebelumnya.

Khido dan anak-anak PJKR pergi mengantar surat undangan bagi sekolah untuk mengirimkan perwakilannya dalam perlombaan bola volley antar SD se-desa Sukasari. Ada empat sekolah dasar yang letaknya berjauhan. Yang paling jauh adalah SD 4 Sukasari yang lokasinya terputus akibat longsor yang menghalangi jalan di Gunung Layang. Sehingga jika hendak pergi ke SD 4 harus memutar dengan resiko jalan berbatu.

Nurhayati yang juga aktif mengurusi UKM-UKM di Ciamis beranjak pulang ke Ciamis sekalian konfirmasi kehadiran pemateri dari Badan Narkotika Ciamis untuk acara penyuluhan narkoba dan kenakalan remaja.

Sebagian yang lain mengajar di Sekolah dasar. Ada yang di SD 2 Sukasari (mengajar pada anak-anak kelas tiga sesuai jurusan pendidikan kita masing-masing). Lalu di SD 1 Sukasari hanya mendampingi les kelas enam. Lalu di SD 4 yang penuh perjuangan. Sebagian mahasiswa putri punya jadwal tersendiri diantaranya membeli beras dan makanan ke pasar Rancah, di kecamatan sebelah.

Sementara yang lain bertugas, aku harus mendampingi Ahyad untuk mencari asal-usul desa Sukasari. Ahyad dalam hal ini diuntungkan soalnya materi ini bisa dijadikannya bahan skripsi. Aku jadi penyambung lidahnya. Bertanya ke sana-kemari sampai ke juru kunci makam. Menakutkan dan tak masuk akal.

Setelah dirasa selesai pekerjaan, kami berdua pergi ke kecamatan untuk meminta izin pada Pak Camat untuk menyelenggarakan acara penyuluhan remaja dan narkoba sekalian mengundang beliau untuk membuka acara.

Kebetulan saat itu Pak Camat yang lama akan diganti dengan camat baru yang dari Kecamatan Rajadesa. Aku ingat kawanku Lutfi ia KKN di kecamatan Rajadesa. Mulanya kami kira kegiatan serah terima tersebut tidak berlangsung lama. Tapi kami salah perhitungan kegiatan serah terima sangat lama. Tapi kami tetap bersabar. Kami ingin hari ini juga pekerjaan selesai agar tidak balik lagi ke kecamatan. Sebab letaknya jauh sekali. Tak pernah kubayangkan.

Setelah ba’da Dhuhur pukul dua. Acara berakhir. Tapi sayang bapak Camat yang baru tidak boleh diganggu dulu. Apa boleh buat kami terpaka pulang dengan tangan hampa.

Sambil melepas lelah dan rasa kecewa yang sangat, kami mengunjungi posko KKN di desa sebelah dan singgah disana. Sekedar bersapa dengan kawan sebaya dan memberi kabar tentang kegiatan yang sudah dilakukan.

Sangat luar biasa program yang mereka canangkan. Mereka telah melakukan penanaman seribu pohon di kecamatan dan disorot media massa. Sebenarnya agak berlebihan juga soalnya semua posko juga melakukan penghijauan namun tak ada media massa yang datang. Hanya itu saja. Kebetulan saja daerahnya dekat kantor kecamatan. Sedang kami ada dipelosok desa yang hanya bisa dilalui dengan kendaraan bermotor. Sebab jika jalan kaki, tak tahulah aku bagaimana pegalnya. Berapa lamanya. Kapan sampainya.

Selain penanaman seribu pohon yang gempar beritanya sampai ke telinga LPPM Universitas, mereka juga mengadakan perlombaan maulud nabi. Menjadi reda kembalilah rasa iri kami. Karena kami juga akan melakukan perlombaan mauluid nabi malam ini.

Kebetulan bulan Februari ini bertepatan dengan bulan Maulud dalam tahun Qomariah. Dimana pada bulan ini masyarakat mengadakan acara maulud nabi tiap dusun. Kami sering mendapat undangan untuk menghadiri pengajian-pengajian. Dimulai dari acara pengajian biasa dengan hanya satu orang penceramah dari kecamatan Rancah kecamatan Sebelah, sampai acara meriah yang diselenggarakan oleh desa.

Beruntung aku tidak pulang waktu weekend. Karena waktu liburan itu selalu ada saja undangan pengajian. Meski malam dan gerimis mengundang aku paksakan saja. Untungnya Khido bawa kendaraan jadi sejauh apapun tujuan lokasi pengajian akan cepat tercapai.

Kegiatan maulud nabi di Dusun Tarikolot akan berlangsung nanti malam selepas shalat isya. Sekarang kami melakukan segala persiapan diantaranya mendekorasi lokasi khususnya panggung. Bersama anak-anak pengajian kami membuat kerajinan tangan dari kertas warna, kita membuat bunga mawar dari berbagai warna.

Aku senang karena ada salah satu anak kelas tiga Reza yang membantu penyelasaian dekorasi ini. itu yang lebih penting. Sebab rasa kangenku pada mereka sedikit terobati.

Dekorasinya cukup sederhana dan tidak menguras tenaga. Tapi terkesan beda dari biasanya. Tiap sudut dan tiang serta pintu gerbang dipasang pohon bambu kuning. Tangkai bambu kuning itu dibuat gapura dan dibiarkan melambai seperti layaknya bambu di pinggir halaman perkantoran. Di antara jeruji pagar di sisipkan daun pisang yang sudah kering. Dan bunga-bunga kertas berbagai warna yang telah dibuat bersama anak-anak pengajian ditempelkan pada daun bambu yang melambai. Jika malam tiba terlihat meriah dan menyala. Karena bunga tersinari cahaya.

Untuk biaya kebutuhan Maulud Nabi ini didapatkan dari sumbangan masyarakat. Agar pengeluaran tidak terlalu banyak maka kami mengajukan diri menjadi pembawa acara dan Murratal Qur’an.

Sekitar pukul delapan malam kaset qosidah sudah diperdengarkan melalui sound system. Hal ini sebagai permulaan dan mengundang jamaah agar bersegera mengikuti acara. Karena acara maulud nabi akan segera dimulai.

Tiana yang sudah biasa jadi MC di kampus langsung membuka acara dengan salam yang membahana. Jawaban salam dari masyarakat menambah semangatnya untuk berkobar diatas panggung. Dengan gaya MC yang ngampus kegiatan Mulud Nabi di pelataran mesjid dusun ini nyaris tak jauh dengan kegiatan di kampus. Meriah dan terkesan beda. Apalagi Tiana membawa acara dengan memakai bahasa Indonesia. Ditambah dengan joki-joki segar membuat wajah-wajah warga nampak terhibur. Sampai saat ini rahasiaku belum terkuak tentang pengalamanku di radio. Kalau ada saja yang tahu pasti disuruh jadi pembawa acara. Nanti dulu soalnya aku tidak biasa berkoar di depan orang.

Sebelum acara inti, yaitu tausyiah, ditampilkan pula aksi-aksi cilik yang menggemaskan dari anak-anak pengajian. Ada yang berceramah layaknya ustad fenomenal sudah mirip acara Pildacil, ada pula qosidah dari sumbangan warga. Ada hal yang paling aku suka adalah ketika penampilan sumbangan dari grup qosidah pemudi desa dan ibu-ibu PKK dusun Tarikolot. Sudah mirip Nasiradia. Tepuk tangan membahana menyambut penampilan mereka. Biarpun sumbangan tapi tidak sumbang.

Aku tidak menyangka ternyata ada anak keperawatan di desa ini. Cocok sekali dengan kriteriaku. Tapi lelaki di posko kami tidak hanya satu. Jadi setiap malam ceritanya tidak jauh-jauh dari perempuan terutama anak keperawatan itu. Dan baru aku tahu ternyata ia masih kuliah di kampus kami.

Malam telah larut dan hampir berkabut. Acara telah selesai. Aku sangat ngantuk, lapar dan kelelahan. Apalagi besok kami akan pergi lagi ke Gunung Layang untuk kegiatan Pasgoro. Rezeki memang tidak kemana. Lagi-lagi kami diajak makan bersama. Kebetulan yang mengenyangkan.

Kami bebas memilih makanan apa saja yang bisa kami pilih. Karena kalau memilih yang tak ada ya tidak mungkin. Ada opor ayam, goreng ayam, goreng ikan beli kesukaanku, daging sapi, buah-buahan dan macam lalap. Serasa di surga malam ini.

Aku tak akan melewatkan kesempatan ini. Biar kata aku maruk, tapi aku suka semua makanannya. Menggiurkan. Karena selama disini aku jarang sekali makan daging. Lumayan ada perbaikan gizi. Sengaja saat itu aku mencoba makan ala diet. Nasi sedikit tapi lauknya yang bersaing sengit. Penuh dengan porsi wajar tentunya. Wajar bagi orang yang kelaparan. Sama saja bohong bukan diet namanya.

Pernah suatu kali aku makan enak yaitu saat dijamu warga makan bersama setelah Pasgoro itu. Aku penasaran dengan keadaan kawanku Lutfi di posko lain. Apa ia juga mendapatkan berkah seperti ini. Mudah-mudahan saja.



Lelah memang lelah, bosan sungguh bosan. Apalagi persediaan uang tabungan bersama sudah mulai menipis. Kita harus belajar menghemat. Menghemat sehemat-hematnya. Sejak sehari kami disini sudah ada kesepakatan bersama agar menghemat biaya pengeluaran. Diantaranya biaya makan. Kami makan hanya dua kali sehari. Setiap pagi dan malam hari. Terkesan seperti berpuasa memang tetapi ini cara bertahan terbaik kurasa.

Tidak seperti di rumah yang selalu tersedia. Makan tinggal makan, jajan tinggal jajan. Disini serba terbatas. Untuk pergi mencari informasi atau sekedar update status di social network saja macam internet, facebook dan aplikasi lainnya harus pergi dulu ke pasar kecamatan sebelah. Sekali aku ke sana itupun aku tak menemukan tempat yang pas. Sebulan ini aku tidak mengakses internet. Terasa ada yang kurang dan berbeda ketika kesenangan ditekan. Padahal aku ingin menulis dan langsung membagikan pengalaman baru ini pada kawan-kawan. Tapi tidak bisa maka aku gunakan otak untuk menyimpan setiap detail kejadian selama sebulan ini.

Air mataku tiba-tiba tertetes teringat ibu di rumah. Bagaimana kiranya kabar ibu disana? Seminggu sekali ibu menghubungiku dan menanyakan bagaimana kabarku. Ku kabarkan saja kabarku baik-baik saja.

“Kak sudah makan atau belum?”

Ku jawab saja sudah. Kututupi saja kenyataan jika aku makan hanya dua kali sehari. Tetapi selalu ada keajaiban sebelum adzan dzuhur. Jika ada makanan lebih dan hasil panen dari Pak Mantri Ida, kami kecipratan rezeki juga. Bisa makan bersama dirumahnya. Pernah suatu kali kami memancing bersama di kolam Pak Mantri Ida. Tempatnya sangat jauh tetapi sangat eksotis. Sebuah rumah terpencil yang dikelilingi pesawahan yang hijau luas terbentang. Tepat di tengah-tengah pesawahan banyak dibangun kandang-kandang kerbau. Suaranya menambah gema nuansa pedesaan. Rezeki memang tidak akan kemana.

“Apa uang mu masih ada, Kak?”

Ku katakan saja jika uang ku tinggal lima puluh ribu. Aku tak ingin menambah daftar kebohongan. Karena sekali berbohong maka selanjutnya akan menutupi kebohongan dengan kebohongan lagi. Tapi ku katakan tidak usah datang kemari dan mengirimkan uang. Ku katakan ini sudah lebih dari cukup. Aku jamin uang ini tidak bakalan habis. Cukup untuk ongkos pulang. Karena akses untuk berbelanja sangat jauh. Jadi uang lima puluh ribu dirasa akan awet. Apalagi waktuku tinggal seminggu.

Hampir setiap minggu aku bermimpi pulang ke rumah. Ini mungkin efek rasa rindu pada ibu. Apalagi kawan-kawanku yang lain pulang seminggu sekali. Mungkin itu pula yang membuat mimpiku terulang beberapa minggu ini. Sudah tiga minggu setelah kunjunganku di desa ini aku tidak pulang. Aku bertekad dapat pengetahuan yang tidak aku dapatkan di luar.

Desa Sukasari ini sangat modern. Hampir setiap rumah memiliki satelit parabola. Jika panen tiba dipastikan berton-ton padi akan memasuki gudang rumah mereka. Suatu kali aku pernah berkunjung ke salah satu kepala dusun. Aku mendapatkan sesuatu yang tak dapat aku bayangkan sebelumnya. Pengetahuan masyarakat mengenai pertanian organik dan pupuk organik sudah mereka laksanakan. Ini sangat ironis dan berbanding terbalik di bangku kuliahan. Karena jika di kelas, materi pertanian organik ini baru diajarkan.

Para pemuda bergabung dalam kelompok karang taruna di desa. Tak hanya itu di tiap dusun mereka memiliki kepengurusan karang taruna juga. Dan sering ada pertandingan bolla volley antar karang taruna dan pertandingan bulu tangkis di balai desa.

Mengenai mata pencaharian masyarakat desa Sukasari mendominasi pertanian, selanjutnya petenakan. Di dusun Cihideung juga ada pabrik pembuatan ijuk. Yang menghasilkan ratusan ijuk untuk di ekspor ke kota.

Banyak para pemuda yang menjadi ABRI disini. Perlu diketahui juga jika sekolah SMA tidak ada di kecamatan ini. Tetapi para pelajar harus menempuh beberapa kilometer mencapai sekolah tingkat atas di kecamatan lain. Atau pergi ke sekolah di kabupaten Ciamis.

Dan karena jarak yang begitu jauhnya hampir semua pelajar menggunakan sepeda motor. Karena jika harus naik kendaraan umum ke kabupaten atau pasar, harus menunggu hari Rabu dan Minggu karena angkutan umum yang berupa mobil bak terbuka butuh waktu untuk sampai kesana. Biasanya mobil angkutan umum itu membawa hasil tani masyarakat ke pasar yang ada di kecamatan Rancah atau ke pasar kabupaten Ciamis.

Sifat gotong royong masyarakat masih kental disana. Menurut hasil wawancara kami kepada tiap-tiap kepala dusun. Contoh soal jika ada warga yang membangun rumah, warga dan para pemuda tidak perlu disuruh dan digiring untuk membantu tetapi dengan kompak terstruktur mereka membantu warga yang membuat rumah. Apalagi jika ada warga yang meninggal, tangan dan tenaga pemuda tak usah diragukan.

Ada lagi satu adat yang menjadi ciri khas desa Suksari ini. disini seorang janda tidak akan bisa menikah lagi. Karena ada cerita adat yang melatarbelakanginya. Maka dari itu angka peceraian menurun tiap tahun.

Namun ada satu hal yang kurang dari desa tersebut saat aku masih berpijak disana. Begitupun keluhan warga yaitu akses transportasi dan jalan yang masih berbatu dan belum di aspal ke pelosok tiap-tiap dusun. Jalan yang diaspal hanya jalan yang melintasi balai desa lalu menyambung ke desa lain saja. Semoga pemerintah bisa menyisihkan waktunya untuk berkunjung ke sana.

Berjibaku dengan tenaga yang masih tersisa, membersihkan area jalan yang tertimbun tanah longsor. Dan bebatuan yang tak kalah beaar. Baru saja kami lakukan. Bersama para warga menanam bibit pohon Trembesi untuk memperkuat tanah agar tidak terjadi erosi lagi.

Secangkir teh hangat kembali tertuang dalam gelas. Begitu menenangkan setelah berkutat dengan tanah dan basah. Secangkir teh hangat menyatukan kami semua. Tidak ada mahasisawa, tak ada warga, tak ada mantri, atau kepala desa. Tidak ada garis pembeda, kami semua sama selama kami bersama. Secangkir teh hangat menyatukan kita semua.

“Jangan lupa untuk berkunjung kemari ya!” Pak mantri Ida melepas kepergian kami. Mataku berkaca-kaca. Aku sudah anggap ia seperti ayahku. Terlebih ia yang selalu menghawatirkanku karena belum makan sehabis mengajar di sekolah dasar.

“Insya Alloh!” suatu hari nanti. Jika ada kesempatan lagi.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.