Fase 025 - Sayap Besar

Malam-malam aku merasa lelah, kaki pegal-pagal. Mata susah terpejam. Seharian aku berkeliling danau. Memutari Nusa dengan perahu. Berkeliling di tepian Situ Panjalu dengan berjalan kaki beriringan. Bersama kawan-kawan.

Aku terjebak diantara mahasiswa biologi. Tak bisa bergerak sedikit. Karena berbaris seperti ikan asin. Tidur bersama. Sebelumnya aku tidur lebih dulu daripada yang lain. Ini antisipasi saat tidak kebagian tempat tidur. Tapi aku tidak terbisa tidur dalam kebisingan dan suara kriuk-kriuk crispy makanan ringan yang sedang direbungi kawan satu penginapan. Aku pura-pura saja tertidur karena memang lelah. Tapi tak bisa ku tahan godaan goreng kacang dan serba gorengan yang sedang diperebutkan Arif dan kawan-kawan. Perutku mulai berontak kelaparan. Tak bisa dibiarkan!

Satu menit dua menit aku tahan-tahan, karena sekali saja aku melepas tempat istirahat akan direbut oleh yang lainnya. Aku kalah. Aku bangun saja dan bergabung makan bersama kawan-kawan. Sementara kawanku Lutfi sudah tumbang dan tak sadarkan diri diboyong mimpi. Puas dengan makanan aku bergabung bersama Arif di teras depan. Makanan tadi sebenarnya Arif yang bawa. Semenjak kami kenal, Arif selalu membawa makanan dari rumah. Itupun jika kami pergi ke luar kota. Contohnya saat jadi mahasiswa baru. Saat itu kami pergi ke Batu Raden Purwokerto. “Makanan dari ibu membawa berkah, Gus!”

Daerah yang sangat sejuk yang pernah ku pijak. Meski bukan seperti puncak tapi sangat asri pemandangannya. Sore itu bus rombongan mahasiswa Galuh sudah datang. Hujan sore-sore menyambut kami untuk beristirahat di penginapan. Kami satu kelompok. Kami satu kamar. Disaat perut lapar sehabis turun dari perjalanan. Apalagi angin hujan mengosongkan lambung. Akhirnya Arif mengeluarkan satu benda berbau tajam. Ayam goreng. “Makanan dari ibu banyak berkahnya, Gus!”

Meski akhirnya kami tidak satu kelas, tapi kami bisa ketemu lantaran satu liqo. Kegiatan mengaji dan mengkaji Al-Qur’an. Baru kemarin kami rihlah ke Curug Tujuh. Berpetualang menemukan curug atau air terjun satu persatu. Antara satu air terjun dengan yang lainnya sangat berjauhan. Apalagi medan yang sangat tidak memungkinkan kami berpetualang terlalu lama. Hujan sudah memperingatkan kami. Apalagi kami tidak ada niat untuk camping terlalu lama.

Aku mengeluarkan kotak rahasia. Aku yakin tak ada yang bisa menahan diri untuk segera memperebutkannya. Ya. Ayam goreng. “Makanan dari ibu penuh berkahkan, Rif?”

***

Menatap langit dengan taburan bintang yang mulai padam. Duduk di beranda lantai dua. Melihat langsung ke halaman depan dimana anak-anak biologi tertawa puas di sana. Sedang di penginapan perempuan yang tak begitu jauh dari tempat kami masih menyala tertawa.

Malam ini aku ingin sendirian. Aku tak bisa dan terbiasa dengan keramaian. Nahas. Aku terkena insomnia dadakan jika keadaan ramai. Ku ambil buku tulis. Ku sisipkan tanggal diatasnya dan ku ceritakan pengalamanku semenjak tiba di tempat wisata Situ Panjalu.

“Fi, kumpul dimana?”

“Di mesjid kampus!”

“Masih dimana aku sudah di kampus?”

“Masih dirumah, Gus! Berangkatnya nanti jam sepuluh!”

“Jam sepuluh? Padahal sekarang aku sudah ada di kampus. Cepet kemari ya!”

Dari dahulu sampai sekarang selalu saja tak tahu informasi waktu. Kesiangan atau kepagian. Masih mending kepagian karena itu jadi nilai plus. Tapi kalau kesiangan patal juga akhirnya. Banyak pengalaman mengenai ketidakdisiplinan. Diantaranya tidak tepat waktu. Tidak tahu informasi waktu. Lupa jadwal dan sebagainya. Yang lebih parah aku kehilangan moment ujian tengah semester karena lupa tidak lihat jadwal. Tamat. Dosennya amat.

Aku kepagian. Aku harus menunggu satu setengah jam lagi. Dan aku sungguh tak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. Kejadian ini sungguh di luar perencanaan malam. Kebetulan saat itu UKM Menwa sedang menyelenggarakan lomba baris berbaris antar SMP dan SMA se-kabupaten. Lumayan jadi hiburan dari keteledoran jadwal. Yang ikut kegiatan UKM Menwa adalah Yoga dan Rahmat. Yoga dari Biologi sekelas dengan Arif sedangkan Rahmat dari Bahasa Indonesia. Kami kenal karena satu UKM. LDk Raudlatul MuttaQiin tempat kami bersosialisasi.

Sejak pertama bertemu dengan Yoga, wataknya jauh berbeda dengan Arif. Jika Arif tak bisa duduk terlalu lama; Yoga bisa kuat menahannya. Misalnya. Pendiam tapi bijaksana. Tepat seperti penengah antara kami. Dengan tubuh gempal dan sehat ia pantas masuk Menwa.

Kalau Rahmat orangnya tinggi putih. Jika dia tinggal di kota pasti jadi artis sinetron. Pakaiannya modis, serba bisa dan pandai bersosialisasi. Tak hanya masuk jadi Menwa dan LDK tapi juga masuk Teater dan BEM fakultas. Ini orang ke dua yang aku anggap paling bisa menguasi waktu. Aktifis kampus.

Aku ingin sekali mengupdate status facebook dan menguploud photo peserta lomba. Tapi sayang hape adikku telah aku kembalikan. Aku harus atur lagi jadwal jeda ini.

Lelah mengamati gerakan yang itu-itu saja. aku teringat dengan rencana membuat stand saat pameran di almamater sekolahku. Aku ingin tahu seperti apa dan bagaimana stand pameran. Kebetulan yang tak disengaja saat pergi ke kampus, aku melihat pameran hasta karya pemuda se-kabupaten Ciamis. Kebetulan aku suka kewirausahaan dan kebetulan lagi cari contoh stand.

Aku teringat kawan SMP ku Nono yang bekerja di pasar. Ia katanya juga menjaga stand di pameran. Aku sms dia dan mengajak ketemuan, untuk melihat pameran lebih dekat. Ini sebuah referensi yang jarang ditemukan di kelas dan di perkuliahan. Bagiku mengunjungi pameran gratis ini adalah sebuah perkuliahan. Dimana obek dan pelaku usaha dapat kita temui dengan nyata dan kita bisa wawancara langsung dengan mereka. Aku dua kali berkeliling karena masih penasaran dengan produk-produk yang dipamerkan.

“Gus, lagi dimana?” Pesan singkat membuat buyar pengamatanku.

“Di pameran Ciamis, Nung!” Sekertaris kelas ini sangat asik mengganggu kelas lapanganku.

“Lagi ngapain di pameran? Ikut ke Panjalu ga? Oh ya kata pak Ending hari ini semua mahasiswa yang ikut KKN ke situ panjalu harus bayar paling lambat sekarang sebelum pemberangkatan.” Aku mendengar nada suaranya yang tak sabaran. Maklumlah wanita, serba ingin cepat.

“Oh.. ya.. ya.. bayarnya ke siapa? Soalnya aku lagi di pameran Ciamis. Belum lama berkeliling.”

“Dikolektifkan padaku. Cepetan ya. Aku tunggu di serambi mesjid kampus!”

“Sekarang?”

“Tahun depan! Ya sekarang. Buruan!”

Baru saja aku dapat ide menghabiskan waktu jeda sebelum pemberangkatan sudah ada lagi yang menyuruhku kembali ke kampus. Ah. Sialnya belum berangkat ke Situ uang saku sudah berkurang dua ribu. Aku harus balik lagi naik angkot lagi. Tapi nanggung nih aku baru saja meginjak pintu depan pameran. Sayang kalau harus balik lagi.

Ini adalah pertama kalinya aku masuk mengunjungi pameran. Kebetulan kabupaten Ciamis sedang berulang tahun jadi dibuatkan pameran hasta karya masyarakat. Aku penasaran sekali tentang pruduk-produk usaha masyarakat di kabupaten sendiri. Sekalian aku ingin dapat referensi bagimana caranya membuat sebuah stand.

Tepat setelah pintu gapura selamat datang pameran. Di layani oleh stand bunga dan tanaman, akibat lingkungan tempatku menimba ilmu aku makin penasaran dengan bunga-bunga yang dipajang oleh stand. Inilah keanekaragaman tumbuhan yang jarang diperlihatkan saat pelajaran. Pelajaran biologi semua ada disini. Beragam hewan ternak dan pertanian dipemerkan. Aku lihat mereka sangat telaten mengurus bunga dan tanaman. Selain menambah daya kesan juga menambah penghasilan. Sepertinya jika nanti aku sudah lulus, bidang pertanian dan pekebunan harus aku gali lebih dalam.

Setelah puas melihat aneka tanaman, yang aneh dan menakjubkan. Aku melihat pula hasil peternakan masyarakat diantaranya ada kelinci, lele, ikan hias, hamster dan lain-lain. Aku sengaja mendekatkan kepalaku ke kandang hewan piaraan ini. aku makin penasaran ingin mengenal mereka.

Semua area stand aku kunjungi satu persatu. Aku kemari bukan tanpa alasan tapi untuk mencari referensi mengenai kewirausahaan kreatif yang ingin aku pelajari. Dari pengamatanku sejam itu aku menemukan ketidakpuasan yang sangat besar. Pameran produk masyarakat hanya ditampilkan di depan saja selanjutnya sampai ke dalam hanya pasar yang dipindahkan. Aku kira akan menemukan inovasi baru yang dipamerkan. Kecuali satu yaitu kompor batu bara yang aku lupa buatan desa mana.

“Gus, tolong ya nanti kamu masuk grup air ya soalnya aku tidak enak badan.” Aku sih asik-asik saja menerima tawaran dari Nisa. Aku bisa menikmati keindahan dan eksotis pulau nusa dari dekat. Pada awalnya aku polos sama sekali mengenai grup air. Grup apaan itu? Ternyata ada dua grup atau kelompok yaitu grup air yang meneliti di permukaan air dan kelompok darat yang meneliti bagian sisi daratan danau. Lalu kedua grup nanti bersama-sama mempunyai tugas yang sama. Entah! Soalnya aku tidak datang saat technical meeting. Jadi bingung mau apa.

Bukan sekedar pulau yang biasa kau sebut pulau. Karena ini adalah suatu tempat yang aku kira seperti pulau Samosir diantara danau Toba. Meski aku belum pernah ke sana. Katanya. Inilah pulau Nusa gede. Tempat teraneh yang pernah ku lihat. Orang asli Ciamis tapi baru melihat keajaiban ini. Kalau di Nusa tenggara sana tempatnya hewan purba macam komodo. Di Nusa ini adalah tempat dimana batman-batman berkumpul.

Jika kita menatap pulau tersebut dari dekat dengan menyewa perahu untuk berkeliling. Kau akan mendapatkan pesona alam yang tiada duanya. Air danau yang tergenang datar. Tak berombak dan misterius. Juga tanaman-tanaman yang menutupi pulau hingga tidak terlihat pesisirnya. Rapat oleh tanaman perdu dan meranggas. Mirip seperti gaun yang menutupi pemakainya.

Perjalanan menuju Situ Panjalu sangat melelahkan. Aku kira dekat karena masih satu kabupaten tapi ternyata pegal juga menunggu tujuan yang tak pernah tahu. Semua permen tolak angin sudah aku habiskan sampai tengah perjalanan. Kawan-kawanku dibelakang asik bercanda, sementara aku jaga aksi agar tidak mabuk kendaraan. Tahan!

Aku buru-buru keluar kendaraan saat berhenti di tempat tujuan. Aku menghirup udara segar sesegera mungkin. Aku tidak mau terlihat mabuk perjalanan dihadapan kawan-kawan. Hingga peredaran nafasku lancar, dan pencernaan ku kembali normal aku buru-buru mencari kamar untuk menginap dan jajan.

Aku sudah persiapkan catatan dan pensil. Aku siap mengajukan pertanyaan. Aku masih belum paham apa saja tugas dari kelompok air. Tapi respon dari kawan-kawan sangatlah beragam. Mulai dari yang dengan sabar menjelaskan adapula yang marah-marah sambil mengatakan: “Ini saatnya untuk melaksanakan, bukan mengajukan pertanyaan. Itu salahmu karena waktu Tehnikal meeting kau ga datang!”

Bukan aku namanya jika tidak bisa mendapatkan informasi. Masih banyak saksi hidup yang bisa aku dekati. Mulai dari Lutfi, Arif, Fitria, Enung dan Nisa. Ah tapi kita tidak satu kelompok. Mereka kelompok darat.

“Kelompok air siap-siap naik ke perahu!” Salah satu ketua kelompok sekaligus alumni yang bertugas menjadi kaki tangan dosen membimbing kami. “Alat-alatnnya sudah dibawa? Kita nanti akan berkeliling dan akan mendapatkan sampel tiap sudut danau, pinggir danau, tengah dan dekat nusa. Kalian sudah siap!”

Aku tak sabar untuk berpetualang berkeliling danau, sambil melihat pulau ditengah danau yang sangat misterius. Daripada aku duduk diam seperti wisatawan, aku dengan sigap memegang dayung. Tahu kenapa? Karena jika tidak ada kerjaan pasti disuruh memegang alat. Untuk hal ini aku tidak bisa berbuat banyak, karena informasi mengenai penggunaan alat saat ini tidak kukuasai. Aku mengetahui kekurangan ini. Maka aku dengarkan setiap mereka berkomunikasi. Aku ingat, catat dan lihat.

Salah satu kawanku yang duduk didepan perahu melempar jala ke atas air. Sekuat tenaga dan nyaris nyangkut karena tidak terbiasa. Hanya ikan kecil saja yang tertangkap. Aku cermati bagaimana cara dia melempar, kemungkinan caranya melempar keliru. Sebab jala yang terbang tidak melebar. Ia berulangkali mencoba. Dan hanya ikan air tawar berukuran kecil yang ia dapatkan. Tidak apa-apa catat saja hasilnya.

Aku melihat sekeliling ada yang menarik dari warga sekitar Situ. Aku melihat para penangkap ikan tidak menggunakan jala. Ini hebat. Sayang aku tidak punya kamera. Para penangkap ikan itu hanya membutuhkan sebatang bambu panjang. Ia sengaja membenamkan bambu sampai ke dasar secara vertikal. Apa yang ia lakukan? Apakah ikan itu akan tertarik dengan bambu?

Sang penangkap terjun dari perahu ketika dirasa cukup kuat bambu itu berdiri tegak untuk menopang pegangan tangannya. Bambu itu ia gunakan sebagai pegangan saja. dan ia menangkap ikan hanya dengan menggunakan kedua tangannya. Menakjubkan. Aku melihat ia menyelam berulangkali. Hanya sebentar saja sang penangkap mengambil udara. Lalu menenggelamkan tubuhnya kembali mencari ikan di dalam air. Dan ya! Ia berhasil menangkap ikan yang besar! Mustahil tapi ia lakukan! Tanpa alat, tanpa obat, tanpa penyengat.

Air yang tergenang menambah kengerian. Air tak jernih dan dalam membuat aku waspada untuk tidak sekali-kali menenggelamkan sebagian tangan. Meski aku ingin sekali meraba-raba permukaan air danau. Tapi aku takut ada buaya air tawar.

“Lihat ada biawak!” Salah satu kawanku menunjuk ke arah pulau. Aku tidak begitu jelas melihat karena mataku kurang awas. Hanya saja aku mendengar ciprakan air yang keras.

Pulau yang aneh. Aku melihatnya menyeramkan. Sementara kawan yang lain sedang mencatat hasil pengukuran kedalaman danau, kejernihan airnya, arus dan kadar garamnya. Aku melihat sesuatu yang menakjunkan diatas pulau sana.

Pulau yang ditumbuhi tanaman meranggas, hingga berhasil menyelimuti seluruh daratan. Pulau yang disebut Nusa Gede. Pulau yang banyak dikunjungi orang yang berziarah. Pulau yang penuh dengan binatang bersayap besar. Ya! Kelelawar.

Aku kira yang kulihat diatara dahan-dahan pohon besar itu adalah buah, atau kapas yang mengering. Sehingga warnanya kehitaman menggantung diseluruh dahan tumbuhan. Aku kira itu bukan binatang. Ternyata itu kelelawar.

Dari kejauhan saja sudah nampak besar, apalagi saat melihat dalam jarak yang sangat dekat. Karena hari masih siang sekitar jam dua siang. Mereka hanya tertidur menggantung. Hampir semua pohon tinggi mereka gantungi. Tidak semua kelelawar tidur, sebagian ada yang melayang-layang mirip elang memutar mencari anak ayam.

Sebagian kawanku mengatakan mereka kehilangan radar. Karena jika mereka normal pasti mereka sedang tertidur pulas. Karena siang hari bagi mereka adalah waktu untuk istirahat. Tapi sebagian yang lain mengatakan mereka ditugaskan untuk berjaga.

Aku pernah membaca artikel mengenai kelelawar besar penghuni Nusa Gede ini, mereka selalu pulang dan pergi dari Nusa Gede di situ Panjalu menuju Astana Gede Kawali dan berulangkali melakukan migrasi. Konon katanya mereka jelmaan pasukan Borosngora. Ada yang melarang untuk menyebutkan kalong. Maka sebut saja si sayap besar.

Sementara kelompok darat mencermati suhu tanah, kelembapan dan arah angin. Tak hanya itu mereka juga membuat sebuah lobang yang dengan maksud untuk menjebak bintanag apa saja yang ada disini.

Permukaan bumi diujung sana berhasil memperdaya si bundar kuning, sehingga ditenggelamkannya sampai mega merah menyala terang-terangan. Saatnya kami makan malam. Harusnya ini jatah makan siang tadi, tapi karena lambat jadi dibagikan sekarang. Padahal perut dari tadi sudah keroncongan, apalagi angin danau membuat perut serasa dipelintir dan diperas.

Tugas selanjutnya adalah menghitung kelelawar yang migrasi. Saat matahari terbenam adalah waktu kelelawar bangun dan pergi mencari makan. Biasanya mereka mencari buah-buahan yang di pegunungan. Kami menggunakan stopwatc untung menghitung mahluk bersayap besar itu. Ini mustahil. Aku tak yakin bagaimana cara menghitung mereka.

“Caranya adalah dengan membalik badan membelakangi danau. Setiap yang terlihat dihadapan kita langsung kita hitung.”

Maka bergiliranlah kami menghitung dan mencatatnya. Mula-mula hanya satu dua yang pergi. Kami ditempatkan pada posisi menyebar ditiap titik disegala penjuru danau. Aku kebagian ditempatkan di ujung danau, dimana tempatnya sangat jauh. Untuk mencapainya butuh perjalanan jauh. Hanya dengan perahu agar bisa mempercepat langkah. Tapi kelompok kami tidak akan cukup dimuat ke atas perahu, terutama dengan biayanya. Jadi kami pergi melewati beberapa kawan yang sedang bersiap-siap menghitung makhluk setengah tikus setengah bajing terbang itu.

Mulai dari jam enam maghrib sampai pukul depalan belas tiga puluh, kami menghitung pemberangkatan batman hitam itu. Mulanya hanya satu dua, lalu kami dengan pusing menghitung karena jumlahnya yang banyak. Aku melihat bagaimana mereka meninggalkan kerajaanya. Mula-mula beberapa mereka berputar mengitari pulau. Lalu seperti diinstruksikan mereka mencari arahnya masing-masing. Mereka yang pergi ke arah timur dihitung oleh kelompok timur. Merka yang pergi ke barat dihitung oleh kelompok barat. Seperti itu sampai tak ada sama sekali yang tersisa dari pulau itu.

Sepanjang mata memandang hanya sebuah gundukan hijau ditengah hamparan air yang tenang. Saat malam tiba, suasana berubah. Aku seperti melihat pelabuhan dimana. Cahaya-cahaya putih bersibar diujung sana. Perumahan dan lampu-lampu yang tersebar diujung tepi danau membuat pemandangan baru. Bagaikan melihat kapal pesiar. Diantara desiran angin danau yang semakin malam semakin dingin mencekam. Cahaya lampu dan pesona langit malam memadukan keindahan sehingga tercipta raksasa lukisan yang tak sanggup diungkapkan.

Jika aku salah melukiskan, maka datanglah kemari saat malam tiba. Saat makhluk besar itu berlari meninggalkan pulau. Tahukah kamu? Aku seperti melihat film jurasic park. Bagaimana harus melihat dengan jelas ratusan mahkluk malam itu melesat diatas kepala kami. Keajaiban dunia yang nyata.

Isya kami kembali ke penginapan dan shubuh hari kami sudah harus ada di tempat semula. Aku kembali dalam aktifitasku untuk bersegera menulis sebelum akhu kehilangan daya ingat karena waktu akan dengan begitu mudahnya mengubur apa yang telah terjadi.

Shubuh-shubuh kami sudah dibangunkan. Tak jauh beda dengan anak pramuka yang dibangunkan saat akan jurit malam. Kami kembali ke Situ. Kami tak jauh beda dengan anak Pramuka yang melakukan perjalanan malam. Dengan berbekal senter kami berjalan menyusuri jalan setapak mengelilingi danau. Hingga kami duduk kembali pada titik awal dimana kami menghitung kelelawar besar itu. Sekarang kami akan menghitung jumlah kekelawar yang pulang. Tidak jauh beda dengan petugas lalu lintas yang mengawasi laju arus mudik lebaran.

Pukul setengah enam pagi, dimana langit membuka jubah malamnya dan matahari sedikit demi sedikit mengatur pergerakannya. Maka teranglah hari. Dan kembali bersih dari balutan kegelapan. Lampu-lampu dimatikan dan angin pagi kembali mendinginkan pori-pori.

Belum muncul satu ekorpun kelelawar yang pulang. Kami mengawasinya sambil duduk lesehan diatas rumput tepi danau. Duduk bersama dalam penantian panjang. Menatap dari kejauhan langit yang bersih, air danau yang tenang dan Nusa gede yang mistis.

“Aku permisi dulu ya, sebentar” Tugas mencatat kelelawar aku gantikan dulu. Karena memang belum ada yang pulang. Aku mau ke belakang dulu mencari air.

Di daerah tepi danau dekat dengan perumahan warga sama sekali tidak ada WC umum. Hanya kolam-kolam ikan saja dan sawah-sawah yang terbentang luas dekat danau. Aku kesulitan mencari kebutuhan itu.

“Agus cepat kemari!” Salah satu kawanku yang giliran menghitung membutuhkan bantuan. Dengan antusias dia menatap langit dan ia tak sanggup harus mengatakan bagaimana. Ratusan kelelawar pulang dengan bergerombolan hanya dari sudut dimana kami mencatat. Kelompok yang lain hanya mencatat beberapa ekor saja. kelompok kami malah kewalahan karena jumlahnya yang sangat besar.

Makhluk-makhluk malam telah datang. Sayapnya yang besar seakan menutupi langit yang ku pandang. Bergerak panjang mengantri sampai ke pulau. Hitam dan besar. Aku tak percaya makhluk malam ini dilindungi di pulau ini.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.