Fase 024 - Ayam Bakar #3

Matahari semakin congkak saja. Keringat bercampur dahaga yang amat sangat. Kutemui batang pohon tepi jalan, ku sapa daun-daunnya. Lalu aku rebahkan tubuhku di bawah naungannya. Menghindari auman matahari dengan kegarangannya.

Aku butuh pelarut dalam tubuh. Baru aku ingat di dalam kemasan snack ada air kemasan. Separuh memulihkan tenaga dan membersihkan lamat-lamat pandangan. Karena lelah yang amat sangat. Baru aku ingat tujuanku mendaki jalan ini. Yaitu untuk mengembalikan buku sewaan. Sekalian kalau ada buku baru aku sewa lagi. Tempatnya tidak jauh dari alun-alun Raflesia Ciamis. Lurus saja setelah perempatan toserba Jogja dan Parahiangan departemen store lalu melewati radio Fiss fm dan ketemulah tempat penyewaan buku yang masih satu tempat dengan kursus bahasa inggris. “Gardenia” kalau tak lupa mengejanya.

Ku ambil satu buku dan ku amati covernya dulu baik-baik. Cukup menarik. Halus pula sampulnya. Sedikit relief atau garis timbul dalam gambar dan judulnya. Bahkan aku mengagumi tiap lembaran-lembarannya karena bau khas kertas yang menenangkan jiwa. Aku suka bau kertas-kertas itu. Entah kenapa. Lalu ku pilih novel yang agak tebal biar asyik ada teman cerita saat akhir pekan.

Lelah berjalan tanpa kendaraan. Keringat mengucur berantakan. Kerah baju terbuka tidak karuan. Menyengsarakan. Aku mampir dulu ke warung pinggir jalan untuk membeli cemilan dan istirahat sebentar. Lalu singgah dulu ke warnet untuk browsing dan update. Aku jadi penasaran dengan isi CD (Compact Disk) ini. kawan ku bilang isinya sama persis dengan tayangan slide waktu seminar. Aku ingin lebih mengetahui isinya. Tapi sayang komputernya tidak ber-CD. Telanjang donk! Sut!

Jari-jariku kini mengisi nama dan pasword. Menekan log-in dan update status Facebook. Aku lihat apa ada yang meminta pertemanan. Lalu mengisi lembaran Note tentang pengalaman ini.

“Perhatian kepada seluruh peserta seminar Lingkungan Hidup supaya segera menghampiri sumber suara dan segera mengisi tempat duduk yang telah disediakan. Karena pemateri sudah datang!”

Perasaanku mulai tak tenang. Apa lagi yang harus aku lakukan. Segala rencana telah aku cairkan. Lalu apa ada lagi rencana Tuhan yang belum ia turunkan?

“Ya, Alloh aku berserah padamu! kalau begitu!” Pikiranku melayang entah kemana. Bagaimana kalau benar-benar aku dipersulit saat sidang proposal. Atau itu hanya gertakan si Lutfi saja. Benar-benar terlalu!

Keringatku jatuh entah dimana. Tak mungkin pula aku memungutnya. Matahari tak membantuku sama sekali. Malah ia semakin meninggi. Aku semakin pucat. Sepucat-pucatnya semakin pucat.

Aku duduk sambil mojok di serambi mesjid kampus. Tak tahu harus bagaimana. Apa aku harus pulang dan kembali pada ibu dengan kegagalan? Aku baca-baca majalah Annida di kampus untuk meredakan jantungku yang tak berhenti berdebar. Dag-dig-duh hatiku.

“Gus, masuk saja. Tidak apa-apa!” Akhirnya Fitria memberi jawaban. Ini keajaiban. Ya Alloh ini dari ketua pelaksana. Ya Alloh apa ini lelucon pertama?

Melangkah malu-malu, melangkah ragu-ragu. Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan padaku. Terlihat di depan dan belakangku peserta berbaris menunggu mengisi nama dan menandatanganinya. Satu persatu sampai tiba giliranku. Aku ragu-ragu memegang bolpoin. Aku ragu ini nyata. Apa hanya ilusi semata. Aku ragu apa aku hanya bermimpi. Dan memang terbukti. Tidak ada namaku sama sekali. Tidak ada. Tuhan jangan dulu memberi cobaan hari ini!

“Kelas 3 C, Mba!” Aku gemetar menjawabnya. Panitia yang bertugas di meja pendaptaran merasa kerepotan. tapi tetap tidak ada. Tidak ada namaku diantara nama teman sekelasku sekalipun. Jangan-jangan ada miss komunikasi. Oh tidak!

Kawanku tiba-tiba datang menghampiriku dengan jas rapi yang dikenakannya. Berdiri dihadapanku dan melempar senyum ejekan padaku. Ini benar-benar lelucon pertama. Tuhan aku tidak mau menahan malu. Jangan kali ini! please!

“Kenapa tidak pakai batik?” Katanya sambil melirik penampilanku dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Aku tambah malu. Sudah tidak memakai jas almamater aku juga tidak memakai batik. “Kebiasaan suka pake kaos ya?”

“Kemari, Gus!” Ajaknya.

“Ngisinya di daftar tamu undangan.” Lutfi memberikan ruang untukku mengisi tanda tangan.

Tampaknya namaku ada diantara daftar nama-nama tersebut. Nama-nama itu dari fakultas lain. Dan nama-namanya yang sering ku dengar. Nama-nama yang aku kenal. Ketua BEM, DPM, UKM dari berbagai lapisan. Sudah. Aku tak bisa lagi membacanya. Mataku sudah terharu. Dan aku tak banyak bicara. Hanya mulut sedikit menganga dan senyum terkembang luar biasa.

“Ibu, aku berhasil. Bu.!” Kataku membathin.

“Ini bukunya, ini CD-nya dan ini makanannya. Duduknya di depan di barisan tamu undangan. Nanti aku menyusul!” Senyumnya licik ia sudah berhasil mengerjaiku.

Keajaiban kedua aku duduk di barisan tamu undangan paling depan. Hampir dekat dengan nara sumber. Wah narasumbernya ada enam orang. Pantas saja mahal. Ternnyata ada lima pembicara yang didatangkan dari luar jawa.

Wajah-wajah penuh minyak dan keringat telah berkumpul di aula. Dari raut wajahnya terlihat tafsiran kira-kira selesai jam berapa ya? Aku juga begitu tak sabar membawakan berita seru dan sepotong besar ayam bakar dalam bungkusan nasi yang diberikan panitia. Ibu dan adikku pasti senang dapat oleh-oleh jatah makan siang yang akan aku bawa pulang ini. “Dengan ayam bakar lagi!!”

Inti dari seminar ini adalah ajakan untuk peduli pada lingkungan dan hutan serta tidak jauh-jauh dari pengetahuan pemanasan global.

Baik akan aku tuliskan tips cara mudah mendinginkan bumi dari pemanasan global yang aku dapatkan dari seminar itu.

  1. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda. 
  2. Matikan listrik. (Meski listrik rumah anda tak mengeluarkan emisi karbon, tapi pembangkit listrik PLN menggunakan bahan bakar fosil penyumbang besar emisi) 
  3. Ganti bohlam lampu ke jenis CFL, sesuai daya listrik. (Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet.) 
  4. Bersihkan lampu (Debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%). 
  5. Jika terpaksa memakai AC (Tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C). 
  6. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll). 
  7. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater. 
  8. Jemur pakaian di luar jangan menggunakan heater. (Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.) 
  9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara). 
  10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu). 
  11. Say no to plastic. (Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.) 
  12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi. 

(Materi seminar lingkungan hidup Universitas Galuh FKIP Biologi oleh dosen kami bapak Eming Sudiana)


Pengalaman ini akan aku ceritakan terus sampai puas. Apalagi potongan ayam bakar bakalan menyambut ibu dan adik di rumah. Makan siang hari ini aku traktir mereka. Bahagianya bisa membawa makanan sampai ke rumah. Langsung saja aku masukan ke tas takut ketahuan kalau jatah makan siangku, aku bawa ke rumah.

“Kak, mana hape-nya!” Baru saja ucapakan salam masuk rumah sudah di pinta ini-itu. Tak tahu dia aku bawa sesuatu yang terbakar. Ayam bakaaar!!!!

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.