Fase 023 - Ayam Bakar #2

Bulan pucat. Menunggu kekasihnya semalaman. Matahari belum terlalu tinggi masih bisa kelihatan wajahnya separuh tertutupi kanopi hutan. Aku terjaga dari mimpi. Dan segara aku kumpulkan nyawa. Mataku masih perih. Telingaku gatal karena shubuh-shubuh adikku menyetel televisi. Setiap hari begitu. Tidak radio ya televisi. Tidak televisi atau radio, ya HP. Sama kelakuannya denganku. Sebenarnya.

Aku yang sangat peka sama bunyi-bunyian sekecil apapun. Begitu ada suara televisi jam lima shubuh langsung terjaga. Tidak akan beranjak kemana-mana selain ikut nonton bersama ibu acara mamah dedeh.

“Curhat dong mah! Mah.. mah.. mamah!” Aku paling suka dengan pasword itu. Ibu selalu tertawa saat aku meniru kalimat tersebut.

Sebuah sertifikat dan CD seminar lingkungan masih tergeletak di lantai. lupa semalam tidak dibereskan. Sebuah pengalaman terhebat tentang segala kemungkinan yang bisa saja terjadi jika kita menurut sama petuah dan nasihat ibu kita.

“Gus, kita kumpul dulu di mesjid, nanti sama-sama ke auditoriumnya!” Sebuah pesan singkat dari kawanku Lutfi yang juga salah satu panitia pada seminar lingkungan hidup ini.

Sebenarnya aku juga bisa jadi panitia. Dan tak perlu pusing-pusing memikirkan biaya pendaftaram. Tapi ada satu kesalahan patal. Aku tidak ikut rapat mingguan karena ada alasan yang tak mungkin aku jelaskan. Mungkin di bab selanjutnya akan terkuak sendiri tanpa perlu penyimpulan. Kalau tidak lupa itu juga.

Langit masih sepi, awan putih belum hadir dan matahari belum terlalu tinggi. Satu-dua peserta mulai berdatangan. Berganti wajah dan kendaraan. Bergandengan, boncengan atau sendirian. Seminar nanti sudah terbayang pasti pengap. Karena semua mahasiswa biologi tingkat satu sampai akhir tak terkecuali reguler dan kelas karyawan akan hadir dalam seminar wajib ini.

“Nung boleh aku minta tolong!?” Aku akan melaksanakan rencana pertama. Yaitu meminta kawanku merecord pembahasan pemateri sebagai bukti aku hadir dalam seminar itu. Sebenarnya aku hanya menunggu di luar sampai seminar selesai. Dan menunggu hasil record itu selesai Tapi sayang rencana A gagal. Ia beralasan duduknya di belakang dan pasti tidak akan jernih suara rekaman yang dihasilkan.

“Maaf ya, Gus!” Raut wajahnya merasa bersalah.

“Tak apa! Masih ada rencana B!”

“Rencana B?” Enung nampak bingung. Mana ia tahu rencana-rencana itu selain kita.

“Memangnya kamu gak ikut, Gus? Ada apa?” Ia lupa dengan penasaran dari rencana B itu. Lalu beralih dengan pertanyaan yang sulit diucapkan. Apa ia aku mau katakan jika aku tidak punya uang untuk saat ini.

Panitia sudah berkoar-koar memanggil peserta untuk bersegera mungkin memasuki ruangan yang sudah dipersiapkan selama semalam. Aku semakin kalut. Bingung. Galau. Ikut masuk atau jangan. Masuk-jangan. Masuk-jangan. Masuk-jangan. Aku menghitung jari sambil berdebar keringatan.

Lebih baik aku muluskan rencana B. Kalau tidak bisa masuk lewat jalan depan maka cari jalan yang aman. Jika nasihat bijak mengatakan teriaki saja si pemilik rumah. Ibarat ada peringatan “Awas ada anjing galak!” di depan rumah. maka akan aku hubungi saja si pemilik rumah. Bisa dianalogikan seperti itu kira-kiranya.

“Ketua pelaksananya!” Aku dapat ide brilian. “Ya!”

“Semoga lancar!” Demikian doa’a ku panjatkan.

Rencana B ini sebenarnya tidak direncanakan sebelumnya. Langsung saja kepikiran setelah penolakan rencana awal. Baiklah. Aku hubungi dulu Lutfi untuk segera mengirimkan bala bantuan.

“Ada yang bisa ku bantu, Gus?”

“Tentu saja Fi, aku mohon kirimkan nomor ketua pelaksana.”

“Ketua pelaksananya, Fitria. Coba kau hubungi saja sendiri!” Ia mengirimkan sebuah nomor. Tentu saja aku langsung menghunbunginya. Dan tentu saja aku tidak akan menuliskan nomornya di buku ini.

Fitria memang bukan kawan sekelasku tapi aku kenal dia di HIMA. Orangnya supel dan tidak banyak tuntutan. Jadi aku lebih leluasa berkeluh kesah mengenai masalah ini.

“Bagaimana, Fit? Apakah bisa?” Nafasku memburu oksigen lebih cepat. Jantungku kupertahankan tetap pada tempatnya. Karena ini jalan satu-satunya. Jalan terakhir untukku.

Belum ada jawaban. Sementara panitia lain sudah pegal menyuruh peserta hadir karena pemateri sudah datang. Aduh, bisa-bisa keburu dimulai acaranya. Aku harus mencegah agar acara terlambat. Aku berharap waktu bisa sedikit negosiasi denganku. Aku mengharap hujan turunlah. Aku berharap badai datanglah. Keburukannya akan mengahapus semua. Kupu-kupu kertas. Sempat-sempatnya aku menghibur diri dengan bait itu. Ebith G Ade memang pandai memadu padankan kata-kata.

Matahari sudah meninggi. Keringat bercampur dengan dahaga yang amat sangat. Kusediakan waktu dan tempat untuk aku beristirahat. Sesuai perintah dari penanggung jawab acara aku langsung saja duduk paling depan dekat nara sumber. Sebuah keajaiban pertama terjadi hari ini.

Gempa tiba-tiba datang seketika memporak porandakan kampus. Ini mimpi yang menakutkan.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.