Fase 019 - Day Break #4

Tak ada maksud untuk membangunkan mu pagi-pagi. Tak ada maksud untuk mengganggu tidurmu itu, kawan. Sebab aku datang untuk memberi mu satu kekuatan ajakan jika kau bersegera bangun pagi maka rezekimu akan mengalir tiada henti.

Tengoklah keluar mereka sudah bersih-bersih diri untuk menjalani aktivitas seperti biasanya. Lalu mengapa kau masih tertidur pulas. Aku tahu tadi malam tidak bisa tidur karena takut ada penampakan di luar. Maka kau nyalakan lampu hingga terang.

Berlari mengejar mimpi harus dimulai pagi-pagi. Ketika langit bangun dari pelukan rembulan. Saatnya mengganti spirit baru untuk menemukan insfirasi baru dariku, dari mu dan dari awan-awan yang terbentuk dilangit sana.

“Ayo kita sekolah! Kau jangan malas!” Aku menemukan kawanku masih saja mendengkur di tempat tidur. Udara pagi sudah berasa dinginnya. Tetapi matahari sudah menyelusupkan sinar-sinarnya. Datangnya pagi karena malam telah berganti. Ketakutan akan gelap sudah berubah jadi terang dalam nyaman. Udaramu akan bergabung dengan udara orang-orang yang bersemangat menjalani hidup. Hidup harus dijalani bukan untuk dinikmati. Jalanilah dengan rasa senang dan nikmati setiap perjalanannya. Lalui arusnya dan percayakan jalan dihadapanmu tak ada yang buntu. Biarpun menanjak atau menurun, berliku atau lurus tidak apa asal seru.

“Jam berapa, Gas!” Ia berbicara dengan mata masih tertutup dan kaki yang masih melilit guling. Tak sadar atau tidak ia kembali terbuai mimpi dan tak bisa bangun. Jangan sampai ia terpenjara oleh mimpi dalam tidurnya. Maka ku bangunkan juga.

“Shalat shubuh dulu sana!” Aku segera meninggalkannya dan lepas kewajiban untuk menyuruhnya sembahyang. Aku kembali pada aktivitas pagiku. Membacakan informasi dari koran untuk pendengar sekalian. Aku pilih lagu-lagu yang energik. Kebetulan di radioku lagu kita ubah menjadi kawih. Berasa radio sunda ya! Tapi pagi-pagi ini giliran menyajikan lagu dangdut full energik. Pergulatan bathin terjadi disini. Sebenarnya aku tidak terlalu suka. Tapi sebagai seorang penyiar aku harus menikmati semua lagu. Sebagai broadcaster harus begitu. Apalagi segmen pendengar radio kami ini berbagai usia. Segmen keluarga.

Beberapa anak sekolah lewat aku melihatnya dengan jelas karena ruangan siaran menghadap jalan. Aku sudah lama meninggalkan bangku seragam. Aku masih merindukan bagaimana jika seandainya aku dulu dapat pekerjaan saat berseragam sekolah. Pasti aku dapat menyicil tabungan untuk membeli buku bacaan. Aku ini adalah anak kutu buku. Tapi aku di rumahku tidak ada buku. Semua buku aku pinjam dari teman dan perpustakaan. Setiap istirahat sekolah perpustakaan jadi langganan tempat bermainku. Disana aku bisa menemukan penyair-penyair di Horizon magazine. Dapat membaca teori sains Islami pada buku ensiklopedia IPA. Ada pula tips-tips dan motivasi yang tidak bisa aku baca semua. Kerana buku baru itu tersimpan rapi dalam dus. Hanya beberapa orang yang berani membuka dus itu termasuk Lina Dewi kawan jeniusku.

Menikmati pagi tanpa mandi rasanya kurang bertenaga. Apalagi pagi-pagi suaraku harus kelihatan prima dan bersemangat. “Selamat Pagi. Sudah mandi kan?” padahal aku sendiri belum mandi.

Keluarga, kerabat dan kawan-kawanku tidak menyangka aku bekerja di radio. Mana mungkin anak pendiam itu bisa bicara diradio. Sedang tidak semua orang bisa melakukannya tanpa grogi dan kehabisan ide untuk berkata-kata. Itu dibutuhkan pelatihan yang rutin dan istiqomah dalam melakukan pelatihan. Perlu ketegasan pada diri untuk belajar dan tidak menyerah menghadapi kegagalan dan penolakan. Jangan kira aku langsung diterima dan langsung bekerja di depan mik dan komputer. Ada waktu yang tidak bisa diganti dengan uang saat proses pembelajaran itu terjadi.

Sayapku tak bisa mengepak karena tidak ada energi yang melepaskanku ke udara. Aku seperti kehilangan tongkat penyeimbang kehidupanku. Aku juga seperti kehilangan lentera penerang kegelisahanku. Nyatanya aku kehilanganmu.

Aku berjalan tak lagi menengadah langit dan pesonanya yang sempurna. Kini aku tertunduk memperhatikan jalan dimana aku biasa berjalan sendirian. Nyatanya kini aku kehilanganmu. Seorang kawan yang paling terang.

Aku melihat kupu-kupu berusaha memeluk angin. Membiarkan sayapnya mengembang di angkasa. Sesekali ia mengelilingi dan menyapa bunga-bunga. Sesekali ia menyelam ke dasar air. Lalu muncul dengan sayap yang terlapisi air. Sekejap berkilau karena tersentuh cahaya matahari. Begitupun dengan tetesan air yang membiaskan warna pelangi yang berusaha memeluk sayapnya.

Matahari mulai menyusut di langit Indonesia. Warnanya makin terang dan menyala dengan nyata. Kupu-kupu bersayap biru langit itu berusaha mengajakku bermain serta. Seolah terhipnotis dengan tatapan matanya yang hijau jamrud, aku tak dapat menolak ajakannya. Kupu-kupu bersayap biru terlalu langka bagiku. Dibukanya sayap lebar-lebar sehingga hampir menutup angkasa. Berkilau penuh kebanggaan dan aku menatap penuh kekaguman.

Ditawarinya sepasang sayap padaku. Sebenarnya aku ingin mencobanya karena telah lama aku tidak mengunjungi sahabatku. Bagaimana kabarnya dia disana? Sehatkah dia? Karena aku tak bisa bersua dan berkomunikasi dengannya. Tapi aku tidak pantas menerima sayap yang begitu indah. Terlalu indah mungkin. Lantas aku menolaknya dengan halus sehalus sayapnya.

“Kau lebih membutuhkannya daripada aku”.

Seolah dia ragu akan jawabanku dan memang aku ragu menolak kesempatan itu. Kalau boleh aku berbicara izinkan aku meminjam sayapmu.

“Suatu hari nanti kau boleh meminjamnya. Atau kau juga boleh memilikinya.”

Seolah mendengar apa suara batinku dia membisiku dengan suara selembut angin. Hampir tak terdengar yakin. Ia mengelilingi tubuhku dan memperlihatkan warnanya pada dunia. Seolah dia berkata: “Hai, anak manusia, bersyukurkah kau jika jadi aku?”

Melihat aku penuh kekaguman dia pun menghentikan aksinya. Ia duduk disebuah daun dekat bunga yang mekar. Dan menatapku dengan penuh haru dan rindu. “…..” kini aku melihatnya begitu jelas. Dia bukan kupu-kupu tapi manusia yang bersayap kupu-kupu. Wajahnya mirip sekali dengan aku. Tubuhnya pun sama kurusnya. Dan aku mengamati pakaiannya perasaan aku pernah memakai baju itu. Atau hanya perasaan saja.

“Ah.. mana mungkin” pikirku. Penuh rasa curiga padanya. Mungkin mimpi atau halusinasi.

Makhluk mungil itu mengajakku melukis di atas kanvas. Mengambil warna bunga-bunga di taman dan menjadikannya cat warna yang indah dan ia gunakan sepatunya sebagai kuas. Penuh warna dan aku merasa terhibur meski selalu muncul dalam pikiranku beberapa pertanyaan.

“Bagaimana kalau orang lain melihat ini..?”

“Aku pun tak yakin ini nyata..”

“Bagaimana kalau ini hanya halusinasi dan orang melihat aku berbicara sendiri..”

“Bagaimana kalau murid-muridku melihat keanehan ini.”

Seakan waktu itu milikku. Seharian ini terasa beberapa episode dengan beberapa tingkah konyolnya dan hal-hal ajaib yang membuatku heran. Dia mengajakku ke sebuah taman penuh bunga. Lantas kembali ia membisiku. Meski suaranya sehalus angin. Hampir-hampir aku tak mempercayai apa yang aku dengar.

“Aku akan perkenalkan seseorang padamu..”

“Siapa?”

“Kawanku..”

“Apa dia mirip dengan mu? Sebangsamu?”

“Menurutmu?”
“….”

Seolah ingin menunjukan sesuatu padaku dia berputar tak henti. Sampai tak henti-hentinya membuat angin sedikit berdengung. Sesuatu di ujung taman tampak sedikit-sedikit jelas siapa yang dimaksud kupu-kupu biru itu. Ya aku melihatnya. Kupu-kupu bersayap kuning dengan cat merah di tiap ujung sayapnya.

“Siapa dia?? Kawannya kah?”

Dia menyuruhku untuk tetap di tempatku. Karena bisa-bisa makhluk baru itu pingsan karena ada manusia sepertiku ditempat ini. Dan aku tak tahu kenapa aku satu-satunya manusia yang berani memimpikan hal ini. Mimpi? Tak tahulah aku juga tak yakin ini mimpi karena kejadian ini terlalu lama jika disebut mimpi. Karena hampir seharian aku disini bersamanya.

Aku melihat mereka sedang bercakap-cakap sambil sayapnya tak henti-hentinya bergerak. Lama sekali sampai aku tak sanggup menunggunya. Sambil melihat apa yang mereka lakukan dari kejauhan. Aku mengambil sebuah daun, memetiknya dan mengamati bentuk dan warnanya. Ujung daun, lekuk daun, sempurnakah daun ini. Hampir sama dengan daun yang aku teliti di kampus.

Tak lama kupu-kupu kuning bercat merah pada tiap ujung sayapnya itu pergi meninggalkannya. Apa yang terjadi? Teman biru ku itu mendekatiku dengan wajah yang ditekuk. Hampir lemah tubuhnya hingga terbangpun ia tak mampu. Matanya sayu dan gerakannya lambat. Dan aku tak mendengar lagi apa yang diucapkannya.

Dia berputar di tangan kananku. Seolah aku mengerti maksudnya, maka ku bukakan telapak tanganku. Jatuh. Ia jatuh di pangkuan tanganku. Memeluk lipatan jariku seolah bantal. Ia tak bergerak. Ia tak bergerak. Ia tek bergerak. Apa yang terjadi dengan kawan biruku.

“Ambil sayapku dan temui sahabatmu..” bisiknya padaku hampir tak terdengar karena angin sekarang tak berteman lagi.

Aku teringat sahabatku yang jauh di sana. Sengaja aku tak berbalas Chating lagi karena aku merasa tidak dianggap teman. Dia tak pernah menyapa kabarku. Mengapa harus aku dulu yang menyapa. Tapi persaudaraan tak boleh dipisahkan. Bagiku dia saudaraku. Aku kenal keluarganya. Kawanku seolah tak pernah membutuhkan aku. Makanya aku berfikir aku pun tak membutuhkannya.

Kawan biruku tak bergerak lagi. Betapa dia tak bisa hidup tanpa sahabatnya. Begitupun aku. Dalam hati aku kehilangan sebagian rahasiaku. Sebagian kehidupanku. Sebagian kegembiraanku. Sebagian anugerahku. Sebagian semangatku.

“Sebelum maghrib akan ku pinjam sayapmu dan akan ku temui dia sebagai wujud sialturahmi ini tetap terjaga”

Ku tutup tanganku dan beranjak ke rumah. Perjalanan ini masih jauh. Rumahku masih jauh sedang maghrib akan segera tiba. Aku tak sanggup lagi menahan langkah kakiku. Seperti telah hilang energiku. Dan aku mengharapkan ada keajaiban.

Dulu sebelum kawanku beranjak pergi karena cita-cita yang harus kita capai sendiri-sendiri. Dia yang selalu menaruh kasihan padaku. Selalu berjalan sendirian sepulang sekolah atau bekerja. Maka ia ajak aku menumpang di motornya. Dalam hati kala itu aku sangat beruntung punya kawan yang perhatian. Aku sendiri merasa berhutang budi. Mungkin lain kali aku yang akan meringankan bebannya.

Maghrib telah berkumandang sementara aku masih dalam perjalanan. Rumahku sangat jauh. Aku mampirkan diri sholat dulu di mesjid pinggir jalan. Kepalan tanganku tak pernah terbuka karena kawan biruku masih disana. Aku teringat bagaimana kalau dia masih hidup dan malah mati karena kehilangan nafas.

“Wah gawat..”

Maka ku buka kepalan tanganku seolah keanehan yang muncul lagi. Aku tak menemukan siapa-siapa di tanganku. Apa yang terjadi. Apa aku melamun selama berjalan. Apa aku mengada-ngada saja punya kawan bersayap biru itu. Karena kesendirian selama berjalan seharian?

Tapi ada hikmah yang aku dapatkan dari perenungan itu. Jika silaturahmi tak boleh diputuskan. Seberapa jauhpun jarak memisahkan.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.