Fase 017 - Day Break #2

Hari minggu bukan sekedar hari libur. Ada hari dimana hari itu kita masih berkutat dengan rutinitas kita. Karena tidak semua jadwal pekerja diliburkan. Diantaranya para penyiar yang jadwalnya jelas berbeda dengan pekerjaan lain. Hidup menjadi penyiar adalah dunia yang tak bisa terbayangkan. Kejutan-kejutan tak terduga dari orang yang berbeda hampir selalu ada dalam hitungan jam. Jelas kemampuan personalisasai dan komunikasi antarpersonal sangat diperlukaan.

Bermanja-manja dengan komputer di kantor dan mendengarkan lagu baru setiap hari jelas suatu kemudahan akses hiburan bagiku. Khususnya. Sebab barang-barang itu tidak aku temui di manapun bahkan di rumah.

Kadang jika ada tugas kuliah aku pinjam kompeuter kantor yang sudah tak terpakai. Layarnya hijau dan sulit mengetik karena tombolnya keras dan susah kembali ke bentuk semula serta lama muncul hurufnya. Belum mousenya yang susah dikendarai. Aku geser ke kanan. Kursor menggeser ke kiri. Aku geser mouse ke kiri kursor geser ke atas. Aku geser ke atas ia geser ke bawah. Aku geser ke bawah. Ia tak bergerak. Coba ada kucing lewat pasti lari terbirit-birit dia.

Di radio aku punya kawan baru namanya Fajar. Dia berbeda dua tahun dariku, tapi perawakannya yang tinggi besar malah membuat dia lebih dewasa pemikirannya. Di radio aku punya nama baru. Nama udara, kata penyiar yang lain. Hampir penyiar seangkatanku beralih nama. Terkecuali angkatan Fajar yang tidak berubah. Tetap saja eksis dengan nama mereka.

Bagas. Itu adalah nama udaraku. Nama ini adalah pemberian dari seniorku, teh Dinda. Banyak yang berjasa dalam membuat anak pemalu ini bisa luwes berbicara di udara. Diantaranya teh Dinda yang hampir setiap hari mengajari dan mengetes sampai dimana kemampuan bicaraku mengalir. Sebenarnya aku malu jika harus diajari seorang wanita. Perasaanku gugup malah menambah gugup saat bicara. Tidak sebebas dan seterbuka saat bicara sendiri di kamar.

“Gas, ada di radio. Aku kesana ya.” Pesan singkat dari Fajar.

“Jam berapa jadwanya? Nanti malam?”

Aku mengenal Fajar semenjak dia datang ke Ciamis. Dia pindahan sekolah dari Sukabumi. Dan sekarang sekolah ditempat yang lokasinya dekat dengan kawanku Lutfi. Selalu saja ada keterkaitan antara orang-orang yang aku kenal. Entah kebetulan atau telah diatur Tuhan semesta alam.

Fajar masih sekolah sehingga jadwalnya hanya jum’at dan sabtu malam. Keunikan darinya ia mau bekerja di radio padahal uang transferan ayahnya hampir tiap bulan tak telat dikirim. Awal mula aku kenal sahabatku ini, aku kira dia tamu atau pendengar yang berkunjung ke radio.

Banyak hal-hal yang gampang berubah. Pertemuan yang sudah direncanakan Tuhan. Sekaligus perpisahan yang tak dapat dielakkan. Sekarang aku tak tahu kabarnya bagaimana. Apa ia masih cuek seperti dulu. Apa ia masih banyak cerita seperti dahulu. Sungguh kawan aku sangat rindu.

Satu hal yang selalu aku ingat yaitu saat ia selalu menghitung hari sejak ia tiba dikotaku. Selalu dibilangnya ingin segera pindah dari kota ini. Ia selalu bilang ingin cepat-cepat ujian dan lulus lalu melanjutkan kuliah di Bandung. Sepertinya Ia tak betah disini. Sepertinya begitu. Padahal aku sangat senang dapat berkenalan dengan kawan sepertinya. Jujur saja aku sangat sedih karena tidak ada sesuatu hal pun yang bisa mempertahankannya untuk lama disini.

Matahari pukul empat kurang seperempat.

Menyapu keringat yang menempel didahi seusai berlari karena berlomba dengan hujan. Alhasil sekuat apapun aku berlari, apapun apalagi meminjam tenaga kuda tetap saja hujan yang menjadi juara. Nafas tak beraturan, oksigen serasa tak terjangkau. Aku kelelahan. Lutut gemeteran, dada lelah mengembang. Kerongkongan kering, aku masuk angin.

“Rileks.. tenang.. tidak usah ambil start kecepatan.. slown..” Sebentar lagi aku mau siaran. “Saatnya on air... hallow pendengar!!!”

Tinggal lima menit lagi. Giliranku untuk bertemu kawan-kawan di dalam. Ada mixer, komputer, telephon dan microphon. Mereka adalah kawan-kawan yang membantuku; Membuat aku tenang; Membantuku mengalirkan pembicaraan. Semenjak aku belajar jadi penyiar. Awalnya mereka membuatku gugup. Nanti aku ceritakan bagaimana repotnya berkenalan dengan kawan baruku. Itu. Mungkin dalam novel yang lain kalau perlu.

Tinggal empat menit lagi. Irman sudah siap-siap hendak pamitan. “Wilujeng sonten!” Irman memang spesialisasi dalam kepenyiaran program sunda dan karokean sunda. Menurutku dia pemuda zaman kini yang masih suka dan bisa mempertahankan budaya sunda kita. Jangan tanya aku. Aku masih menggunakan bahasa sunda kasar.

Acara Irman sudah selesai. Tapi aku belum menyiapkan apa-apa. Kalau tahu yang punya radio aku telat dan belum persiapan apa-apa. Tamatlah riwayatku sebagai pecandu udara.

Tinggal tiga menit lagi. Aku langsung duduk menyapa mixer apa ia sudah siap. Menyapa komputer menyuruhnya menyiapkan lagu pembuka dan lagu berikutnya dan berikutnya. Penyisipan iklan jangan lupa. Lirik kanan lirik kiri siapa tahu ada iklan yang harus dibaca. Menyapa koran langganan. Apa kabar? Apa puisi dan cerpenku sudah cetak di media massa? Semoga aku jadi orang terkenal!

Dua menit lagi. Aku diam sebentar memasang headset dan mengatur posisi mic biar sedap. Apa lagi?

“Jadwal sekarang, Gas?’ Fajar menyapa tiba-tiba. Aku mengangguk saja tanda bersahabat. “Terimakasih!” ku minum segelas air teh biar rileks. Tadi sebelum menghitung menit aku memohon dengan sangat untuk membawakan segelas air teh. Segera.

Satu menit ah.. tak menunggu lama karena lagu pembuka hampir habis tinggal 30 detik terakhir dan langsung ku sambut “ Selamat pagi!!”

(*ups salah sebut! Selamat sore maksudnya! Maaf lupa! Malu..)

Menjadi seorang penyiar dibutuhkan mental yang kuat. Itu tips yang pertama. Karena seorang penyiar radio dengan istilahnya annoucer atau brodcaster setiap saat harus mampu berinteraksi dengan berbagai pihak. Dekat tapi harus jaga jarak. Itu pelajaran ke dua.

Karena banyak kasus yang aku dengar berulang-ulang dari para senior. Pertama ketika berhadapan dengan pendengar umum. Jaga etika sopan santun dan arah pembicaraan yang tidak menggurui. Biarkan pendengar baru merasa kita adalah kawan barunya. Selanjutnya perlu ketegasan dalam pembicaraan. Aku dulu ditegur sama atasan karena terlalu akrab dan lama menerima telepon dari pendengar. Alhasil waktu yang telah disiapkan untuk iklan terbengkalai.

“Kita harus tegas dan langsung to the pont karena pendengar tidak cuma satu. Banyak yang ingin masuk. Langsung saja siapa nama dan alamatnya mau request lagu apa dan salam-salam tidak terlalu banyak disebutkan” Itulah kata-kata motivasi dari bapak direktur kami. Yang punya radio ini. Meski gaya ucapnya membentak-bentak seperti akan marah tapi aku mendapat ilmu darinya.

Pelajaran kedua biasakan memberi jawaban dengan tegas dan tidak setengah-setengah. Bilang tidak kalau tidak. Bilang ya kalau sanggup. Jangan karena mencari perhatian orang. Kita gegabah mengatakan iya saja. Beranilah berkata yang benar dan jangan takut dicaci orang. Kebenaran harus ditegakkan. Sedikit ambisi dan keras kepala tak megapa asal kita yakin mencapainya. Itu yang bisa aku baca dari karakter vokalnya saat mengintrogasiku karena ada virus dalam komputer utama. Padahal aku juga tak yakin itu salahku semua. Karena tidak hanya aku saja yang mencolokkan plasdisk pada komputer. Padahal aku hanya mau menyisipkan lagu baru.

Pelajaran ketiga. Jalani silaturahim dan berdayakan tetangga dan keluarga. Biasanya jika lebaran datang pak Bos (sebutan kami) menyuruh kami membawakan tiga balck yang berisi seroja ke Bandung. Seroja ini sengaja di pesan dari lingkungan sekitar radio. Yang notabene masih ada hubungan keluarga dengan pak Bos.

Pelajaran keempat. Beri pengertian dan perhatian pada asisten kita, pekerja kita dengan menyuruhnya membawa ini, membawa itu dan menyuruhnya menemani kemana saja. Jangan mengacuhkan sesuatu yang memang sudah begitu tugasnya. Antara pak Bos dan para pengawal (asisten) sudah seperti keluarga dan semakin dekat karena selalu merasa dibutuhkan. Aku lihat dari orang yang bekerja dengan pak Bos, tetap setia puluhan tahun lamanya dan siap diajak kemana saja. Bandung-Ciamis hayu saja!

Pelajaran kelima. Tekuni hobi sedari kecil. Awalnya pak bos punya radio, saat ia masih remaja seusiaku. Ia gemar merakit sebuah radio dan alat-alat yang menyertainya. Ia sadar ia punya passion terhadap barang-barang radio dan komunikasi maka ia mendirikan radio dan merakit antena radio-radio Bandung. “Keren sekali!” pikirku. Itu yang aku simpulkan dari ceritanya yang berjam-jam.

Aku juga dapat ilmu tentang komputer dari beliau. Bukan ilmu teknisi atau cara membaut softwere tapi motivasi tinggi sehingga aku tak menyerah dan takut belajar. Kala itu aku disuruhnya membantu memindahkan ratusan lagu ke komputer yang baru. Kebetulan komputer yang lama hangus disambar petir.

Karena sikapku ragu-ragu dan takut salah memencet tombol komputer akhirnya aku takut melangkah dan sebentar-sebentar bertanya. Mungkin dengan nada kesal ia memberiku nasihat ini.

“Kalau tidak dicoba maka tidak akan tahu hasilnya; tombol-tombol itu berfungsi atau tidak. Jangan takut sama komputer yang masih buatan manusia?”

Bukan karena itu masalahnya. Tapi masalahnya kalau gagal dan malah membuat komputer ini rusak dan aku yang bertanggung jawab. Akan aku bayar dengan apa sedangkan biaya semesterku masih menunggak.

“Bagaimana kalau rusak, Pak.?”

“Ya. Jangan sampai rusak makanya!”

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.