Cerbung - Air Bah - #1

Sungai yang meluap membawa bibit-bibit penyakit. Mengangkut sampah-sampah berlendir dan menyelusup ke dalam pori-pori kulit. Terlebih jika ada luka, maka ia akan merobeknya, memperluas permukaan kulit yang terbuka dan menyimpan bibit penyakit disana. Tumbuh dan membunuh si tubuh.

Musim hujan telah datang dan mulai meneror kaum papa yang tidak punya tempat berlindung. Seluruh permukaan lantai dan etalase tokoh sudah terkumpul sampah-sampah dari sungai. Menggenang sampai batas lutut. Beberapa sampah toko bercampur baur. Hanya tinggal mengeringkannya saja dan pakaian baru bisa dipakai. Namun kini berbeda. Matahari muncul dua hari sekali itu pun hanya lima jam lamanya. Lepas dari itu kegelapan menyelimuti permukaan. Seolah awan hitam tidak jua beranjak pergi.

Para penyelamat hanya mampu member perlindungan di atas ruko-ruko dan mall yang berlantai banyak. Sementara kendaraan yang tak terselamatkan kini tinggal sampah besi yang berkarat. Kehidupan berubah menjadi panggangan neraka.

Di sebuah toko pakaian, tokoh utama kita terjebak dengan beberapa orang pengunjung dan pegawai toko. Menanti hujan reda dan matahari muncul. Mereka membuat kehidupan baru di atas permukaan air. Kota yang dulu seringkali dijadikan mata pencaharian dan tujuan dari para pelancong kini menjadi salah satu kota yang dihindari. Bahkan kalaupun bisa mengulang waktu penulis tidak akan mau untuk berada disini.

Kali ini Suci yang akan menjadi narasumber. Ia adalah salah satu dari pegawai di toko pakaian; pegawai baru yang terlihat dari kikuknya ia mengenali ruangan-ruangan yang belum ia ketahui. Berpakaian pendek layaknya para pegawai bank. Sesekali ia menarik-narik celana pendeknya. Entah apa yang ia pikirkan.

Suci sama takutnya dengan semua orang. Suci sama bingungnya dengan semua orang. Tapi apa yang bisa ia lakukan setidaknya meringankan beban orang lain? Begitu terus apa yang ada dalam benaknya. Gadis lulusan SMA ini dengan sekuat tenaga membantu juru parker menyelamatkan barang di toko pakaiannya. Ia pun turut turun ke air bah. Air yang sudah bercampur dengan segala macam kotoran dan sampah.

“Yakin neng mau turun? Pakai sepatu boot dulu. Airnya keruh, takut ada penyakitnya!” Juru parkir berusaha mencegah Suci untuk turun.

“Ah, sudah biasa mang.” Suci melepas sendalnya dan bersiap segera.

“Jangan turun, biar aku saja!” OB laki-laki terjun langsung ke dalam genangan air yang sudah menghitam.

Bersama juru parkir mereka mengangkut satu persatu pakaian yang masih bisa diselamatkan. Sedangkan Suci mengambil pakaian yang sudah mereka angkat dan membawanya ke lantai dua. Kekuatannya sekarang berkurang. Naik turun tangga membuat ia kelelahan.

“Ah..” Suara teriakan terdengar di lantai dasar. Dimana juru parkir dan OB sedang menyelamatkan pakaian.

“Ada apa?” Suci mendengar lalu segera turun ke bawah.

“Engga tahu, Den Boby kayaknya digigit sesuatu.” Juru parkir mengangkat tubuh Boby nama OB tersebut.

“Cepat baringkan, mang. Aku mau cari P3Knya.” Suci segera mencari obat-obatan. Orang-orang yang dilantai dua berdesakan ingin mengetahuinya.

“Cepat mang, buka celananya!” Suci tanggap akan kaki Boby yang membengkak. Tangan Boby menangkis tangan Juru parkir yang akan melepaskan ikat pinggangnya. “Jangan bergerak.”

Semua mata tertuju pada selangkangan Boby. Merah dan membengkak. Lubang pori-porinya terlihat terbentuk. Tidak ada satupun dari mereka yang mau mendekati dan mengurusi Boby. Dari lubang pori-porinya bermunculan belatung-belatung putih.

“Ahh ..” Boby terkaget melihat apa yang disaksikannya. Hampir ia pingsan sebelum Suci menamparnya.

“Apa yang terjadi,mang?” Juru parkir pun tidak tahu apa yang terjadi.

“Ia terinfeksi!” Seorang lelaki matang turun dari tangga. Ia adalah sang penulis kita. Dengan tas selendang yang dipakainya, ia membenarkan kaca matanya. “Mungkin air bah membawa sesuatu yang tak Nampak.”

“Apa yang harus kita lakukan?” Suci menghindari orang yang ditanganinya. “Dan apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Boby antara sadar dan tidak sadar, memegang erat tangan suci. Air matanya menetes. “Tolong.”

Orang-orang di lantai atas segera berlari menjauh, air bah sedikit demi sedikit naik. Suci Nampak sekuat tenaga menggusur tubuh Boby agar terhindar dari genangan air bah.

“Tinggalkan dia, dan cepat naik ke atas, mba!” Juru parkir akan menutup pintu kaca di lantai dua. “Cepat!”

Raut wajah boby terlihat sangat suram, Suci menahan tangisnya. Ia memukul pintu kaca. Ia sangat marah. Bukan karena orang lain yang lari dari kenyataan. Tapi ia sendiri tidak dapat menolong orang lain. Kalau fakta bisa diubah hingga dirinya yang terkena infeksi tersebut. Jelas ia ingin sekali pertolongan orang lain.

“Sudah neng. Kita belum tahu apa bahaya yang akan datang selanjutnya.” Juru parkir mencoba menenangkan Suci. Pun sebenarnya ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Karena kejadian ini diluar kehendaknya.

“Aku pikir kita masih sempat menyelamatkannya. Kita amputasi saja.” Suci seolah tahu apa yang terjadi dan ia tahu apa yang ia lakukan.

“Kamu bukan dokter atau apalah. Yang kamu pikirkan hanya dalam film. Kita butuh seseorang yang ahli dalam menangai pasien, bukan sekedar toleransi!” Sang penulis mengokohkan pendirian Suci.



Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar