Sri Pohaci 8 - Tamu Malam Itu

Bentuk bukan lagi alasan; yang penting ketahanan. Menahan malu maksudnya. Dan Nandi dalam posisi itu. Harga dirinya terenggut. Ia dalam keadaan belum siap. Itu saja.

“Maaf, aku tidak sengaja.” Gadis itu mengikutinya dari belakang. “Bukan salahku juga, aku hanya pergi ke sungai mencari bajuku yang hanyut. Tidak sengaja bertemu denganmu yang tidak pakai kancut.”

Gadis itu tertawa kecil. Nandi merasa tertekan saat itu. Wibawanya sebagai bujangan seakan ternoda. Dimana-mana dalam cerita; seorang perjaka yang tidak sengaja melihat gadis tanpa busana. Dalam hal ini berlaku sebaliknya. Ia bermonolog sendiri.

“Kalau begitu pergilah dan jangan bicarakan hal ini pada siapapun!” Usir Nandi pada gadis yang belum ia tatap wajahnya. Karena sebelum bertemu matanya, gadis itu seolah menertawakannya. Tapi gadis itu tidak juga pulang. Ia terus mengikutinya dari belakang.

“Lho, ada apa ini. Koq basah-basahan!” Nenek Sri menyuruh Nandi menyimpan jerigen ke dapur dan menyuruhnya lekas mengganti pakaian.

“Oalah cantiknya. Siapa gadis yang kau temui di sungai?” Nenek Sri mengamati gadis itu. Cantik. Gadis itu menciumi tangan Nenek Sri. Sementara Nandi meleos pergi ke lantai dua. Terdengar suara tendangan keras disana. Entah karena marah; jengkel atau ternoda.

“Hahaha .. “ Gadis itu tidak tahan dengan kejadian yang tadi ia lihat. Lalu ia tidak sengaja tertawa terpingkal-pingkal. Dari dalam rumah Nandi menunjukkan tangannya. ‘Jangan permalukan aku, awas kau!’

“Tidak baik, seorang gadis tertawa seperti itu.” Nenek Sri mengajaknya ke dalam rumah. “Ayo duduk dulu. Anggap saja rumah sendiri. Disini Nenek hanya berdua sama Nandi, jadi sangat senang jika ada tamu yang cantik seperti dirimu.”

“Oh jadi namanya Nandi, ya Nek!” Gadis itu tidak akan lupa apa yang pernah disaksikannya. “Saya Diani. Bolehkan saya bermalam disini, Nek? Di perjalanan aku bertemu dengan kawanan serigala. Aku takut.”

“Disini banyak kamar yang kosong. Kamu boleh bermalam disini!” Nenek Sri menggeser secangkir teh hangat untuk Diani. Dan sepiring ubi goreng setelahnya.

“Tapi ada syaratnya!” Nandi turun dari tangga dengan pakaian yang sudah rapi. “Kau harus bekerja disini. Membantu Nenek membuka Rumah Makan.”

Gadis itu terdiam. Menatap Nandi dengan mulut penuh ubi. Pemuda yang ia temuinya di sungai, sudah seperti pangeran.

“Tanpa imbalan.” Cepat Nandi melanjutkan perkataannya. “Bagaimana? atau malam ini kau pulang saja!”

“Mau ya Neng.” Nek Sri memegang tangannya. Membujuk Diani. “Nenek tidak ada teman ngobrol disini.”

Gadis itu berpikir sejenak. Menimbang-nimbang. Dengan tipekal humoris seperti itu ia nampak menaruh beban di kepalanya. Tangannya mengetuk-ngetuk meja. Lalu ia hentikan manakala Nenek Sri melihatnya berlaku demikian.

“Bisa tunjukan dimana kamarnya?” Diani melepaskan tas selendangnya. Nenek Sri tersenyum kegirangan.

Kini rumah tua itu dihuni oleh dua tokoh dongeng. Mereka akan mengikuti alurnya masing-masing. Tak perduli saling bersinggungan atau saling menguatkan. Sementara Nandi satu-satunya anak manusia yang belum paham keberadaan mereka.
Hutan kembali melepaskan satu lagi makhluk ciptaanya. Diani, Si Bawang Putih.

Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar