Sri Pohaci 004 - Satu Butir Penuh Keajaiban

Udara shubuh itu membekukan darah dan persendian. Nandi hampir tidak bisa bergerak lantaran demam akut di kamar tidur. Sesekali ia mengigau menyebutkan nama-nama makanan yang tidak di mengerti oleh Nenek Sri. Dengan pelan Nenek Sri membuatkan sebuah minuman penghangat ‘wedang jahe’.

“Diminum dulu, semoga setelah ini Nak Nandi baikan.” Ia menyelimuti Nandi seolah cucunya sendiri. “Nenek sedang sibuk di dapur. Kalau kau sudah sehat, bisa bantu nenek di bawah.”

Dalam dinginnya pagi itu terdengar suara kaki nenek menginjak tangga-tangga lalu disusul oleh suara orang-orang di bawah. Nandi segera bangun setelah meminum segelas wedang jahe buatan nenek. Ia merasa kembali ke masa lampau dimana segala minuman dan makanan terasa sangat aneh di lidahnya.

Seperti biasa rasa penasaran Nandi mulai terusik. Ia memasang gendang telinganya untuk menangkap setiap suku kata pembicaraan mereka. Dan ia terkejut mana kala mereka menyebutkan kata ‘bolehkah kami membelinya Nek?’

Sepagi ini banyak orang yang datang dan ramai di lantai bawah. Nandi memakai baju tidur lengkap menguping pembicaraan mereka. Kurang peka telinganya; ia tidak terbiasa bangun dalam kondisi menggigil.

“Ada apa ini nek?” Nandi turun dari tangga. Pelan-pelan; sesekali ia menguap. Memperhatikan keadaan di sekitar. Penampilannya sangat kontras dengan kondisi rumah yang sudah tua. Sementara ia seperti seorang pangeran yang baru dari tidurnya.

Gadis-gadis melirik tersenyum memperhatikannya berjalan. Anak-anak berlarian di sekitar meja makan dan mengganggu para pelayan. Sementara orang tua mereka meminta maaf karena anak mereka merepotkan yang punya rumah. Dan Nandi seolah tamu di rumahnya sendiri.

Ia melihat orang-orang berbaris lalu duduk di tempat yang biasa ia pakai untuk mencoba resep barunya. Mereka terlihat sangat senang ketika makanan itu terhidang di hadapan mereka. Puas mereka makan mereka memasukan uang ke dalam kendi lalu mengucapkan terima kasih. Tidak lama mereka membawa saudara mereka dan merekomendasikan sendiri mana makanan yang sangat mereka suka.

“Ada apa ini Nek?” Nandi berjalan diantara orang-orang yang sibuk memesan dan makan. Sementara para pelayan tersenyum dan memberi hormat padanya. Tidak, Nandi tidak mengenal mereka.

Sementara di dapur Nenek Sri sibuk memotong-motong kentang dan mencetak nasi ke dalam anyaman bambu berbentuk kotak. Makanan yang pernah Nenek Sri berikan kemarin pagi. Mereka menyukainya.

Api menyala dari perapian. Kayu bakar yang menumpuk di area belakang dapur ada juga gunanya. Nandi berdiri mematung; punggungnya merasakan hangat api dari tungku dan perapian; sementara di hadapannya riuh orang-orang meramaikan kembali rumah makan ini.

Satu butir nasi dari Nenek Sri; adalah satu keajaiban bagi Nandi. Tampaknya garis waktu telah memudar; Nandi belum sadar siapa Nenek Sri sebenarnya. 


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.