Sri Pohaci 012 - Dua Dewa

Permasalahan tikus sekarang teratasi oleh kehadiran Pak Anta. Pun Rumah makan ini terasa ramai, karena dibalik wujudnya yang gadun, Pak Anta sangat humoris. Nandi yang sangat kaku mulai tertarik berbicara banyak dengannya. Meski mereka berbeda karakter dan terkurung bersama dalam hunian Rumah makan.

Seminggu ini pengunjung bertambah banyak. Pak Anta selain bisa mengocok perut pelanggan, ia juga pandai membuat perabotan dari barang bekas yang tersimpan di gudang. Alhasil berbagai barang kerajianan dan hasta karyanya terpampang rapi di depan.

Dan sejak itu Nandi dibantu oleh Pak Anta untuk mengurusi berbagai perkakas. Ia ibarat tukang sekaligus pembantu di dapur. Pandai mencincang ikan dan daging, pandai menyetir dan mampu menyesuaikan diri.

Ular yang pernah ia keluarkan telah ia masukan kembali pada buntilan itu. Tak pernah terdengar suara desisan maupun pemberikan makan. Seolah buntilan itu adalah lubang hitam, siapapun yang masuk kesana akan masuk ke dalam dimensi lain yang entah apa namanya.

Begitu malam yang sepi, Nandi sudah tidur di lantai atas. Pak Anta masih diluar menikmati bulan.

“Sudah lama aku mencarimu, Sri.” Pak Anta kembali lagi berulah. Kini ia menggengam erat tangan kusut Nenek Sri. Begitu kuat. Kopi yang ia berikan hampir tumpah, jika tidak segera Pak Anta melepaskan genggamannya.

“Jangan sembarangan!” Nenek Sri menjaga jarak.

“Ternyata kau bersama pemuda manusia.”

“Apa maksudmu?” Nenek Sri curiga, karena menyebut Nandi sebagi pemuda manusia. “Apa kamu?”

“Syukurlah aku bisa kembali menjagamu kembali.” Pak Anta meminta izin untuk membuka buntilan itu. Kembali dielusnya. Dirapalkan mantra pemanggil ular Sanca. Ular tersebut berdesis, mengeluarkan kepalanya sedikit demi sedikit.

Dan Nenek Sri setengah sadar tentang jati diri orang itu. “Jangan macam-macam!” Nenek Sri hampir menjatuhkan diri dari kursi yang ia duduki.

Ular itu melilit tangan Antaboga lalu mengelupas kulitnya. Tertinggal tulang-tulang hingga berubah wujud menjadi sebuah tongkat. Benda pusaka milik para dewa.

“Kau?” Nenek Sri sulit membedakan jati dirinya. Wajah tua dan berjanggut mirip gadun-gadun berduit. Dan ia sendiri melihat dirinya dalam wujud nenek tua yang lemah.

“Aku pangling melihat rupamu sekarang.” Anta boga melepaskan kulit penutup tubuhnya. Ia muncul sebagai seorang pria muda yang sangat gagah. Sangat mirip dengan cerita sandiwara radio barangkali. Tapi begitulah. Antaboga yang sebenarnya adalah pemuda sakti mandraguna dari kalangan dewa yang bertugas menjaga Dewi Sri.

“Apa pemuda itu tahu jika kau sebenarnya adalah dewi?” Antaboga muda yang gagah meminta penjelasan Nenek Sri. Dari gelengan kepalanya ia tahu jika selama ini ia berhasil sembunyi dengan penampilan tuanya.

Nenek Sri tidak dapat berubah menjadi pemuda karena ada sesuatu yang menghalanginya. Dan hanya satu cara agar ia bisa berubah kembali menjadi muda. Jantung manusia.

“Belum saatnya ia tahu.” Nenek Sri berbisik pelan. “Dan aku tidak tahu apakah ia adalah manusia yang terpilih!”

Nenek Sri melihat Nandi turun dari tangga. “Aku butuh waktu untuk memastikan itu.”

“Malam-malam begini masih di luar?” Nandi menghampiri ke dua dewa itu yang kini sudah menjadi wujud manusia. “Ayo Nek, kita ke dalam. Tidak baik di luar kena angin malam!”

Nandi mengajak Nenek Sri ke dalam.

“Kuharap kau mengerti apa yang sedang aku rencanakan.” Nenek Sri menatap Antaboga dan berbicara sebagaimana para dewa. Lewat pikiran mereka.

“Kau sadar itu sangat membahayakan bagimu dan baginya?” Antaboga mengepalkan tangannya. Ia tidak dapat berbuat lebih. Skenario ini harus berjalan sebagaimana mestinya. Namun ia berada dalam alur yang salah. Ia tidak dapat mengendalikan tokoh siapapun. Apapun yang akan terjadi nanti. Ia hanya sebagai penonton.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.