Sri Pohaci 010 - Labu Merah Besar

Sebuah labu merah besar terpampang dalam meja makan. Mereka baru pertama kali melihat labu seperti ini. Diani mengambil pisau dari dapur. “Biar saya buat olahan kolak, ya Nek? Aku bisa memasak kolak labu yang manis!”

“Enggak usah, lagian nenek tidak boleh memakan asupan gula yang berlebih.” Nenek Sri menjelaskan.

“Sudah seminggu Nak Diani tinggal disini. Nenek berterimakasih karena Nak Diani mau bertahan bekerja di Rumah Makan kami.”

“Rumah Makan ini sudah seperti hunianku sendiri. Aku merasa seperti di rumah. Apalagi ada Nenek disini!” Diani memeluk Nek Sri.

“Enggak kangen sama pria itu?” Nek Sri menunjuk Nandi dengan isyarat kepala dan kedipan matanya.

“Nek Sri bisa saja.” Diani makin memeluk Nek Sri. “Pria macam itu harus dikolak biar bisa manisan dikit!” Lalu mereka berdua tertawa sementara Nandi terasa panas kupingnya. Berada diantara dua wanita yang membicarakannya membuat ia kaku.

“Ada yang ingin Nandi bicarakan sama kamu, Diani!” Nek Sri memanggil Nandi untuk bergabung duduk bersama mereka. Nandi melangkah pelan dari raut wajahnya terasa ada beban. Sementara Diani penasaran, apa yang akan dikatakan oleh pria irit bicara itu.

Suara kursi yang digeser terdengar dramatis. Cahaya lampu seakan hanya untuk mereka berdua. Saling berhadapan satu sama lain. Dan sebuah labu merah besar ada di hadapan mereka.

“Labu ini mungkin bukan hal yang mewah, tapi manis.” Nandi berbasa-basi. Kalimatnya susah dimengerti.

“Bisa bicara lembut juga ya kamu. Kirain bisanya hanya marah-marah doank.” Diani tertawa. Sementara Nandi merasa tersinggung. Apakah Diani menertawakan tingkahnya yang ke kanak-kanakan atau ia masih mengingat peristiwa satu minggu yang lalu.

“Maaf.” Kata pendek itu diucapkan Nandi. “Soal perkataanku yang keterlaluan.” Tambahnya.

Diani tidak menanggapinya serius.

Tanpa berkata-kata lagi Nandi mengeluarkan segepok uang dalam amplop. “Ini Upahmu, mungkin tidak sepadan.” To the point aja.

“Jangan lupa labunya juga kau bawa!” Nandi agak naik suaranya. Meninggalkan Diani yang duduk sendiri. Ia masih menerka-nerka jalan pikiran pemuda itu. Ia masih ingat kala itu perjanjiannya tidak pakai imbalan. Dan sekarang pemuda itu memberikan uang dan buah labu besar.

Disudut tangga dekat kamarnya, Nandi melihat Diani berpelukan dengan Nek Sri. Ia pamit. Nandi tak dapat mencurahkan perasaanya. Tertutupi rasa penyesalan karena berlagak kasar. Sekarang ia tdak dapat dengan jujur mengutarakannya.

Seandainya pun ada Diani-diani yang lain. Ia tidak dapat berpaling dari gadis bawang putih ini. Hatinya telah menyetujui kontrak dengan hati selembut Diani.

Oh, Tuhan aku terbawa perasaan.

“Bukalah Labu ini di rumahmu. Semoga kamu suka!” Nenek Sri mengantarnya sampai halaman depan rumah. Ditemani cahaya matahari sore hari, bayangan kepergian Diani terekam dalam benak Nandi. Seolah hari itu dan seterusnya ia masih menyimpan kenangan yang tidak mungkin ia lupakan.

Gadis itu pulang dengan membawa sebuah Labu Merah Besar yang mungkin akan mengubah kehidupannya suatu hari nanti. Sementara penghuni hutan sudah siap memuntahkan makhluk malamnya.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.