M.O.S 4 - Dimensi Terbentur


Gedung tempat Sam dan Gio berada di lantai empat puluh tujuh. Mereka menempati tempat tertinggi dalam klasemen kantor-kantor di bawahnya. Setiap hari adalah hari sibuk. Sebenarnya tidak fair menempatkan kantor jurnalistik berada di lantai atas, itu membuat karyawan susah bergerak mencari informasi dan membuat informan malas pergi ke lantai atas.

Sewaktu goncangan tengah malam itu Pak Gio ada di atas gedung, ia menyaksikan sendiri bagaimana lampu-lampu kota mati secara perlahan dan serentak. Ibarat domino dalam barisan cahaya. Dan sampailah bencana itu di kantornya.

Gedung yang memang dipersiapkan dalam anti bencana itu memang tidak memberi efek atas kekuatan gempat bumi. Tapi masalah lain terjadi. Arus listrik dan internet mati seketika. Mereka yang kerja lembur tidak bisa keluar dari gedung. Saling berteriak meminta bantuan. Namun apa daya hanya tangga darurat yang bisa mereka turuni.

Lantai empat puluh tujuh bukan perkara mudah, baginya. Usia yang tidak lagi muda menurutnya. Ia mencoba mencari Sam di tempat kerjanya. Namun tidak juga anak itu menyahut. Seperti biasa ia pasti pulang duluan tanpa pemberitahuan.

Ia mengambil batang gasoline, ia nyalakan dan ada sedikit ketakutan. Karena sisa gas di dalamnya tinggal sedikit. Berarti ia harus mempercepat langkahnya. Pak Gio menaklukan kecemasannya pada sebuah titik cahaya di tangannya. Dan itu sangat melelahkan mata manakala harus menghitung anak tangga.

“Tolong!”

Suara-suara meminta tolong terdengar di dalam gedung, ia pun mencoba berkomunikasi dengan mereka. Ia berjanji akan mencari bantuan, ia menuruni tangga. Orang-orang melakukan hal yang sama, penuh suara langkah kaki seakan itu siang hari.

Sejenak ia merasa tenteram. Namun ia juga harus menahan nafas karena bau gas yang terlalu menyengat di tangannya. Terlebih panas korek gas yang hampir menyundut kepalan tangannya. Ia mencoba bertahan.

Sampai di lantai dasar Pak Gio bertemu dengan Office Boy dan Satpamnya. Keringatnya mengucur deras, api di tangannya segera ia matikan. Akhirnya derita itu berakhir, ketika melihat mereka berdua.

“Pak Gio untung saja kami kembali ke gedung untuk memeriksa penerangan, kami pikir sudah tidak ada orang lagi di dalam gedung!” Seorang satpam berkata dan dibenarkan oleh office boynya sendiri.

“Sialan, bagaimana mungkin aku sendirian? Di atas gedung masih banyak karyawan kantor lain yang meminta pertolongan. Sini kunci mobilku, aku harus segera menemui istri dan anakku. Aku takut mereka tidak biasa di tempat gelap.” Hardiknya.

Orang itu sangat bebal. Tidak percaya pada mistis. Pun ketika ia dengar sendiri penjelasan dari kedua karyawannya, hanya angin lalu di telinganya.

Selepas Pak Gio pergi, satpam dan office boy saling tatap mata.

“Coba kamu cek ke atas, mungkin benar apa yang dikatakan Bos mu!” Satpam itu memberikan senter pada Office boy, ia sendiri melarikan diri seperti satpam-satpam yang lain.

Kunci yang dipegang olehnya dan senter di tangannya. Office boy itu menaiki tangga menuju lantai kedua. Hari pertama kerja; pertama kali menginjak kantor yang tinggi. Ujian keberanian di mulainya hari ini.

Ia harus menaklukan sendiri rasa takutnya; harus pula membuktikan loyalitasnya. Padahal bukan tugasnya untuk memeriksa seisi gedung, tapi ia lakukan.

“Hallo! Ada orang?” Suaranya menggema di lantai ketiga. Dalam gelapnya gedung perkantoran; bayangan yang dipantulkan dari benda memberikan efek yang mengerikan. Seolah-olah kantor itu masih ada penghuninya.

“Hallo! Siapapun di dalam. Lekas bergegas karena hari semakin malam. Kami menunggu di lantai dasar. Gedung akan ditutup tidak lama lagi!” Katanya menirukan satpam yang biasa bertugas malam.

Lift tidak dapat digunakan. Ia pelan sekali dalam meniti anak tangga. Udara terasa pengap. Suara-suara tidak jelas terdengar sekarang. Ia tidak tahu jika malam ini dimensi lain terbentur. Itu artinya malam ini, kota yang ia tinggali sekarang; bukan kota yang ia kenal.

Sementara di luar gedung; satpam menunggu anak itu keluar.

“Lo, nyari masalah aja. Lih!” Karyawan jurnal yang baru datang ke kantor menemui satpam sedang hilir mudik di gerbang kantor.

“Maaf, mas. Aku kira anak itu akan menolak ketika aku berikan kunci dan senter.” Satpam Malih mengusap dahinya. “Apa yang harus kita lakukan?”

“Kita harus susul dia ke atas; aku takut terjadi apa-apa di dalam sana.” Karyawan itu mengambil handphonenya. “Sekalian aku mau ambil tas dan peralatanku yang tertinggal.”

“Tidak ada gunanya handphone sekarang, mas Ihsan! Jaringan telekomunikasi terputus.”

“Ini buat nyalain senter.”

“Kita masuk nih ke dalam?” Satpam gedung terlihat ekpresi yang tak meyakinkan.

“Lo, satpam apa bukan sih? Masuk gedung yang gelap saja takutnya luar biasa!” Ihsan mulai jengkel.

“Bukan seperti itu!”
Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar