Lana dan Hamash

“Apa kabar onta?” Lana meninggalkan percakapan di chat pribadinya Hamash. Namun tak ada reaksi dari foto profil yang ditatapnya. Lantai jari jemarinya menuju mouse untuk menggulir ke beranda milik Hamash; membaca beberapa nukilan ayat dan semcam motivasi yang ia yakini bahwa Hamash hanya mengcopy pastenya dari blog orang lain.

“Lo sibuk apa sekarang; belagu sekarang tak pernah ngasih kabar!” Lana bosa menunggu jawaban Hamash lalu ia tumpuk dengan pertanyaan lain. Seseorang yang pernah ia temui tujuh tahun lalu selepas SMA.

Foto-foto masa SMA-nya masih terpampang dalam facebook Hamash. Cowok blasteran arab yang tidak sengaja nyasar ke sekolahnya. Dan anehnya lagi cowok itu dekat banget sama Lana. Cewok tomboy yang suka gitar dan basket.

“Lo sekarang tinggal dimana?” Lana menemukan nomor HP nya. “Yes.”

Chatnya tidak ada balasan; padahal baru beberapa menit lalu Hamash memposting beberapa nukilan motivasi dalam statusnya.

“Nut .. Nut .. Nut ..” Lana menunggu seseorang di luar sana untuk mengangkat teleponnya. Tanpa nada dering; hanya berbunyi kentut.

“Hallo!” Suara cowok menggema di telinga Lana.

“Hallo?” Suara cowok mengulang sapaannya. Lana hanya terdiam; entah kaget, bingung atau hilang kesadaran.

“Hallo siapa ini.?” Cowok itu tetap melakukan percakapan seorang diri. Sementara Lana mengatur siasat. Ia ingin mengerjai cowok itu. Balas dendam karena chatnya tidak dibalas.

“Hallo .. mony**! Jangan main-main tengah malam. Berisik!” Cowok itu membanting teleponnya. Lana yang sedang menunggu time untuk mengejutkannya, kini malah tertohok. Ia terkejut sendiri. Cowok tujuh tahun lalu itu berubah seratus delapan puluh tiga derajat.

Baru kali ini Lana mendengar Hamash berkata kasar dan jorok. Ia melepaskan handphonenya. Mengoreksi nomor yang ditemui di poto Profil dengan yang ada di kontak HP. Takut jika ia salah orang. Namun tak ada yang salah; cowok itu benar-benar Hamash.

Lana kecewa.

Ia cepat-cepat membereskan kertas-kertas tulisannya. Log out computer dan membayar rental warnet. Ia lupa waktu. Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam. Penjaga warnet sudah terlihat merapikan bilik-biliknya. Tinggal ia satu-satunya pengunjung yang tersisa.

“Jam segini masih bisa panggil taksi online ga ya?” Lana merogoh saku dan mengambil beberapa uang recehan. “Tidak cukup uangnya.”

Lana berdiri di depan warnet. Baterainya hampir habis. Pulsanya limit. Kuotanya kosong. Jam dua belas malam. Saat Dracula dan pocong berkeliaran; tawuran.

“Semoga tidak hujan!” Lana benar-benar kehilangan otaknya. Ia memberanikan diri pulang terlalu malam.




Agus Sutisna
Agus Sutisna

Ini adalah biografi singkat mengenai penulis; Ia mudah terbawa angan-angan sehingga terlihat diam dan mematung. Justru disanalah ia mengumpulkan dunia imajinasinya. Selebihnya ia sangat tampan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar